Sunday, 31 May 2015

Denok Ayu

07:58 0 Comments

"Jangan pinter-pinter jadi anak wedok, nanti ngga ada lelaki yang berani dekatin, lho", ujar Lek Run.
"Iyo, ngapain mau sekolah tinggi-tinggi, minder semua nanti lelaki yang mau melamar", imbuh Wo Dar.
Denok Ayu, gadis yang sedang diberi petuah hanya tersenyum simpul. Mendengarkan saja, tanpa membantah. Bukankah gadis jawa harus selalu menurut apa kata mereka yang lebih tua? Bukankah pantang untuk gadis seperti dia memantik perdebatan dengan saudara-saudara ayahnya?
"Iya nok, mbok segera rabi saja. Wo Dar bisa kenalkan dengan anak Kaji Sal, juragan selep di ujung desa."
"Atau kalau mau yang sama-sama anak sekolah, ada anak Pak Kades yang kuliah di kota kabupaten. Cukup to?"
Lagi-lagi, denok Ayu hanya tersenyum simpul. Wanita jawa diajarkan memendam api dalam hati dan mengubahnya menjadi senyum anggun. Denok Ayu paham betul itu. Iya tak ingin meyanggah satu pun kata-kata para tetua, bukan karena tak mampu tapi buat apa? Mereka memaksa denok Ayu menuruti jalan pikir mereka dan kalau denok Ayu melakukan hal yang sama, apa bedanya?
Bukan karena denok Ayu memandang rendah paman-pamannya. Ia hormat betul, Ia sadar mereka sangat menyayang dirinya dengan cara mereka.
Yang berbeda karena denok Ayu telah melihat dunia. Denok Ayu telah mengenal banyak wanita yang berkarya. Denok Ayu telah tumbuh menjadi perempuan yang sadar betul akan apa potensinya dan bagaimana mengolah itu semua.
"Kok dari tadi cuma mesam-mesem? Apa harus yang bisa empat bahasa kayak kamu? Ya ndak ada di desa ini! Umurmu itu sudah 22, wayahe rabi", suara Wo Dar mulai meninggi.
Saat itulah Romo datang dan duduk di samping Denok Ayu.
"Yang merasa takut pada perempuan cerdas dan berpendidikan hanyalah lelaki yang pengecut. Pantang aku punya mantu seperti itu. Dan lelaki itu kangmas, tidak cuma di desa ini. Denok Ayu bisa menemukannya di belahan dunia manapun. Dengan ilmu yang akan dia raih. Begitu kan, nok?"
"Injih, Romo."

Tak ada lagi suara. Denok ayu kembali pada senyum simpulnya. Ia kembali merajut mimpi untuk melihat dunia.

Friday, 6 March 2015

Mengamankan Facebook dari Konten Gadis Mabuk dan Konten Porno Lainnya

22:08 0 Comments
Pagi tadi, Guru SMA saya saat  memposting 'warning' agar teman-teman beliau di Facebook tidak mengirimi konten-konten mesum di laman Facebook wali kelas saya itu. Saya pun ikut berkomentar di status tersebut, menyarakankan beliau untuk mengatur privasi beliau agar tidak semua posting yang menandai beliau langsung muncul. Guru saya itu menanyakan caranya. Saya pikir akan lebih mudah menjawabnya melalui posting blog.

Sebelumnya beberapa teman saya yang lain di Facebook mengalami hal yang sama, news feed saya jadi penuh hal tak senonoh. Jadi mungkin untuk yang sudah mengalami kasus gadis mabuk ataupun sejenisnya atau yang belum dan tidak ingin sampai mengalami kasus itu, begini cara mudahnya.

1. Masuk ke akun Facebook Anda.
2. Buka laman pengaturan Facebook Anda. Untuk mengakses laman ini ada dua cara. Cara yang pertama klik di bagian yang saya tandai merah, kemudian klik Pengaturan.

cara yang kedua, ketikkan di browser Anda https://www.facebook.com/settings seperti yang saya lakukan di gambar di bawah ini.


3. Di bagian kiri halaman pengaturan, klik Menu Kronologi dan Penandaan.


4. Pada bagian Siapa yang dapat menambahkan hal-hal ke kronologi saya? Klik Sunting di bagian Siapa yang boleh mengirim ke kronologi saya?

5. Atur hanya Anda yang bisa mengirim di kronologi Anda. Hal ini akan membuat teman Anda di Facebook sama sekali tidak bisa mengirim di Beranda Anda. Anda akan terbebas dari orang yang mengirim konten mesum di halaman Anda. Jika Anda ingin teman Anda masih bisa menulis di laman Facebook Anda, maka pilih Teman.

6. Seringkali muncul kasus Anda ditandai di sebuah postingan mesum di dinding orang lain. Jika Anda ditandai pada postingan tersebut, maka postingan itu akan muncul pula di halaman dan news feed Anda. Untuk mencegah hal ini, klik Sunting pada bagian Tinjau kiriman yang menandai Anda sebelum muncul di kronologi Anda?

7. Pilih Nyala. Hal ini akan membuat Anda bisa memfilter postingan-postingan yang menandai Anda sebelum postingan tersebut muncul di dinding Facebook Anda.

Perlu diingat, cara ini adalah sebagai filter agar dinding facebook Anda aman dari konten yang tidak diinginkan, bukan menghilangkan konten itu sepenuhnya dari Facebook. Yang perlu diingat adalah, hati-hati dalam mengklik suatu link atau video yang tersebar di Facebook agar Anda tidak menjadi 'Gadis Mabuk' berikutnya!

