Sunday, 7 August 2016
Sunday, 1 November 2015
1450
Saturday, 8 August 2015
Thank You
Thursday, 5 March 2015
Worry
| You can see the entire comic here at Zen Pencils |
Saturday, 28 February 2015
Monday, 15 September 2014
"Bagaimana cara kalian menuju kampus? Rute mana yang kalian pilih?".
Pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama yang saya dapat di bangku kuliah. Beberapa kawan saya menjawab dan jawaban masing-masing berbeda. Ada yang naik sepeda motor, mobil, sepeda pancal bahkan jalan kaki. Rute yang dipilih pun berbeda karena kami semua tak tinggal di tempat yang sama.
"Begitulah juga algoritma. Algoritma adalah hal yang paling otentik dan unik dari manusia. Algoritma adalah cara manusia menyelesaikan masalah, karena otak dan pribadi manusia unik maka mustahil algoritma masing-masing sama persis".
"Yang membedakan adalah proses. Sebab jikalau bicara hasil, hasilnya tentu masalah itu terselesaikan".
"Kalau tidak bisa selesai pak?"
"Itu namanya masih proses."
Algoritma tiap orang menjadi berbeda karena banyak hal. Pengetahuan, pengalaman, kecerdasan dan juga perasaan. Hal ini menyadarkan saya, bahwa menjadi pribadi yang unik itu niscaya, karena tidak ada hidup hasil foto copy. Kalau soal waktu berjalannya algoritma alias running time, tiap manusia bisa jadi berbeda.
Dan berbeda itu tidak salah. Berbeda itu tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah tidak mau belajar mempercepat running time. Dosen saya itu menggunakan istilah, time limit exceeded, kehabisan waktu.
"Algoritma yang boros dan tidak efektif. Jangan jadi manusia tidak efisien macam begitu.".
Satu hal lagi yang harus dihindari, meniru mentah-mentah algoritma orang lain. Hal yang paling dibenci dosen saya itu. Hidup pun sama, mengapa harus repot meniru menjadi sama padahal fitrah manusia itu berbeda?
Monday, 31 March 2014
Earlier today, I read all the poems that I write, I read all my melodramatic short stories and also my novel and give myself one hell of a question,"Do you really want to let that girl go?". Maybe I have fewer readers now, not so much as I have when I was so actively being melodramatic and wrote all the feelings down (read: on high school), but hell yeah. I realize now, the reader part is not the thing I need the most. The thing I need the most is to finally let my feeling go in such a beautiful way.
I've burried all my feelings with a silence. I never pour them again with words like I used to. I missed many parts that really good enough to be written. I miss the old me.
It's not a good starter for being melo again, but yeah, I promise myself to write more and also make a promise to finish my thesis soon. Amen.
Monday, 6 January 2014
Thursday, 2 January 2014
Setiap orang selalu memiliki batas toleransi, batas pengertian dan batas kesabaran sebab memang sejatinya manusia adalah keterbatasan itu. Pun aku, punya keterbatasan. Banyak kekurangan.
Mengenal manusia lain, adalah mengenal keterbatasan diri. Apa yang orang lain bisa dan kita tidak? Mengapa kita tidak bisa? Belajar bercermin dan membenahi diri adalah kunci untuk menekan segala keterbatasan yang tak berbatas itu.
Mengenal kamu adalah (seperti) mengenal manusia. Dengan watak unik, dengan sikap yang (kadang) nyentrik.
Sejak awal aku percaya, tak ada yang sempurna. Terlebih aku. Aku penuh alpa, aku bisa lupa, aku bisa salah kapan saja. Aku mengakui aku salah, aku menyadari aku berbatas. Aku mengakui dengan sepenuh hati. Namun rupanya, hidup berdampingan dengan kamu yang serupa malaikat, selalu benar, membuat batasku makin ditekan.
Kamu yang selalu benar, kamu yang merasa selalu punya alasan benar untuk semuanya. Kamu yang... seolah malaikat.
Aku ingin hidup berdampingan dengan manusia saja, yang sadar ia bisa salah dan lupa. Yang mengenal maaf dengan hatinya tanpa orang lain perlu bersungkur di kakinya.
Apakah aku salah bergaul?
