Saturday, 18 June 2016

Kuliah di UK - What I Need to Know? Part 2

16:55 0 Comments
Setelah 3 bulan lalu menulis bagian 1, kini akhirnya selesai juga bagian ini. Semoga malas tidak melanda untuk menuliskan bagian terakhir nanti!

Juni 2015 saya mendapatkan dua kenikmatan yang luar biasa. Unconditional Letter dari Warwick Business School dan juga beasiswa LPDP. Pada saat itu, perasaan saya bercampur antara syukur, senang , nervous dan juga penuh pertanyaan akan seperti apakah hidup saya nanti di UK dan apa saja yang harus saya persiapkan. Tulisan ini, menyambung tulisan saya sebelumnya, ditujukan untuk teman-teman yang berada di fase tersebut. Sudah diterima di universitas tujuan dengan sokongan dana penuh baik itu dari beasiswa maupun dari kantong pribadi.


Saya mendapatkan cukup banyak pertanyaan di fase ini yang akan saya coba rangkum dan semoga membantu!


Sebaiknya tinggal di mana UK?

Memilih tempat tinggal di UK perlu mempertimbangkan beberapa faktor dan prioritas dari faktor-faktor tersebut bisa berbeda antara satu orang dengan yang lain. Faktor yang perlu dipertimbangkan adalah area kampus, lokasi kampus, beban kuliah, keamanan dan juga kenyamanan. Di UK, setidaknya ada dua macam tipikal area kampus. Kampus dengan area terpusat yang artinya semua wilayah kampus berada di area yang sama dan kampus yang memiliki gedung-gedung yang terpisah namun masih berada dalam satu kota yang sama. Contoh kampus dengan area terpusat di Indonesia adalah seperti ITS dan UI. Sementara kampus dengan gedung-gedung yang terpisah seperti UNAIR dan UGM. Kampus saya sendiri areanya terpusat di Coventry, mirip dengan kampus saya dulu ITS. Hampir semua kebutuhan mahasiswa ada di area kampus mulai dari supermarket, kantor pos, bank, bioskop, art centre, bookshop, health center, sport center, masjid, hingga café dan bar. Di kampus semacam University of Warwick, tinggal di dalam kampus atau on campus menjadi nilai lebih karena hal-hal tersebut. Alasan lainnya adalah beban kuliah yang mengharuskan saya untuk sering di kampus hingga larut malam karena ada group work. Teman-teman saya yang tidak tinggal on campus, harus meninggalkan kampus dan berkejaran dengan bis terakhir sekitar pukul 11 malam. Kalau tertinggal, selamat menunggu sampai pagi berikutnya atau harus naik taksi.


Lingkungan on campus juga relatif lebih aman karena ada security yang selalau berkeliling dan mengamankan kampus. Berjalan pukul 3 pagi di tengah kampus saya tetap merasa aman dan nyaman saja. Tinggal on campus juga memberikan kesempatan saya untuk mengenal orang-orang baru. Campus accomodation, atau akomodasi yang dikelola kampus juga bisa memberikan kesempatan ini. Saya bisa berteman dengan orang yang memiliki latar belakang yang jauh berbeda dari saya dan tentunya ini memberikan kesempatan jejaring untuk saya juga. Tinggal off campus juga memiliki kelebihan dari segi biaya, yang biasanya jauh lebih murah. Teman-teman dari Indonesia seringkali bersama-sama menyewa satu rumah dan ditinggali bersama. Biaya yang dihemat bisa sampai separuh biaya tinggal on campus. Tinggal off campus juga artinya kita bisa memilih lokasi kita dan lingkungan kita. Dan untuk yang kampusnya tersebar, hal ini juga menyenangkan karena kita bisa memilih lokasi yang berdekatan dengan gedung jurusan atau laboratorium kita.


Saya sendiri tinggal on campus dengan pertimbangan kuliah yang penuh dan tugas yang mengharuskan saya berada di kampus hingga larut. Ibu saya sendiri merasa lebih yakin jika saya tinggal on campus dan Alhamdulilah saya mendapatkannya. Konsekuensinya, saya harus lebih berhemat di makanan dan juga pengeluaran yang lain. Namun untuk saya pribadi, hal itu sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Kalau kamu masih bingung, silakan pertimbangkan faktor-faktor tadi dan mana yang kamu prioritaskan. Jika biaya adalah prioritas kamu, saya sarankan kamu mencari akomodasi off campus yang murah. Namun jika kamu memiliki prioritas yang sama dengan saya, kamu bisa memilih tinggal on campus.


