Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Sunday, 7 August 2016

Krisis Perempat Baya alias Quarter-Life Crisis dan Cara Mengatasinya

18:31 0 Comments

Jika kamu berumur antara 20-30 tahun dan sedang mengalami fase-fase penuh kegelisahan dalam hidup dan kamu merasa kamu tidak menemukan jawaban atau bimbang dalam menentukan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya dalam hidupmu, kamu tidak sendirian. Kamu sedang mengalami krisis perempat baya alias quarter life crisis, sebuah kondisi yang banyak dialami oleh seseorang yang sedang mengalami transasi dari masa remaja menjadi seseorang yang (harus) dewasa sepenuhnya.
Silakan tanyakan ini pada dirimu.

1. Saya bimbang dan merasa galau apa yang harus saya lakukan berikutnya dalam hidup, melanjutkan studi? Mengejar karir di bidang lain? Menikah?
2. Saya merasa pekerjaan saya sekarang sungguh membosankan dan saya ingin suasana yang lain dari pekerjaan yang monoton seperti saat ini.
3. Setelah lulus apakah saya harus melamar pekerjaan? Pekerjaan macam apa yang cocok untuk saya? Ataukah sebaiknya saya berwirausaha? Tapi usaha macam apa yang bisa saya rintis? Bagaimana caranya?
4. Hampir tiap akhir pekan agenda saya adalah mendatangi resepsi teman atau rekan. Saya sendiri kapan dong? Keluarga dan kerabat selalu menanyakan hal yang sama kepada saya, kapan nikah? Kapan nikah? Duh, jodoh pun belum bertemu.
5. Saya sudah berada dalam hubungan yang panjang, tapi rasanya tidak ada kejelasan dalam hubungan kami. Apakah kami akan menikah? Apakah kami memang cocok untuk menghabiskan hidup kami bersama? Apakah dia memang ingin menikahi saya dan apakah saya juga ingin menikahi dia?
6. Saya sudah menikah, tapi saya merasa banyak impian saya belum terwujud. Bagaimana bisa saya mewujudkan mimpi – mimpi saya itu dengan tanggung jawab yang saya miliki sekarang setelah menikah? Masih bisakah saya mengejarnya?
7. Si kawan itu sudah berhasil mencapai ini, si dia sekarang sudah berpenghasilan sekian, kenapa saya jauh dari yang saya harapkan?
8. Kenapa setelah semua yang saya dapatkan saya tidak merasa bahagia? Apa sih sebenarnya yang bisa membuat saya bahagia?
9. Pencapaian saya selama ini tidak ada artinya. Saya ini bukan siapa-siapa.
Dan daftar kegalauan ini pun bisa terus bertambah tanpa henti. Jika dari pertanyaan-pertanyaan di atas ada yang kamu rasakan dan pertanyaan itu muncul terus berulang-ulang, mungkin kamu sedang mengalami quarter-life crisis.

