Tuesday, 17 August 2021

Perjalanan Mencari Rumah - Part 1

06:08 0 Comments
Mengapa kita perlu rumah?

Saya rasa ini kembali ke pelajaran ekonomi waktu saya masih SMP. Sandang, pangan, papan. Jelas rumah adalah kebutuhan pokok yang bersifat fisik. Namun, lebih dari itu saya rasa perjalanan mencari/membangun/mendapatkan rumah adalah soal perasaan pulang. Rasa selalu bisa diterima dan menjadi diri sendiri.

Saya sendiri, hingga detik ini, masih menganggap rumah saya adalah rumah di mana saya dibesarkan. Saya tetap memanggil rumah Ibu saya sebagai rumah. Apalagi memang di KTP dan KK masih tertera begitu. Kemanapun kaki saya ini melangkah, mau ke Magelang, Surabaya bahkan hingga ke Eropa, rumah saya tetap sama. 




Saya kemudian beruntung karena memiliki rejeki yang cukup untuk membawa ibu saya hadir untuk wisuda saya di Inggris. Kami sempat juga berziarah ke Marrakesh, ke makam ulama-ulama Islam lampau yang tersohor. Ada rasa yang berbeda saat itu. Saya sendiri juga pernah mengunjungi beberapa negara lain di Eropa, sebagai pelancong tentu saja. Tapi melancong ke negeri lain dengan Ibu membuat saya memiliki perasaan yang berbeda. Rasanya seperti di rumah. Raga saya memang tidak di rumah, tapi jiwa saya merasa tenang seperti di rumah. Ada Ibu. Rupanya yang membuat rumah begitu dirindukan adalah rasa pulang itu sendiri. Pulang ke pelukan Ibu. Rumah itu, semakin terasa magnet dan magisnya justru ketika saya secara fisik semakin jauh. 1 tahun saya di Inggris membuat saya semakin sadar, perjalanan saya jauh jauh hingga Eropa itu ternyata mengukuhkan bahwa saya selalu ingin pulang. Saya pergi bukan untuk menjelajah, tapi untuk mendapatkan nikmatnya rasa pulang.




Sampai akhirnya saya menikah. Saya dan suami memilih mengontrak rumah di kawasan Jakarta Selatan karena lokasi saya bekerja. Hingga hari ini, kami lebih sering menyebutnya kontrakan. Bukan benar-benar rumah. Mungkin, dalam benak kecil kami, kami merasa ini pun adalah tempat singgah, bukan tempat pulang seperti rumah. (Suami saya juga masih menyebut perjalanan ke Jember sebagai perjalanan pulang, sama seperti saya menyebut perjalanan ke Temanggung.)

Hingga akhirnya kami mulai berunding soal rumah ini. Apakah sudah saatnya kami memiliki rumah kami sendiri? Diskusi saya dan suami cukup panjang. Diskusinya mulai dari "wah, rumah ini nampak bagus" hingga "yuk kita pikirkan lagi rumah seperti apa yang kita cari". Cukup panjang. Untuk sesama perantau di Jakarta tanpa ada orang tua di Jakarta, memiliki rumah itu adalah hal besar yang kami benar-benar buta bagaimana memulainya. Tak ada peta untuk menuntun.



Kembali soal kebutuhan dasar, kami pun sadar betul untuk mewujudkan rumah ini harus dengan hal yang bersifat fisikal juga uang. (Okay, kita bisa berdebat panjang soal apakah uang ini nyata atau hanya konstruksi sosial yang disepakati bersama tapi agar tulisan ini tidak semakin panjang maka mari kita sebut uang adalah hal fisik).

Kami tentu membahas dengan sangat dalam soal finansial dalam urusan memiliki rumah ini, namun akhirnya di tengah perjalanan kami, kami sadar ada hal penting yang harus dibahas dan tak boleh luput. Rasa pulang, rasa aman, rasa diterima dan menjadi diri sendiri. Hal-hal semacam inilah yang sebenarnya membentuk kami menjadi individu dan menjadi jelas nilai-nilai apa yang penting untuk kami.

Kami kemudian berusaha untuk mengurrangi bias kami dalam pencarian ini dengan cara secara sadar menuliskan apa saja faktor yang penting menurut kami terkait rumah. Ini tentunya akan sangat berbeda dari satu individu ke individu lainnya. Tiap orang hidup dengan pengalaman dan nilai yang berbeda. 



Untuk kami sendiri, akhirnya kami menuliskan lokasi, harga, luas, air, banjir, akses, transportasi umum, lingkungan dan legalitas ini sebagai faktor yang akan kami nilai. Faktor mana yang lebih peting dari pada yang lain? Nah ini kembali ke soal rasa pulang masing-masing orang. Apakah pulang bagi kamu adalah rasa lega di rumah yang luas? Ataukah pulang soal segera tiba? Nah disini jarak dan luasan bisa berbeda. Kami berusaha menuliskan dan mengurutkan faktor faktor ini dalam menulis agar kami sadar betul bahwa pilihan kami itu rasional terlepas dari seberapa sentimentalnya rasa pulang itu sendiri.

Apakah mudah? Tentu tidak. Pencarian dari satu titik ke titik lain, rasa sudah cocok tapi ternyata legalitas bermasalah. Atau sudah cocok tapi lingkungan tidak mendukung. Banyak sekali dramanya. Belum lagi drama finansial yang menyertai. Nampaknya sudah jelas ya di Jakarta, harga tanah atau pun rumah itu memang bukan barang murah.

Kami sendiri banyak menghabiskan akhir pekan untuk survey dari satu lokasi ke lokasi lain. Rajin mencari informasi secara online atau pun melalui agen-agen. Atau sekadar berkeliling siapa tahu menemukan ada area yang cocok dengan kami.

Kalau prosesnya begitu lama hingga bertahun-tahun, kenapa kami tetap jalani? Sederhana, kami ingin rasa pulang yang melegakan. Kami ingin tiba atau pun tinggal di rumah di mana hati kami sreg betul, tentu jika harganya cocok adalah catatan besar dan penting ya.

Poin utama dari tulisan panjang ini adalah perjalanan membeli/mencari/memiliki rumah itu memang bukan sesederhana ingin memilih beli kopi apa untuk siang ini. Karena memang merupakan pengeluaran besar, maka waktu yang diperlukan untuk mencari dan menyeleksi sebaikanya tak sedikit.

Saya sendiri menuliskan ini di blog sebagai pengingat pribadi, bahwa rupanya hidup sudah membawa saya ke fase ini. Fase saya harus bisa membangun rumah kami sendiri. 

Ibuk, saya ingin pulang, tapi masih PPKM 😢.

Wednesday, 9 June 2021

Dear, 14-tahun Nada

21:08 0 Comments

 Halo, 14-tahun Nada

Kamu pasti sekarang sedang panas-panasan di lapangan sekolah, sore hari, latihan pramuka. Kamu juga pastinya menikmati sekali sibuk ini itu, sibuk di OSIS, persiapan lomba ini itu dan masih persiapan karena besok ulangan. Masih tetap harus ranking 1 kan? Aku, yang datang dari tahun 2020, cuma mau bilang. Nikmati semua itu. Nikmati semua kesibukanmu. Nikmati semua waktumu dengan teman-teman. Beberapa dari mereka masih berteman denganmu sampai sekarang, jadi sahabat baikmu. Kalian sudah tidak sesering itu bertemu, tapi setiap kali kamu pulang ke Temanggung (yep, benar, kamu tak lagi tinggal di Temanggung di tahun 2020) kamu bertemu mereka. Memang tak semuanya, tapi bukankah kamu di yang berumur 14 tahun ini tahu betul waktumu lebih nyaman untuk OSIS, persiapan lomba, latihan pramuka saja? Oh iya, yang kamu rasakan soal jatuh hati itu. Nikmatilah. Kenanglah rasa jatuh hatinya, kamu akan patah hati sih tak lama lagi. Tenang saja, di tahun 2020 kamu tahu cinta seperti apa yang utuh dan tak membuatmu rapuh. Patah hati akan membuatmu tangguh. Oh iya, jangan khawatir hanya soal jerawatmu dan kulit yang dekil karena kamu banyak panas-panasan latihan pramuka. Nanti ada banyak skin care kok di tahun 2020. Kamu perlu bilang ini ke dirimu sendiri, "I am enough and I love myself". Jangan terus-terusan minder karena jerawatmu ya. Kamu emang sih ngga secantik itu, tapi kamu punya kualitas diri yang lebih dari sekadar fisik. Percayalah. Oh iya, satu lagi. Kamu akan ketemu banyak orang yang lebih pinter dan kamu bisa belajar banyak dari orang-orang itu. Selalu lah merasa kamu bodoh, itu membuatmu tidak akan pernah berhenti belajar.