Soal makanan halal bagaimana?

Alhamdulilah, di dekat kampus saya terdapat supermarket besar yang menyediakan daging halal. Saya biasa memasak sendiri selain karena alasan hemat juga karena saya bisa yakin jika makanan saya itu halal dan sehat. Namun di UK tempat makanan halal sendiri mudah ditemui. Beberapa toko biasanya menuliskan logo halal di toko mereka. Meskipun tidak semudah mencari makanan halal di Indonesia, restoran di UK juga beberapa menyediakan menu halal. Sebagai kostumer kita dituntut lebih aktif mencari tahu tentang kehalalan ini jika kita memang memiliki concern yang tinggi dengan apa yang kita makan. Tapi memang yang paling mudah masak sendiri, sehat dan murah. Saya sendiri biasanya sekali masak dalam jumlah besar dan saya simpan di kulkas, sehingga bisa saya makan untuk hari berikutnya, tinggal menghangatkannya di microwave. Cara ini selain efesien waktu juga effort.


Kalau begitu, apa saja yang perlu saya bawa? Baju hangat bawa dari Indonesia juga?
Di awal musim tahun ajaran baru, biasanya akan ada banyak barang hibah dari mahasiswa yang lulus tahun sebelumnya. Pastikan ini dulu di kampus kamu jadi kamu tahu apa yang perlu dan tidak kamu bawa. Barang barang elektronik saya sarankan untuk membeli di UK saja, selain karena makan tempat, di UK toh ada juga. Dan untuk baju hangat, di UK harga lebih murah dan lebih sesuai dengan cuaca UK. Strategi saya sendiri, untuk baju musim dingin karena tidak akan saya pakai lagi di Indonesia, saya membeli baju musim dingin yang hangat dengan harga bersahabat. Yang biasanya menjadi langganan saya adalah Primark. Selain hemat bagasi, membeli baju di UK harganya murah jika dibandingkan dengan harga makanan. Karena itu, sebaiknya yang di bawa dari Indonesia justru makanan khas yang susah ditemui di UK semacam abon, rendang dan bumbu-bumbu lain. Namun harus perlu diperhatikan betul jika membawa olahan daging, pastikan dibungkus berlapis-lapis dan rapat agar tidak terendus oleh anjing pelacak, karena sebenanrnya membawa makanan olahan daging ke UK itu dilarang.


Hal lain yang saya bawa dari Indonesia karena tidak ada di UK adalah guling. Jika kamu tipikal orang yang tidak bisa tidur tanpa guling, maka guling hukumnya menjadi wajib. Obat-obatan khas Indonesia semacam minyak kayu putih dan tolak angin juga menjadi begitu berharga di UK.


Untuk visa bagaimana?

Saran saya untuk visa, kunjungi website imigrasi UK dan pelajari setiap dokumen yang dibutuhkan untuk visa pelajar atau visa Tier 4. Terjemahkan setiap dokumen yang dibutuhkan di penerjemah tersumpah yang ada di daftar website tersebut. Selain ijazah, dokumen lain seperti KK dan Akta kelahiran tidak perlu dilegalisir ke kantor catatan sipil. Namun untuk ijazah dan transkrip saya sarankan untuk dilegalisir oleh pihak sekolah atau universitas. Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah soal pemesanan tiket, saran saya pesan tiket setelah visa kita keluar. Karena di visa tersebut akan ditulis kapan kita diperbolehkan masuk ke UK. Jika kita memesan tiket di luar tanggal tersebut maka kita harus menggantinya.  Apakah perlu jasa agen? Berdasarkan pengalaman saya, mengurus visa sendiri mudah karena semua data pendaftaran bisa kita penuhi sendiri dan pendaftarannya pun bisa kita lakukan melalui website.



