Sunday, 6 November 2011

Antara Idul Adha, Sapi dan Global Warming

01:51 3 Comments

Idul Adha itu bikin global warming tambah parah.

itulah kesimpulan yang bisa saya ambil setelah membaca  pernyataan dari salah seorang kawan saya yang non-muslim. Selain karena pernyataan tersebut SARA banget, pernyataan tersebut kurang mendasar. Artinya pernyataan tersebut disimpulkan dari pemahaman bahwa Idul Adha identik dengan penyembelihan sapi, sapi adalah penyumbang gas metan terbanyak untuk global warming. Jika setiap tahun sapi terus disembelih, maka akan semakin banyak peternakan sapi semakin banyak pula gas metan yang dihasilkan. Semakin banyak hutan yang ditebang untuk dijadikan padang rumput bagi si sapi.

Eh, iya juga ya? terus gimana dong? 
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu apa saja efek gas methan pada global warming dan hukum kurban dalam perayaan Idul Adha.


Gas metan dalam global warming
Meskipun hingga saat ini karbon dioksida menjadi penyebab utama efek rumah kaca, gas-gas lain juga ikut memberi sumbangsih. Gas-gas tersebut di antaranya gas methan, gas N2O dan CFCs. Keberadaan gas metan sebagai salah satu penyebab global warming sendiri baru diketahui sejak 1940 sejak dilakukan penelitian oleh Migeotte. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan konsentrasi metan di atmosfer sebesar 1720 ppbv, dua kali lebih banyak dari pada yang dihasilkan oleh pre-industri yaitu sebesar 700 ppbv.
The current global average atmospheric concentration of methane is 1720 ppbv, more than double its pre-industrial value of 700 ppbv [8].( A.R. Moss et al., 2000)
Jumlah tersebut memang jumlah yang besar dan pastinya punya pengaruh besar. Nah, soal kotoran sapi menjadi sumber gas metan, itu memang benar. Tapi perlu dicatat sapi bukanlah satu-satunya sumber gas metan. Justru gas metan yang dihasilkan oleh sapi jumlahnya jauh lebih sedikit daripada yang dihasilkan produksi padi. Nah, lho?! Yang mengatakan mau mengurangi global warming dari sisi gas metan kalau mau konsisten harusnya juga justru tidak makan nasi. Tapi apakah dengan begitu menyelesaikan masalah? Itu yang perlu dikaji lebih dalam.

Agriculture contributes about 21–25, 60 and 65–80% of the total anthropogenic emis-sions of carbon dioxide, methane and N2O respectively [36, 56, 152]. Agriculture is also thought to be responsible for over 95% of the ammonia, 50% of the carbon monox-ide and 35% of the nitrogen oxides released into the atmosphere as a result of human activities. ( A.R. Moss et al., 2000)
Artinya, Nad? Artinya, pertanian itu justru menjadi sumber besar gas-gas yang mengakibatkan efek rumah kaca, mulai dari karbon dioksiada, metan, N2O, ammonia, carbon monoksida sampai nitrogen oksida. Pertanian yang menjadi sumber gas tersebut dipaparkan dalam tabel berikut.

Methane emission rates from agricul-tural sources. Source: Watson et al. [152].
Agricultural sources Methane emission rates
(million tonnes per year)
Enteric fermentation   80
Paddy rice production   60–100
Biomass burning 40
Animal wastes   25
Total 205–245

Nampak jelas bahwa kotoran hewan dalam hal ini sapi atau hewan rumen lain, memerikan pengaruh leih kecil daripada produksi padi.
Tapi kan tetep aja berpengaruh, Nad. Tetep aja sapi nyumbang gas metan.

Iya, saya juga tidak menyangkalkanya. Tapi apakah kemudian dengan menghentikan peternakan sapi kemudian akan secara drastis mengurangi jumlah gas metan? Sapi dan hewan rumen lain berperan penting dalam kehidupan manusia, karena mereka dapat mengubah serat menjadi sumber protein. Untuk bisa mengurangi jumlah gas metan, dari paper yang saya baca itu, justru bisa dilakukan dengan mengatur pola pemberian makan. Hal itu akan berpengaruh pada pencernaan sapi dan tentunya berpengaruh pula pada gas metan yang dihasilkan. Lebih lengkapnya, paper tersebut menyebutkan.

