Saturday, 8 August 2015

Thank You

00:55 0 Comments
Saya percaya, setiap orang yang singgah dalam hidup saya turut membentuk saya yang sekarang. Ada yang singgah untuk memberikan pelajaran, ada yang datang untuk menyemai mimpi dan cita, ada yang bertahan untuk bersama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Dan satu pelajaran yang saya camkan betul, sebanyak apapun orang yang datang dan saya temui, pada akhirnya ini adalah perjalanan hidup saya sendiri. Tak seorangpun patut menjadi tempat bergantung, kecuali diri sendiri. Orang-orang bisa pergi kapan saja ia mau atau saat Dia berkehendak. Betapapun saya meminta untuk tinggal, saya tak bisa menahan siapapun untuk tak meninggalkan saya.
Yang tinggal kemudian adalah diri saya sendiri dan kenangan yang menjadi pelajaran. Sementara orang-orang itu, siapapun itu, akan berlalu. Ada yang menoleh dan menghampiri sesekali waktu, ada yang mencari setiap ada kesempatan, tapi ada pula yang berjalan cepat dan tak menoleh sama sekali.
Jika suatu hari saya menghampirimu setelah sekian lama tak berkabar, ingatlah bahwa saya ingin berterima kasih dari hati saya terdalam. Terima kasih telah menjadi bagian yang turut menjadikan diri saya yang sekarang, yang tak pernah sempurna tapi berusaha terus belajar.
Jika hingga saat ini saya masih terus mencarimu dan kembali padamu, ingatlah bahwa kamu sudah menjadi bagian penting dalam hidup saya. You've made me to be who I am today. I am not good at 'keep in touch' with friends and relatives, so please find me when I am lost. (by good I mean, I regularly contact you, meet you and spending time with you at least once a year. Sometimes I get awkward when meeting long lost friend).
I write this because I realise, I am so grateful to meet you all, to know you all and to have you all, whatever lesson you've given to me.

Thursday, 4 June 2015

Kenangan Denok Ayu (part 1)

21:18 0 Comments

Kebaya itu masih tergantung di lemari, menunggu disentuh. Semua penghuni lemari yang lain telah berpindah rapi ke dalam koper. Denok Ayu sudah bersiap membawa pergi semua yang ia punya, kecuali kenangan.

Ia tak ingin membawa kenangan-kenangan yang tak pernah tuntas. Bukankah pergi ke tempat baru seharusnya membuatnya mudah menciptakan kenangan baru pula? Semacam pain killer untuk migrain yang kerap menyambangi. Jelas bukan solusi, tapi siapa yang bisa bertahan terus-menerus dengan ingatan yang membuat sembilu di hati?

Kebaya merah muda dengan bordiran mawar merah itu sebenarnya sungguh cantik. Berbahan satin, bukan brokat seperti yang banyak dikenakan, membuatnya berkilau ditimpa cahaya. Memukau. Tapi di benak Denok Ayu, tiap helai benang dari kebaya itu saja bagai belati. Menusuk-nusuk hati dengan luka yang tak pernah sembuh.

Saat ada bulir air mata di sudut mata Denok Ayu, Romo masuk dan duduk di samping Denok Ayu. Buru-buru Denok Ayu menyembunyikan air mata.

"Sudah selesai, nok?".
"Sampun, Romo". Denok Ayu menjawab sambil menunduk. Romo mendekati lemari kayu jati, membukanya perlahan. Mendapati kebaya itu sebagai satu-satunya yang tersisa, satu-satunya yang tak tersentuh. Romo menghela napas panjang.
"Nok.."
"Injih, Romo".
"Ikhlaskan, Nok. Apa selama ini kamu belum bisa mengikhlaskan juga?", Romo bertanya dengan suara yang tercekat. Jelas ada sekelebat kenangan buruk yang datang.

Denok Ayu tak mampu menjawab. Gelombang air mata semakin susah dihadang. Bagaimana bisa mengikhlaskan sesuatu yang tak pernah genap ia miliki?

