Sunday, 8 May 2011

saya dan 188 teman

20:01 9 Comments

Weekend kemarin ini, saya dan teman-teman seangkatan di TC (teknik informatika) camp di Desa Pungging, Pasuruan. Ngapain aja kami disana? Macem-macem, mulai dari ikut memerah susu sapi, bersihin kandang, bikin telecenter, ngajar anak SD sampe sesi dengan senior-senior se kampus.

Iya, jadi emang acara kemarin itu judulnya Informatics Social Responsibility tapi pada hakikat utamanya adalah bagian puncak dari pengkaderan. Walaupun sebelum berangkat hati saya sangat nggerundel soal proposal yang ‘beda’, pada akhrinya saya dan 188 teman saya berangkat camping.

Setelah dihadapkan masalah ini itu, dapat ‘pressing’ dari segala penjuru hingga akhirnya outbond di hutan pinus—bener-bener hutan, serius!—akhirnya pengkaderan di TC berakhir sudah. Saya dan 188 kawan saya kini telah diterima di himpunan dengan gelar C1A. Apaan tuh maksudnya? C artinya Computer, nama generasi TC 1A adalah bilangan heksadesimal yang jika diubah ke bilangan desimal adalah 26. jadi, saya ini adalah angkatan ke-26 di Teknik Informatika ITS.

logo angkatan saya, bisa dibaca 2010 TC ITS
Sayangnya, dokumentasi ada di pihak senior, jadi sampe sekarang saya belum bisa upload foto acara camp itu. Tapi ini bukan hoax lho, walaupun saya menganut asas no pict= hoax.

Kesibukan pengkaderan itulah yang bikin saya ngga sempet posting berhari-hari, padahal aslinya udah banyak yang numplek di kepala minta dilahirkan. Too many things to share but I’ve limited time. Contohnya aja yang pengen saya tulis, dialog sama Pak Muhamad Nuh, Mendiknas kita—saya pernah janji mau posting tapi belum sempet, terus soal dinamika kampus, ada lagi soal cerita-cerita yang unyuu..

Next posting deh, yang penting I’ve already arrived at my lovely place, my room and my blog :) 

Monday, 25 April 2011

Kamu memang baik, tapi..

10:08 12 Comments
Teruntuk kamu yang seringkali tanpa pamit masuk ke dalam mimpiku..

Sebelum kamu teruskan membaca suratku ini, anggap saja kita ini sudah saling jatuh cinta. Anggap saja kita ini sudah sepakat untuk saling memiliki, anggap saja kita sudah tak lagi bisa jatuh cinta kepada yang lain.

Sudah? Kamu sudah beranggapan begitu? Baiklah, kalau begitu, silakan teruskan membaca. Jika belum, ambil jeda sejenak dan bayangkan aku ini adalah seseorang yang begitu kamu idamkan. Bayangkan saja, anggap saja..

Karena kita sudah saling mencintaimu, jangan keberatan kau kupanggil sayang..

Friday, 22 April 2011

3 Film, 3 Genre, 1 komentar: Tonton Semuanya!

09:48 6 Comments
Gnomeo and Juliet , ?, dan Fair Game. Ketiga film ini saya tonton di tiga bioskop yang berbeda dalam waktu satu bulan terakhir dan saya puas nonton ketiga-tiganya. Tiap film dari tiga film yang saya sebut ini punya keunikan tersendiri dan selalu membuat saya tersenyum lebar setelah menonton ketiganya.

Gnomeo and Juliet berkisah tentang dua patung taman dari halam rumah yang berbeda namun saling jatuh cinta. Patung-patung kurcaci taman ini ternyata hidup ketika pemilik rumah meninggalkan rumah. Nah, sayangnya kedua pemilik rumah yang meskipun tinggal berseberangan ternyata bermusuhan. Hal ini juga terbawa hingga ke patung-patung kurcaci tersebut. Tapi akhirnya, dua kurcaci dari taman yang berseberangan ini jatuh cinta. Tentulah itu Gnomeo dan Juliet. 