Kamu bisa nangis berhari-hari karena patah hati. Kamu bisa kecewa karena tak bisa beli hape seperti temanmu yang lain. Nanti ada saatnya kamu bisa beli itu semua dengan uangmu sendiri. Sekarang nikmati apa yang ada. Apa yang kamu punya. Apa yang kamu hadapi. Apa yang kamu miliki.


Kamu mungkin juga bertanya, apakah kamu sudah melakukan semua yang bisa kamu lakukan di umurmu sekarang? Iya. Kamu sudah melakukan yang terbaik, tak ada yang perlu diubah. Tak ada yang perlu disesali karena kamu di tahun 2020 ini tersenyum melihat kamu di usia 14 tahun. Semua lomba-lomba yang kamu menangkan, semua kegiatan ekstrakurikuler yang kamu ikuti, semuanya berarti. Semuanya bermakna, jika bukan membanggakan orang lain, paling tidak kamu di 2020 ini bangga sekali dengan dirimu yang 14 tahun. You are enough. You are loved. You will always be loved, if not by others, you'll be loved by yourself.

Thursday, 7 June 2018

Perawatan Jerawat Kulit Sensitif

02:33 0 Comments
Waktu saya masih SMP, saya sempat mengalami jerawat parah. Parah banget dan sayangnya saya tak punya foto waktu jewarat saya sedang parah-parahnya itu. Ibu saya cukup sering membelikan beberapa obat untuk saya, tapi tak ada yang cocok. Sampai akhirnya saya dapat satu obat jerawat dari ahad.net, semacam MLM kosmetik, saya habis dua botol dan sembuh. Kalau saya ingat-ingat lagi, waktu SMP memang saya sangat aktif di luar ruangan dan kurang merawat diri. Jadi saya ngga rutin membersihkan wajah dan hormon puber sedang deras mengalir di saat yang bersamaan.

Waktu SMA, bekas jerawat saya benar-benar menghilang dan biasanya hanya muncul satu atau dua menjelang menstruasi. Karena itu, tak banyak yang percaya saya pernah terkena break out jerawat yang cukup parah.

Satu dekade kemudian, jerawat itu datang kembali. Tepatnya setahun lalu. Awalnya saya kira jerawat yang muncul sama seperti biasanya, hanya muncul saat menjelang menstruasi. Tapi ternyata saya salah, jerawat ini terus bermunculan dan makin bertambah banyak.

September 2016, selepas thesis wajah masih mulus

Jerawat mulai muncul

Saya mencari info soal jerawat ini dan menerka-nerka apa panyebab dari jerawat saya yang makin parah itu. Beberapa hal yang berkemungkinan menjadi penyebabnya ada beberapa. Pertama,  tidak cocok dengan air yang ada di tempat tinggal baru. Kebetulan saya memang baru saja pindah kos di Jakarta. Di kos baru ini, kualitas air di kosan baru kurang bagus. Dan memang waktu jerawat mulai muncul itu bersamaan dengan pindah kos baru ini. Kedua, stress. Sepertinya alasan ini masuk akal juga. Tepat saat jerawat saya muncul, saya memang baru saja dipromosikan di tempat kerja dan posisi baru ini cukup menguras pikiran. Ditambah lagi, saya menyiapkan pernikahan. Boom! Combo sudah.

Selama itu saya mencoba beberapa hal untuk menyembuhkan jerawat. Awalnya saya sempat akan ke dokter kulit atau klinik tapi Ibu saya melarang . Takut saya jadi ketergantungan. Akhirnya, saya menurut dan mencari alternatif lain. Yang pertama adalah menggunakan minyak argan sebelum tidur. Saya sempat mencoba selama 1 bulan, tapi tak ada perkembangan. So sad. Minyak Argan yang saya dapat ini kebetulan saya beli waktu di Maroko (botol yang spray), kemudian saya beli juga di online shop setelah balik ke Indonesia. Tapi memang dari segi konsistensi beda.

Minyak Argan dari Maroko (kiri)


Berikutnya, teman saya menyarankan untuk menggunakan masker kunyit. Saya coba beli online dari rekomendasi teman saya itu. Rasanya panas sekali saat dipakai di kulit. Saya pikir ini reaksi saya akan sembuh. Break out saya juga makin parah. Sesaat saya sempat berpikir, mungkin ini jerawat akan keluar semua dan sembuh setelahnya. Tapi setelah sebulan, jerawat saya makin menjadi. Penting untuk dicatat, jangan sampai salah seperti saya, jika reaksi kulit seperti terbakar. Tinggalkan segera.

Jerawat saya tambah parah :(


Yang ketiga, saya pakai rangkaian perawatan Body Shop Tea Tree Oil. Alhamduliah cocok. Progressnya memang tidak cepat karena harus telaten. Tapi tak ada reaksi berlebih dan jerawat saya tidak bertambah banyak, meskipun tidak berkurang drastis dalam waktu yang singkat. Saya memakai Body Shop Tea Tree Oil ini selama kurng lebih 7 bulan secara konsisten dan alhamdulilah sekarang sudah membaik. Yang saya pakai dan urutannya adalah seperti ini.

1. Membersihkan make up. Saya menggunakan double cleansing. Pertama dengan Cammomile Oil dan saya suka banget Cammomile Oil ini karena mengangkat make up cepat banget dan lembut di wajah. Setelah itu saya menggunakan Aloe Vera Facial Wash.

Facial Wash Aloe Vera dari Body Shop

Cleansing oil Camomile dari Body Shop juga.

2. Mengeringkan wajah dengan tissue. Nah ini juga penting, karena kalau kita mengeringkan wajah dengan handuk, tekstur handuk bisa tidak cocok untuk kulit sensitif dan tissue juga lebih steril karena sekali pakai.

3. Setelah itu saya akan menggunakan essential oil tea tree di titik-titik jerawat. Ampuh banget sih ini, jerawat cepat matang. Saya habis 3 botol tapi sekarang belum beli lagi karena memang tidak banyak jerawat baru yang muncul.
Tea Tree Essential Oil dari Body Shop


4. Setelah itu saya diamkan kurang lebih 3 menit hingga meresap di kulit. Saya kemudian memakai Daily Solution tea tree. Untuk Daily Solution ini saya pakai di seluruh wajah dan tujuannya untuk menghilangkan bekas jerawat.



Selama kurang lebih 3 bulan, saya menggunakan perawatan ini. Jerawat berkurang tapi bekasnya masih ada. Akhirnya saya coba beli night mask tea tree oil. Saya mulai menggunakan night mask ini saat jerawat baru sudah berhenti muncul. Jadi saat malam setelah membersihkan wajah dengan langkah 1 dan 2, saya pakai Night Mask. 



Di pagi hari, sebelum make up, saya pakai toner tea tree oil. dan kemudian menggunakan moisturiser Aloe Vera masih dari Body Shop juga.

Alhamdulilah sekarang jerawat saya sudah berkurang. Ternyata kunci dari menyembuhkan jerawat adalah memahami jenis kulit, penyebab jerawat dan sabar! Kalau penyebab jerawat adalah stress, maka usahakan menenangkan pikiran.


Sekitar bulan januari, saya sudah mulai rutin dan jerawat mulai berkurang. Di Bulan April, setelah menikah saya pindah tempat tinggal dan alhamdulilah cocok dengan air di tempat tinggal baru. Stress juga semakin berkurang, sudah lebih tenang di hati karena menikah (hahaha).


Sekarang bekas jerawat masih ada tapi tak lagi break out seperti dulu. Alhamdulilah. Semoga tulisan ini membantu siapa pun yang sedang berjuang melawan jerawat ya!


Thursday, 31 May 2018

Review Vendor Pernikahan di Temanggung

10:11 0 Comments
Bermula dari persiapan pernikahan sendiri dalam waktu yang menurut saya cukup singkat, kurang dari 4 bulan, saya merasa kekurangan sumber referensi dalam memilih berbagai hal. Mengapa begitu? Karena pernikahan saya sendiri dilaksanakan di Temanggung, satu kabupaten kecil di Jawa Tengah. Kebanyakan, ulasan-ulasan tentang penyedia jasa pernikahan lebih banyak di kota-kota besar, mulai dari hal kecil sampai besar. Nah, kali ini, saya ingin sekali menambahkan ulasan, jikalau nanti ada generasi millenial yang mengalami hal yang sama dengan saya. Pernikahan dilaksanakan di Temanggung tapi saya sendiri sehari-hari berada jauh di kota lain. Karena itulah, membaca ulasan menjadi salah satu hal yang penting buat saya. Pada akhirnya memang tidak semua hal yang berkaitan dengan pernikahan saya berasal dari Temanggung, tapi mari kita bahas satu persatu dan semoga ulasan ini membantu!

eits, ada yang ngintip :p


Gedung

Sebelum memilih di gedung, saya sempat ingin mengadakan outdoor weeding di salah satu hutan pinus dekat rumah, di Jumprit. Sayangnya ide ini ditolak oleh Ibu karena dua alasan, repot dan musim hujan. Akhirnya mengalah. Sebenarnya persoalan gedung ini sudah dibahas setahun sebelumnya bahkan sebelum lamaran. Hahahaha. Alasannya karena Ibu saya sudah 3 kali mantu dan semuanya di tempat yang sama dan gedung tersebut kurang besar untuk menampung jumlah tamu Ibuk yang banyak. Saya sempat usul untuk menggunakan gedung pemuda di Temanggung kota, cukup jauh dari tempat tinggal kami tapi tempatnya luas. Tapi pilihan ini pun gugur karena, REPOT. hahaha dan berkaitan pula dengan Katering yang akan saya bahas berikutnya.