Wednesday, 23 March 2016

Kuliah di UK - What I Need to Know? Part 1

19:29 0 Comments
Sewaktu saya masih menyiapkan studi lanjut saya, ada beribu pertanyaan yang menghampiri. Beruntungnya, saya memiliki teman-teman yang bisa saya tanyai langsung untuk mendapatkan info apa dan bagaimana kuliah di UK. Semoga teman-teman saya yang baik hati itu, tidak bosan saya tanyai terus-terusan karena alhamdulilah akhirnya saya bisa meneruskan jejak mereka.

Setelah saya kuliah, kini giliran saya yang dapat banyak pertanyaan. Baik dari teman-teman dekat, teman tidak terlalu dekat sampai orang asing yang entah bagaimana caranya bisa menemukan saya itu. Pertanyaan-pertanyaan itu juga begitu banyak dan saya rasa saya perlu membagikan jawaban-jawaban saya itu di blog. Bukan untuk pamer, tapi untuk membantu mereka yang masih punya pertanyaan dan belum puas dengan jawaban-jawaban yang ada.

Tulisan ini saya bagi dalam tiga bagian dengan format Q&A. Bagian pertama untuk mereka yang masih ditahap belum menentukan dan belum mendapatkan sekolah. Bagian kedua untuk mereka yang sudah mendapatkan sekolah dan mempersiapkan diri untuk berangkat dan Bagian ketiga untuk mereka yang baru saja sampai. Semoga tulisan ini bisa membantu.

Bagian Satu : untuk mereka yang ingin menentukan kuliah lagi atau tidak dan sedang memilih kampus tujuan
Bagian ini biasanya dimulai dengan pertanyaan, bagaimana rasanya kuliah di UK dan apa bedanya dengan kuliah di Indonesia.

Q: Nada, bagaimana rasanya kuliah di UK?

A: Menyenangkan dan menegangkan. Jawaban ini sebenarnya bisa sangat subjektif karena pengalaman setiap orang berbeda. Jawaban saya ini pun tidak dapat dijadikan jawaban general bahwa semua yang kuliah di UK mengalami apa yang saya alami. Okay, lanjut ke jawaban saya. Mengapa menyenangkan? Karena fokus studi saya berubah dari semula murni engineering menjadi lebih ke arah bisnis. Pendidikan S1 saya tempuh di Institut Teknologi Sepuluh Nopember di bidang Teknik Informatika. Sehari-hari semasa kuliah saya disibukkan dengan tugas yang mayoritas tugas coding. Ilmu coding saya dapatkan dari kampus dan buku diktat untuk algoritma. Saya jarang baca paper karena jarang mata kuliah mewajibkan saya untuk membaca paper. Yang ada adalah buku diktat tebal dengan tugas-tugas coding yang tanpa henti. Akhir pekan biasanya saya habiskan di kampus apalagi jika sudah mendekati akhir semester saat jadwal demo final project mulai datang satu per satu. Di teknik informatika, mahasiswa dituntut untuk bisa menganalisa masalah, memecahkannya dengan seefisien mungkin dan membahasakannya dalam bahasa pemrograman. Bahasa pemrograman menuntut ketelitian luar biasa, karena satu karakter yang salah saja cukup untuk mengacaukan program yang dibuat. Dan sering kali error dalam program (biasa disebut bug) yang membuat saya susah tidur. Mengapa saya perlu menjelaskan ini panjang lebar? Karena ini akan memberikan gambaran bagaimana saya bisa mengatakan kuliah S2 itu menyenangkan.

Saya mengambil pendidikan master saya di University of Warwick, tepatnya di Warwick Business School dengan course Information System Management and Innovation atau biasa disebut ISMI. Wait, kok pindah jurusan sih, Nad? Salah satu alasan utama kenapa saya mengambil jurusan saya ini karena saya menyadari untuk membuat software, saya tidak hanya belajar bagaimana suatu software itu dibuat tapi juga bagaimana mengelola software dan orang-orang yang terlibat dan menggunakannya. Sisi sosial dari software ini yang ingin saya pelajari karena menurut ini sama pentingnya dengan sisi teknis.