Sumber dari sini yang juga membahas quarter-life crisis


Quarter –life crisis ini biasanya memang berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut keputusan kita di masa depan yang akan berpengaruh dalam hidup. Jadi bukan hal macam kegalauan hari ini makan apa yang muncul tiap hari, itu belum bisa disebut quarter-life crisis sepertinya.
Saya sendiri baru mendengar soal istilah ini beberapa hari lalu dari teman saya yang mengambil doctoral di bidang psikologi. Dan pertanyaan saya ketika mendengar hal ini, terus bagaimana dong mengatasinya?
Kata dia, jawabanya adalah Let It Go. Ada masanya kegelisahan itu akan lewat, misal sekarang kamu terus galau dan merenung kapan kamu akan menikah? Kapan tiba giliranmu? Setahun setelah momen quarter-life crisis ini lewat, kamu akan menilik kembali ke masa itu dan merasa, “Duh, ngapain dulu hal kayak gitu digalauin terus-terusan. Buang Energi. Just Let it Go and moving forward”.
Meskipun jawaban ini terasa masuk akal dan hanya bisa dibuktikan oleh waktu, saya akhirnya mencari jurnal atau paper yang membahas hal ini dan bagaimana mengatasinya. Akhirnya saya menemukan salah satu paper yang berjudul “Coaching Clients through the Quarter-Life Crisis: What works?” ditulis oleh Alice Stapleton pada tahun 2012  . Di paper tersebut dituliskan juga macam-macam kegalauan yang muncul dan karena responden berasal dari UK maka kegalauannya agak sedikit berbeda dengan kegalauan anak muda Indonesia, misalnya tidak ada isu sama sekali soal pernikahan. Yang menarik adalah bagaimana paper tersebut menjelaskan bagaimana kita bisa melewati quarter-life crisis. Di paper tersebut sebenarnya hal yang dilakukan untuk melewati crisis ini adalah dengan coaching, atau pembinaan, meskipun saya rasa kita juga bisa mencobanya dan inilah yang bisa kita lakukan. 
1. Tentukan arah dan Fokus
Ketika menghadapi quarter life crisis, hidup terasa tak menentu dan kita merasa tak jelas kemana harus melangkah. Di paper disebutkan, dalam coaching tersebut, kita bisa dibantu untuk menentukan arah dan focus dengan arah tersebut. Kalau kita tidak ikut coaching apa yang bisa kita lakukan? Lihat kembali hidupmu dari posisi yang berjarak, evaluasi semua arah yang pernah kamu tuju dan tentukan mana yang membuatmu merasa lengkap dan fokuslah ke arah itu. Misal kamu merasa hal yang sangat menarik dalam hidupmu adalah pendidikan, opsi melanutkan pendidikan bisa jadi lebih masuk akal dan fokuslah untuk mengejar pendidikan lanjut. Bagaimana jika kamu tahu bahwa yang ingin kamu lakukan adalah membangun keluarga dan membesarkan anak-anak? Fokuslah mencari jodoh dan tentukan apa yang bisa kamu lakukan untuk mencari orang yang sevisi dengan kamu. Ini bukan artinya tidak pilih-pilih, tapi tidak ada salahnya mengambil insiatif selagi itu masih masuk akal. Misalnya berteman dengan banyak orang, menambah lingkungan pertemanan atau terang-terangan minta dicarikan jodoh ke orang tua atau teman.
2. Tentukan target 
Kalau kamu sudah tahu arahmu, tentukan tujuan yang harus kamu capai dalam waktu yang singkat missal satu tahun atau lima tahun. Misal untuk studi lanjut, kamu tahu bahwa tahun ini kamu harus melengkapi persyaratan bahasa dan mendaftar di universitas tujuan. 5 tahun lagi kamu akan selesai dengan studi doktoralmu. Apakah semua target ini mutlak harus dipenuhi? Tidak. Tujuan dari target ini adalah agar setiap langkah yang kamu ambil mengarah ke target itu dan kamu tahu apa yang kamu lakukan dengan hidupmu.
3. Rancang aksi hidupmu atau action planning  life
Sekarang kamu sudah menentukan targetmu, saatnya merancang apa yang bisa kamu lakukan untuk mencapai target itu. Apakah kamu bisa mempersiapkan bahasa jika masih bekerja secara penuh? Atau kamu harus resign dan mempersiapkan diri secara intens? Semua ini kembali kepada arah dan target hidupmu. Apakah ini mudah, menurut paper tersebut, hal ini masih sulit dan orang yang galau merasa merancang action plan tidak semudah menentukan hal yang lain. Ada baiknya kamu memiliki teman diskusi, akan sangat susah mengalami ini semua sendirian. Pada titik ekstrim, seseorang yang mengalami quarter life crisis bisa merasa berada pada titik terendah dalam hidup dan bisa berpikiran pendek untuk mengakhiri hidupnya. Disinilah pentingnya membagikan kegalauan kamu, berdiskusi dengan orang lain untuk menjaga kewarasanmu.
4. Skill
Di paper tesebut, sebenarnya skill yang dimaksud adalah skill yang didapat selama coaching seperti kemampuan untuk mengatakan tidak pada sesuatu yang kita tidak suka atau bersikap lebih asertif. Skill ini dinilai berguna untuk membantu diri keluar dari krisis ini.
5. Kenali diri sendiri
Self-awareness adalah hal yang penting. Dengan mengenali diri sendiri, kita bisa tahu apa yang bisa kita lakukan. Kita bisa menghargai diri sendiri dan menerima diri kita. Tentu hal ini tidak mudah apalagi jika kita terus menolak menerima diri sendiri atau denial dan hidup dalam angan-angan. Karena itulah, mengenali diri sendiri dan menerima diri sendiri itu menjadi salah satu kunci untuk keluar dari krisis ini.
6. Refleksi diri sendiri 
Refleksi ini juga membantu lebih mengenali diri sendiri. Tentang apa yang sudah kita lakukan, mengevaluasi kesempatan yang kita lewatkan atau kesempatan yang kita manfaatkan dalam waktu seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Mengevaluasi diri sendiri bisa membuat kita sadar kesalahan apa yang telah kita perbuat dan bagaimana menghindari mengulangi kesalahan yang sama.
7. Percaya diri
Orang yang mengalami quarter-life crisis umumnya mulai kehilangan kepercayaan diri. Hal ini berkaitan juga dengan mengenali diri sendiri dan refleksi diri. Dengan melakukan hal tersebut, kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita, menyadari keunikan diri dan menjadi lebih percaya diri. Ketika kita memiliki kepercayaan diri, kita akan melangkah dengan pasti dan saya selalu percaya langkah yang pasti akan mengantarkan kita ke tempat yang pasti pula.
Tujuh hal di atas, bisa dicek kembali berasal dari paper yang saya sebutkan. Meskipun banyak pula yang saya tambahi dengan penjelasan yang saya pahami sendiri. Apakah saya bisa membantu mengatasi krisis ini? Saya sendiri berada dalam usia ini. Saya sendiri mengalami salah satu krisis tersebut. Apakah saya berhasil melewatinya? Saya sedang berusaha melewati krisis ini. Tujuan saya menulis ini adalah untuk menyadarkan teman-teman yang semula mengalami krisis semacam ini dan merasa hanya dia yang merasakannya, tidak, ini namanya quarter-life crisis dan banyak orang mengalaminya. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama melewati krisis hidup ini.
Selain tujuh hal yang saya dapatkan dari paper, sebagai seorang yang percaya dengan Tuhan dan Agama, saya juga percaya hal-hal religius membantu saya untuk melewati krisis ini dengan lebih tenang. Sebagai muslim, sholat, membaca Al Qur’an, sholawat, sedekah dan hal religius lainnya membantu saya untuk melewati krisis ini. Dan juga, hal-hal tersebut merupakan pesan ibu saya yang berusaha betul saya pertahankan.
Perlu diingat, latar belakang pendidikan saya bukanlah psikologi. Pengetahuan saya terbatas dalam bidang ini. Tujuan saya menulis ini juga untuk berbagi, mencari masukan dari orang yang lebih berkompeten di bidang ini ataupun dari orang yang sudah berhasil melewatinya. Bagaimana kamu berhasil melewatinya? Share di kolom komentar ya.

Sunday, 1 November 2015

1450

15:44 0 Comments

Dear Boi,
Ini kartu pos ke lima yang kukirim untukmu. Sudah sampaikah 4 yang lain? Kau memintaku untuk mengirimimu kartu pos dari kota-kota yang kukunjungi. Katamu, kartu pos selalu punya kemampuan magis yang tidak bisa kau jelaskan dengan akal. Jelas-jelas aku bisa mengirimimu potret atau video dalam sekejap, lebih jernih dan actual. Katamu, justru segala sesuatu yang langsung datang tanpa penantian itu membuat segalanya terasa murah. Ada yang mahal dan begitu berharga dalam sebuah penantian.
Kali ini sengaja kupilih kartu pos ukuran besar, agar aku bebas bicara tanpa terbatas ruang. Lelah aku, Boi. Selama ini kita sudah terpisah ruang—lebih tepatnya jarak yang begitu jauh—jadi biarlah kali ini aku gunakan sedikit ruang yang ada untuk sekadar berbagi kata-kata.
Sudah 1450, Boi. Apakah kau menghitung? Bukankah kau begitu gemar dengan menghitung angka? Apalagi ini soal kita. Luar biasa, Boi. Mengutip lagu kegemaranmu saat kanak-kanak, kita sudah mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera. Kita sudah melewati begitu banyak jalan yang terjal. Kadang kita terdiam sesaat di persimpangan, untuk sekadar memutuskan apakah kita masih menjadi rekan seperjalanan atau kita cukupkan perjalanan ini sampai di persimpangan-persimpangan itu. Beberapa kali kita memilih untuk berpisah, namun rupanya jalan yang kita pilih bermuara di persimpangan yang sama dan lagi-lagi menjadi teman perjalananmu adalah hal yang menyenangkan dalam hidup ini.
Terima kasih, Boi. Kali ini pun kita sepakat untuk menempuh jalan yang berbeda setelah tiba di persimpangan dua lima. “Kejar saja mimpimu”, katamu waktu itu. “Toh aku tahu, muara kita satu”. Siapapun yang tiba lebih dulu di persimpangan jalan, biasanya kita menunggu hingga yang lain datang sebelum melanjutkan langkah. Meskipun kali ini, aku tahu kau akan lebih dulu tiba. Boi, maukah kau menungguku seperti kau sabar menunggu kartu pos-kartu pos itu? Maukah kau menjadikanku mahal dan berharga dalam penantianmu?