Akhirnya pilihan jatuh ke tempat di mana kakak-kakak saya melangsungkan pernikahan. Balai Desa Ngadirejo. Plusnya adalah deket banget sama rumah dan harganya murah! minusnya adalah, dari luar memang Balai Desa ini kurang cantik karena di bagian depan dijadikan kios-kios kecil oleh Pengurus Desa untuk pemasukan Desa juga. Tapi untuk ukuran desa, buat saya ini sudah cukup layak. Apalagi di dalam gedung berhasil disulap menjadi cantik!

Salah satu sudut gedung dan panggung


Rias

Rias saya menggunakan Madani Rias Pengantin, masih di sekitaran Ngadirejo juga. Alasannya? Masih kerabat dan keluarga saya sudah turun-temurun dirias oleh Budhe Beni (pemilik Madani Rias). Dari hasil riasan, saya memang ingin menggunakan adat jawa, karena ingin sekali ada prosesi adat di resepsi saya. Sayangnya, suami kurang suka dengan pakem alis riasan adat pengantin jawa yang bercabang (saya lupa istilahnya apa), jadi akhirnya jalan tengahnya riasan jawa dengan alis biasa. Sayangnya juga, Madani Rias belum ada instagram, tapi kalau ingin kontaknya, bisa tinggalkan komen di bawah ya.

make up untuk midodareni

make up adat jawa, dengan Ibuk di samping yang tersenyum bahagia


Katering

Rizquna Katering alias katering Ibu saya sendiri. Haha. Inilah salah satu alasan pemilihan gedung dekat rumah, karena katering dan masakan semua dihandle oleh Ibu saya sendiri, beberapa makanan gubuk ada yang kami pesan dari tetangga dan makanan favorit saya juga, seperti Bakso Lombok Uleg khas Temanggung Pak Imron, Sate Ayam (yang masih tetangga juga yang dipesenenin) dan Lothek Mbak Nur (jajanan saya jaman SD). Tapi apakah saya sempet icip saat acara? Tentu tidak. Tidak sempat. Hahaha. Tapi kenapa sih makanan yang dipilih semua dari makanan favorit saya? pertama, karena saya suka sekali makanan khas temanggung ini, dan ini dibuat langsung oleh orang-orang yang sama yang jadi favorit saya. Bisa dibilang, rasanya sungguh menjadi sentimental dan personal dan saya ingin tamu undangan merasakan hal yang sama. :) Dari testimoni para tamu, semua puas dengan hidangan makanan di saat resepsi. Jadi alhamdulilah ya :) Yang disekitar temanggung dan tertarik untuk pesan katering ke Ibu saya, bisa tinggalkan komen juga ya!

Baju Pengantin

Ada 3 baju yang saya pakai selama acara. Jadi kembali ke masalah gedung yang tidak cukup menampung jumlah tamu, diputuskanlah kami sudah menerima tamu di gedung sehari sebelum akad, saat akad dan resepsi (standing party) setelah akad. Jadi ada 3 baju yang saya kenakan. Untuk baju sehari sebelum akad dan baju resepsi, saya memutuskan untuk sewa masih di Madani Rias karena alasan kepraktisan. Kebetulan ukuran tubuh saya pas dengan baju-baju yang disewakan dan ada yang cocok juga. Sementara untuk akad, Mama mertua yang menjahitkannya dari kain untuk lamaran.
Gaun Akad by Mama Mertua
Untuk Resepsi setelah akad, saya dari dulu pengen banget pakai adat jawa. Meskipun terlihat rempong, tapi buat saya itu kaya akan nilai filosofis sekaligus nguri-uri kabudayan jawa. Meskipun saya ngga full adat sih, yang sampai dipingit. Bahkan siraman juga nggak. Hahaha. Yang saya suka banget itu adalah bagian Panggih atau Temu Manten. Kaya makna dan emang jadi lebih dapet banyak momen untuk di foto. hehe.

Saya sebagai Pengantin Jawa

Undangan

Untuk undangan, saya pengen undangan online tapi tetap terasa personal. Jadilah saya pesen ke tukarcincin.com, kebetulan adek kelas saya di ITS untuk bikin sesuai keinginan saya yang personal ini, dan voila, jadilah undangan nikah yang sangat personal untuk tiap orang. Ini contoh undangan untuk Maid of Honour yang juga sepupu saya. Lengkap dengan lagu favorit saya yang bikin tambah syahdu, Sampai Jadi Debu dari Banda Neira. Tapi karena orang tua tetep pengen ada undangan cetak, akhirnya mengalah dan tetep bikin undangan cetak. Desainnya oke, minimalis dan saya banget. Dan ini dibantu sama kakak saya pesen undangan udah kurang dari 30 hari pernikahan. Cukup bikin saya pusing. Untuk undangan cetak ini karena kakak saya yang bantuin, jadi dipesan di Jakarta.

Souvenir

Waktu membahas souvenir, Ibu saya sebenarnya udah, ngga usah lah mbak. Sayang nanti kalau ngga kepake. Jadi saya pengen bikin souvenir yang kepake, apalagi kalau ada tamu yang sudah menyempatkan datang dari jauh. Akhirnya saya putuskan biar souvenr ini saya yang urus. Jadilah mulai cari pengen seperti apa yang bermanfaat. Kakak-kakak saya, biasa bikin souvenir buku. Buat saya itu oke untuk yang suka baca, tapi karena sudah biasa itu jadi pengen yang lain aja. Akhirnya terpilih dompet. Hahahaha. biasa banget sih tapi saya suka dan saya pikir ini bermanfaat. Jadi saya mulai cari di bukalapak, dan ternyata banyak banget lho yang menyediakan begini. Dan saya lebih yakin juga kalau pesen via bukalapak karena meskipun saya ngga kenal, kan uang saya ngga bakal dibawa lari juga. Jadi ngobrol instan via whatsapp tapi eksekusi di marketplace. Pelapaknya juga sangat akomodatif dan responsif, masalah kain dibahas, saya mau kain warna apa, mau dibungkusin plastik nggak, ada tulisan nama pengantinnya nggak, dll. Nah untuk nama pengantin di dompet, saya ngga pengen yang disablon gitu terus ngga bisa ilang dari dompetnya. jadi saya putuskan pakai tag kertas yang desain awalnya dibikinin teman kantor saya, Lina, yang kemudian dibikin versi digitalnya sama team tukarcincin. Love banget. Harga oke, kualitas puas dan lihat souvenir ini di pakai itu bikin bahagia. Ngga papa paper tag nama kami dibuang, tapi dompetnya dipakai. It was more meaningful :) Oiya, kalau ada yang tertarik pesan, bisa langsung ke lapaknya aja di sini. Lokasi pelapak di Semarang, jadi ongkirnya lumayan murah.

souvenir nikah, di foto ala kadarnya pakai kamera hp, bukan seperti foto lain di post ini.


Henna

Untuk Henna, saya udah cari-cari sendiri di instagram yang di area temanggung. Sempet kontak satu akun, tapi kurang yakin karena setelah saya tanya ke perias harganya kemahalan. Perias menyarankan saya kontak yang di Ngadirejo saja, kecamatan saya. Ada dan harganya bisa nego. Akhirnya coba kontak dan yes, emang harganya cocok dan saya suka hasilnya. Bagus banget henna putih ini. Tapi sayangnya, meskipun udah dikasih tahu kalau henna putih itu teksturnya timbul, bukan yang menyerap di kulit gitu, saya tetep mau aja. Dan akhirnya tekelupas dong waktu pasang cincin, dan pasang cincinnya juga kesusahan. Jadi saran saya, kalau mau jangan henna putih. Haha. O iya akun instagram henna artisnya ada di sini.


Fotografi

Sebelum nikah, saya follow beberapa studio foto dan ternyata nemu studio foto yang dekat rumah dan hasilnya oke. Akun instagram dan portofolionya bisa lihat di sini. Saya suka sama cara pengambilan gambar dan pengambilan momennya. Bisa dapet aja yang candid tapi penuh makna. Hasilnya semua foto di post ini ya, kecuali pouch dan gaun akad, itu saya ambil pakai kamera hape.
Recommended!