Dalam perkuliahan master, tidak ada mata kuliah yang mengajarkan ngoding sama sekali. Inilah alasan menyenangkan pertama. Bukan karena saya benci ngoding tapi karena terlepas dari beban testing, debugging, rewriting program itu menyenangkan juga. Kuliah saya lebih banyak tentang mempelajari kasus-kasus bidang IT dipandang dari sudut manajemen dan sosial. Karena itu, setiap sebelum perkuliahan akan ada paper-paper yang harus dibaca. Jika semasa S1, buku diktat adalah panduan utama, di S2 ini buku justru jadi rujukan kedua setelah paper. Paper dianggap sebagai bahan utama karena pembahasan yang lebih mendalam daripada buku. Tugas-tugas saya sendiri adalah tugas kelompok dan tugas essay.

Disinilah hal menegangkan itu muncul. Menulis essay. Jika itu terjadi di kuliah S1 saya, saya akan sangat bersyukur disuruh menulis essay daripada menulis program. Tapi ternyata menulis essay pun tak mudah. Di UK, aturan mengenai plagiarisme diatur sangat ketat, kedalaman analisis juga benar-benar dinilai. Jadi tak hanya sekadar menyalin apa yang tertulis di buku diktat. Essay yang bagus adalah essay yang menunjukkan kualitas berpikir kritis dengan analisa mendalam didukung dengan dasar teori yang kuat. Untuk menghasilkan satu essay yang bagus saya harus membaca belasan hingga puluhan paper dulu, ditambah setumpuk buku-buku diktat. Sudah terbayang menegangkannya?

Di UK, nilai juga sangat ketat. Disini 70 adalah nilai distinction. Semacam nilai A jika di Indonesia. Sementara batas lulus adalah 50 untuk master. Mudah kah dapat 70 untuk essay? Untuk saya, SUSAH. Meskipun pernah, itu harus ngos-ngosan dulu dan tidak tidur berhari-berhari. Meskipun banyak mahasiswa Indonesia lulus distinction (semacam cumlaude), yang lulus dengan nilai ngepas dan bahkan tidak lulus juga ada.

Di UK juga essay-essay itu biasanya diberikan setelah masa perkuliahan selesai, artinya liburan adalah liburan semu karena saat itulah kita harus mengerjakan essay. Yang menyenangkan, akses paper yang berlimpah, ilmu-ilmu baru yang terus berkembang tanpa terlalu sibuk dikurung dalam sekat, ruang belajar yang mendukung dan teman diskusi yang banyak membuat iklim belajar disini meskipun menegangkan tetap menyenangkan. Sampai sini, masih ingin sekolah di UK?

Q: Masih dong. Kan ingin dapat pengalaman belajar di luar negeri. Tapi mahal ya?
A: Iya. MAHAL. Pake banget. Tapi alhamdulilah saya mendapatkan beasiswa.

Q: Beasiswa apa? Bagaimana cara mendapatkannya?
A: Beasiswa yang tersedia sebenarnya banyak, tapi yang populer di Indonesia adalah LPDP dan Chevening. Saya sendiri penerima beasiswa LPDP. Untuk tahu LPDP itu apa, bisa langsung cek di website lpdp http://www.lpdp.depkeu.go.id/. Termasuk persyaratan pendaftarannya apa saja dan bagaimana prosesnya. Kalau memang ingin sekali mendapatkan beasiswa LPDP, saran saya baca sampai tuntas website lpdp dan jangan sampai menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah jelas ada di website seperti, "Syarat IPK berapa?" atau "Dokumen apa saja yang perlu disiapkan?". Saya kurang semangat menjawab pertanyaan macam itu karena artinya orang yang menanyakannya kurang serius dalam mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa. Kalau informasinya tidak tersedia di website, barulah layak untuk ditanyakan.

Yang harus diingat, jawaban saya tidak mewakili jawaban resmi dari LPDP karena jawaban resmi LPDP hanya ada di laman resmi LPDP. Jawaban saya adalah jawaban-jawaban pribadi sebagai seorang awardee LPDP. Sebenarnya ini termasuk pertanyaan syarat masuk Warwick apa saja dan dokumen apa saja yang perlu disiapkan, berapa skor IELTS yang diminta. Karena informasi ini sudah ada di website University of Warwick (dan juga mayoritas Universitas di UK) tertera dengan lengkap dan jelas. Kuncinya satu, kalau memang ingin kuliah di UK, jangan malas mencari informasi dan membaca dari website-website. Itulah sumber utama, pertanyaan ke teman-teman atau tulisan semacam ini hanyalah sumber pelengkap dan tersier saja.

