Monday, 3 October 2011

Where I spent my childhood

20:23 3 Comments
jalanan pagi yang berkabut
 Namanya Ngadirejo, kecamatan di utara kabupaten Temanggung. beruntung, saya lahir dan besar di pusat kecamatan. saya tidak harus kesusahan mencari angkutan umum ataupun berjalan jauh untuk mencapai pasar. beruntung rumah saya masih dalam cakupan telkom sehingga ada telepon rumah, beruntung air PAM di rumah saya berasal langsung dari sumber mata air yang jaraknya hanya sekitar 3 km dari rumah saya. air PAM yang bahkan jauh lebih bening daripada air galon di Surabaya.

Saya merindukan kabut pagi itu, meski jam sudah menunjukkan pukul 06.00, jalanan masih terasa mengambang. saya merindukan dingin itu, yang membuat saya kerasan di balik selimut lama-lama. saya merindukan orang luar biasa yang ada di Ngadirejo, Ibu.
icon Ngadirejo, tugu gosong

TIMELINE #15harimenulisdiblog

00:33 4 Comments

Saya suka mengintip timeline kamu tiap malam. Mengintip dari tweet terakhir yang saya baca hingga tweet terbaru yang kamu tulis. Dari apa yang saya baca itulah saya menduga kamu sibuk apa hari itu, kamu bercanda dengan siapa saja hari itu, kamu sedang memikirkan siapa hari itu.

Saya tidak punya akun twitter dan saya bersyukur saya tidak perlu punya akun kalau hanya sekadar ingin membaca timeline mu, mengamatimu dari kejauhan.

Saya bersyukur kamu masih membuka profilmu itu dan saya berharap selepas pengakuan ini, kamu tidak mengubahnya. Kamu tidak membuat saya harus secara terang-terangan mengikutimu.

Saya kadang kesal sendiri, tiap kamu menulis tentang perasaan, atau rindu, atau cinta. Saya hanya bisa sebatas menduga, siapa dibalik itu semua? Siapa yang betah sekali berada di pikiranmu—seperti kamu yang betah sekali berada di pikiran saya?

Karena saya hanya bisa menduga, saya menimbun tanda tanya tiap hari, mengumpulkan penasaran yang makin hari makin menggunung. Dan yang paling parah, perasaan yang mulai tak bisa dibendung.
Saya Cinta Kamu.

Kamu mengaku. Saya ternganga. Tak menduga kamu yang saya anggap acuh, ternyata begitu rajin mengamati, begitu peduli. Hanya saja kamu diam, hanya saja kamu seperti hantu, tak meninggalkan jejak. Tak ada bukti, karena itu sepanjang hari saya hanya terus berspekulasi. Menulis tentang cinta, tentang rasa, tentang rindu tanpa pernah merujuk kepada siapa pun. Karena orang yang ingin saya sebut, tak punya akun twitter. Kamu.

Pengakuan ternyata membawa kamu dan saya, menjadi kita. Doa kita yang sederhana: semoga cinta tak hanya tumbuh di timeline, semoga cinta kita menyempurnakan satu sama lain. amin

Thursday, 29 September 2011

awan-awan yang kau lintasi di suatu perjalanan

03:35 2 Comments

Setiap kali kamu melintasi awan-awan itu, ingatlah
Semula awan sekadar tetesan, setelah bergulat dengan panas
Jadilah ia seringan kapas
Semula awan berkarib dengan tanah, kini ia memenuhi langit yang megah

Kudengar, kau kini sedang melintasi awan-awan itu menuju sebuah negeri yang belum pernah kujamah
Benarkah?
Benarkah kau terbang, hingga kakimu melayang, hingga langit itu tinggal sedepa dari dadamu?
Benarkah Tuhan sedang mengangkatmu begitu tinggi?

Jika benar, kuingatkan kembali, kau tentu akan menjejak tanah kembali
Kau akan kembali ke tempat ibumu pernah menimang
Sama seperti awan, yang menunggu waktu untuk kembali menjadi hujan
Untuk kembali pulang

Jika benar, aku sekadar mengingatkan, selalu ada pantai-pantai yang menunggu kembali jejak kakimu
Selalu ada pucuk-pucuk dahan yang rindu kau kecup embunnya tiap pagi
selalu ada, selalu ada yang menunggu engkau pulang dengan cerita dari tanah seberang


Sunday, 25 September 2011

catatan pagi yang ditulis buru-buru

17:10 0 Comments


pagi ini sebuah catatan singkat
yang kutulis dengan buru-buru
tak sengaja terbaca olehmu

aku menuliskan beberapa hal tentang kita
seperti pesan pertama yang kau kirim
pertemuan pertama yang di luar rencana
juga percakapan-percakapan panjang di luar kepala

kamu sudah mulai lupa, ku kira
maka kutulis ini dengan doa
pagi ini kau membaca
dengan atau tanpa sengaja
kemudian kau akan menilik kembali

apakah rindu-rindu yang kau titipkan pada bulan separuh penuh kini mulai luruh?
ataukah kini rindu-rindu itu kau kirimkan untuk yang lain, yang cantiknya lebih utuh?

entah lelaki, aku hanya melihat kabut pagi ini
bayangmu samar dan terlihat pergi

Surabaya, 26 September 2011