Dekorasi

Dekorasi saya pakai vendor yang sama dengan rias, masih di Madani Rias. Puas juga, karena maunya saya dituruti semua. Haha, jadi gedung balai desa yang biasa buat tanding badminton indoor diubah jadi cantik. Ngga kelihatan kalau itu biasa buat main bulu tangkis. Saya minta semua dinding dan atap ditutup dengan kain dan lantainya ditutup karpet. Suka banget jadinya. Panggung juga oke. Waktu saya terakhir cek dan ngerasa panggungnya kurang lebar, dibantuin juga lho biar dilebarin. Kooperatif banget pokoknya. bikin pengantin tenang. Hasil dekornya kelihatan ya di foto-foto di atas.

Salon Perawatan Pra Nikah

Ini mesikipun paling bawah, tapi saat menuliskan ini saya tulis paling awal karena masih hangat pengalamannya jadi masih sangat fresh.

Untuk perawatan Pra Nikah, saya waktu itu sempat galau apakah akan perawatan di Jakarta atau di Temanggung. Sejujurnya malah sampai 2 minggu sebelum acara, belum terpikir sama sekali sampai kakak ipar saya tanya saya sudah perawatan atau belum. Awalnya berpikir tidak perlu dan kalau sempat saja. Ternyata di Jakarta saya tidak sempat dan tidak menemukan salon yang cocok. Salon langganan saya di Jakarta, moz5 di Pejaten, harganya cocok di kantong tapi ya memang kualitasnya sesuai dengan harga yang ditawarkan. Akhirnya saya memutuskan di Temanggung saja.

Di Temanggung, entah kenapa yang terbesit di pikiran saya adalah Amarta Salon. Ini murni tanpa baca ulasan orang lain dulu, hanya googling, cari nomor telepon dan booking. Alhamdulilah hari itu bisa dan bisa langsung datang. Saya merasa Amarta Salon ini sudah benar-benar melekat di benak saya, padahal saya sama sekali belum pernah kesana. Alasan sederhana, teknik pemasaran yang mengena dan membekas untuk kota sekecil Temanggung.

Saya langsung datang dan tanya paket untuk pernikahan dan inilah yang bikin saya takjub!
Untuk perawatan pra nikah, saya ambil paket eksklusif. Ini sudah meliputi massage, lulur, spa, steam, ratus, berendam, menicure pedicure, totok wajah, potong rambut dan creambath! Lengkap sekali dan harganya sangat ramah di kantong! Rp269.500! Kalau di moz5 ini baru harga massage dan lulur saja. Yang bikin saya tambah bahagia adalah bath up nya! kalau di moz5 pejaten, bath up nya sudah agak rusak dan bath up biasa jadi tidak bisa lama berendam karena air akan dingin. Padahal sejak kuliah di UK, berendam itu salah satu favorit saya bisa sambil baca paper dan mengerjakan tugas bahkan. Hahaha! yang ciamik dari bath up di Amarta Salon ini adalah tipe jacuzzi yang air hangatnya mengalir terus jadi rasa hangatnya bertahan lama dan saya betah sekali. Pelayanannya juga ramah dan pijatannya enak. Saya rasa perawatan ini lebih banyak untuk rileksasi untuk mengurangi stres menjelang hari H.

Dan memang setelah dari sana, rasanya sangat segar! Oh iya, saya total menghabiskan waktu 4 jam untuk semua itu, mungkin bisa 5 jam kalau saya berendam lama seperti saat berendam di UK dulu. Haha, tapi untungnya sadar diri dan ingat kalau ini sudah mau tutup jadi ya sudah.

So far, saya puas sekali dan merekomendasikan tempat ini!

So that's was my review. Semoga membantu para calon pengantin yang sedang mempersiapkan pernikahan di Temanggung atau sekitarnya ya!

Monday, 15 January 2018

It's her

11:09 0 Comments
It's her, Mom.

I know it sounds silly. For the first time and even until now. I know, you might be hesitant. I and she are too much look alike. We are strong-headed, with strong personality. She is so independent, high-achiever and alpha-female. Yet, it is her, Mom.

Not only you, everyone around me keep asking how could I bare to stand her fierceness. She is simply too independent in some sense. She looks like a leader whom I should say yes, not because she wants me, but because she is always right. She will interrupt me and get me in a way she want me to be. She will take action and lead the way. She doesn't need any thing to stand still and strong. She makes plan for high achievement and sticks by it. She will cuss anything that meddle her way without mercy. In short, she looks a like dictator. No man should approach her without being killed, or at least injured by her fierceness. Yet, it's her, Mom.

She has very strong appearance. She knows how to act strong and sticks with it. She always shines and make her way to the top. She is so full of herself. She knows nothing about the outside world, nor she even care. She closes her ears from the outside, never listen to anyone. How could anyone even imagine to spend the rest of his life with her? Yet, it's her, Mom.

It's her, because I know her. I know that she knows how and WHEN to act strong. I know that she is actually fragile, and needy, and soft, and very passionate about the one she cares about. I know that she loves to be nurtured, I know that she will sacrifice her life for the values she believe in. And I know, Mom, how valuable I am for her.

People see her image, but I understand her values. People see her acts, but I know why she made those acts. She doesn't feel the need to make the whole world to understand, she only wants me understand. And for here, that's the whole world.

So yeah, it's her.

For now. Forever.


Thursday, 28 December 2017

Tentang Perdebatan

03:40 0 Comments
Boi,
Masih ingat kah kau dengan bangku di depan kelas perkuliahan kita yang terbuat dari semen kaku itu? Yang selalu dingin dan berat, tapi penuh dengan canda dan tawa para mahasiswa yang sedang melupakan bagaimana susahnya tugas akhir semester.

Kita pernah duduk di bangku itu, Boi. Di bawah pohon akasia yang daunnya malu-malu, enggan rimbun juga enggan luruh, kita berdebat dengan seru. Yang lain menyebut kita berdebat sengit karena kita memperdebatkan soal apakah Indonesia ini perlu dianggap sebagai bangsa.

Kau, Boi, dengan jiwa nasionalisme yang menggebu itu, bersikukuh Indonesia ini bangsa. Kita disatukan oleh sejarah, sejarah kaum terjajah. Katamu, Boi, bangsa ini berdarah-darah menjadi satu agar lepas dari belenggu. Kau sibuk menyebut nama, tahun dan tempat. Mirip seperti buku sejarah jaman SMA yang sarat hapalan.

Kau, Boi, tak sependapat denganku karena aku merasa tak ada itu bangsa Indonesia. Yang ada itu Negara. Kita tak pernah satu karena sejarah, kita bersatu karena terpaksa secara administrasi. Bangsa adalah hal yang lain dari negara. Bangsa adalah suku. Aku menyebut tahun yang lebih lampau, berceritera bahwa bangsa Jawa punya sejarah yang jauh berbeda dari Bangsa Ambon. Bagaimana bisa budaya yang begitu berbeda kau satukan begitu saja menjadi bangsa, Boi? Aku rapal segara teori yang aku hapal, mendebatmu dengan lugu.

Tentu malam itu kita tak bertemu kata sepakat. Mungkin hingga hari ini, Boi. Kau selalu bersikukuh Indonesia itu bangsa, aku teguh bahwa Indonesia ini Negara.

Tapi kita kini sepakat, Boi, Indonesia itu rumah, tempat pulang yang selalu hangat.

Debat itu Boi, mana ada yang peduli, selain kita. Kawan-kawan di sekeliling kita sedang sibuk menghitung algoritma Binary Search yang paling efektif. Apa yang kita perdebatkan, selain tak penting juga nirfaedah bagi mareka.

Disitulah aku tahu, Boi, kau adalah orang yang akan antusias membahas dunia ini bersama. Meski pendapat kita berbeda, meski jalan kita tak sama.

Iya, Boi, kita sepakat untuk tidak sepakat pada hal-hal yang orang lain pun tak akan pernah sempat berdebat.

Kau ingat bangku itu kan, Boi?



Jakarta, 28 Desember 2017

image source

Tuesday, 19 September 2017

How Did I Overcome Quarter Life Crisis

04:29 0 Comments
It was a breezy afternoon in South Jakarta, Indonesia. I was sitting comfortably on my chair with my office pillows (yes, plural) when I realized that I need to write what had happened in my life in a year after I shared my post about quarter life crisis. Why? This year has been the exact opposite of what I did last year when I posted that quarter life crisis and yes, I am enjoying it.

I wrote that the key of facing quarter-life crisis was let it go. No, it’s not a reference to any Disney movies. And that was what I did. I let my crisis went by. How did I do it? By sticking to my priorities in life.

I was in the middle of crisis and dilemma about where to go because the future at that time seemed so blurry. I rearranged my life priorities and talk about it with  close friends and family. I shared it to people whom I trusted and I am glad I did the right thing. After discussion with the close one, I decided not to pursue any career outside Indonesia yet. I went back home and working in a start up company which offer me so many flexibility and room to grow and learn. To be completely honest, I was looking for a job with flexible contract term. In Indonesia, it is common that when you resign before the designated time you have to pay for a penalty and this is what I always avoid. Why I need flexibility? Because I simply do not want to be tied down with fixated term.