Methane is an end-product of fermenta-tion of carbohydrates in the rumen. The gen-eration of this can be decreased by promot-ing a shift in fermentation toward propionate production, but cannot be eliminated com-pletely without adverse effects on ruminant production. Increasing animal productivity seems to be the most effective means of reducing methane release in the short term. It must be borne in mind that this method is only successful if overall production remains constant. The means to achieve this increase in productivity have been discussed, but nearly all involve the increased use of feed containing higher quality/lower fibre sources of carbohydrate. However, the rea-son that ruminants are so important to mankind is that much of the world’s biomass is rich in fibre and can be converted into high quality protein sources (i.e. meat and milk) for human consumption only by rumi-nants. 
Sapi dalam Idul Adha
Dalam Islam, tradisi kurban bukanlah suatu ibadah yang diwajibkan namun disunahkan. Tujuan kurban ini pada intinya adalah mengajari tentang keikhlasan berbagi. Apa wajib sapi? Tidak. Bisa kambing, bisa unta. Tapi karena unta di Indonesia tidak ada, maka dipilihlah sapi. Daripada buat beli sapi, duitnya kan mending disumbangin buat pendidikan? Kamu beruntung bisa tiap hari makan daging, tapi apakah pernah membayangkan orang yang tiap hari cuma mampu beli tempe bahkan tidak mampu sama sekali? Makan sendiri termasuk kebutuhan pokok manusia, sama halnya dengan pendidikan. Keduanya memberikan kebahagian bagi yang menerima. Nah, yang ingin saya garis bawahi adalah Islam tidak mengajarkan untuk berbagi daging, tapi berbagi kebahagian. Hak masing-masing individu untuk mengartikan kebahagiaan itu.
Kembali soal sapi, dalam Islam sendiri kalau tidak ada hewan berkaki empat bisa diganti dengan unggas. Tapi tentunya ada ketentuan tersendiri kalau hendak memilih unggas sebagai hewan kurban.

Bahkan jika dirasa keberadaan sapi ini sangat membahayakan bagi umat manusia, Islam memperbolehkan agar sapi dimusnahkan. Intinya, Islam menginginkan kebahagiaan bagi umat manusia, bukan mempersulit apalagi merusak bumi. Wallahua’alam.

untuk kawan saya itu dan juga kawan-kawan nonmuslim lainnya, saya mengajak menghidupkan kembali diskusi antar agama. bukan untuk mencari persamaan, tapi untuk saling mengerti sehingga tidak timbul kesalahpahaman yang berpotensi mencederai harmoni umat beragama di Indonesia.
Sumber:
Methane production by ruminants: its contribution to global warming. R. MOSS, Angela Jean-Pierre JOUANY, John NEWBOLD. 2000
Wawancara dengan A. Maruf Asrori. Direktur Penerbit Khalista Surabaya.

Thursday, 3 November 2011

Dua Kutub yang Keras Kepala

01:59 5 Comments
Aku menulis ini dengan sepenuh kesadaran. Kesadaran bahwa belum tentu kamu membaca dan belum tentu kamu mau tahu aku menulis ini untukmu. Ya, untukmu.

Mengapa harus untukmu? Bukan untuk yang lain saja? Karena aku sudah memilih kamu. Aku memilih kamu bukan karena tak ada yang lain tapi karena aku tak lagi mampu melihat yang lain.

Kamu adalah magnet yang sangat kuat. Kamu adalah kutub utara paling keras kepala yang pernah kukenal, menyebalkan dan tidak pernah mau kalah argumen. Pendapat kita selalu 180 derajat berbeda. Kesepahaman sepertinya adalah keajaiban saja.

Hal remeh temeh seperti apakah makan siang di kantin itu rasanya enak hingga perdebatan serius apakah Indonesia bukan ilusi selalu membuat kita berseteru, tak pernah satu. Maka, akulah kutub selatan dan sesuai dengan hukum alam, perbedaan justru membuat dua hal semakin saling mendekat, melekat.

Aku menikmati semua pertemuan kita yang direncanakan Tuhan tapi tak pernah kita sadari. aku menyukai letupan-letupan dalam perutku tiap kali tanpa sengaja pandangan kita bertubrukan. Aku merindukan senyummu yang lepas, karena setiap kali mengalahkan pendapatku, kamu puas.

Aku merasa sebagai orang yang terlalu dini menyadari kita adalah dua kutub yang berbeda. Aku merasa bodoh karena aku sendiri yang memiliki degupan aneh tiap kali kita berpapasan. Aku tak pernah berhasil tahu apakah kamu merasakan yang sama. Apakah sepertiku, kamu menunggu namaku muncul di layar ponselmu, sekadar sms atau justru telepon. Apakah sepertiku, kamu selalu rajin memantau timeline twitter, untuk mengamati kapan aku serius kapan aku bercanda, kapan aku tidur kapan aku terjaga (aku mulai sadar kamu seorang gadget addict)

Aku penasaran namun aku tak bisa bertanya, karena aku perempuan. Hakikatku menunggu. Menunggu kamu menyapa dan menganggapku bukan lagi sekedar angin lewat atau teman biasa. Menunggumu menjadikanku istimewa.