Romo duduk di tepi ranjang, menyebelahi Denok Ayu, merangkul gadis itu.
"Ikhlaskan, ikhlaskan. Ibumu menyayangimu, kamu tahu itu kan?".

Hancur sudah pertahanan air mata Denok Ayu. Sesak di dada itu tak lagi bisa ia bendung. Denok Ayu selalu berusaha menyimpan rapat segala pertanyaan yang tak memiliki jawaban, kegelisahan yang tak pernah tuntas, rindu yang tak kunjung padam dan amarah yang tak bisa hilang. Semua yang ia simpan rapat 12 tahun ini, meledak seketika.

"Bagaimanapun, Ibumu menyayangimu. Ibumu khusus memberikanmu kebaya turun-temurun itu untuk kelak kamu pakai saat malam midodareni. Bawalah, Nok. Bawalah.."

Ada ribuan kata yang tersendat. Ada satu cerita utuh yang harus ia bagi, tapi tentu menyakiti Romo. Bagaimana mungkin ia sanggup?

"Pesawat itu bisa saja ditemukan suatu hari nanti. Romo percaya. 12 tahun sudah lewat, tapi Romo tahu kelak kita akan menemukan Ibumu. Sampai saat itu tiba, kita hanya bisa mengikhlaskan. Ikhlaskan.."

Denok Ayu masih bisa merasakan cinta Romo yang menggebu, bagaimana bisa Denok Ayu tega membunuh cinta itu?

Romo, kula benci Ibu. Kata-kata itu tertahan di tenggorokan dan menjadi bulir-bulir air mata.
"Injih, Romo..". Hanya dua kata itu yang terucap dari bibir Denok Ayu.

Wednesday, 3 June 2015

Teruntuk Boi

02:32 0 Comments

Teruntuk Boi,

Boi, langit pagi ini cerah betul di Eindhoven. Musim semi sudah tiba. Jalanan yang semula terasa dingin dan kelabu, kini menjadi hangat dan penuh warna. Sepanjang jalan bunga-bunga bermekaran. Ada satu bunga indah yang kuhapal betul, Boi. Bunga tulip. Bukankah kau pernah berjanji kita akan memetiknya bersama di tempat asalnya?

Rupanya Boi, selain dilarang, memetik bunga terasa kejam buatku sekarang. Keindahan yang hakiki adalah keindahan yang dibagi dan hidup. Jika kita memetik tulip-tulip itu siapa lagi yang akan memandangnya selain kita? Jika kita merenggut tulip-tulip itu dari akarnya, berapa lama ia bisa bertahan?

Gugurkan saja janji itu, Boi. Gantilah dengan janji lain. Untuk perempuan lain.

Sudah kau temukan wanita itu, Boi? Yang kau sebut tunduk dan taat tapi juga menjadi mata air senyum dan tawamu. Sudah kau temukan wanita yang bersedia menjadi pengikut setiamu tak peduli seberapa tinggi suaramu?

Ah, Boi. Aku tak membencimu. Bagaimana bisa? Kau memberiku terlalu banyak kisah untuk dikenang. Jika tiba di Eindhoven adalah perjalanan panjang dengan sayapku yang rapuh, kamulah yang menguatkan.

Ya, Boi. Kamu lelaki yang kuat. Terlampau kuat. Pendirian dan egomu, bagai pagar besi di depan kedutaan yang selalu jadi sasaran demo itu. Kamu adalah lelaki yang tak bisa tunduk. Aku bangga, Boi.

Namun, aku ini rupanya terlalu lemah untukmu Boi. Kau ingat senja di batas kota itu? Seperti biasa kita mendebatkan seisi dunia. Seperti biasa kita tak pernah mau mengalah. Seharusnya semua baik-baik saja, seandainya apa yang kita debatkan tak menusuk egomu. Aku salah memilih kata.

Meledaklah kau, Boi. Dengan suaramu yang garang. Dengan gayamu yang ingin menunjukkan kau adalah kebenaran absolut. Dengan tingginya suaramu, ingin menunjukkan kaulah lelaki. Pantas dihormati. Dengan sekelebat tanganmu sudah mendarat di wajahku. Ngilu.