And It turns out, I love my job. I love working as a Product Manager in the biggest e-commerce in Indonesia. I love the culture, I love the people, I love the product itself. I love that what I do in daily basis help millions of people in Indonesia. I love the fact that we bring impact to microeconomics even in rural area. I love managing the product, the people and stakeholder. I will be lying if I said I am never stress or under-pressured, but it is an honest truth that I love my job and how much it has taught me to be a better person.
My Squad at work

I learn to manage expectation, I learn to communicate better, I learn to strive for the goal and still being realistic. I love to motivate people and my team. I experienced the burst of happiness when my product was launched and users excited about it. In short, my job deserves another whole of blog post.

Back to my quarter-life crisis, once I focused my goal based on my priority, the vision getting clearer. What I fear the most about uncertainty in the future becomes my best friend and I can deal it with peace. Life is full of uncertainties and that’s the beauty of life. Once I set my priority, I start to see what does really matter for me that can bring me happiness. It is from within. It is never from anyone else.

Facing quarter-life crisis is not a hit-and-go battle. It is continuous process. Sometimes I still feel wobble in life and I guess that’s a part of being human. But when I do look back to last year, I realize that I couldn’t find happiness because I was busy looking around when I actually I should look inside.

If right now you still in the middle of quarter-life crisis, here is my suggestion for you. You should start to look inside to know what really matters for you. Have your priorities sorted and make actionable goal from that. Embrace your crisis. Talk to someone who you trust. Find peace within your own heart. It might sound too illusory right now but I can guarantee you that the fog will lit and you will see everything clearer once you start to embrace your own crisis. And yes, you are never alone. This too shall pass.

Sunday, 7 August 2016

Krisis Perempat Baya alias Quarter-Life Crisis dan Cara Mengatasinya

18:31 0 Comments

Jika kamu berumur antara 20-30 tahun dan sedang mengalami fase-fase penuh kegelisahan dalam hidup dan kamu merasa kamu tidak menemukan jawaban atau bimbang dalam menentukan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya dalam hidupmu, kamu tidak sendirian. Kamu sedang mengalami krisis perempat baya alias quarter life crisis, sebuah kondisi yang banyak dialami oleh seseorang yang sedang mengalami transasi dari masa remaja menjadi seseorang yang (harus) dewasa sepenuhnya.
Silakan tanyakan ini pada dirimu.

1. Saya bimbang dan merasa galau apa yang harus saya lakukan berikutnya dalam hidup, melanjutkan studi? Mengejar karir di bidang lain? Menikah?
2. Saya merasa pekerjaan saya sekarang sungguh membosankan dan saya ingin suasana yang lain dari pekerjaan yang monoton seperti saat ini.
3. Setelah lulus apakah saya harus melamar pekerjaan? Pekerjaan macam apa yang cocok untuk saya? Ataukah sebaiknya saya berwirausaha? Tapi usaha macam apa yang bisa saya rintis? Bagaimana caranya?
4. Hampir tiap akhir pekan agenda saya adalah mendatangi resepsi teman atau rekan. Saya sendiri kapan dong? Keluarga dan kerabat selalu menanyakan hal yang sama kepada saya, kapan nikah? Kapan nikah? Duh, jodoh pun belum bertemu.
5. Saya sudah berada dalam hubungan yang panjang, tapi rasanya tidak ada kejelasan dalam hubungan kami. Apakah kami akan menikah? Apakah kami memang cocok untuk menghabiskan hidup kami bersama? Apakah dia memang ingin menikahi saya dan apakah saya juga ingin menikahi dia?
6. Saya sudah menikah, tapi saya merasa banyak impian saya belum terwujud. Bagaimana bisa saya mewujudkan mimpi – mimpi saya itu dengan tanggung jawab yang saya miliki sekarang setelah menikah? Masih bisakah saya mengejarnya?
7. Si kawan itu sudah berhasil mencapai ini, si dia sekarang sudah berpenghasilan sekian, kenapa saya jauh dari yang saya harapkan?
8. Kenapa setelah semua yang saya dapatkan saya tidak merasa bahagia? Apa sih sebenarnya yang bisa membuat saya bahagia?
9. Pencapaian saya selama ini tidak ada artinya. Saya ini bukan siapa-siapa.
Dan daftar kegalauan ini pun bisa terus bertambah tanpa henti. Jika dari pertanyaan-pertanyaan di atas ada yang kamu rasakan dan pertanyaan itu muncul terus berulang-ulang, mungkin kamu sedang mengalami quarter-life crisis.

Sumber dari sini yang juga membahas quarter-life crisis


Quarter –life crisis ini biasanya memang berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut keputusan kita di masa depan yang akan berpengaruh dalam hidup. Jadi bukan hal macam kegalauan hari ini makan apa yang muncul tiap hari, itu belum bisa disebut quarter-life crisis sepertinya.
Saya sendiri baru mendengar soal istilah ini beberapa hari lalu dari teman saya yang mengambil doctoral di bidang psikologi. Dan pertanyaan saya ketika mendengar hal ini, terus bagaimana dong mengatasinya?
Kata dia, jawabanya adalah Let It Go. Ada masanya kegelisahan itu akan lewat, misal sekarang kamu terus galau dan merenung kapan kamu akan menikah? Kapan tiba giliranmu? Setahun setelah momen quarter-life crisis ini lewat, kamu akan menilik kembali ke masa itu dan merasa, “Duh, ngapain dulu hal kayak gitu digalauin terus-terusan. Buang Energi. Just Let it Go and moving forward”.
Meskipun jawaban ini terasa masuk akal dan hanya bisa dibuktikan oleh waktu, saya akhirnya mencari jurnal atau paper yang membahas hal ini dan bagaimana mengatasinya. Akhirnya saya menemukan salah satu paper yang berjudul “Coaching Clients through the Quarter-Life Crisis: What works?” ditulis oleh Alice Stapleton pada tahun 2012  . Di paper tersebut dituliskan juga macam-macam kegalauan yang muncul dan karena responden berasal dari UK maka kegalauannya agak sedikit berbeda dengan kegalauan anak muda Indonesia, misalnya tidak ada isu sama sekali soal pernikahan. Yang menarik adalah bagaimana paper tersebut menjelaskan bagaimana kita bisa melewati quarter-life crisis. Di paper tersebut sebenarnya hal yang dilakukan untuk melewati crisis ini adalah dengan coaching, atau pembinaan, meskipun saya rasa kita juga bisa mencobanya dan inilah yang bisa kita lakukan. 
1. Tentukan arah dan Fokus
Ketika menghadapi quarter life crisis, hidup terasa tak menentu dan kita merasa tak jelas kemana harus melangkah. Di paper disebutkan, dalam coaching tersebut, kita bisa dibantu untuk menentukan arah dan focus dengan arah tersebut. Kalau kita tidak ikut coaching apa yang bisa kita lakukan? Lihat kembali hidupmu dari posisi yang berjarak, evaluasi semua arah yang pernah kamu tuju dan tentukan mana yang membuatmu merasa lengkap dan fokuslah ke arah itu. Misal kamu merasa hal yang sangat menarik dalam hidupmu adalah pendidikan, opsi melanutkan pendidikan bisa jadi lebih masuk akal dan fokuslah untuk mengejar pendidikan lanjut. Bagaimana jika kamu tahu bahwa yang ingin kamu lakukan adalah membangun keluarga dan membesarkan anak-anak? Fokuslah mencari jodoh dan tentukan apa yang bisa kamu lakukan untuk mencari orang yang sevisi dengan kamu. Ini bukan artinya tidak pilih-pilih, tapi tidak ada salahnya mengambil insiatif selagi itu masih masuk akal. Misalnya berteman dengan banyak orang, menambah lingkungan pertemanan atau terang-terangan minta dicarikan jodoh ke orang tua atau teman.
2. Tentukan target 
Kalau kamu sudah tahu arahmu, tentukan tujuan yang harus kamu capai dalam waktu yang singkat missal satu tahun atau lima tahun. Misal untuk studi lanjut, kamu tahu bahwa tahun ini kamu harus melengkapi persyaratan bahasa dan mendaftar di universitas tujuan. 5 tahun lagi kamu akan selesai dengan studi doktoralmu. Apakah semua target ini mutlak harus dipenuhi? Tidak. Tujuan dari target ini adalah agar setiap langkah yang kamu ambil mengarah ke target itu dan kamu tahu apa yang kamu lakukan dengan hidupmu.
3. Rancang aksi hidupmu atau action planning  life
Sekarang kamu sudah menentukan targetmu, saatnya merancang apa yang bisa kamu lakukan untuk mencapai target itu. Apakah kamu bisa mempersiapkan bahasa jika masih bekerja secara penuh? Atau kamu harus resign dan mempersiapkan diri secara intens? Semua ini kembali kepada arah dan target hidupmu. Apakah ini mudah, menurut paper tersebut, hal ini masih sulit dan orang yang galau merasa merancang action plan tidak semudah menentukan hal yang lain. Ada baiknya kamu memiliki teman diskusi, akan sangat susah mengalami ini semua sendirian. Pada titik ekstrim, seseorang yang mengalami quarter life crisis bisa merasa berada pada titik terendah dalam hidup dan bisa berpikiran pendek untuk mengakhiri hidupnya. Disinilah pentingnya membagikan kegalauan kamu, berdiskusi dengan orang lain untuk menjaga kewarasanmu.
4. Skill
Di paper tesebut, sebenarnya skill yang dimaksud adalah skill yang didapat selama coaching seperti kemampuan untuk mengatakan tidak pada sesuatu yang kita tidak suka atau bersikap lebih asertif. Skill ini dinilai berguna untuk membantu diri keluar dari krisis ini.
5. Kenali diri sendiri
Self-awareness adalah hal yang penting. Dengan mengenali diri sendiri, kita bisa tahu apa yang bisa kita lakukan. Kita bisa menghargai diri sendiri dan menerima diri kita. Tentu hal ini tidak mudah apalagi jika kita terus menolak menerima diri sendiri atau denial dan hidup dalam angan-angan. Karena itulah, mengenali diri sendiri dan menerima diri sendiri itu menjadi salah satu kunci untuk keluar dari krisis ini.
6. Refleksi diri sendiri 
Refleksi ini juga membantu lebih mengenali diri sendiri. Tentang apa yang sudah kita lakukan, mengevaluasi kesempatan yang kita lewatkan atau kesempatan yang kita manfaatkan dalam waktu seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Mengevaluasi diri sendiri bisa membuat kita sadar kesalahan apa yang telah kita perbuat dan bagaimana menghindari mengulangi kesalahan yang sama.
7. Percaya diri
Orang yang mengalami quarter-life crisis umumnya mulai kehilangan kepercayaan diri. Hal ini berkaitan juga dengan mengenali diri sendiri dan refleksi diri. Dengan melakukan hal tersebut, kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita, menyadari keunikan diri dan menjadi lebih percaya diri. Ketika kita memiliki kepercayaan diri, kita akan melangkah dengan pasti dan saya selalu percaya langkah yang pasti akan mengantarkan kita ke tempat yang pasti pula.
Tujuh hal di atas, bisa dicek kembali berasal dari paper yang saya sebutkan. Meskipun banyak pula yang saya tambahi dengan penjelasan yang saya pahami sendiri. Apakah saya bisa membantu mengatasi krisis ini? Saya sendiri berada dalam usia ini. Saya sendiri mengalami salah satu krisis tersebut. Apakah saya berhasil melewatinya? Saya sedang berusaha melewati krisis ini. Tujuan saya menulis ini adalah untuk menyadarkan teman-teman yang semula mengalami krisis semacam ini dan merasa hanya dia yang merasakannya, tidak, ini namanya quarter-life crisis dan banyak orang mengalaminya. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama melewati krisis hidup ini.
Selain tujuh hal yang saya dapatkan dari paper, sebagai seorang yang percaya dengan Tuhan dan Agama, saya juga percaya hal-hal religius membantu saya untuk melewati krisis ini dengan lebih tenang. Sebagai muslim, sholat, membaca Al Qur’an, sholawat, sedekah dan hal religius lainnya membantu saya untuk melewati krisis ini. Dan juga, hal-hal tersebut merupakan pesan ibu saya yang berusaha betul saya pertahankan.
Perlu diingat, latar belakang pendidikan saya bukanlah psikologi. Pengetahuan saya terbatas dalam bidang ini. Tujuan saya menulis ini juga untuk berbagi, mencari masukan dari orang yang lebih berkompeten di bidang ini ataupun dari orang yang sudah berhasil melewatinya. Bagaimana kamu berhasil melewatinya? Share di kolom komentar ya.