Apakah aku sedang menunggu sesuatu yang sia-sia?

---
penulis adalah orang yang suka menebar kegalauan. bisa disimak pula lini masanya yang menyebalkan. :-D 

Saturday, 29 October 2011

Antara Eyang Pram, Gadis Jawa dan Kesetaraan

22:04 0 Comments


dimuat di Jawa Pos For Her 25 Februari 2011*

Oleh Qotrun Nada Haroen
Mahasiswi Teknik Informatika
 Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Jika ditanya siapa saja yang membentuk pribadi saya menjadi seorang perempuan, selain menjawab keluarga, saya akan menyebut nama lain, Pramoedya Ananta Toer. Bukan berlebihan rasanya menyebut salah satu penulis terbaik yang sempat dimiliki bangsa ini sebagai penulis feminis. Dari sekian banyak karyanya, mulai dari Gadis Pantai, Larasati, Arok Dedes hingga Tetralogi Bumi Manusia pun sangat menonjol dengan kefeminisannya, menyuarakan hak-hak dan perjuangan kaum perempuan, menunjukkan bahwa kaum yang seringkali disebut warga kelas dua sangat berhak mendapatkan kesetaraan.

Sejak mengenal karya Eyang Pram—saya suka memanggil almarhum dengan sebutan Eyang—saya menjadi lebih sering merenung tentang diri saya, tentang menjadi perempuan, tentang bersikap untuk mendapatkan hak tanpa melawan kodrat. Inilah yang menjadi pergulatan tiap saya membaca karya Eyang Pram, apa sesungguhnya kodrat seorang perempuan?

Dari Eyang Pram, saya tahu, gadis jawa jaman dahulu tak lebih dari sekadar aset bagi suaminya. Hak milik pada suami terhadap istrinya tak ubahnya seperti hak milik suami terhadap benda-bendanya, terhadap perabotnya. Perempuan praktis hanya menikmati dunia yang seluas-luasnya saat masih gadis, saat masih kanak. Begitu ia menjadi istri, dunia perempuan dibatasi oleh tembok-tembok rumahnya sendiri.

Sebagai seorang gadis jawa yang tumbuh di abad ke-21, batin saya mau tak mau bertanya, benarkah perempuan setelah sekian lama masih pada kasta yang sama?

Kini perempuan bisa bekerja di luar rumah, perempuan mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki—bahkan saya sendiri kuliah di ITS yang notabene didominasi kaum adam, seruan akan kesetaraan gender didengungkan dimana-mana, perempuan mulai masuk dalam jajaran pemerintahan, perempuan bisa meraih mimpinya apapun itu selama ia berusaha sama kerasnya atau justru lebih dari para pria.

Sayang, apa yang saya lihat sekarang tidak jauh lebih baik. Mimpi para gadis jawa bahkan mungkin gadis Indonesia, tidaklah lebih tinggi daripada ketika feodalisme masih diagungkan. Entah sudah menjadi mindset ataupun kesadaran kolektif, menjadi perempuan cukuplah mengerti soal dandan, cukuplah mengerti soal berbusana, agar mendapat lelaki yang mampu menghidupi maka pendidikan tinggi dijalani hanya sekadar gengsi dan tambahan gelar.

Memang benar banyak perempuan telah keluar dari zona nyaman itu dan membuktikan dia mampu, namun porsentasenya sangat sedikit dibandingkan yang tidak. Mari kita lihat para perempuan secara keseluruhan. Sudahkah tertanam kesadaran yang sama? Sudahkah para perempuan tidak hanya menjadi korban iklan? Sudahkah para perempuan memikirkan eksistensi diri melebihi dari kecantikan fisik? Sudahkan para perempuan paham bahwa menjadi seorang ibu tidak hanya berhenti pada darah daging sendiri tapi juga bagi negeri?

Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah ya, saya rasa tidak berlebihan jika mewajibkan seluruh gadis jawa—dimana Eyang Pram selalu membahas hal ini lebih rinci—dan gadis Indonesia seluruhnya untuk membaca karya-karya feminis Eyang Pram agar kaum perempuan sadar mereka telah ada di suatu era dimana mimpi tak lagi boleh dibatasi. Sangat disayangkan jika kita, para perempuan masih saja ngotot hanya soal penampilan. Perempuan layak dan harus berpikir lebih, bertindak lebih, dan berkarya lebih. Hanya dengan itu kesetaraan tidak di awang-awang.

