Sunday, 29 March 2009

IBU, AKU mencintaimu

05:09 0 Comments

Hari ini saya pulang ke Temanggung,setelah hampir 20 hari saya tidak menginjak rumah.

Di bus,kebetulan saya duduk di samping seorang ibu yang membawa beberapa ember besar yang ditumpuk. Ibu itu menyapa saya ramah,"Turun mana mbak?".
Saya pun menjawab dengan ramah pula. Sebentar kemudian, tercium bau amis dari ember-ember itu. Saya lantas sadar, ibu tadi adalah seorang penjual ikan. Kemudian saya bertanya,"Berjualan dimana, Bu?".
Saya pikir, paling juga di daerah magelang. Karena itu saya mengajukan pertanyaan dengan agak basa-basi.
Tapi jawaban ibu tadi,di luar dugaan saya. Ibu itu mengaku berjualan di Jogja.bayangkan!Jogja!
Padahal rumahnya ada di Secang. Jarak jogja-secang mungkin sekitar 50 hingga 60 km.
Saya mulai tertarik lantas bertanya lagi,"Jam berapa Ibu berangkat dari rumah?".
"Setengah satu mbak", ibu itu menjawab dengan enteng.
Giliran saya yang geleng-geleng. Ibu itu lalu bercerita kesehariannya,bangun jam 12,sholat,berangkat, mengambil ikan di pasar induk lalu berangkat ke jogja jam 4 pagi.
Jualannya pun harus habis. Kalau belum habis, belum pulang.

Entah karena saya yang melankolis atau apa, saya trenyuh mendengarnya. Saya bandingkan dengan saya yang baru menghadapi soal fisika saja sudah mengeluh habis-habisan, ibu itu masih bisa menyediakan senyum tulus untuk saya meski menghadapi 'soal' yang lebih pelik.

Berbicara tentang ibu,pikiran saya langsung melayang ke ibu saya sendiri.
Apalagi saat itu saya dalam perjalanan pulang.

Saya membayangkan betapa beratnya hidup ibu yang harus menghidupi 5 nyawa dan nyawanya sendiri seorang diri sejak abah meninggal.

Saya tak berniat mengajak anda ikut seperti ibu, tidak. Yang ingin saya renungi adalah betapa 'bejat'nya saya selama ini.

Selama saya di magelang, saat saya pulang seolah tujuannya adalah meminta sangu. Walaupun saya pulang juga karena rindu. Tapi seolah-olah saya pulang ketika saya butuh saja.
Sekarang, frekuensi pulang saya makin berkurang sejak saya punya rekening bank sendiri. Ibu mentransfer 'bulanan' saya dengan lebih mudah.

Saya merasa begitu berdosa, saya tak pernah bisa pulang saat ibu membutuhkan saya, saya tak pernah mengucapkan terima kasih yang tulus untuk ibu. Saya juga tak pernah meminta maaf atas kebejatan saya itu.

Saya lantas ingat, setiap saya pulang dan keesokan harinya berangkat sekolah dari rumah, pagi-pagi benar ibu sudah bangun. Tanpa saya minta, ibu sudah menyiapkan air panas untuk mandi (air ngadirejo di pagi hari dinginnya seperti es).ibu juga menyiapkan sarapan untuk saya. Ibu melakukan semua itu dengan senang hati, seolah kebutuhan ibu bukan kebutuhan saya.

Saya kemudian mengingat apa yang sudah saya perbuat untuk ibu dalam usia yang hampir 17 ini. Tidak ada,tidak ada yang berarti yang saya lakukan untuk ibu. Saya tak mampu berbakti kepada ibu setulus ibu mencintai saya.
Ya, cinta.
Saat saya menulis note ini,tahu-tahu mata saya basah.
Saya rindu ibu, wanita yang mengandung saya, melahirkan saya, mengajari saya hidup, mencintai saya dengan tulus, berkorban demi kebahagian saya, dan berjuang keras demi saya dan saudara-saudara saya.