Penuh Sayang,


Gadis

Saturday, 8 August 2015

Thank You

00:55 0 Comments
Saya percaya, setiap orang yang singgah dalam hidup saya turut membentuk saya yang sekarang. Ada yang singgah untuk memberikan pelajaran, ada yang datang untuk menyemai mimpi dan cita, ada yang bertahan untuk bersama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Dan satu pelajaran yang saya camkan betul, sebanyak apapun orang yang datang dan saya temui, pada akhirnya ini adalah perjalanan hidup saya sendiri. Tak seorangpun patut menjadi tempat bergantung, kecuali diri sendiri. Orang-orang bisa pergi kapan saja ia mau atau saat Dia berkehendak. Betapapun saya meminta untuk tinggal, saya tak bisa menahan siapapun untuk tak meninggalkan saya.
Yang tinggal kemudian adalah diri saya sendiri dan kenangan yang menjadi pelajaran. Sementara orang-orang itu, siapapun itu, akan berlalu. Ada yang menoleh dan menghampiri sesekali waktu, ada yang mencari setiap ada kesempatan, tapi ada pula yang berjalan cepat dan tak menoleh sama sekali.
Jika suatu hari saya menghampirimu setelah sekian lama tak berkabar, ingatlah bahwa saya ingin berterima kasih dari hati saya terdalam. Terima kasih telah menjadi bagian yang turut menjadikan diri saya yang sekarang, yang tak pernah sempurna tapi berusaha terus belajar.
Jika hingga saat ini saya masih terus mencarimu dan kembali padamu, ingatlah bahwa kamu sudah menjadi bagian penting dalam hidup saya. You've made me to be who I am today. I am not good at 'keep in touch' with friends and relatives, so please find me when I am lost. (by good I mean, I regularly contact you, meet you and spending time with you at least once a year. Sometimes I get awkward when meeting long lost friend).
I write this because I realise, I am so grateful to meet you all, to know you all and to have you all, whatever lesson you've given to me.

Thursday, 5 March 2015

Worry

00:44 0 Comments
Lately, I’ve started my phase of job-seeking. I decided to do it just now, when many of my friends who graduated in the same period with me already got their jobs in big company. Right now, I found myself worrying about the company will accept my application and choose me as one of their employee. Worrying? Yeah, this takes my time to thinking. Why I should worry?
Because my friends already get their salary and I am still looking for a job? Is that really a reason to be worried and not enjoying life? If I get the job, but my salary isn’t as high as my friends, will I be happy? Or still worrying?

When this question hit me, I found a really inspirational quote on a website,  that somehow ease me and give me another way how to see my life. (I recommend this website for you who are looking for inspirational quotes in different ways)

Here is what I found.
You can see the entire comic here at Zen Pencils

Yeah, what do I really wanna do? I was immersed in reading and writing back then in high school and early year of college.  I even declared, I wanna be a writer. Years pass by and this little girls inside me who really want to be a writer craves for help. What do I really wanna do? I wanna help this little girls and show her to the world. 

I am worried I can not enjoy life as the way it supposed to be enjoyed. I am worried I listen to other more than I listen to myself. I am worried that I always compare everything that I have to others. I am worried I can not be grateful of the life I have been had so far.

Life is not a race. Life is about enjoying life gracefully. Life is not about being the winner of the competition. Life is about doing your best and enjoy the process. Let’s enjoy life and start writing again!


PS : I am on my way improving my English. If you find any grammatical error, please kindly show me where’s my mistakes. I’ll be glad to be corrected.

Saturday, 28 February 2015

What have you done?

22:29 0 Comments
Setelah sekian lama hibernasi menulis, jiwa saya terbelah dua. Sebelah jiwa saya selalu berkata, "Nada si penulis sudah mati. Mana ada penulis ngga pernah nulis? Berkarya aja ngga ada karyanya. Udah sana, tekuni dunia IT aja. Ngoding aja sana.". Sebelah jiwa saya yang lain, suaranya lebih lirih.
"Nada, kapan menulis kembali? Bukankah kamu rindu rasanya berhasil menuangkan pikiran dalam tulisan, membacanya berulang kali dan membiarkan orang lain mengkritisi? Bukankah kamu rindu membaca? Bukankah kamu rindu itu semua?".

Lalu saya sendiri membela yang mana? Tak ada. Saya diam saja disini. Justru tak melakoni keduanya. Iya, lebih parah. Kalau Anda mengharapkan akan menemukan semacam motivasi dalam tulisan ini, berhentilah. Ini hanya bentuk dialog imajiner diri saya sendiri. Semacam curhat terselubung yang saya harap bisa menjadi semacam terapi.

Ada banyak ide yang bersliweran. Melihat senja yang merah, saya pikir ini sangat romantis. Melihat jalanan yang lengang di lereng gunung, bukankah ini kedamaian yang akan indah jika dibahasakan? Mengamati pergolakan politik bangsa ini, bukankah akan baik untuk saya jika menelisik kemudian menggubahnya menjadi semacam tulisan fiksi?

Sayangnya semua berhenti menjadi sebatas ide. Sebatas angan. Begitu juga dengan ngoding. Niat awal, saya ingin meneruskan projek Tugas Akhir saya. Nyatanya selalu saja menemukan alasan untuk berkata "Nanti dulu,deh". What a bad habit.

Terus setelah lulus September lalu, saya ini sudah melakukan apa?
Ya, saya sudah melakukan apa?

Setelah wisuda, saya memutuskan untuk pulang dan tidak langsung mencari kerja. Terus apa yang kamu lakukan? Saya memutuskan untuk secara intensif mengaji. Mengaji baca qur'an gitu? Emang belum bisa?

Mengaji bukan soal baca Qur'an saja kawan, mengaji (minimal dalam definisi saya) adalah mempelajari agama. Khususnya agama saya yaitu Islam. Ada banyak cabang sebenarnya yang bisa saya pelajari, mulai dari Tauhid, Hadits, Ulumul Qur'an, Ushul Fiqh, Tasawuf dan lainnya. Lalu mana yang saya pilih? Saya memilih fiqh. Alasana sederhana, fiqh merupakan salah satu yang paling aplikatif dalam kehidupan. Untuk urusan beribadah, saya tahu bagaimana beribadah yang tepat dan benar menurut madzhab yang saya anut. Untuk menjalani urusan kehidupan lain, baik itu dari urusan jual beli, sewa menyewa, menikah, hingga menyelesaikan konflik saya tahu harus bagaimana. Minimal saya tahu harus merujuk kemana. Dan yang paling penting, saya belajar fiqh ini dari seorang Kyai dan Guru yang jalur ilmunya secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Ini penting, bukan sekadar mengikuti Ustad wannabe yang kian hari kian marak. Ustad wannabe yang seringkali mengalami logical fallacy dan sanad ilmunya saya sendiri belum tahu.