Oke, oke. Emang ini cerita Romeo and Juliet banget. Bahkan di tengah film ada Shakespeare juga. Jadi jalan ceritanya kayak apa, bisa ditebak. Cinta Gnomeo dan Juliet ditentang habis-habisan.

Film ini jelas menarik karena animasinya yang lucu. Patung-patung kurcaci yang imut itu dan juga ada patung kodok yang selalu bikin saya tertawa. Tapi terlepas dari animasinya yang waw, film ini menarik buat saya karena endingnya yang ngga seperti cerita Romeo dan Juliet. Emang kaya apa endingnya? Tonton sendiri doooong :P

Next, ”?” alias Tanda Tanya. Saya suka film Indonesia dari sutradara-sutradara yang namanya udah jadi jaminan. Meskipun beberapa kali kecewa dengan film Hanung, semisal Ayat-ayat Cinta, kali ini saya bener-bener penasaran sama film satu ini karena bawa-bawa Banser NU segala. Sebagai seorang warga Nahdliyin, saya jadi penasaran.

”?” berkisah tentang perbedaan agama dan konflik yang muncul di tengah masyarakat karena perbedaan itu. Dan apa yang dipaparkan Hanung di film ini bener-bener real, benar-benar terjadi. Semisal olok-olokan terhadap etnis lain, pengucilan di tengah masyarakat karena pindah agama, masalah rumah tangga karena suami terlalu lama menganggur, hingga percintaan yang harus kandas karena beda agama.

Kata temen nonton saya, Film ini memang harus ditonton sambil berpikir, kita ngga boleh nonton apa adanya tanpa memahami lebih jauh. Saya ambil satu contoh, ketika Surya, seorang Muslim, memerankan tokoh Yesus saat drama penyaliban di malam Natal. Hal ini tentu menimbulkan kontroversi, baik di dalam film maupun di luar film, sampai-sampai MUI ikut-ikutan mengeluarkan fatwa.

Kita tidak bisa serta merta menghakimi begitu saja bahwa Surya itu kafir. Di situ Surya bekerja dan soal keimanannya, hatinya terjaga. Sekali lagi, iman itu soal hati dan kita tak bisa menghakimi dari apa yang kita lihat sepintas saja. Saya ingat kata-kata Pastur di film itu, 
”Keimanan seseorang tidak akan berubah hanya karena sebuah adegan drama”. 
Benar-benar pesan yang bagus.

Dan masih ada banyak pesan bagus di film ini yang membuat saya merekomendasikan film ini untuk ditonton. Inilah salah satu film Indonesia yang bermutu!

Film ketiga, Fair Game. Ternyata ini film yang berdasarkan kisah nyata. Ceritanya cukup seru dan informatif. Mengapa? Karena dari film ini saya baru tahu ada kasus mengenai Joe Wilson dan istrinya, Valerie Palmes yang berkaitan dengan perang irak. Film ini menceritakan bagaimana kebohongan alasan invasi irak. Valerie Palmes dan tim CIA-nya sesungguhnya tidak menemukan sama sekali adanya mesin penghancur masal ataupun bom nuklir di Irak. Tapi seorang staf kepresidenan menekan CIA yang seolah melupakan adanya temuan tabung uranium.

Film ini memang membuat berpikir, bukan jenis film santai, tapi jelas ini film yang sangat bermutu. Saya jadi tahu bagaimana Gedung Putih yang semena-mena membuat keputusan invasi Irak. Saya juga belajar menjadi warga negara yang setia kepada Negara dengan memperjuangkan kebenaran bukan dengan tunduk dan menerima semua apa yang dikatakan penguasa. Karena kita adalah negara demokrasi dan memang demokrasi itu tidak mudah (saya merasa bagian ini agak nyambung dengan pengkaderan. Haha :D )

Jadi kalau anda ingin nonton komedi animasi, ada Gnomeo and Juliet. Kalau drama Indonesia bermutu, ada ”?” (Tanda Tanya) dan kalau ingin film yang berbobot ada Fair Game. Ketiganya ngga mengecewakan, paling tidak untuk penikmat film seperti saya.

 Jadi, mau nonton yang mana? ;)

Wednesday, 20 April 2011