Saturday, 28 February 2015

What have you done?

22:29 0 Comments
Setelah sekian lama hibernasi menulis, jiwa saya terbelah dua. Sebelah jiwa saya selalu berkata, "Nada si penulis sudah mati. Mana ada penulis ngga pernah nulis? Berkarya aja ngga ada karyanya. Udah sana, tekuni dunia IT aja. Ngoding aja sana.". Sebelah jiwa saya yang lain, suaranya lebih lirih.
"Nada, kapan menulis kembali? Bukankah kamu rindu rasanya berhasil menuangkan pikiran dalam tulisan, membacanya berulang kali dan membiarkan orang lain mengkritisi? Bukankah kamu rindu membaca? Bukankah kamu rindu itu semua?".

Lalu saya sendiri membela yang mana? Tak ada. Saya diam saja disini. Justru tak melakoni keduanya. Iya, lebih parah. Kalau Anda mengharapkan akan menemukan semacam motivasi dalam tulisan ini, berhentilah. Ini hanya bentuk dialog imajiner diri saya sendiri. Semacam curhat terselubung yang saya harap bisa menjadi semacam terapi.

Ada banyak ide yang bersliweran. Melihat senja yang merah, saya pikir ini sangat romantis. Melihat jalanan yang lengang di lereng gunung, bukankah ini kedamaian yang akan indah jika dibahasakan? Mengamati pergolakan politik bangsa ini, bukankah akan baik untuk saya jika menelisik kemudian menggubahnya menjadi semacam tulisan fiksi?

Sayangnya semua berhenti menjadi sebatas ide. Sebatas angan. Begitu juga dengan ngoding. Niat awal, saya ingin meneruskan projek Tugas Akhir saya. Nyatanya selalu saja menemukan alasan untuk berkata "Nanti dulu,deh". What a bad habit.

Terus setelah lulus September lalu, saya ini sudah melakukan apa?
Ya, saya sudah melakukan apa?

Setelah wisuda, saya memutuskan untuk pulang dan tidak langsung mencari kerja. Terus apa yang kamu lakukan? Saya memutuskan untuk secara intensif mengaji. Mengaji baca qur'an gitu? Emang belum bisa?

Mengaji bukan soal baca Qur'an saja kawan, mengaji (minimal dalam definisi saya) adalah mempelajari agama. Khususnya agama saya yaitu Islam. Ada banyak cabang sebenarnya yang bisa saya pelajari, mulai dari Tauhid, Hadits, Ulumul Qur'an, Ushul Fiqh, Tasawuf dan lainnya. Lalu mana yang saya pilih? Saya memilih fiqh. Alasana sederhana, fiqh merupakan salah satu yang paling aplikatif dalam kehidupan. Untuk urusan beribadah, saya tahu bagaimana beribadah yang tepat dan benar menurut madzhab yang saya anut. Untuk menjalani urusan kehidupan lain, baik itu dari urusan jual beli, sewa menyewa, menikah, hingga menyelesaikan konflik saya tahu harus bagaimana. Minimal saya tahu harus merujuk kemana. Dan yang paling penting, saya belajar fiqh ini dari seorang Kyai dan Guru yang jalur ilmunya secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Ini penting, bukan sekadar mengikuti Ustad wannabe yang kian hari kian marak. Ustad wannabe yang seringkali mengalami logical fallacy dan sanad ilmunya saya sendiri belum tahu.

Sejujurnya, tak pernah ada kata cukup untuk belajar ini. Untuk memiliki pandangan dan pengetahuan yang menyeluruh, belajar dari satu kitab sangat kurang. Tapi setidaknnya, saya sudah tahu bagaimana harus melangkah. Sekarang, kurang lebih sejak satu minggu yang lalu saya sedang memasuki fase job seeker. Dan ternyata galau sekali. Hahahahaha. So this is it. Fase hidup yang perlu dilewati. Galau - galau sedap yang membuat saya banyak merenung. Hidup itu rupnya adalah persoalan-persoalan yang tak akan ada habisnya. Ini bukan soal siapa cepat dan tepat menjawab soal-soal itu hingga kemudian tergesa-gesa. Hidup adalah tentang menerima pertanyaan-pertanyaan itu dan menyadari pertanyaan yang jauh lebih besar dari ini semua.

Untuk apa hidup saya ini?
Ah, pertanyaan ini sepertinya perlu perenungan lebih lama untuk bisa saya jawab..

Wednesday, 1 October 2014

Sebuah Nasihat Tentang Cinta

10:34 0 Comments
Konon, ketika kamu mencintai seseorang kamu akan menjadi pribadi yang berbeda. Kamu akan memandang dunia sebagai taman bunga. Kamu akan mendengar semua suara sebagai simfoni orkestra. Konon..

Katanya, kamu akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada detik pertama mata kalian beradu, pada menit pertama senyum kalian yang alamiah sama-sama mengembang. Pada suara pertama yang kalian dengar dari saling sapa. Katanya..