Sejujurnya, tak pernah ada kata cukup untuk belajar ini. Untuk memiliki pandangan dan pengetahuan yang menyeluruh, belajar dari satu kitab sangat kurang. Tapi setidaknnya, saya sudah tahu bagaimana harus melangkah. Sekarang, kurang lebih sejak satu minggu yang lalu saya sedang memasuki fase job seeker. Dan ternyata galau sekali. Hahahahaha. So this is it. Fase hidup yang perlu dilewati. Galau - galau sedap yang membuat saya banyak merenung. Hidup itu rupnya adalah persoalan-persoalan yang tak akan ada habisnya. Ini bukan soal siapa cepat dan tepat menjawab soal-soal itu hingga kemudian tergesa-gesa. Hidup adalah tentang menerima pertanyaan-pertanyaan itu dan menyadari pertanyaan yang jauh lebih besar dari ini semua.

Untuk apa hidup saya ini?
Ah, pertanyaan ini sepertinya perlu perenungan lebih lama untuk bisa saya jawab..

Monday, 15 September 2014

Algoritma Kehidupan

22:03 0 Comments

"Bagaimana cara kalian menuju kampus? Rute mana yang kalian pilih?".

Pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama yang saya dapat di bangku kuliah. Beberapa kawan saya menjawab dan jawaban masing-masing berbeda. Ada yang naik sepeda motor, mobil, sepeda pancal bahkan jalan kaki. Rute yang dipilih pun berbeda karena kami semua tak tinggal di tempat yang sama.


"Begitulah juga algoritma. Algoritma adalah hal yang paling otentik dan unik dari manusia. Algoritma adalah cara manusia menyelesaikan masalah, karena otak dan pribadi manusia unik maka mustahil algoritma masing-masing sama persis".


"Yang membedakan adalah proses. Sebab jikalau bicara hasil, hasilnya tentu masalah itu terselesaikan".


"Kalau tidak bisa selesai pak?"


"Itu namanya masih proses."


Algoritma tiap orang menjadi berbeda karena banyak hal. Pengetahuan, pengalaman, kecerdasan dan juga perasaan. Hal ini menyadarkan saya, bahwa menjadi pribadi yang unik itu niscaya, karena tidak ada hidup hasil foto copy. Kalau soal waktu berjalannya algoritma alias running time, tiap manusia bisa jadi berbeda.


Dan berbeda itu tidak salah. Berbeda itu tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah tidak mau belajar mempercepat running time. Dosen saya itu menggunakan istilah, time limit exceeded, kehabisan waktu.


"Algoritma yang boros dan tidak efektif. Jangan jadi manusia tidak efisien macam begitu.".


Satu hal lagi yang harus dihindari, meniru mentah-mentah algoritma orang lain. Hal yang paling dibenci dosen saya itu. Hidup pun sama, mengapa harus repot meniru menjadi sama padahal fitrah manusia itu berbeda?

Monday, 31 March 2014

Do you really want to let that girl go?

14:21 0 Comments
I always talk to myself that I am ready to move on from that phase. The phase where I always write all poems, write down everything that I feel in such a melodramatic ways. I keep telling myself, I've done there. I need to move on. I need to live in the reality. But the true is I never want to move on. I want to be always there as the melodramatic me in such way cause I enjoy it so much.

Earlier today, I read all the poems that I write, I read all my melodramatic short stories and also my novel and give myself one hell of a question,"Do you really want to let that girl go?". Maybe I have fewer readers now, not so much as I have when I was so actively being melodramatic and wrote all the feelings down (read: on high school), but hell yeah. I realize now, the reader part is not the thing I need the most. The thing I need the most is to finally let my feeling go in such a beautiful way.

I've burried all my feelings with a silence. I never pour them again with words  like I used to. I missed many parts that really good enough to be written. I miss the old me.

It's not a good starter for being melo again, but yeah, I promise myself to write more and also make a promise to finish my thesis soon. Amen.

Monday, 6 January 2014

Nostalgia Maya

04:43 0 Comments
Timeline facebook saya sedang dipenuhi oleh status-status lawas yang digemparkan lagi. Semacam nostalgia maya, apa yang kita lakukan 4 atau 5 tahun silam. Apa yang kita tulis dan bagaimana menulisnya. Ada beberapa yang alay, ada beberapa yang memang tidak melewati fase alay ( setidaknya di facebook, entah di friendster). Melihat ini, saya yang lagi belajar untuk TA sekaligus belajar UAS Jaringan Multimedia (penting banget ini ditulis, biar kesannya ngga online tanpa guna doang :D ) membuka kembali facebook saya sekitar tahun 2009. Awal saya mulai rajin posting di facebook, menulis note, say hi dengan teman-teman dan juga soal asmara. Namanya juga remaja, kala itu sih. (sekarang masih remaja belasan tahun juga kok, tenang aja)

Nostalgia ini maya ternyata membangkitkan kenangan. Semacam kenangan yang mati suri, tidak saya matikan tapi mati sendiri karena waktu. Saya jadi ingat saya pernah jatuh cinta, saya pernah begitu bahagia dan termehek-mehek mewujudkannya dalam tulisan yang melodrama. Beberapa orang menyukai tulisan saya yang menye-menye itu, menyentuh hati kata mereka. Buat saya, kata-kata saat itu masih jauh dari menggambarkan apa yang sebenarnya saya rasakan. Kata-kata sering kehabisan bentuk dalam mewujudkan kembali perasaan. Atau memang pada dasarnya, kata kalah dengan rasa.

Nostalgia itu juga beranjak bagaimana saya patah hati dan suprisingly cepet sekali move on. Huahahahahahahaha (Sorry to say). Tapi ini memang proses move on yang cepat. Tapi bukan berarti saya melupakan kenangan. Buat saya, semua orang yang saya temui membentuk saya menjadi orang yang sekarang ini. Saya menjaga hubungan baik dengan orang-orang dari masa lalu (ada yang saya block karena memang totally annoying). Saya menjaga hubungan ini karena pada dasarnya saya percaya, masa lalu bukan musuh. Ia adalah teman yang arif dan bijak untuk berdiskusi tentang masa depan. 