Temanggung pun hujan, basah.
Sebasah pipi saya,
Yang merindukan ibu lebih dari biasanya.

Hendak saya cium nanti kaki beliau, saya akan meminta maaf. Saya akan berterima kasih. . .
Nanti sesampai di rumah. . . .


Allahummaghfirly waliwa lidayya warhamhuma kama robbayani soghira. . . .


Setelah anda membaca tulisan ini, silahkan peluk ibu anda, sebelum anda terlambat.
Atau setidaknya ucapkanlah terima kasih atas cintanya yang begitu luar biasa. . .

Monday, 16 March 2009

BULAN DI ATAS BALKON, sebuah cerita

00:13 1 Comments



Awan itu beringsut pelan. Menampilkan bulan dengan caranya yang anggun. Perlahan dari langit cahaya jingga mulai berpendar, menggeser awan yang semula menutup para bintang dan kilau sang bulan.
Dari balkon, aku termangu menyaksikan fragmen malam yang begitu memesona. Inikah purnama yang sempat kau janjikan? Dimana selalu sama sisi yang tampak, kemarin, sekarang, esok dan lusa.
Mendadak fragmen tentangmu muncul begitu saja. Ada kamu yang menemaniku mengetik tiap malam. Ada kamu yang rajin membuat kopi di pagi hari untukku. Ada kamu yang membuka pintu dengan senyum yang tak pernah surut. Ada kamu yang selalu menyediakan telinga untuk mulutku yang rajin mengomel. Ada kamu, ada beribu kamu yang terpecah menjadi berjuta sel di otakku. Begitu pula aku memahamimu, tak pernah bisa utuh.
aku masih belum mengerti mengapa kau selalu mampu memberiku sandaran saat aku lelah tanpa sekalipun kau meminta tempat bersandar layaknya wanita lain. Atau kebiasaanmu menanam melati di malam hari saat purnama menjadi raja. Belum lagi kau yang selalu menghindari obrolan para tetangga yang gemar menggosip. Kau begitu berbeda dengan yang lain. Kau unik tetapi kau tetap seorang wanita yang selalu mencintai dengan air mata. Uniknya air matamu itu justru kau tampung di sebuah botol kaca. Dengan perlahan kau kumpulkan tiap tetes air matamu lalu kau masukkan ke dalam botol kaca itu. Kau bilang itu adalah cara jitu untuk mengalihkan perhatian, sehingga kau bahkan lupa kau sedang menangis. Lalu tahu-tahu pipimu sudah kering saja.
Dan tidak hanya satu botol yang kau punya, tapi belasan. Satu botol untuk satu alas an. Begitu kau bilang. Sempat aku mencoba bertanya apa sajakah alasan itu? Kau hanya tersenyum dan berbisik, pokoknya kamu salah satunya.
Aku menjadi merasa bersalah mendengar jawaban itu. Bagaimana tidak? Aku ternyata mampu membuatmu menangis dan bahkan menjadi salah satu alasan yang paling sering.
"Tapi botolmu paling berbeda dengan yang lain. Ada dua alasan untuk satu botol."
"Dua? Kau ternyata menduakan aku dengan alasan lain?"
"Iya." Aku bersungut mendengarnya. Sesal berganti kecewa. Merasa tak terima di campurkan dengan yang lain padahal yang lain tidak.
"Aku menyatukanmu dengan cinta".
Ah, kau ini, selalu saja punya cara berbeda untuk membuatku tersenyum dan bernapas lega.
"Meski aku tahu kau menyatukan cintamu untukku dengan cinta untuk yang lain".
Setelah berkata begitu, kau akan memandangi purnama semalaman. Tanpa aku bisa mengusik atau sekedar mengucapkan selamat malam.