Saturday, 12 October 2013
Gap
| Gambar diambil di sini |
Thursday, 1 August 2013
Saturday, 2 February 2013
Sunday, 4 November 2012
Tulisan ini tidak bermaksud mereview bagaimana pelatihan jurnalistik itu. Saya justru ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan. Dua hari ini mengingatkan saya ketika saya masih begitu sering membaca buku, sastra, novel dan bacaan-bacaan lain yang menurut saya 'berbobot'. Hari-hari itu adalah hari dimana produktifitas menulis saya cukup tinggi. Entah menulis cerpen, opini atau bahkan update blog?
Kini? Saya nyaris tak lagi membaca. Ironis? Jelas.
Alasannya? Tugas kuliah yang terlalu menyita waktu. Klise? Iya.
Kecewa? Pasti.
Kurang membaca ini membawa dampak pada kemampuan menulis saya. Menurun drastis. Kemampuan mengolah kata, bermain dengan diksi, mengolah imaji menjadi narasi kini menjadi berat. Membangun opini menjadi susah ketika saya tak memiliki banyak sumber untuk membangun opini itu sendiri.
Dari situlah, saya kembali pada kesadaran bahwa orang yang tak membaca tak akan bisa menulis. Orang yang tak membaca bacaan yang bagus dan bermutu, akan menulis dengan buruk dan tak berbobot. Seperti saya saat ini.
Sekali lagi, membaca menjadi sangat perlu. Tak lagi melulu, membaca ebook materi kuliah namun juga buku-buku seperti dulu. Buku-buku yang menyelamatkan dahaga saya akan dunia.
Thursday, 14 June 2012
Allah Mendengar
Bagi sebagian orang, ini memang bukan sesuatu yang besar. Tapi untuk saya, ini cukup untuk bersyukur.
Saturday, 10 March 2012
Ada sesuatu. Dia bukan seorang yang cengeng.
Ada yang menyentuh hatinya. Entah kasar, entah halus.
"Pilek?", tanya saya. Saya mencoba berbaik sangka. Senja temaram membuat wajah dan mata sendunya samar. Ia menggeleng dan menyuruh saya bergegegas. Kuliah segera dimulai, ia tak ingin saya terlambat.
Sepanjang jalan ia diam dan itu membuat saya tak tahan untuk bertanya.
"Ada apa?"
Matanya kembali sembab.Namun, ia memulai bercerita.
Akan ada saatnya, sujud pun menjadi sangat berat. Jalan mulai melambat. Tubuh tak lagi kuat.
Pertanyaan yang membuat matanya basah,
di usia muda ini apa saja yang sudah ia perbuat? Selagi mampu selagi sempat?
Ia membuat mata saya basah pula.
Friday, 24 February 2012
| iya, saya sendiri susah konsisten :( |
| saya juga sering kehilangan semangat :( |
| #notedToMySelf |
Thursday, 16 June 2011
Saat saya masih duduk di bangku SMA, tradisi pemilihan ketua OSIS adalah tradisi yang terlewat sambil lalu saja. Selain karena saya memang tidak terlibat di OSIS, saya sendiri memang tidak mengenal calon-calon ketua OSIS. Maka saya pun memilih asal pilih, seperti memilih kucing dalam karung.
Saat itu, bagi saya demokrasi masih menjadi tempelan saja. Sekadar untuk legitimasi pergantian kepemimpinan tanpa sempat berpikir bahwa pemimpin memiliki pengaruh terhadap kesejahteraan golongan yang dipimpinnya. Tidak terbesit pikiran bahwa proses pemilihan terkecil pun, akan menjadi bagian sejarah saya dalam mengenal demokrasi dari lingkupnya yang paling kecil.
Maka ketika kini saya sudah menjadi mahasiswa, saya berusaha mengubah pola pikir asal pilih itu tadi. Apalagi saat sudah menjadi mahasiswa, isu-isu organisasi sedikit banyak akan berdampak pada akademik dan prestasi. Bagaimana bisa?
Organisasi mahasiswa—apakah itu BEM, Himpunan Mahasiswa, UKM, dsb—membawa banyak pengaruh bagi mahasiswa, setidaknya bagi saya pribadi. Jika, katakanlah Himpunan Mahasiswa Jurusan, memiliki berbagai kebijakan dan kegiatan yang mendukung minat saya, tentunya saya menjadi lebih terfasilitasi selama berada di kampus. Namun, di kampus bukan hanya saya satu-satunya mahasiswa, jadi tentunya kebijakan yang nantinya akan diambil oleh pemimpin harus bisa mengayomi seluruh komponen kampus.