Alhamdulilah saya bisa menyimpan kenangan dengan baik tanpa perlu menyimpan rasa yang melekat pada kenangan itu. Saya hanya tersenyum kecil mengingat kembali semua proses saya menjadi seperti ini. And for that, I am blessed. Thank you.

Terima kasih telah membantu saya berproses menjadi sekarang ini. Ada yang membantu saya jadi juara baca puisi, ada yang membantu saya belajar bahasa Arab, ada yang mengenalkan saya pada Soe Hok Gie dan sekarang ada yang menemani saya menjadi Google Student Ambassador dan menemani saya ngoding. Terimakasih.

Memori memang suka melambai-lambai kepada kita, seperti kawan lama yang mengajak berbincang. Sesekali ia perlu diakrabi karena kenangan adalah kawan yang bijak. Tapi jangan sampai terjebak. Jangan sampai hidup dalam masa lalu.

Itu pula yang sekarang terjadi. Saya undur diri dari kenangan dan kembali ke masa kini. Kembali duduk di Laboratorium Pemrogaman, mulai mengerjakan TA dan duduk bersama masa ini, saat ini. Yang sangat saya syukuri. Kamu. 



Thursday, 2 January 2014

Menjadi Manusia

01:06 0 Comments

Setiap orang selalu memiliki batas toleransi, batas pengertian dan batas kesabaran sebab memang sejatinya manusia adalah keterbatasan itu. Pun aku, punya keterbatasan. Banyak kekurangan.

Mengenal manusia lain, adalah mengenal keterbatasan diri. Apa yang orang lain bisa dan kita tidak? Mengapa kita tidak bisa? Belajar bercermin dan membenahi diri adalah kunci untuk menekan segala keterbatasan yang tak berbatas itu.

Mengenal kamu adalah (seperti) mengenal manusia. Dengan watak unik, dengan sikap yang (kadang) nyentrik.

Sejak awal aku percaya, tak ada yang sempurna. Terlebih aku. Aku penuh alpa, aku bisa lupa, aku bisa salah kapan saja. Aku mengakui aku salah, aku menyadari aku berbatas. Aku mengakui dengan sepenuh hati. Namun rupanya, hidup berdampingan dengan kamu yang serupa malaikat, selalu benar, membuat batasku makin ditekan.

Kamu yang selalu benar, kamu yang merasa selalu punya alasan benar untuk semuanya. Kamu yang... seolah malaikat.

Aku ingin hidup berdampingan dengan manusia saja, yang sadar ia bisa salah dan lupa. Yang mengenal maaf dengan hatinya tanpa orang lain perlu bersungkur di kakinya.

Apakah aku salah bergaul?

Saturday, 12 October 2013

Gap

04:41 0 Comments
Perjalanan Magelang - Ngadirejo pagi tadi cukup melelahkan. Setelah semalaman antri di pool Eka dan baru mendapat seat jam 12, duduk selama 9 jam kemudian berdiri selama 100 menit di bus yang penuh sesak itu jelas melelahkan. Namun demi bertemu keluarga dan ponakan tersayang, saya kuatkan diri dan ingat niat awal. Menghabiskan waktu idul adha bersama kelurga.

Sewaktu sampai di terminal lama Temanggung, ada dua penumpang naik. Seorang pelajar dan ibunya, setelah berbelanja laptop. (Dari pengamatan saya, soalnya si anak bawa kardus laptop dan tas laptop baru). Mereka berdiri tepat di belakang saya, dan mau tak mau saya pun mendengar obrolan mereka.

Si anak, yang nampaknya pelajar SMA (atau SMK?) bercerita soal banyak hal ke Ibunya. Si Ibu juga bertanya dengan penuh antusias. Namun, saya rasa ada gap dalam percakapan mereka.

Ibu: Jadi kamu ngga libur habis semesteran?
Anak: Ya ngga lah bu, ini kan midsemester. bukan semester.

Dari percakapan di atas, si anak menyampaikan dengan gaya ih-ibu-gimana-sih-namanya-midsemester-mana-ada-libur. Si Ibu yang nampaknya waktu jaman bersekolah dulu belum mengenal istilah midsemester, manggut-manggut saja.

Percakapan berlanjut waktu si anak bercerita tentang ulangan di kelas yang mudah karena soal-soalnya sudah pernah diajukan.

Ibu: Oh berarti itu tinggal fotokopi aja?
Anak: Ngga lah, tinggal copy paste aja.

Si Ibu, kembali terdiam dan manggut-manggut saja. Dari pengamatan saya, si Ibu nampaknya sama seperti umumnya ibu-ibu di daerah temanggung. Ibu rumah tangga yang membantu suaminya bekerja di sawah, tidak mengenyam pendidikan tinggi ( tingkat pendidikan di Temanggung memang masih rendah). Hal ini saya simpulkan dari percakapan Anak-Ibu itu yang ketika sudah mencapai gap, obrolan terhenti.

Anak: Jadi waktu ulangan kemarin itu ada yang bawa tablet gitu, curang banget coba masa buka google.
Ibu: .....

Untuk kita, yang telah terbiasa dengan teknologi, merasa tak ada yang asing dengan cerita-cerita si anak. Namun, bagi Ibu yang tak pernah bersentuhan dengan teknologi, tentu dunia si anak ini menjadi dunia asing yang penuh dengan istilah-istilah asing-asing.
Kita sudah tak asing lagi dengan istilah google, tapi untuk Ibu yang tak pernah mengecap internet, tentu Google terasa asing sekali. Yang saya sedihkan adalah cara si anak menyampaikan ke ibunya, seolah ibunya paham dan kalau si ibu ngga paham ya salah sendiri.

Gambar diambil di sini


Mendengar percakapan-percakapan itu, saya menilik ke dalam diri saya sendiri dan juga bagaimana saya berinteraksi dengan Ibu soal teknologi. Dan juga menerawang ke depan, bagaimana kelak saya dan anak saya berinteraksi dengan teknologi.

Tak bisa dipungkiri, perbedaan jaman melahirkan perbedaan teknologi. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang tak hanya linear, tapi quadratic. Berkembang pesat. Mungkin kelak, laptop, modem, google adalah hal usang untuk jaman calon anak saya.