Kau begitu larut dalam cahaya purnama. Aku heran mengapa kau begitu khusyuk?
Apakah ada alasan gaib? Atau yang lain?
Tapi aku tahu betul kau orang yang sangat rasional. Segala kau pikirkan masak-masak. Tak ada yang meleset dari perencanaan dan keluar dari penjadwalan. Harus ada alasan yang masuk akal atas setiap tindakan yang kau lakukan. Begitu juga dengan mencintaiku.
Alasanmu kala itu adalah untuk menjadi penyeimbang hidupmu yang terlalu rasional. Kau ingin menjadi orang yang berada di tengah, tidak condong atau malah memihak sepenuhnya. Karena itu kau perlu sesuatu yang irrasional, yaitu cinta. Saat aku bertanya, mengapa aku yang kau pilih? Padahal kau tahu betul aku tidak mencintaimu.
Jawabmu enteng saja,"Itu yang akan membuat cintaku semakin tidak rasional. Jika aku mencintai orang yang mencintaiku, itu masih bisa dinalar. Aku ingin sesuatu yang diluar akalku. Kamu".
Dengan orang yang sangat taktis semacam kau, aku selalu dibuat bisu. Tak bisa menyanggah bahkan berkomentar. Kata-katamu itu selalu menjajah aku yang begitu labil. Aku yang tak pernah punya rencana, apalagi penjadwalan ketat macam kau. Kubiarkan hidup mengalir saja. Begitu juga saat bertemu kau. Aku tak pernah menarget kita akan menikah suatu hari atau bahkan saling mencintai. Aku pikir jika kita memang harus bersama, ya bersama. Seperti sabda Allah, Kun Fayakun* maryam:35.
Balik kau yang bertanya, "Sekarang mengapa kau bersama aku yang tidak kau cintai?". Jawabanku tak kalah enteng," Karena kau mencintaiku, aku hanya butuh waktu untuk mencintaimu. Tapi jika kau yang tidak mencintaiku, lebih dari sekedar waktu yang kau butuhkan".
Lalu senyummu yang manis sekali itu akan tampak berkilauan. Aku ikut-ikutan tersenyum. Begitu saja kita lalui hari-hari kita. Kau tetap kau yang idealis dan aku tetap aku yang aku. Tidak berubah sedikitpun menjadi kekamu-kamuan. Pun kamu, tak menjadi keaku-akuan.
Aku tetap belum bisa mencintaimu, selalu saja aku menduakanmu tiap hari dengan yang lain. Kau sendiri tak pernah gusar bahkan meski aku tak pernah sekalipun meyentuhmu meski kita telah diikat ijab qabul. Tetangga mulai membicarakan kita. Ada yang bilang kau mandul, ada yang menyebutkan aku selingkuh. Bahkan seorang menuduh kita menikah hanya untuk menyelesaikan kontrak.
Mungkin salah satunya benar, tapi entah yang mana. Kau tak pernah tertarik membahas hal itu, kau bilang selalu ada yang lebih penting. Yang penting aku mencintaimu dan kita seatap. Soal kau mencintaiku atau tidak, itu urusanmu. Aku tidak ingin bergantung dengan cintamu, aku mandiri. Aku bergantung kepada cintaku untukmu. Itu yang harus kau tahu."
Masalah mulai timbul saat kau mulai sering menatap langit malam, entah ada purnama atau tidak. Kau mampu duduk dibalkon sejak isya hingga menjelang subuh. Sehari dua hari aku masih mendiamkanmu, tapi beranjak hari ketiga aku mulai khawatir. Kau selalu menolak kuajak kedokter atau psikiater. Mendengar jawabanmu yang tak bisa ditawar, aku hanya bisa manut. Ah betapa sulitnya memahamimu. Kau tak pernah memberiku penjelasan mengapa kamu seperti itu. Saat aku bertanya, apakah karena aku yang tak pernah bisa mencintaimu? Kau langsung berlari menuju balkon dan mengunci pintu. Aku kaubiarkan sendiri dengan pertanyaan yang tak pernah bisa terjawab.