Saturday, 18 June 2016

Kuliah di UK - What I Need to Know? Part 2

16:55 0 Comments
Setelah 3 bulan lalu menulis bagian 1, kini akhirnya selesai juga bagian ini. Semoga malas tidak melanda untuk menuliskan bagian terakhir nanti!

Juni 2015 saya mendapatkan dua kenikmatan yang luar biasa. Unconditional Letter dari Warwick Business School dan juga beasiswa LPDP. Pada saat itu, perasaan saya bercampur antara syukur, senang , nervous dan juga penuh pertanyaan akan seperti apakah hidup saya nanti di UK dan apa saja yang harus saya persiapkan. Tulisan ini, menyambung tulisan saya sebelumnya, ditujukan untuk teman-teman yang berada di fase tersebut. Sudah diterima di universitas tujuan dengan sokongan dana penuh baik itu dari beasiswa maupun dari kantong pribadi.


Saya mendapatkan cukup banyak pertanyaan di fase ini yang akan saya coba rangkum dan semoga membantu!


Sebaiknya tinggal di mana UK?

Memilih tempat tinggal di UK perlu mempertimbangkan beberapa faktor dan prioritas dari faktor-faktor tersebut bisa berbeda antara satu orang dengan yang lain. Faktor yang perlu dipertimbangkan adalah area kampus, lokasi kampus, beban kuliah, keamanan dan juga kenyamanan. Di UK, setidaknya ada dua macam tipikal area kampus. Kampus dengan area terpusat yang artinya semua wilayah kampus berada di area yang sama dan kampus yang memiliki gedung-gedung yang terpisah namun masih berada dalam satu kota yang sama. Contoh kampus dengan area terpusat di Indonesia adalah seperti ITS dan UI. Sementara kampus dengan gedung-gedung yang terpisah seperti UNAIR dan UGM. Kampus saya sendiri areanya terpusat di Coventry, mirip dengan kampus saya dulu ITS. Hampir semua kebutuhan mahasiswa ada di area kampus mulai dari supermarket, kantor pos, bank, bioskop, art centre, bookshop, health center, sport center, masjid, hingga café dan bar. Di kampus semacam University of Warwick, tinggal di dalam kampus atau on campus menjadi nilai lebih karena hal-hal tersebut. Alasan lainnya adalah beban kuliah yang mengharuskan saya untuk sering di kampus hingga larut malam karena ada group work. Teman-teman saya yang tidak tinggal on campus, harus meninggalkan kampus dan berkejaran dengan bis terakhir sekitar pukul 11 malam. Kalau tertinggal, selamat menunggu sampai pagi berikutnya atau harus naik taksi.


Lingkungan on campus juga relatif lebih aman karena ada security yang selalau berkeliling dan mengamankan kampus. Berjalan pukul 3 pagi di tengah kampus saya tetap merasa aman dan nyaman saja. Tinggal on campus juga memberikan kesempatan saya untuk mengenal orang-orang baru. Campus accomodation, atau akomodasi yang dikelola kampus juga bisa memberikan kesempatan ini. Saya bisa berteman dengan orang yang memiliki latar belakang yang jauh berbeda dari saya dan tentunya ini memberikan kesempatan jejaring untuk saya juga. Tinggal off campus juga memiliki kelebihan dari segi biaya, yang biasanya jauh lebih murah. Teman-teman dari Indonesia seringkali bersama-sama menyewa satu rumah dan ditinggali bersama. Biaya yang dihemat bisa sampai separuh biaya tinggal on campus. Tinggal off campus juga artinya kita bisa memilih lokasi kita dan lingkungan kita. Dan untuk yang kampusnya tersebar, hal ini juga menyenangkan karena kita bisa memilih lokasi yang berdekatan dengan gedung jurusan atau laboratorium kita.


Saya sendiri tinggal on campus dengan pertimbangan kuliah yang penuh dan tugas yang mengharuskan saya berada di kampus hingga larut. Ibu saya sendiri merasa lebih yakin jika saya tinggal on campus dan Alhamdulilah saya mendapatkannya. Konsekuensinya, saya harus lebih berhemat di makanan dan juga pengeluaran yang lain. Namun untuk saya pribadi, hal itu sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Kalau kamu masih bingung, silakan pertimbangkan faktor-faktor tadi dan mana yang kamu prioritaskan. Jika biaya adalah prioritas kamu, saya sarankan kamu mencari akomodasi off campus yang murah. Namun jika kamu memiliki prioritas yang sama dengan saya, kamu bisa memilih tinggal on campus.


Soal makanan halal bagaimana?

Alhamdulilah, di dekat kampus saya terdapat supermarket besar yang menyediakan daging halal. Saya biasa memasak sendiri selain karena alasan hemat juga karena saya bisa yakin jika makanan saya itu halal dan sehat. Namun di UK tempat makanan halal sendiri mudah ditemui. Beberapa toko biasanya menuliskan logo halal di toko mereka. Meskipun tidak semudah mencari makanan halal di Indonesia, restoran di UK juga beberapa menyediakan menu halal. Sebagai kostumer kita dituntut lebih aktif mencari tahu tentang kehalalan ini jika kita memang memiliki concern yang tinggi dengan apa yang kita makan. Tapi memang yang paling mudah masak sendiri, sehat dan murah. Saya sendiri biasanya sekali masak dalam jumlah besar dan saya simpan di kulkas, sehingga bisa saya makan untuk hari berikutnya, tinggal menghangatkannya di microwave. Cara ini selain efesien waktu juga effort.