Lantas pertanyaannya adalah, bagaimana memilih pemimpin yang tepat yang bisa mengayomi semua mahasiswa? Hal ini akan menjadi lebih mudah jika kita mengenal calon-calon yang akan kita pilih dan mengetahui kapabilitas dari masing-masing calon. Kita bisa memilih secara obyektif. Namun, masalah akan timbul jika kita baru mengenal calon-calon saat kampanye saja—seperti pengalaman saya saat SMA dulu. Bagaimana agar tidak memilih kucing dalam karung?
Menurut saya setidaknya ada 3 point
- pelajari track record masing-masing calon. Konsistensi calon menjadi satu jaminan bahwa ketika dia terpilih dia bisa membawa himpunan atau organisasi dengan lebih baik
- jangan memilih hanya karena kenal nama, pastikan anda mengenal calon yang anda pilih beserta visi dan misi yang ia usung
- kalau point satu dua menurut anda terlalu makan waktu, hal paling mudah adalah tanyakan kepada kawan anda yang mengenal calon tersebut. Atau tanyakan kepada teman anda yang anda rasa paling punya kompetensi siapa yang ia pilih dan mengapa ia memilih calon tersebut.
Di jurusan saya sendiri, Teknik Informatika ITS, kondisi sedang ’panas’ menjelang pemilihan umum ketua himpunan jurusan. Nah, siapakah yang saya pilih? :)
Bisa di cek siapa dia di sini
Sunday, 22 May 2011
Baru saja salah seorang teman saya ngetweet yg intinya kurang lebih karena dia gendut, dia ngga laku. Saya langsung jawab tweet teman saya itu begini,”Karena perempuan itu bukan barang untuk dijual”.
Ya, sering kali saya sendiri terjebak pada pemikiran bahwa menjadi perempuan harus mempercantik diri. Tapi untuk apa? Agar dipandang? Agar dilirik? Oleh siapa? Agar disukai? Oleh siapa? Memang kenapa jika kenyataannya tak ada yang tertarik pada fisik saya? Memang kenapa jika tak ada yang ’naksir’ saya?
Pasti, saya yakin, ada rasa minder. Itu wajar. Sangat wajar. Apalagi jika sampai lelaki yang kita suka bahkan melirik pun tidak. Tapi apakah memang se-urgent itu soal laku? Semenyedihkan itu kah jika dalam usia muda perempuan tak ada laki-laki yang tertarik menjadikannya kekasih?
Ketika SMA saya memang sempat punya pikiran semacam itu, tapi seiring waktu kesadaran itu muncul perlahan. Menjadi wanita adalah bukan soal laku atau tidak laku ketika masih gadis, tapi soal pantas-memantaskan diri untuk jodoh terbaik yang sedang disiapkan Tuhan.
Wow, sudah omongan berat ini. :D
Tapi ya, kenyataannya memang begitu.
So girls, kalau kamu sekarang kamu udah punya pacar dan merasa dia itu jodohmu, pertahankan dan juga jangan sampai melewati batas.
Dan buat yang masih single.
Fisik memang bisa membuat lelaki tertarik, tapi yang bisa membuat hubungan bertahan adalah sikap, pemikiran dan attitude kamu. Kamu boleh khawatir soal berat badan, soal jerawat, soal komedo tapi kamu harus lebih khawatir kalau kamu merasa apa yang ada dalam dirimu belum bisa kamu banggakan. Jadilah pribadi yang bisa menghargai, menghormati termasuk kepada diri sendiri. Jadilah pribadi yang menerima dan mengerti, termasuk kepada diri sendiri.
![]() |
| berduri tapi dicari, karena durian punya inner beauty :D *ini sih saya yang pengen duren* |
Sok banget deh kamu, Nad. Jadi kamu sudah merasa bisa menghargai, menghormati, menerima dan mengerti? Jadi kamu merasa punya inner beauty yang luar biasa?Bukan, saya pun masih dalam tahap belajar dan memperbaiki. Terus dan terus.
Dan postingan ini bukan untuk menyalahkan atau menyudutkan kawan saya itu, postingan ini adalah untuk semua gadis dan khususnya untuk pengingat saya pribadi dalam bersikap.
Monday, 25 April 2011
Wednesday, 20 April 2011
sebuah postingan panjang soal pengkaderan. uneg-uneg dan pendapat pribadi saya