Sampai suatu hari aku terpaksa membawamu ke rumah sakit. Aku khawatir betul saat kau tak sadarkan diri. Dokter memvonis kau mengidap leukemia. Sebenarnya kau sudah tahu tapi tak pernah mau memberitahuku. Semalaman aku menangis disampingmu yang koma.
Hari berikutnya kau sadar dan langsung minta diantar ke balkon bersamaku. Semula aku menolak tetapi kau bilang kau hanya ingin memberiku jawaban. Lagi-lagi aku manut.
"Bulan tak pernah berganti sisi ketika bertemu bumi. Hanya yang tampak oleh mata melebar kian hari hingga penuh utuh menjadi purnama. Itulah kamu. Itulah kenapa aku selalu melihat bulan. Karena aku melihat kamu disitu. Aku yakin sekali kamu akan menjadi matahari suatu saat nanti buatku setelah kau usai menjadi bulan. Aku yakin sekali".
Aku membiarkan saja air mataku jatuh berguliran. Aku minta maaf ternyata aku belum berhasil mencintaimu, bisikku ditelingamu. Kau mengangguk lemah lalu meminta diantar kembali kekamar.
Itulah terakhir kita sempat berbicara banyak. Setelah itu kau kembali tak sadarkan diri lagi hingga sekarang. Aku mulai mencerna kata-katamu yang masih sulit kupahami itu.
Aku sadar betul aku lelaki. Aku tahu betul kewajibanku sebagai seorang muslim. Tapi sebagian hatiku ternyata menolak, menolak mencintai wanita. Aku adalah pecinta sesama yang tak pernah mewujudkannya seperti gay yang lain. Cukup di hati saja, karena aku tahu batasan. Aku tahu agama telah mengatur yang seharusnya, termasuk kewajiban menikah dengan perempuan.
Saat pertama kali aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya, kau tak terkejut sama sekali. Aku ingat betul raut mukamu saat itu. Kau juga sangat memahami, aku yang tak bisa menyentuhmu dengan cinta layaknya suami lain.
Kembali aku menatap purnama, mengapa aku kau samakan dengannya? Apakah aku akan berhenti pada penolakanku mencintai wanita? Apakah iya? Apakah aku bisa mencintaimu pada akhirnya?
Dan disinilah aku, menatap bulan lewat balkon untuk mencari jawaban. Aku mencoba mengingat segala yang pernah kita lewati. Apakah ada cinta yang pernah terpercik? Apakah ada gelora yang sempat ada?
Tepat saat bulan mulai akan tenggelam, aku dipanggil ke ruang ICU. Kondisimu semakin kritis. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut kehilanganmu. Aku ingin lagi mengulang semua yang pernah kita lewati. Aku ingin menjadi imammu lagi. Aku ingin membelai rambutmu yang halus. Aku ingin menyentuhmu dengan cinta, sebab sekarang ternyata aku sudah merasakannya.
Aku merasakan cinta kepadamu tepat disaat Izrail menjemputmu. Hadirnya rasa cinta kepadamu harus ditebus dengan kehilanganmu. Begitukah yang semula kusebut hidup mengalir? Oh, ternyata semesta ini cair, bergerak dan tak pernah berhenti berubah.