Semoga Bermanfaat. Cheers :)

Thursday, 5 March 2015

Worry

00:44 0 Comments
Lately, I’ve started my phase of job-seeking. I decided to do it just now, when many of my friends who graduated in the same period with me already got their jobs in big company. Right now, I found myself worrying about the company will accept my application and choose me as one of their employee. Worrying? Yeah, this takes my time to thinking. Why I should worry?
Because my friends already get their salary and I am still looking for a job? Is that really a reason to be worried and not enjoying life? If I get the job, but my salary isn’t as high as my friends, will I be happy? Or still worrying?

When this question hit me, I found a really inspirational quote on a website,  that somehow ease me and give me another way how to see my life. (I recommend this website for you who are looking for inspirational quotes in different ways)

Here is what I found.
You can see the entire comic here at Zen Pencils

Yeah, what do I really wanna do? I was immersed in reading and writing back then in high school and early year of college.  I even declared, I wanna be a writer. Years pass by and this little girls inside me who really want to be a writer craves for help. What do I really wanna do? I wanna help this little girls and show her to the world. 

I am worried I can not enjoy life as the way it supposed to be enjoyed. I am worried I listen to other more than I listen to myself. I am worried that I always compare everything that I have to others. I am worried I can not be grateful of the life I have been had so far.

Life is not a race. Life is about enjoying life gracefully. Life is not about being the winner of the competition. Life is about doing your best and enjoy the process. Let’s enjoy life and start writing again!


PS : I am on my way improving my English. If you find any grammatical error, please kindly show me where’s my mistakes. I’ll be glad to be corrected.

Saturday, 28 February 2015

What have you done?

22:29 0 Comments
Setelah sekian lama hibernasi menulis, jiwa saya terbelah dua. Sebelah jiwa saya selalu berkata, "Nada si penulis sudah mati. Mana ada penulis ngga pernah nulis? Berkarya aja ngga ada karyanya. Udah sana, tekuni dunia IT aja. Ngoding aja sana.". Sebelah jiwa saya yang lain, suaranya lebih lirih.
"Nada, kapan menulis kembali? Bukankah kamu rindu rasanya berhasil menuangkan pikiran dalam tulisan, membacanya berulang kali dan membiarkan orang lain mengkritisi? Bukankah kamu rindu membaca? Bukankah kamu rindu itu semua?".

Lalu saya sendiri membela yang mana? Tak ada. Saya diam saja disini. Justru tak melakoni keduanya. Iya, lebih parah. Kalau Anda mengharapkan akan menemukan semacam motivasi dalam tulisan ini, berhentilah. Ini hanya bentuk dialog imajiner diri saya sendiri. Semacam curhat terselubung yang saya harap bisa menjadi semacam terapi.

Ada banyak ide yang bersliweran. Melihat senja yang merah, saya pikir ini sangat romantis. Melihat jalanan yang lengang di lereng gunung, bukankah ini kedamaian yang akan indah jika dibahasakan? Mengamati pergolakan politik bangsa ini, bukankah akan baik untuk saya jika menelisik kemudian menggubahnya menjadi semacam tulisan fiksi?

Sayangnya semua berhenti menjadi sebatas ide. Sebatas angan. Begitu juga dengan ngoding. Niat awal, saya ingin meneruskan projek Tugas Akhir saya. Nyatanya selalu saja menemukan alasan untuk berkata "Nanti dulu,deh". What a bad habit.

Terus setelah lulus September lalu, saya ini sudah melakukan apa?
Ya, saya sudah melakukan apa?

Setelah wisuda, saya memutuskan untuk pulang dan tidak langsung mencari kerja. Terus apa yang kamu lakukan? Saya memutuskan untuk secara intensif mengaji. Mengaji baca qur'an gitu? Emang belum bisa?

Mengaji bukan soal baca Qur'an saja kawan, mengaji (minimal dalam definisi saya) adalah mempelajari agama. Khususnya agama saya yaitu Islam. Ada banyak cabang sebenarnya yang bisa saya pelajari, mulai dari Tauhid, Hadits, Ulumul Qur'an, Ushul Fiqh, Tasawuf dan lainnya. Lalu mana yang saya pilih? Saya memilih fiqh. Alasana sederhana, fiqh merupakan salah satu yang paling aplikatif dalam kehidupan. Untuk urusan beribadah, saya tahu bagaimana beribadah yang tepat dan benar menurut madzhab yang saya anut. Untuk menjalani urusan kehidupan lain, baik itu dari urusan jual beli, sewa menyewa, menikah, hingga menyelesaikan konflik saya tahu harus bagaimana. Minimal saya tahu harus merujuk kemana. Dan yang paling penting, saya belajar fiqh ini dari seorang Kyai dan Guru yang jalur ilmunya secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Ini penting, bukan sekadar mengikuti Ustad wannabe yang kian hari kian marak. Ustad wannabe yang seringkali mengalami logical fallacy dan sanad ilmunya saya sendiri belum tahu.

Sejujurnya, tak pernah ada kata cukup untuk belajar ini. Untuk memiliki pandangan dan pengetahuan yang menyeluruh, belajar dari satu kitab sangat kurang. Tapi setidaknnya, saya sudah tahu bagaimana harus melangkah. Sekarang, kurang lebih sejak satu minggu yang lalu saya sedang memasuki fase job seeker. Dan ternyata galau sekali. Hahahahaha. So this is it. Fase hidup yang perlu dilewati. Galau - galau sedap yang membuat saya banyak merenung. Hidup itu rupnya adalah persoalan-persoalan yang tak akan ada habisnya. Ini bukan soal siapa cepat dan tepat menjawab soal-soal itu hingga kemudian tergesa-gesa. Hidup adalah tentang menerima pertanyaan-pertanyaan itu dan menyadari pertanyaan yang jauh lebih besar dari ini semua.

Untuk apa hidup saya ini?
Ah, pertanyaan ini sepertinya perlu perenungan lebih lama untuk bisa saya jawab..