Kembali ke persoalan bagaimana saya mendapatkan beasiswa, saya saat itu mengikuti proses pendaftaran beasiswa berbarengan dengan mendaftar kuliah di University of Warwick. Saya menyiapkan semua dokumen untuk beasiswa, mulai dari ijazah sampai essay. Saya juga menyiapkan diri untuk wawancara. Untuk wawancara, saran saya hanyalah satu, kenalilah dirimu sendiri dan tujuanmu. Mengapa ingin kuliah lagi, apakah memang ada tujuan atau sekadar ingin karena menurutmu itu sedang trend. Bagaimana mengenali diri sendiri dan tujuan studi akan sangat menentukan arah dan hasil wawancara.

Q : Kalau untuk kuliah, ceritakan dong sampai diterima di University of Warwick!
A: Saya termasuk orang yang dari awal sudah tahu akan kuliah dimana dan saya pun tidak mendaftar ke universitas lain. Beruntungnya saya dinyatakan diterima seminggu setelah semua berkas saya lengkap. Sangat cepat dibandingkan dengan universitas lain yang bisa menunggu sampai tiga bulan lamanya. Saat itu, saya masih kurang hasil test IELTS, jadi saya masih diterima bersyarat. Dokumen yang saya miliki, Conditional Letter, itulah yang saya bawa saat wawancara LPDP. Begitu saya mengirimkan hasil IELTS saya yang memenuhi persayaratan, saya mendapatkan Unconditional Letter. Setelah saya dinyatakan diterima, pihak kampus juga meminta saya untuk mengirimkan dokumen-dokumen via pos. Untuk ini, setiap universitas memiliki kebijakan yang berbeda. Ada yang verifikasi dokumen dilakukan saat daftar ulang tapi ada juga yang seperti University of Warwick.

 Tiga pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling banyak saya dapatkan untuk tahap satu, kalau ada jawaban yang terasa pedas dan kurang manis, begitulah kenyataannya. Saya tidak akan mengatakan kuliah di UK itu menyenangkan dan mudah, saya cuma mengatakan, kalau saya bisa, kamu juga bisa. :) 

Saya berasal dari Temanggung, kabupaten di Jawa Tengah. Tinggal pun di kecamatan, bukan di pusat kota. Kalaulah saya yang anak desa biasa-biasa saja ini bisa, kamu juga bisa. :)

Jika merasa ada pertanyaan yang belum terjawab, bisa dipost di kolom komentar. Saya akan kembali dengan posting Q&A bagian dua dan tiga! Semoga membantu!

Sunday, 1 November 2015

1450

15:44 0 Comments

Dear Boi,
Ini kartu pos ke lima yang kukirim untukmu. Sudah sampaikah 4 yang lain? Kau memintaku untuk mengirimimu kartu pos dari kota-kota yang kukunjungi. Katamu, kartu pos selalu punya kemampuan magis yang tidak bisa kau jelaskan dengan akal. Jelas-jelas aku bisa mengirimimu potret atau video dalam sekejap, lebih jernih dan actual. Katamu, justru segala sesuatu yang langsung datang tanpa penantian itu membuat segalanya terasa murah. Ada yang mahal dan begitu berharga dalam sebuah penantian.
Kali ini sengaja kupilih kartu pos ukuran besar, agar aku bebas bicara tanpa terbatas ruang. Lelah aku, Boi. Selama ini kita sudah terpisah ruang—lebih tepatnya jarak yang begitu jauh—jadi biarlah kali ini aku gunakan sedikit ruang yang ada untuk sekadar berbagi kata-kata.
Sudah 1450, Boi. Apakah kau menghitung? Bukankah kau begitu gemar dengan menghitung angka? Apalagi ini soal kita. Luar biasa, Boi. Mengutip lagu kegemaranmu saat kanak-kanak, kita sudah mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera. Kita sudah melewati begitu banyak jalan yang terjal. Kadang kita terdiam sesaat di persimpangan, untuk sekadar memutuskan apakah kita masih menjadi rekan seperjalanan atau kita cukupkan perjalanan ini sampai di persimpangan-persimpangan itu. Beberapa kali kita memilih untuk berpisah, namun rupanya jalan yang kita pilih bermuara di persimpangan yang sama dan lagi-lagi menjadi teman perjalananmu adalah hal yang menyenangkan dalam hidup ini.
Terima kasih, Boi. Kali ini pun kita sepakat untuk menempuh jalan yang berbeda setelah tiba di persimpangan dua lima. “Kejar saja mimpimu”, katamu waktu itu. “Toh aku tahu, muara kita satu”. Siapapun yang tiba lebih dulu di persimpangan jalan, biasanya kita menunggu hingga yang lain datang sebelum melanjutkan langkah. Meskipun kali ini, aku tahu kau akan lebih dulu tiba. Boi, maukah kau menungguku seperti kau sabar menunggu kartu pos-kartu pos itu? Maukah kau menjadikanku mahal dan berharga dalam penantianmu?