Aku memandangi nisanmu dengan haru. Kau yang menyembuhkanku. Membuatku menjadi lelaki yang seutuhnya yang dapat mencintai wanita, bukan sejenisku. Setelah membaca tahlil, aku meletakkan bunga melati yang dulu sempat kau tanam. Begitu asyiknya aku bercengkerama, sampai tak sadar gerimis mulai menyapa. Seolah ikut sendu kehilanganmu meski sudah 3 tahun kau berlalu.
"Ayo Abi, hujannya sebentar lagi deras. Nanti Faya bisa masuk angin," Nia, istriku yang sekarang mengajakku beranjak.
Sekilas kupandangimu namamu yang tertoreh dinisan sambil menggendong buah hatiku, Faya. Sedang dibawah nisan itu terbaring pula seorang Faya lain, yaitu kamu.
Aku selalu mengingatmu yang menjelma menjadi anakku.
Kau sungguh benar, kini aku mampu menjadi matahari.

Sunday, 1 March 2009

SURAT UNTUK AYAH

03:57 0 Comments

Aku berdiri tak tenang di depan gerbang sekolah. Sudah lebih dari 1 jam aku menunggu dan tahu-tahu kesabaranku sudah mencapai ubun-ubun saja. Ayah lagi-lagi membatalkan janji sepihak begini. Tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah Ayah menulis pesan untukku yang ditempelkan di depan pintu bahwa Ayah akan menjemputku sepulang sekolah lalu kami akan menghabiskan hari berdua untuk merayakan ulang tahunku yang ke enam belas hari ini.


Tampaknya semua akan cukup indah hari ini meski aku tidak mendapati ucapan selamat ulang tahun dan kecupan manis Ayah tepat tengah malam tadi atau sekedar kue ulang tahun yang bertatahkan lilin yang menyala. Bagiku janji menghabiskan waktu berdua sudah lebih dari sekedar kado indah dari Ayah yang hampir sejak 3 bulan ini tak pernah punya waktu untukku. 



Ayah selalu berangkat ke kantor sebelum aku bangun dan pulang setelah aku tertidur lelap. Otomatis aku tidak pernah mengoborol dengannya. Meski sekarang sudah ada tekhnologi dan Ayah memfasilitasiku dengan semua itu, tetap saja jarak diantara kami makin menganga hari demi hari.

Drrrt..drrrt.. handphoneku bergetar. Ada panggilan masuk dari Ayah, segera kuangkat.
"Sayang, Maafkan Ayah, Ayah nggak..".Klik. aku memutuskan sambungan telepon itu. Aku sudah tahu sekuelnya. Daripada mendengar langsung dari Ayah membuatku semakin lara lebih baik aku matikan telepon itu. Ini seperti saat Ayah berjanji akan mengambilkan raportku namun ternyata Ayah tidak bisa karena ada janji dengan klien yang mendadak. Sontak emosiku meledak, merasa aku tak lagi punya harga di mata Ayah. Merasa aku tak punya arti buat Ayah. Untung kala itu ada Tante Linda, mama Ical,mama pacarku. Tante Linda berbaik hati mengambilkan raportku dan untungnya wali kelasku menyutujuinya.

Kali ini aku sudah tidak bisa lagi menahan emosi. Aku menelpon Ical, meminta diantar pulang ke rumah, tidak kemana-mana. Aku hanya ingin pulang dan sendiri saja. Ical manut, jadilah aku sampai dirumah 30 menit kemudian.
"Nad, kalo ada apa-apa kamu harus ngasih tahu aku ya?", Ical berharap cemas, seolah aku ini hendak bunuh diri saja. Aku tersenyum tipis dan mengangguk.
"Kalau kamu butuh cerita,aku siap kapan aja," Ical sibuk menawarkan bantuan.
"Makasih sayang, makasih banget. Aku cuma butuh sendiri sekarang".
"Ini hari ulang tahun kamu, seharusnya kamu nggak melewatkannya dengan cara begini". Aku tersenyum getir dan melangkah masuk kerumah.

Sesampainya dikamar, aku mengambil album foto keluargaku. Masih ada Ibu yang menggendongku, Ayah yang mengajariku bersepeda dan kami bertiga yang belajar berenang bersama-sama sebab sama-sama tidak bisa. Ada juga fotoku sedang mengangkat piala tinggi setelah memenangkan pertandingan catur saat berusia 10 tahun. Ayah mengangkatku tinggi-tinggi dan ibu tersenyum manis sekali.