Sudah berapa cerita yang kamu dengar semacam itu? Sudah berapa film yang kamu lihat yang memberikan mimpi seperti itu? Sudah berapa lama kamu hidup dalam mimpi-mimpi semu itu?

Nak, kuberitahu. Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang membebaskan dan kamu tahu tak pernah ada perjuangan pembebasan yang ringan. Cinta yang kamu bayangkan selama ini, jika pun itu benar-benar ada, semuanya akan kamu alami dalam satu detik pertama. Itu pun karena hormon yang bekerja tak lama. Selanjutnya apa yang bermain? Hati dan logika.

Cinta sesungguhnya adalah cinta yang membebaskan. Cinta yang membebaskan tidak akan pernah memaksamu menjadi orang lain dan menemukan seorang yang bisa menerimamu dengan utuh dalam sekejap hanyalah dongeng. Butuh waktu untuk mengerti dan butuh masa yang tak sebentar untuk menerima. Butuh perdebatan, argumentasi, saling tuduh dan saling serang hingga akhirnya kalian saling memahami. Apakah itu menyenangkan dan mudah? Nak, itu jalan terjal yang susah.

Seringkali dalam perjalanan, salah satu dari kalian atau kalian berdua merasa lelah. Merasa perjalanan ini tak mungkin dijalani karena betapa sulitnya menerima dan menyatukan isi kepala yang berbeda apalagi isi hati yang sudah tak saling berbicara. Kalian berujar, "Cinta kami sudah pudar, kami tak cocok". Kemudian kamu mencari orang lain, orang yang kamu harap membawa cinta baru.

Cinta adalah proses yang tak pernah mengenal kata selesai. Cinta adalah harapan yang tak pernah usai. Tapi cinta juga perdebatan dan pergumulan yang sering kali gagal dilerai. Cinta juga perselisihan yang kemudian menjadi awal dari bertikai. Cinta itu melelahkan.

Cinta akan memberitahumu kapan kamu harus beristirahat. Cinta tak akan segan mengingatkanmu kapan harus saling memberi nasihat. Cinta akan dengan senang hati memberikan perasaan yang hangat. Cinta akan memberi cahaya saat gelap terasa begitu pekat.

Semua film yang kamu tonton, semua cerita yang kamu baca secara maraton, tidak akan bisa menggambarkan cinta itu tanpa kamu mengalaminya. Dan percayalah, Nak, tak ada cinta yang sama di dunia ini.

Pun, apa yang kuceritakan ini, bisa jadi berbeda denganmu. Bisa jadi apa yang kamu sebut cinta kusebut merdeka. Bisa jadi apa yang kamu anggap cinta kuanggap sebagai mengerti dan menerima. Tak apa, Nak. Cinta punya banyak nama, kamu tak harus melabeli segala yang berurusan dengan rasa. Nikmati saja.

Pesanku, Nak, jangan pernah tertipu dengan segala cerita yang direka. Hidup, dan tentunya cinta tak pernah mudah. Tapi juga tak pernah sia-sia.

Wednesday, 17 September 2014

Surat Untuk Nur

06:30 0 Comments

Nur, kapan kamu pulang Nduk?

Padi di sawah sudah menguning, sudah wayahe panen. Kamu ndak kepingin ikut Bapak panen seperti dulu? Kamu dulu yang paling getol memakai ani-ani tiap kali panen karena katamu,”Kata Bobo, alat panen itu ani-ani pak. Kalau mboten pakai ini, bukan panen namanya”. Bapak yang sampai sekarang masih terbatas mengeja huruf hanya tersenyum saja. Kamu selalu bawa majalah bekas yang lusuh itu ke mana-mana. Selalu rutin beli majalah bekas yang kadang sampulnya sudah koyak itu di Pasar Pon tiap kali Emakmu menjual hasil kebun kita. Bapak ingat betul, senyummu mekar dari ujung ke ujung seharian memegang majalah itu. Sesekali kalau Emakmu selesai menyetrika dengan setrika arang yang kini sudah di gudang itu, kamu menyetrika majalahmu yang lusuh itu dengan hati-hati. Sesudah itu, kamu simpan hati-hati di lemarimu yang kecil itu. Senyummu waktu itu Nur, selalu membuat lelah Bapak hilang setelah seharian di sawah.

Apakah sekarang kamu masih sering tersenyum seperti itu, Nur?

Lik Di yang jadi sopir truk yang tiap Minggu ke Jakarta itu kemarin sempat mampir ke rumah. Bercerita tak sengaja bertemu kamu. Katanya, kamu sekarang lebih berisi. Bapak lega, paling tidak kamu makan cukup. Tidak seperti jaman kamu kecil dulu, Nur. Sering kali sego aking yang keras itu masih harus kita bagi-bagi, lauknya hanya daun singkong di kebun dengan sambal bikinan Emakmu. Bapak tahu kamu sering kali melihat lama bakul nasi, berharap Emak memberimu secentong lebih dari biasanya. Tapi Nur, memang tak ada apa-apa lagi di sana yang bisa dimakan. Setiap kali Bapak tanya apakah kamu masih lapar, kamu akan menggeleng. Kemudian menghambur ke rumah Kaji Mat di ujung desa. Ikut memilih biji kopi alih-alih bermain di lapangan masjid dengan teman-temanmu. Lima hari sekali, kamu akan ikut antre dengan ibu-ibu di depan rumah Kaji Mat, menunggu gaji. Hanya 100 rupiah tapi sudah lebih dari cukup, cukup untuk membeli majalah bekas di Pasar Pon. Sisanya kamu tabung di celengan ayam jago yang dulu dibelikan Emakmu waktu kamu mulai sekolah.