Kalau begitu, apa saja yang perlu saya bawa? Baju hangat bawa dari Indonesia juga?
Di awal musim tahun ajaran baru, biasanya akan ada banyak barang hibah dari mahasiswa yang lulus tahun sebelumnya. Pastikan ini dulu di kampus kamu jadi kamu tahu apa yang perlu dan tidak kamu bawa. Barang barang elektronik saya sarankan untuk membeli di UK saja, selain karena makan tempat, di UK toh ada juga. Dan untuk baju hangat, di UK harga lebih murah dan lebih sesuai dengan cuaca UK. Strategi saya sendiri, untuk baju musim dingin karena tidak akan saya pakai lagi di Indonesia, saya membeli baju musim dingin yang hangat dengan harga bersahabat. Yang biasanya menjadi langganan saya adalah Primark. Selain hemat bagasi, membeli baju di UK harganya murah jika dibandingkan dengan harga makanan. Karena itu, sebaiknya yang di bawa dari Indonesia justru makanan khas yang susah ditemui di UK semacam abon, rendang dan bumbu-bumbu lain. Namun harus perlu diperhatikan betul jika membawa olahan daging, pastikan dibungkus berlapis-lapis dan rapat agar tidak terendus oleh anjing pelacak, karena sebenanrnya membawa makanan olahan daging ke UK itu dilarang.


Hal lain yang saya bawa dari Indonesia karena tidak ada di UK adalah guling. Jika kamu tipikal orang yang tidak bisa tidur tanpa guling, maka guling hukumnya menjadi wajib. Obat-obatan khas Indonesia semacam minyak kayu putih dan tolak angin juga menjadi begitu berharga di UK.


Untuk visa bagaimana?

Saran saya untuk visa, kunjungi website imigrasi UK dan pelajari setiap dokumen yang dibutuhkan untuk visa pelajar atau visa Tier 4. Terjemahkan setiap dokumen yang dibutuhkan di penerjemah tersumpah yang ada di daftar website tersebut. Selain ijazah, dokumen lain seperti KK dan Akta kelahiran tidak perlu dilegalisir ke kantor catatan sipil. Namun untuk ijazah dan transkrip saya sarankan untuk dilegalisir oleh pihak sekolah atau universitas. Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah soal pemesanan tiket, saran saya pesan tiket setelah visa kita keluar. Karena di visa tersebut akan ditulis kapan kita diperbolehkan masuk ke UK. Jika kita memesan tiket di luar tanggal tersebut maka kita harus menggantinya.  Apakah perlu jasa agen? Berdasarkan pengalaman saya, mengurus visa sendiri mudah karena semua data pendaftaran bisa kita penuhi sendiri dan pendaftarannya pun bisa kita lakukan melalui website.



Wednesday, 23 March 2016

Kuliah di UK - What I Need to Know? Part 1

19:29 0 Comments
Sewaktu saya masih menyiapkan studi lanjut saya, ada beribu pertanyaan yang menghampiri. Beruntungnya, saya memiliki teman-teman yang bisa saya tanyai langsung untuk mendapatkan info apa dan bagaimana kuliah di UK. Semoga teman-teman saya yang baik hati itu, tidak bosan saya tanyai terus-terusan karena alhamdulilah akhirnya saya bisa meneruskan jejak mereka.

Setelah saya kuliah, kini giliran saya yang dapat banyak pertanyaan. Baik dari teman-teman dekat, teman tidak terlalu dekat sampai orang asing yang entah bagaimana caranya bisa menemukan saya itu. Pertanyaan-pertanyaan itu juga begitu banyak dan saya rasa saya perlu membagikan jawaban-jawaban saya itu di blog. Bukan untuk pamer, tapi untuk membantu mereka yang masih punya pertanyaan dan belum puas dengan jawaban-jawaban yang ada.

Tulisan ini saya bagi dalam tiga bagian dengan format Q&A. Bagian pertama untuk mereka yang masih ditahap belum menentukan dan belum mendapatkan sekolah. Bagian kedua untuk mereka yang sudah mendapatkan sekolah dan mempersiapkan diri untuk berangkat dan Bagian ketiga untuk mereka yang baru saja sampai. Semoga tulisan ini bisa membantu.

Bagian Satu : untuk mereka yang ingin menentukan kuliah lagi atau tidak dan sedang memilih kampus tujuan
Bagian ini biasanya dimulai dengan pertanyaan, bagaimana rasanya kuliah di UK dan apa bedanya dengan kuliah di Indonesia.

Q: Nada, bagaimana rasanya kuliah di UK?

A: Menyenangkan dan menegangkan. Jawaban ini sebenarnya bisa sangat subjektif karena pengalaman setiap orang berbeda. Jawaban saya ini pun tidak dapat dijadikan jawaban general bahwa semua yang kuliah di UK mengalami apa yang saya alami. Okay, lanjut ke jawaban saya. Mengapa menyenangkan? Karena fokus studi saya berubah dari semula murni engineering menjadi lebih ke arah bisnis. Pendidikan S1 saya tempuh di Institut Teknologi Sepuluh Nopember di bidang Teknik Informatika. Sehari-hari semasa kuliah saya disibukkan dengan tugas yang mayoritas tugas coding. Ilmu coding saya dapatkan dari kampus dan buku diktat untuk algoritma. Saya jarang baca paper karena jarang mata kuliah mewajibkan saya untuk membaca paper. Yang ada adalah buku diktat tebal dengan tugas-tugas coding yang tanpa henti. Akhir pekan biasanya saya habiskan di kampus apalagi jika sudah mendekati akhir semester saat jadwal demo final project mulai datang satu per satu. Di teknik informatika, mahasiswa dituntut untuk bisa menganalisa masalah, memecahkannya dengan seefisien mungkin dan membahasakannya dalam bahasa pemrograman. Bahasa pemrograman menuntut ketelitian luar biasa, karena satu karakter yang salah saja cukup untuk mengacaukan program yang dibuat. Dan sering kali error dalam program (biasa disebut bug) yang membuat saya susah tidur. Mengapa saya perlu menjelaskan ini panjang lebar? Karena ini akan memberikan gambaran bagaimana saya bisa mengatakan kuliah S2 itu menyenangkan.

Saya mengambil pendidikan master saya di University of Warwick, tepatnya di Warwick Business School dengan course Information System Management and Innovation atau biasa disebut ISMI. Wait, kok pindah jurusan sih, Nad? Salah satu alasan utama kenapa saya mengambil jurusan saya ini karena saya menyadari untuk membuat software, saya tidak hanya belajar bagaimana suatu software itu dibuat tapi juga bagaimana mengelola software dan orang-orang yang terlibat dan menggunakannya. Sisi sosial dari software ini yang ingin saya pelajari karena menurut ini sama pentingnya dengan sisi teknis.

Dalam perkuliahan master, tidak ada mata kuliah yang mengajarkan ngoding sama sekali. Inilah alasan menyenangkan pertama. Bukan karena saya benci ngoding tapi karena terlepas dari beban testing, debugging, rewriting program itu menyenangkan juga. Kuliah saya lebih banyak tentang mempelajari kasus-kasus bidang IT dipandang dari sudut manajemen dan sosial. Karena itu, setiap sebelum perkuliahan akan ada paper-paper yang harus dibaca. Jika semasa S1, buku diktat adalah panduan utama, di S2 ini buku justru jadi rujukan kedua setelah paper. Paper dianggap sebagai bahan utama karena pembahasan yang lebih mendalam daripada buku. Tugas-tugas saya sendiri adalah tugas kelompok dan tugas essay.

Disinilah hal menegangkan itu muncul. Menulis essay. Jika itu terjadi di kuliah S1 saya, saya akan sangat bersyukur disuruh menulis essay daripada menulis program. Tapi ternyata menulis essay pun tak mudah. Di UK, aturan mengenai plagiarisme diatur sangat ketat, kedalaman analisis juga benar-benar dinilai. Jadi tak hanya sekadar menyalin apa yang tertulis di buku diktat. Essay yang bagus adalah essay yang menunjukkan kualitas berpikir kritis dengan analisa mendalam didukung dengan dasar teori yang kuat. Untuk menghasilkan satu essay yang bagus saya harus membaca belasan hingga puluhan paper dulu, ditambah setumpuk buku-buku diktat. Sudah terbayang menegangkannya?