Sayang sekali kebersamaan itu luntur, sejak Ibu meninggal 3 bulan yang lalu. Tahu-tahu Ayah menjadi sangat sibuk dan tak punya waktu. Sekedar makan malam bersama atau mengantarkanku ke sekolah tak lagi sempat. Aku malah lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ical. Dan Ayah? Tenggelam dalam dunianya sendiri seolah aku tak ada lagi..

Aku sudah memutuskan untuk menulis surat saja buat Ayah. Kupikir itu lebih baik dan Ayah bisa membaca sesempatnya. Surat yang mengabarkan aku sudah lelah merasa sendiri dan tak dianggap penting atau bahkan mungkin dianggap ada. Jadi begini bunyi suratku..

Untuk AYAH
Terima kasih Ayah, Ayah selalu pulang setelah waktu makan malam usai sehingga aku bisa makan tanpa peraturan yang kaku
Terima kasih Ayah, Ayah terus mengganti perhatian dengan uang sehingga aku kelelahan mengahabiskannya sendirian
Terima kasih Ayah, Ayah tak pernah menjemputku atau mengantarkanku sehingga aku punya lebih banyak waktu dengan Ical
Terima kasih Ayah, Ayah tak lagi menemamiku main catur di sore hari sehingga aku bisa berkeliaran sesukaku
Terima kasih Ayah, Ayah tak lagi sempat mengambil raportku sehingga aku tak perlu melihat kebanggaan yang mengharu biru
Terima kasih Ayah, Ayah sudah melupakan hari ulang tahunku sehingga aku tidak perlu menutup mata untuk membuat permintaan sesaat sebelum meniup lilin

Maaf., aku tidak pernah mengerti dunia Ayah
Maaf, aku terlalu banyak menuntut waktu Ayah
Maaf, aku selalu saja tak peduli dengan apa yang terjadi pada Ayah
Maaf, aku tak lagi pernah bercerita tentang duniaku kepada Ayah
Maaf, aku tak lagi memberi dekapan hangat dan ucapan selamat pagi sebelum memulai hari
Maaf, aku membebani hidup Ayah
Maaf, aku menjadi anak Ayah yang membuat Ayah tak bahagia
Maaf, aku tak lagi bisa merasakan cinta dalam keluarga kita
Maaf, aku terlalu menuntut banyak maaf sedang aku tak bisa memberi apa-apa

-NADIA-


Pada baris terakhir dimana namaku berada, air mataku menetes lembut. Aku terlalu lelah sekarang untuk menahan air mata. Aku tidak lagi percaya aku masih punya keluarga. Aku lelah.. aku kehilangan arah..

Tepat pukul 11 malam aku terbangun, ternyata menangis menguras air mata dan aku kelelahan karenanya. Tahu-tahu aku sudah terbangun saja. Namun ada yang aneh, surat yang kutulis untuk Ayah tidak lagi disebelahku. Ada secarik kertas lain yang ditujukan untukku.

Untuk Nadia, malaikat kecil Ayah yang beranjak dewasa

Maaf, Ayah tak pernah lagi menemanimu makan malam atau sekedar main catur di sore hari. Ayah tahu nak, Ayah telah terlalu jauh mengabaikanmu. Tapi bagaimanapun juga sekarang Ayah sendiri. Sendiri mengurus kantor dan usaha perkebunan bunga yang dulu sempat dikelola ibu. Sendiri juga Ayah harus mengatur diri. Sendiri membesarkanmu dan pada yang terakhir ini ternyata Ayah gagal. Ayah tak pernah mau berterus terang kepadamu, kepada permintaan terakhir ibumu, bahwa kaulah yang mengurus perkebunan bunga itu, Ayah pikir kau masih terlalu kecil untuk mendapat beban seberat itu. Ayah takut masa remajamu akan lewat tanpa kau sempat menikmatinya. Ayah takut mengatakan hal ini kepadamu, takut kalau Ayah menyebut Ibu dukamu akan kembali hadir dan Ayah tak sanggup melihatmu menangis karena jauh dalam hati Ayah, Ayah akan lebih dari sekedar menangis. Ayah selalu tak tahan melihatmu bersedih, Nak. Maaf Ayah tak memberitahumu sehingga justru Ayahlah yang membuatmu merasa bersedih atas kesepian yang Ayah ciptakan.
Maaf Ayah tak pernah memberitahumu betapa Ayah sangat khawatir kau bergaul dengan tidak benar, berkawan dengan orang yang salah. Tapi ternyata kau memilih Ical masuk dalam hidupmu dan Ayah selalu yakin dengan pilihanmu. Meski Ayah sangat khawatir Ayah rasa Ayah tidak perlu mengatkannya kepadamu karena Ayah pikir itu hanya akan membuatmu merasa terbelenggu.