Perempuan memang berbeda dalam kodratnya, tapi sebagai manusia, entah perempuan entah pria, semua setara.


 *saya agak lupa tanggalnya, antara 25-27 Februari lah pokoknya :-D alhamdulilah cuma sampe 25 besar aja tulisan ini :-D

Saturday, 8 October 2011

Hey Kamu Yang Disana

23:32 0 Comments

Delilah, apa kabar kotamu, sayang? Jarak ribuan mil ini memisahkan kita, membuatku bertanya-tanya seperti apa rupa kotamu kini? Macetkah seperti biasa? Panaskah seperti yang biasa kau keluhkan? Atau justru penuh dengan canda dan tawa seperti yang biasa kau lontarkan padaku? Seperti caramu yang membuatku kangen setengah mati itu?

Malam ini kamu terlihat cantik, Delilah. Kita hanya saling menatap layar laptop masing-masing, memang. Tapi aku melihat kamu dengan hati dan aku melihat kamu yang cantik luar biasa. Ya, kita akui saja, rasa kangen seringkali melipatgandakan ketampanan atau kecantikan. Ibarat kota, kamu adalah alun-alun megah. Tempat segala perhatian tercurah untuk melepaskan penat dan gundah.

Delilah, kamu tak perlu khawatir soal jarak yang beribu mil ini. Jarak bisa saja memisahkan kita, tapi percayalah, setiap kali kamu merasa sendiri sebenarnya aku tak pernah kemana-mana. Dengarkan lagu yang sengaja kutulis untukmu. Dalam tiap liriknya, tiap baitnya, namamu kutasbihkan berkali-kali. Maka pejamkan matamu, dan rasakan aku disampingmu. Percayalah, lagu itu adalah aku, aku yang menjelma suara dan terbang beribu mil jauhnya hanya untuk menemani kamu dan membuatmu merasa tak pernah sendirian.

Semua memang tidak mudah, Delilah. Seiring waktu, rinfu itu membuat semuanya terasa makin sulit. Ibarat makan, kita berkali-kali makan tanpa pernah minum sekalipun. Tenggorokan kita sama-sama kering dan rasanya tak mampu lagi menelan apapun. Tapi percayalah, sayang. Suatu hari, rindu ini akan kubayar lunas.
Sekarang ini, rasanya begitu banyak yang ingin aku katakan kepadamu. Bahkan setiap lagu atau puisi yang aku tulis untukmu—yang kamu bilang selalu berhasil membuatmu lupa bernafas untuk beberapa detik itu—rasanya belum cukup untuk mengungkapkan semua itu. Rindu memang serakah, ia tak cukup dengan segala kata yang aku punya, ia selalu menuntut untuk bertemu.

Jutaan mil memang jauh, sayang. Tapi bukankah dunia punya pesawat dan kereta api? Juga kapal dan mobil? Bahkan sayang, ketika semua yang dunia punya itu tak bisa mengantarkanku untuk berdiri di sampingmu, aku akan berjalan kaki. I’d walk to you if I had no other way. Jangan pedulikan kawan-kawanmu yang menertawakan malam minggumu yang terpaksa kau jalani sendirian, balas saja dengan tertawa sayang. Biarkan mereka merasa bahagia dengan cukup tertawa, karena sesungguhnya mereka iri dengan cinta kita, cinta yang tak pernah mereka rasakan itu.

Jadilah anak baik Delilah, bersabarlah. Dua tahun lagi kamu akan jadi sarjana, dan aku akan membuat sejarah yang tak akan pernah dilupakan dunia. Setelah itu waktu menjadi milik kita. Perjalanan senja menuju taman kota ang semula hanya kita cakapkan, akan menjadi aktivitas rutin yang menyenangkan. Lagu dan puisi yang selama ini kamu dengar melalui headset favoritmu itu akan kamu dengar langsung dari mulutku, dari gitarku, dari hatiku.

Dua tahun lagi sayang, aku akan pulang. Dan segera saja, kita akan menjadi sejarah baru.





Dikarang bebas dari lagu Hey There Delilah-Plain White T lagu kebangsaan bagi setiap pasangan LDR. Bertahun-tahun mendengar lagu ini, perasaan saya selalu sama. Rindu itu nyiksa, pake banget. Dan lagu ini ibarat cuka yang dituangkan di atas luka, bikin menjerit kesakitan. Rindu makin tak tertahan.
Dan saya menulis lagu ini, karena alasan yang sama, membayangkan Nicholas Saputra membuat satu lagu untuk saya, dan menyanyikannya untuk saya di kafe, di bawah balkon kamar, atau di alun-alun kota. *jadul banget* XD