Semoga gap itu tidak menjadikan saya merasa lebih dari orang tua, dan semoga kelak gap itu tidak memisahkan saya dan anak-anak saya kelak di jaman mereka :)

Thursday, 1 August 2013

Kabut dan Hari Esok

12:11 0 Comments
Kamu pernah berada di lereng gunung menjelang subuh? Jika kamu pernah, maka kamu akan merasakan bagaimana rasanya memandang ke depan penuh kabut. Kamu tak tahu apa yang ada di depanmu. bisa saja kamu berada di jalur yang tepat, bisa saja kamu sedang berada di tepi jurang dan harus putar balik. Kamu tak pernah tahu. Kamu harus menunggu sampai matahari benar-benar di atas kepala untuk mengusir kabut-kabut itu agar kamu tahu tepatnya di mana kamu berdiri dan kemana kamu akan melangkah.

Begitulah masa depan. Sehebat apapun kita merancang, Tuhan dengan keajaibannya selalu penuh kejutan. dan kejutan kali ini bernama kabut itu. Kamu punya waktu terbatas untuk melanjutkan perjalanan. Kamu tak bisa selamanya menunggu hingga matahari mengusir kabut yang menyelimuti karena kamu tahu kamu tak bisa selamanya menuggu, perbekalanmu terbatas, pun waktumu. Kamu harus melangkah ke depan, dengan penuh yakin kamu tidak melangkah ke jurang. Ya benar, itu terdengar seperti mengadu nasib. Ah bukan kah hidup memang penuh dengan peraduan? Termasuk hari esok.

Dan saat ini, kamu tahu betul apa yang kamu butuhkan. Rekan perjalanan, mungkin bukan seseorang yang pernah melalui jalur ini, tapi seseorang yang mau mendengar dan mau menggenggam tanganmu seerat mungkin saat kamu berada di tepi jurang. Seseorang yang tak akan membiarkamu jatuh, seseorang yang mau menemani berjalan dalam kabut.

Ya, kamu sadar. Kamu tidak butuh matahari, kamu butuh keberanian untuk terus berjalan. Dan rekan seperjalanan terasa begitu mewah saat kamu berada di tempat yang begitu asing, tempat yang belum pernah kamu jejaki. Hari Esok.

Saturday, 2 February 2013

Dalam Pikir Perempuan. Dalam Hati Lelaki

08:31 3 Comments

Seringkali aku gagal membaca isyarat. Aku tak pandai menerjemahkan tanda yang tersirat. Aku tak mahir memahami tanda-tanda alam. Aku tak bisa mengerti kamu yang duduk disampingku namun diam. Mengapa para wanita harus begitu mengagungkan perasaan? Tak sadarkah mereka bagi kami itu adalah beban?

Seringkali aku tak bisa menyelaraskan hati dan pikiran. Aku tak pandai membahasakan dengan terus terang. Aku tak mahir memberikan tanda yang mudah terbaca. Aku tak bisa mengerti kamu yang begitu patuh pada logika. Mengapa para lelaki harus begitu kaku dengan logika? Tak sadarkah mereka itu membuat sikap mereka kepada kami menjadi tidak peka?

Aku sudah lelah menebak. Diammu selalu menjebak. Kukira ini karena aku telat datang, seperti hari lalu. Tapi bukankah ini belum lewat dari perjanjian kita yaitu pukul tujuh? Aku sudah memberikan penjelasan yang rinci. Aku sudah berusaha berkata tanpa menutup-nutupi. Kamu tetap tegak dalam diam dan sepi. Aku benci.

Aku sudah lelah diacuhkan. Sikapmu tiap kali aku diam selalu menjemukan. Kamu selalu gagal dengan segala tebakan dan aku terlalu letih untuk menjelaskan. Aku memahamimu kemarin karena datang terlambat, tapi hingga seharian kau berkabar pun tak sempat, emosiku berlipat. Kamu tetap tak menyadari, seolah itu bukan sesuatu yang berarti. Aku benci.

Aku diam.

Aku diam.

Diam selalu memberiku waktu lebih bernapas. Merasakan oksigen itu menembus paru-paru hingga meresap ke hati. Ada sejuk dalam sesak. Batinku bergejolak. Benarkah ia sepenuhnya tak tertebak? Benarkah ia tak bisa dipahami? Ini adalah jeda untuk memahami diri sendiri.

Diam selalu memberiku waktu merenung dan berpikir. Merasakan otakku yang nyaris dikomposisi oleh air. Apakah aku pantas marah karena ini semua terasa getir? Apakah hanya karena seharian tak berkabar, cintanya padaku tak lagi bergulir. Ini adalah ruang untukku berpikir.

Aku menoleh. Matanya basah. Namun senyumnya merekah.

Aku menoleh. Wajahnya nampak menyesal dan bersalah. Ia merengkuh namun tak mengeluh.

“Sayang, aku begitu sedih setiap kali kamu menangis. Aku merasa bersalah tapi tak tahu apa yang membuatmu begitu miris. Aku gagal memahamimu untuk kesekian kali. Lelaki yang tak peka ini, selalu gagal menunjukkan mencintai. Maafkan Aku”.

“Sayang. Perempuan selalu gagu dan merasa perlu menjaga diri untuk berterus terang hingga akhirnya hati sendiri menjadi korban. Harusnya aku bicara. Aku tak bisa diacuhkan seharian. Sayang, aku ingin perhatian. Sayang, maaf aku telah diam”.

Kami kemudian menyadari. Cinta tak hanya soal menyukai, tapi juga menerima kurang dan lebih, belajar memahami tanpa pernah letih, selalu bertahan dalam senang dan sedih. Cinta adalah menjadi manusia dengan hati saling berbagi namun akal tetap dijaga, tak peduli betapa menyebalkan orang yang kau cinta begitu ia tak ada hampa yang dirasa. Cinta adalah menerima dan berbagi. Menerima kelemahannya dan berbagi kelebihan kita.

Kami masih saling jatuh cinta. Terima kasih Tuhan Yang Maha Luar Biasa.

Sunday, 4 November 2012

Berbanding Lurus

06:53 2 Comments
Dua hari ini, 3-4 November Himpunan Mahasiswa Jurusan saya mengadakan pelatihan jurnalistik. Kebetulan saya menjadi panitia, sekaligus peserta. Dua hari yang menyenangkan untuk saya, rasanya tak pernah membayangkan di kampus ini saya akan menemukan sebuah pelatihan jurnalistik. Rasanya seperti oase di tengah gurun.

Tulisan ini tidak bermaksud mereview bagaimana pelatihan jurnalistik itu. Saya justru ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan. Dua hari ini mengingatkan saya ketika saya masih begitu sering membaca buku, sastra, novel dan bacaan-bacaan lain yang menurut saya 'berbobot'. Hari-hari itu adalah hari dimana produktifitas menulis saya cukup tinggi. Entah menulis cerpen, opini atau bahkan update blog?

Kini? Saya nyaris tak lagi membaca. Ironis? Jelas.
Alasannya? Tugas kuliah yang terlalu menyita waktu. Klise? Iya.
Kecewa? Pasti.