Maaf Ayah tak pernah memberitahumu, setiap malam Ayah selalu masuk kamarmu dan tidur disebelah ranjang diatas karpet merah itu. Ayah selalu menciummu keningmu diam-diam dan menatap senyummu yang damai dalam tidur. Itu membuat Ayah lebih kuat untuk menjalani eok hari. Hanya kamu yang memberi Ayah kekuatan. Hanya senyummu yang membuat Ayah bertahan.
Maaf Ayah membuatmu menutup telepon siang tadi. Ayah ingin berkata sebenarnya. Ayah ada di makam Ibu. Mengabarkan kepadanya tentang kau yang terus membuat kami bangga dengan prestasi dan tumbuh menjadi gadis manis yang sungguh cantik. Ayah juga bercerita kepada Ibu betapa Ayah sangat bangga kau tetap menjadi juara pertama di sekolah meski Ibu tidak ada lagi. Ayah menceritakan semuanya Nak. Ayah pikir Ibu juga harus berbahagia di ulang tahunmu ini. Tapi Ayah justru membuatmu kecewa dengan tidak menngatakannya. Entah mengapa sekarang Ayah terlalu takut berkata apa-apa. Takut Ayah akan terlalu sering mengucapkan nama Ibumu dan kau akan merindukannya dan merasa tersiksa. Dan disinilah kesalahan Ayah. Ayah tak lagi pernah berbicara kepadamu. Ayah tak pernah lagi mengatakan betapa Ayah sangat menyayangimu dan bangga padamu. Ayah terlalu takut membagi beban tentang kesedihan ditinggal Ibu. Ayah terlalu sibuk mencintaimu tapi tak pernah membuktikannya dihadapanmu.
Maaf Ayah terus membiarkanmu sendiri, maaf Ayah terlalu sering membuatmu kecewa. Maaf Ayah menyayangimu tapi kau tak lagi tahu.

Sayang, disebelahmu Ayah meletakkan kue ulang tahunmu. Entah apakah sekarang lilinnya masih menyala atau tidak. Jika masih dan kau menginginkan Ayah menemanimu untuk meniupnya, turunlah. Ayah menunggumu didepan gerbang. Tapi jika sudah lewat tengah malam dan kau tak juga turun, Ayah mengerti. Memang Ayah terlalu banyak bersalah dan lebih baik kau sendiri. Ayah mengerti dan Ayah akan membiarkan kau melakukannya sendiri.

-Ayah-


Sampai pada titik terakhir, surat itu sudh basah oleh air mataku. Aku segera berlari keluar membawa kue ulangtahunku yang sudah dingin. Ternyata Ayah sudah menungguku sejak tadi dan teteap terjaga.
"Ayah..",aku berkata pelan. Ayah tersenyum menatapku. Segera aku berlari memeluknya.
"Ayah menyayangimu tapi Ayah tak memberitahumu. Maaf."
"Aku yang bodoh, tak pernah merasakannya."

Dan kami pun tenggelam dalam tangis disaksikan oleh kue ulang tahun yang membeku.