Apakah sekarang kamu masih rajin menabung seperti dulu, Nur?

Kata Lek Di, kamu sekarang sudah pakai baju bagus. Istilahnya Lek Di, baju kantoran yang kinyis-kinyis yang harganya tak kurang dari tiga ratus ribu rupiah harus beli di mall, tak dijual di Pasar Pon. Alhamdulilah Nur, berarti kamu sudah punya cukup uang untuk membeli baju baru dan bagus. Bapak dulu hanya bisa membelikanmu seragam bekas. Setiap lebaran, bajumu adalah lungsuran dari anak-anak Kaji Mat. Kamu tak pernah ngangluh, tak pernah meminta baju baru. Kamu cuma minta sekolah dan sekolah. Sampai akhirnya Bapak berani menyewa sawah, dengan modal pas-pasan. Berdasarkan hitungan sederhana Emakmu yang tak pernah tamat SD, kalau jadi buruh tani, kamu tak akan pernah bisa sekolah hingga SMP. Kamu ingat Nur pertama kalinya Bapak menggarap sawah sendiri dan bukan jadi buruh? Sehabis matahari tergelincir, kamu datang ke sawah membawakan makan dan mengamati padi-padi itu. Kamu ukur sudah tumbuh seberapa tinggi dan kamu bandingkan dari hari ke hari. Waktu bulir padi pertama keluar Nur, kamu lari ke gubuk dengan penuh semangat dan menyeret Bapak untuk melihatnya. Matamu saat itu Nur, penuh cahaya. Membuat Bapak tak pernah kehilangan semangat untuk ke sawah tiap hari. Membuat Bapak tak peduli panas tak peduli hujan, Bapak cuma ingin kekarepanmu itu terpenuhi. Sekolah.

Apakah masih ada kekerapenmu yang sekarang belum terpenuhi, Nur?

Kata Lek Di, kamu sekarang menjadi manusia sibuk. Menyapa Lek Di sebentar saja, titip salam untuk Bapak dan Emak kemudian berlalu sambil menonton benda yang sekarang sering dibawa-bawa Karman, mantri desa kita yang dulu sempat sekolah di kota. Kata Karman itu namanya sematpun,  Bapak lihat lebih mirip tivi kecil di rumah Kaji Mat tapi sematpun bisa digenggam satu tangan saja. Kalau-kalau nanti kekarepanmu sudah terpenuhi semua, maukah kamu memenuhi kekarepan Bapak, Nur?

Bapak hanya ingin kamu pulang sebentar saja, Nur.

Kamu masih ingat jalan pulang, Nur?

Monday, 15 September 2014

Algoritma Kehidupan

22:03 0 Comments

"Bagaimana cara kalian menuju kampus? Rute mana yang kalian pilih?".

Pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama yang saya dapat di bangku kuliah. Beberapa kawan saya menjawab dan jawaban masing-masing berbeda. Ada yang naik sepeda motor, mobil, sepeda pancal bahkan jalan kaki. Rute yang dipilih pun berbeda karena kami semua tak tinggal di tempat yang sama.


"Begitulah juga algoritma. Algoritma adalah hal yang paling otentik dan unik dari manusia. Algoritma adalah cara manusia menyelesaikan masalah, karena otak dan pribadi manusia unik maka mustahil algoritma masing-masing sama persis".


"Yang membedakan adalah proses. Sebab jikalau bicara hasil, hasilnya tentu masalah itu terselesaikan".


"Kalau tidak bisa selesai pak?"


"Itu namanya masih proses."


Algoritma tiap orang menjadi berbeda karena banyak hal. Pengetahuan, pengalaman, kecerdasan dan juga perasaan. Hal ini menyadarkan saya, bahwa menjadi pribadi yang unik itu niscaya, karena tidak ada hidup hasil foto copy. Kalau soal waktu berjalannya algoritma alias running time, tiap manusia bisa jadi berbeda.


Dan berbeda itu tidak salah. Berbeda itu tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah tidak mau belajar mempercepat running time. Dosen saya itu menggunakan istilah, time limit exceeded, kehabisan waktu.


"Algoritma yang boros dan tidak efektif. Jangan jadi manusia tidak efisien macam begitu.".


Satu hal lagi yang harus dihindari, meniru mentah-mentah algoritma orang lain. Hal yang paling dibenci dosen saya itu. Hidup pun sama, mengapa harus repot meniru menjadi sama padahal fitrah manusia itu berbeda?