Penuh Sayang,


Gadis

Thursday, 22 October 2015

Islam yang Begitu Intim

01:16 0 Comments
[Friendly reminder :Tulisan ini sangat personal bagi saya karena menjadi pengalaman batin luar biasa untuk saya. Jika Anda tidak menyukai Islam yang damai, silakan berhenti membaca sekarang juga.]

Mengapa saya memberikan judul yang kontroversial? Sesungguhnya tidak. Intim adalah kedekatan dan bagi saya apa yang saya tulis terasa begitu dekat, terasa begitu personal dan ini menjadikan pengalaman spiritual di negeri orang menjadi terasa mahal.


Saya tinggal di flat kampus yang berisikan lima orang. Saya adalah satu satunya yang berasal dari Indonesia, sementara flatmate saya berasal dari China dan Taiwan. Mereka tidak pernah kenal agama (china melarang agama kata salah seorang flatmate saya), suka minum alkohol dan tentu asa doyan daging babi. Lantas jika tahu kemungkinan tinggal dengan orang asing yang bukan muslim sangat besar, mengapa saya tetap memilih tinggal di flat kampus? Alasan paling utama adalah keamanan. Jurusan yang saya ambil di University of Warwick membuat saya sering di kampus hingga malam hari. Dengan tinggal di kampus, saya hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit untuk pulang ke rumah.


Hall Campus tempat saya tinggal

Kembali ke flatmate saya, apakah mereka flatmate yang baik? Iya. Mereka sangat mengerti saya saya menjelaskan bahwa saya tidak makan babi, saya tidak bisa mencampurkan makanan saya dengan babi. Karena itu mereka selalu memisahkan babi-babian di rak tersendiri di kulkas (Tinggal di flat, artinya kami berbagi dapur dan juga kulkas). Jadi meskipun kami shared kitchen, hidup saya tetap damai. Mereka banyak bertanya mengapa saya memakai jilbab, apa yang saya rasakan dengan terus-terusaan memakai jilbab. Mengapa ada juga muslimah yang tidak berjilbab. Mengapa saya tidak minum alkohol sementara ada muslim minum alkohol. Rasa ingin tahu mereka tentang Islam begitu besar, bahkan salah satu flatmate saya mengatakan saya adalah orang berjilbab pertama yang ia kenal.

Flatmate saya banyak bertanya  soal islam, soal mengapa saya memilih Islam (do I take it for granted just from family?), apa yg orang Islam percaya setelah kemat ian dan sebagainya. Saya menjelaskan Islam dengan cara sebaik mungkin yang saya bisa. Kami sering bertemu dan menghabiskan waktu di dapur. Sering kali kami kemudian berdiskusi soal China, soal Indonesia.

Saya berterima kasih kepada mereka karena mereka mau memisah daging-daging babi itu di satu rak saja di kulkas. Jadi rak saya aman dari babi. Mereka melsayakannya dengan senang hati. Saya berterima kasih karena mereka tidak pernah memakai alat cuci piring saya sehingga tidak terkontaminasi babi. Saya pun menghargai mereka yang suka makan babi dan mereka juga menghargai pilihan saya untuk tidak makan babi. Bagi mereka, ini adalah sesuatu hal yang baru.