Kurang membaca ini membawa dampak pada kemampuan menulis saya. Menurun drastis. Kemampuan mengolah kata, bermain dengan diksi, mengolah imaji menjadi narasi kini menjadi berat. Membangun opini menjadi susah ketika saya tak memiliki banyak sumber untuk membangun opini itu sendiri.

Dari situlah, saya kembali pada kesadaran bahwa orang yang tak membaca tak akan bisa menulis. Orang yang tak membaca bacaan yang bagus dan bermutu, akan menulis dengan buruk dan tak berbobot. Seperti saya saat ini.

Sekali lagi, membaca menjadi sangat perlu. Tak lagi melulu, membaca ebook materi kuliah namun juga buku-buku seperti dulu. Buku-buku yang menyelamatkan dahaga saya akan dunia.

Thursday, 14 June 2012

Allah Mendengar

00:33 1 Comments

Waktu saya kecil, saya sering punya mimpi-mimpi aneh. Jadi jurnalis yang ditempatkan di medan perang atau jadi dokter yang dinas di pulau sabang. Lain hari saya bisa begitu sangat ingin menjadi aktris yang memerankan tokoh psikopat. Just a random thought.

Semakin saya besar, semakin saya sadar dunia itu BENAR-BENAR LEBAR. Semakin saya tahu bahwa banyak orang hebat, banyak orang pintar dan orang-orang itu memulai semua itu dengan belajar dan berkeyakinan teguh.

Saya termasuk orang yang memang kurang rapi dalam merencanakan hidup. Maksud saya, saya ngga punya target tertentu yang harus dicapai dalam usia sekian. Hal itu karena akhirnya saya sadar, diri saya sendiri lebih nyaman menjadi tipe yang menikmati. Termasuk soal urusan ke luar negeri.

Waktu saya masih SMP, kakak saya sudah berhasil melanglang buana ke Amerika. Semacam studi banding selama sebulan. Beberapa tahun setelah itu, kakak saya yang lain ke Taiwan untuk sebuah kegiatan Nahdlatul Ulama. Lalu saya masih sampai pada pertanyaan,”Kapan bisa naik pesawat?”.

Sampai akhirnya email mengejutkan itu datang. Siapa menyangka saya akan ke Singapura tanpa biaya sepeserpun? Saya tak pernah ada rencana akan membuat paspor tahun ini, tapi Allah rupanya sudah mengatur. Saya sempat berbisik pelan kepadaNya, saya ingin melihat luar Indonesia sebelum saya berumur 20 tahun. Dan Allah mewujudkannya sebagai hadiah ulang tahun ke 20 saya.

Bagi sebagian orang, ini memang bukan sesuatu yang besar. Tapi untuk saya, ini cukup untuk bersyukur.

Ya, bulan Juli nanti saya dan kawan-kawan dari Indonesia akan bertolak ke Singapura untuk mengikuti Google Student Ambassador Summit. Apakah saya menyangka ini? Tidak sama sekali. Namun, ini membuat saya yakin Allah selalu mendengar. Dan sayangnya kita yang sering luput berdoa, luput percaya bahwa semua mimpi bisa menjadi nyata.

Berdoalah dengan teguh, maka Allah bisa mengabulkan semua dengan utuh!

Saturday, 10 March 2012

Senja yang membuat mata basah

22:32 2 Comments
Senja itu, setelah ikut sholat jamaah di masjid terdekat, dia datang dengan mata yang sembab.
Ada sesuatu. Dia bukan seorang yang cengeng.
Ada yang menyentuh hatinya. Entah kasar, entah halus.

"Pilek?", tanya saya. Saya mencoba berbaik sangka. Senja temaram membuat wajah dan mata sendunya samar. Ia menggeleng dan menyuruh saya bergegegas. Kuliah segera dimulai, ia tak ingin saya terlambat.

Sepanjang jalan ia diam dan itu membuat saya tak tahan untuk bertanya.
"Ada apa?"

Matanya kembali sembab.Namun, ia memulai bercerita.
Saat jamaah tadi, seorang tua berada di sampingnya. Dan ia teringat satu hal penting. 
Akan ada saatnya, sujud pun menjadi sangat berat. Jalan mulai melambat. Tubuh tak lagi kuat. 

Pertanyaan yang membuat matanya basah,

di usia muda ini apa saja yang sudah ia perbuat? Selagi mampu selagi sempat?

Ia membuat mata saya basah pula.

credit picture here

Friday, 24 February 2012

Lebih Baik Menginspirasi daripada Menginstruksi

03:53 4 Comments

Saya makin percaya ngomong itu memang jauh lebih mudah daripada bertindak, menyuruh lebih enteng daripada mencontohkan dan menginspirasi jauh lebih sulit dari sekadar memberi instruksi.

Semua ini berawal dari dua minggu lalu. Salah seorang kawan saya meminta saya membantunya menjadi narasumber pelatihan jurnalistik di salah satu MAN di Jombang. Saya merasa bingung, dengan latar belakang keilmuan saya yang ngga ada jurnalistiknya sama sekali ini, saya mau kasih materi apa?
“Blog.” Teman saya itu menjawab dengan ringkas.
“Kita arahkan jadi semacam citizen journalism gitu, Nad”. Oke, saya setuju. Materi soal jurnalistik termasuk citizen journalism itu bagian kawan saya sementara saya cukup soal blog. Tapi pengetahuan blog macam apa yang akan saya bagi?
Akhirnya, saya membagikan pengalaman ngeblog beserta keuntungannya dan juga motivasi biar para peserta pelatihan itu rajin ngeblog. Di akhir materi saya meninggalkan contact person berupa akun twitter.
Selang beberapa hari, ada satu peserta yang mengontak saya via twitter

Saya merasa malu, blog saya ini rasanya sudah lama sekali jamuran. Saya malu, mengajak mereka rajin ngeblog sementara saya masih mengeluh dengan tugas kuliah yang bejibun padahal tiap hari juga ngetwit terus.
iya, saya sendiri susah konsisten :(


saya juga sering kehilangan semangat :(



#notedToMySelf
Terima kasih ya adek-adek, setiap ingat kalian saya jadi ingat untuk ngeblog. 

Saya jadi sadar lebih baik bertindak daripada sekadar bicara, lebih baik mencontohkan daripada menyuruh dan lebih baik menginspirasi daripada menginstruksi.