Boi,
Aku menyesal betul hari itu. Aku menyesal menyakiti egomu. Tapi aku juga akhirnya menyadari satu hal. Aku tak bisa, Boi. Aku tak bisa mendengar suaramu yang tinggi karena berikutnya bisa saja kau lepas kendali lagi. Aku takut, Boi. Aku ini hanya perempuan lemah. Tentu aku kalah beradu otot denganmu. Aku sadar itu.

Aku memilih menjauh Boi, bukan karena kau melakukan kesalahan. Tapi karena aku sadar, aku perempuan lemah yang butuh dikuatkan. Aku perempuan lemah yang tak bisa diperlakukan dengan makian. Aku Boi, aku yang salah.

Aku menyayangimu teramat sangat, Boi. Aku sadar itu, karena itu aku pergi. Aku ingin belajar bela diri, aku ingin belajar menjadi wanita tangguh yang tahan makian dan bentakan. Aku ingin sekali, Boi, saat aku kembali nanti aku dengan tegak berkata,"Kekerasan hanya terjadi karena salah satu pihak menjadi lemah dan yang lain menjadi kuat."

Ah, Boi. Seandainya kau melindungi, tentu aku tak perlu pergi sejauh ini...

Sunday, 31 May 2015

Denok Ayu

07:58 0 Comments

"Jangan pinter-pinter jadi anak wedok, nanti ngga ada lelaki yang berani dekatin, lho", ujar Lek Run.
"Iyo, ngapain mau sekolah tinggi-tinggi, minder semua nanti lelaki yang mau melamar", imbuh Wo Dar.
Denok Ayu, gadis yang sedang diberi petuah hanya tersenyum simpul. Mendengarkan saja, tanpa membantah. Bukankah gadis jawa harus selalu menurut apa kata mereka yang lebih tua? Bukankah pantang untuk gadis seperti dia memantik perdebatan dengan saudara-saudara ayahnya?
"Iya nok, mbok segera rabi saja. Wo Dar bisa kenalkan dengan anak Kaji Sal, juragan selep di ujung desa."
"Atau kalau mau yang sama-sama anak sekolah, ada anak Pak Kades yang kuliah di kota kabupaten. Cukup to?"
Lagi-lagi, denok Ayu hanya tersenyum simpul. Wanita jawa diajarkan memendam api dalam hati dan mengubahnya menjadi senyum anggun. Denok Ayu paham betul itu. Iya tak ingin meyanggah satu pun kata-kata para tetua, bukan karena tak mampu tapi buat apa? Mereka memaksa denok Ayu menuruti jalan pikir mereka dan kalau denok Ayu melakukan hal yang sama, apa bedanya?
Bukan karena denok Ayu memandang rendah paman-pamannya. Ia hormat betul, Ia sadar mereka sangat menyayang dirinya dengan cara mereka.
Yang berbeda karena denok Ayu telah melihat dunia. Denok Ayu telah mengenal banyak wanita yang berkarya. Denok Ayu telah tumbuh menjadi perempuan yang sadar betul akan apa potensinya dan bagaimana mengolah itu semua.
"Kok dari tadi cuma mesam-mesem? Apa harus yang bisa empat bahasa kayak kamu? Ya ndak ada di desa ini! Umurmu itu sudah 22, wayahe rabi", suara Wo Dar mulai meninggi.
Saat itulah Romo datang dan duduk di samping Denok Ayu.
"Yang merasa takut pada perempuan cerdas dan berpendidikan hanyalah lelaki yang pengecut. Pantang aku punya mantu seperti itu. Dan lelaki itu kangmas, tidak cuma di desa ini. Denok Ayu bisa menemukannya di belahan dunia manapun. Dengan ilmu yang akan dia raih. Begitu kan, nok?"
"Injih, Romo."

Tak ada lagi suara. Denok ayu kembali pada senyum simpulnya. Ia kembali merajut mimpi untuk melihat dunia.