Pernah juga, flatmate saya menawari makanan kepada saya. Dia menawarkan ayam yang baru saja ia masak. Saya berusaha sesopan mungkin menjelaskan bahwa saya tidak bisa memakannya karena saya tahu ayam yang dia masak bukan ayam halal. Saya menjelaskan bahwa dalam Islam, tidak semua daging bisa dimakan. Hewan tersebut harus disembelih mengikuti tata cara Islam sebelum bisa dimakan. Saya menjelaskan apa itu halal dan mencoba menjelaskannya dengan memberikan contoh daging ayam saya yang halal. Apakah dia marah? Dia tidak tersinggung. Dia menghargai pilihan saya dan kami tetap berteman baik. Dia tidak menganggap saya sok suci dan sebaliknya saya juga tidak menganggap dia kotor.

Sejak saat itu jika mereka ingin berbagi makanan, katakanlah snack, mereka akan bilang itu cuma sayur tidak ada alkohol atau babi. You can check the ingredient. Dan ya, They are so nice to me. Sampai akhirnya ada salah satu teman saya yang bilang, "Maybe, I will think every muslim is like you, Nada. So nice and helpful"
SubhanALlah itu adalah momen yg sangat membahagiakan dan relijius buat saya. Ketika kita bisa mempotretkan Islam yang ramah, Islam yang indah. Bukan Islam yang kaku dan penuh amarah.

Menjadi minoritas saya belajar, untuk tidak menjudge orang dan berusaha bersikap baik ke siapapun. Kapanpun. Bagi saya inilah saatnya menunjukkan Islam itu damai dan sejuk. Para wali,  kyai dan habaib jaman dulu sibuk mencitrakan Islam yang semacam itu di nusantara dan akhirnya Islam bisa diterima dengan baik. Saya sedih sekali sekarang malah ada yang gencar bukan main mengkafirkan saudara sesama muslimnya dengan cara menfitnah.

Bagi saya menjadi muslim itu bukan sekadar soal sholat lima waktu saja , tapi bagaimana kita bisa menebar damai di sekeliling kita di lingkungan bukan muslim sekalipun. Menjadi muslim harusnya menerapkan hubungan sosial yang baik. Contohnya jika ada teman yang salah, ilakan diingatkan dan tabayyun (konfirmasi). Jangan malah koar koar di grup atau medsos. Mari citrakan Islam yang damai dan ramah.
Di sini saya belajar bersyukur. Disini pun tidak semua masjid itu boleh dimasuki perempuan, tidak seperti di Indonesia yang memudahkan muslim beribadah di mana saja. Saya kadang harus shalat hormatil waktu di bis, lantas saya qodlo begitu sampai rumah.

Disini saya belajar bersyukur. Disini harus masak sendiri untuk memastikan kehalalannya, namun alasan paling utama adalah untuk berhemat (ada pula catering halal di kampus tapi sejauh saya bisa memasak sendiri, saya memasak sendiri). Sementara di Indonesia banyak warung sehingga urusan makan menjadi mudah.
Disini saya belajar memahami bahwa agama dan kepercayaan adalah sesuatu yang sangat personal. Kita tidak boleh memaksakan agama, kepercayaan dan pilihan hidup kepada siapapun. Kita harus memberikan ruang untuk orang lain agar bisa beragama dan menjalani kepercayaan dengan nyaman.
Apakah karena saya muslim dan saya memilih bersikap seperti itu, jika ada teman saya yang tidak mengambil sikap yang sama saya harus selalu berkhotbah kepada mereka dengan kata-kata? Saya harus selalu mengatakan ini salah ini haram? Saya harus selalu mengatakan kamu akan masuk neraka? Saya harus selalu menegur dengan menyakiti hati?

Saya pikir (everyone free to have their own mind) ada cara yang elegan, sopan dan toleran. Dengan menunjukkan sikap tanpa harus menjadi menggurui dan menghakimi. Dan inilah yang saya pelajari dari menjadi santri, dan inilah yang saya dapatkan dari menjadi muslim. Apakah harus menjadi santri dan muslim untuk bersikap seperti itu? Tentu tidak. Tapi jika ada orang yang mengaku Islam namun justru menebarkan ketidaknyamanan dan teror untuk orang disekelilingnya, saat itulah keislamannya patut dipertanyakan.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan quote dari Imam Ghozali .
 We are creatures that love to blame the external, not realizing that the problem is usually internal.