Thursday, 16 June 2011

KETIKA HARUS MEMILIH

21:39 1 Comments


Saat saya masih duduk di bangku SMA, tradisi pemilihan ketua OSIS adalah tradisi yang terlewat sambil lalu saja. Selain karena saya memang tidak terlibat di OSIS, saya sendiri memang tidak mengenal calon-calon ketua OSIS. Maka saya pun memilih asal pilih, seperti memilih kucing dalam karung.

Saat itu, bagi saya demokrasi masih menjadi tempelan saja. Sekadar untuk legitimasi pergantian kepemimpinan tanpa sempat berpikir bahwa pemimpin memiliki pengaruh terhadap kesejahteraan golongan yang dipimpinnya. Tidak terbesit pikiran bahwa proses pemilihan terkecil pun, akan menjadi bagian sejarah saya dalam mengenal demokrasi dari lingkupnya yang paling kecil.

Maka ketika kini saya sudah menjadi mahasiswa, saya berusaha mengubah pola pikir asal pilih itu tadi. Apalagi saat sudah menjadi mahasiswa, isu-isu organisasi sedikit banyak akan berdampak pada akademik dan prestasi. Bagaimana bisa?

Organisasi mahasiswa—apakah itu BEM, Himpunan Mahasiswa, UKM, dsb—membawa banyak pengaruh bagi mahasiswa, setidaknya bagi saya pribadi. Jika, katakanlah Himpunan Mahasiswa Jurusan, memiliki berbagai kebijakan dan kegiatan yang mendukung minat saya, tentunya saya menjadi lebih terfasilitasi selama berada di kampus. Namun, di kampus bukan hanya saya satu-satunya mahasiswa, jadi tentunya kebijakan yang nantinya akan diambil oleh pemimpin harus bisa mengayomi seluruh komponen kampus.

Lantas pertanyaannya adalah, bagaimana memilih pemimpin yang tepat yang bisa mengayomi semua mahasiswa? Hal ini akan menjadi lebih mudah jika kita mengenal calon-calon yang akan kita pilih dan mengetahui kapabilitas dari masing-masing calon. Kita bisa memilih secara obyektif. Namun, masalah akan timbul jika kita baru mengenal calon-calon saat kampanye saja—seperti pengalaman saya saat SMA dulu. Bagaimana agar tidak memilih kucing dalam karung?

Menurut saya setidaknya ada 3 point
-    pelajari track record masing-masing calon. Konsistensi calon menjadi satu jaminan bahwa ketika dia terpilih dia bisa membawa himpunan atau organisasi dengan lebih baik
-    jangan memilih hanya karena kenal nama, pastikan anda mengenal calon yang anda pilih beserta visi dan misi yang ia usung
-    kalau point satu dua menurut anda terlalu makan waktu, hal paling mudah adalah tanyakan kepada kawan anda yang mengenal calon tersebut. Atau tanyakan kepada teman anda yang anda rasa paling punya kompetensi siapa yang ia pilih dan mengapa ia memilih calon tersebut.

Di jurusan saya sendiri, Teknik Informatika ITS, kondisi sedang ’panas’ menjelang pemilihan umum ketua himpunan jurusan. Nah, siapakah yang saya pilih? :)

Bisa di cek siapa dia di sini

Sunday, 22 May 2011

Karena Wanita Bukan Barang Untuk Dijual

07:38 5 Comments

Baru saja salah seorang teman saya ngetweet yg intinya kurang lebih karena dia gendut, dia ngga laku. Saya langsung jawab tweet teman saya itu begini,”Karena perempuan itu bukan barang untuk dijual”.

Ya, sering kali saya sendiri terjebak pada pemikiran bahwa menjadi perempuan harus mempercantik diri. Tapi untuk apa? Agar dipandang? Agar dilirik? Oleh siapa? Agar disukai? Oleh siapa? Memang kenapa jika kenyataannya tak ada yang tertarik pada fisik saya? Memang kenapa jika tak ada yang ’naksir’ saya?

Pasti, saya yakin, ada rasa minder. Itu wajar. Sangat wajar. Apalagi jika sampai lelaki yang kita suka bahkan melirik pun tidak. Tapi apakah memang se-urgent itu soal laku? Semenyedihkan itu kah jika dalam usia muda perempuan tak ada laki-laki yang tertarik menjadikannya kekasih?

Ketika SMA saya memang sempat punya pikiran semacam itu, tapi seiring waktu kesadaran itu muncul perlahan. Menjadi wanita adalah bukan soal laku atau tidak laku ketika masih gadis, tapi soal pantas-memantaskan diri untuk jodoh terbaik yang sedang disiapkan Tuhan.

Wow, sudah omongan berat ini. :D
Tapi ya, kenyataannya memang begitu.

So girls, kalau kamu sekarang kamu udah punya pacar dan merasa dia itu jodohmu, pertahankan dan juga jangan sampai melewati batas.

Dan buat yang masih single.

Fisik memang bisa membuat lelaki tertarik, tapi yang bisa membuat hubungan bertahan adalah sikap, pemikiran dan attitude kamu. Kamu boleh khawatir soal berat badan, soal jerawat, soal komedo tapi kamu harus lebih khawatir kalau kamu merasa apa yang ada dalam dirimu belum bisa kamu banggakan. Jadilah pribadi yang bisa menghargai, menghormati termasuk kepada diri sendiri. Jadilah pribadi yang menerima dan mengerti, termasuk kepada diri sendiri.
berduri tapi dicari, karena durian punya inner beauty :D *ini sih saya yang pengen duren*

Sok banget deh kamu, Nad. Jadi kamu sudah merasa bisa menghargai, menghormati, menerima dan mengerti? Jadi kamu merasa punya inner beauty yang luar biasa?
Bukan, saya pun masih dalam tahap belajar dan memperbaiki. Terus dan terus.

Dan postingan ini bukan untuk menyalahkan atau menyudutkan kawan saya itu, postingan ini adalah untuk semua gadis dan khususnya untuk pengingat saya pribadi dalam bersikap.

Monday, 25 April 2011

Kamu memang baik, tapi..

10:08 12 Comments
Teruntuk kamu yang seringkali tanpa pamit masuk ke dalam mimpiku..

Sebelum kamu teruskan membaca suratku ini, anggap saja kita ini sudah saling jatuh cinta. Anggap saja kita ini sudah sepakat untuk saling memiliki, anggap saja kita sudah tak lagi bisa jatuh cinta kepada yang lain.

Sudah? Kamu sudah beranggapan begitu? Baiklah, kalau begitu, silakan teruskan membaca. Jika belum, ambil jeda sejenak dan bayangkan aku ini adalah seseorang yang begitu kamu idamkan. Bayangkan saja, anggap saja..

Karena kita sudah saling mencintaimu, jangan keberatan kau kupanggil sayang..

Wednesday, 20 April 2011