Di UK, nilai juga sangat ketat. Disini 70 adalah nilai distinction. Semacam nilai A jika di Indonesia. Sementara batas lulus adalah 50 untuk master. Mudah kah dapat 70 untuk essay? Untuk saya, SUSAH. Meskipun pernah, itu harus ngos-ngosan dulu dan tidak tidur berhari-berhari. Meskipun banyak mahasiswa Indonesia lulus distinction (semacam cumlaude), yang lulus dengan nilai ngepas dan bahkan tidak lulus juga ada.

Di UK juga essay-essay itu biasanya diberikan setelah masa perkuliahan selesai, artinya liburan adalah liburan semu karena saat itulah kita harus mengerjakan essay. Yang menyenangkan, akses paper yang berlimpah, ilmu-ilmu baru yang terus berkembang tanpa terlalu sibuk dikurung dalam sekat, ruang belajar yang mendukung dan teman diskusi yang banyak membuat iklim belajar disini meskipun menegangkan tetap menyenangkan. Sampai sini, masih ingin sekolah di UK?

Q: Masih dong. Kan ingin dapat pengalaman belajar di luar negeri. Tapi mahal ya?
A: Iya. MAHAL. Pake banget. Tapi alhamdulilah saya mendapatkan beasiswa.

Q: Beasiswa apa? Bagaimana cara mendapatkannya?
A: Beasiswa yang tersedia sebenarnya banyak, tapi yang populer di Indonesia adalah LPDP dan Chevening. Saya sendiri penerima beasiswa LPDP. Untuk tahu LPDP itu apa, bisa langsung cek di website lpdp http://www.lpdp.depkeu.go.id/. Termasuk persyaratan pendaftarannya apa saja dan bagaimana prosesnya. Kalau memang ingin sekali mendapatkan beasiswa LPDP, saran saya baca sampai tuntas website lpdp dan jangan sampai menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah jelas ada di website seperti, "Syarat IPK berapa?" atau "Dokumen apa saja yang perlu disiapkan?". Saya kurang semangat menjawab pertanyaan macam itu karena artinya orang yang menanyakannya kurang serius dalam mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa. Kalau informasinya tidak tersedia di website, barulah layak untuk ditanyakan.

Yang harus diingat, jawaban saya tidak mewakili jawaban resmi dari LPDP karena jawaban resmi LPDP hanya ada di laman resmi LPDP. Jawaban saya adalah jawaban-jawaban pribadi sebagai seorang awardee LPDP. Sebenarnya ini termasuk pertanyaan syarat masuk Warwick apa saja dan dokumen apa saja yang perlu disiapkan, berapa skor IELTS yang diminta. Karena informasi ini sudah ada di website University of Warwick (dan juga mayoritas Universitas di UK) tertera dengan lengkap dan jelas. Kuncinya satu, kalau memang ingin kuliah di UK, jangan malas mencari informasi dan membaca dari website-website. Itulah sumber utama, pertanyaan ke teman-teman atau tulisan semacam ini hanyalah sumber pelengkap dan tersier saja.

Kembali ke persoalan bagaimana saya mendapatkan beasiswa, saya saat itu mengikuti proses pendaftaran beasiswa berbarengan dengan mendaftar kuliah di University of Warwick. Saya menyiapkan semua dokumen untuk beasiswa, mulai dari ijazah sampai essay. Saya juga menyiapkan diri untuk wawancara. Untuk wawancara, saran saya hanyalah satu, kenalilah dirimu sendiri dan tujuanmu. Mengapa ingin kuliah lagi, apakah memang ada tujuan atau sekadar ingin karena menurutmu itu sedang trend. Bagaimana mengenali diri sendiri dan tujuan studi akan sangat menentukan arah dan hasil wawancara.

Q : Kalau untuk kuliah, ceritakan dong sampai diterima di University of Warwick!
A: Saya termasuk orang yang dari awal sudah tahu akan kuliah dimana dan saya pun tidak mendaftar ke universitas lain. Beruntungnya saya dinyatakan diterima seminggu setelah semua berkas saya lengkap. Sangat cepat dibandingkan dengan universitas lain yang bisa menunggu sampai tiga bulan lamanya. Saat itu, saya masih kurang hasil test IELTS, jadi saya masih diterima bersyarat. Dokumen yang saya miliki, Conditional Letter, itulah yang saya bawa saat wawancara LPDP. Begitu saya mengirimkan hasil IELTS saya yang memenuhi persayaratan, saya mendapatkan Unconditional Letter. Setelah saya dinyatakan diterima, pihak kampus juga meminta saya untuk mengirimkan dokumen-dokumen via pos. Untuk ini, setiap universitas memiliki kebijakan yang berbeda. Ada yang verifikasi dokumen dilakukan saat daftar ulang tapi ada juga yang seperti University of Warwick.

 Tiga pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling banyak saya dapatkan untuk tahap satu, kalau ada jawaban yang terasa pedas dan kurang manis, begitulah kenyataannya. Saya tidak akan mengatakan kuliah di UK itu menyenangkan dan mudah, saya cuma mengatakan, kalau saya bisa, kamu juga bisa. :) 

Saya berasal dari Temanggung, kabupaten di Jawa Tengah. Tinggal pun di kecamatan, bukan di pusat kota. Kalaulah saya yang anak desa biasa-biasa saja ini bisa, kamu juga bisa. :)

Jika merasa ada pertanyaan yang belum terjawab, bisa dipost di kolom komentar. Saya akan kembali dengan posting Q&A bagian dua dan tiga! Semoga membantu!

Sunday, 1 November 2015

1450

15:44 0 Comments

Dear Boi,
Ini kartu pos ke lima yang kukirim untukmu. Sudah sampaikah 4 yang lain? Kau memintaku untuk mengirimimu kartu pos dari kota-kota yang kukunjungi. Katamu, kartu pos selalu punya kemampuan magis yang tidak bisa kau jelaskan dengan akal. Jelas-jelas aku bisa mengirimimu potret atau video dalam sekejap, lebih jernih dan actual. Katamu, justru segala sesuatu yang langsung datang tanpa penantian itu membuat segalanya terasa murah. Ada yang mahal dan begitu berharga dalam sebuah penantian.
Kali ini sengaja kupilih kartu pos ukuran besar, agar aku bebas bicara tanpa terbatas ruang. Lelah aku, Boi. Selama ini kita sudah terpisah ruang—lebih tepatnya jarak yang begitu jauh—jadi biarlah kali ini aku gunakan sedikit ruang yang ada untuk sekadar berbagi kata-kata.
Sudah 1450, Boi. Apakah kau menghitung? Bukankah kau begitu gemar dengan menghitung angka? Apalagi ini soal kita. Luar biasa, Boi. Mengutip lagu kegemaranmu saat kanak-kanak, kita sudah mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera. Kita sudah melewati begitu banyak jalan yang terjal. Kadang kita terdiam sesaat di persimpangan, untuk sekadar memutuskan apakah kita masih menjadi rekan seperjalanan atau kita cukupkan perjalanan ini sampai di persimpangan-persimpangan itu. Beberapa kali kita memilih untuk berpisah, namun rupanya jalan yang kita pilih bermuara di persimpangan yang sama dan lagi-lagi menjadi teman perjalananmu adalah hal yang menyenangkan dalam hidup ini.
Terima kasih, Boi. Kali ini pun kita sepakat untuk menempuh jalan yang berbeda setelah tiba di persimpangan dua lima. “Kejar saja mimpimu”, katamu waktu itu. “Toh aku tahu, muara kita satu”. Siapapun yang tiba lebih dulu di persimpangan jalan, biasanya kita menunggu hingga yang lain datang sebelum melanjutkan langkah. Meskipun kali ini, aku tahu kau akan lebih dulu tiba. Boi, maukah kau menungguku seperti kau sabar menunggu kartu pos-kartu pos itu? Maukah kau menjadikanku mahal dan berharga dalam penantianmu?

Penuh Sayang,


Gadis

Thursday, 22 October 2015

Islam yang Begitu Intim

01:16 0 Comments
[Friendly reminder :Tulisan ini sangat personal bagi saya karena menjadi pengalaman batin luar biasa untuk saya. Jika Anda tidak menyukai Islam yang damai, silakan berhenti membaca sekarang juga.]

Mengapa saya memberikan judul yang kontroversial? Sesungguhnya tidak. Intim adalah kedekatan dan bagi saya apa yang saya tulis terasa begitu dekat, terasa begitu personal dan ini menjadikan pengalaman spiritual di negeri orang menjadi terasa mahal.


Saya tinggal di flat kampus yang berisikan lima orang. Saya adalah satu satunya yang berasal dari Indonesia, sementara flatmate saya berasal dari China dan Taiwan. Mereka tidak pernah kenal agama (china melarang agama kata salah seorang flatmate saya), suka minum alkohol dan tentu asa doyan daging babi. Lantas jika tahu kemungkinan tinggal dengan orang asing yang bukan muslim sangat besar, mengapa saya tetap memilih tinggal di flat kampus? Alasan paling utama adalah keamanan. Jurusan yang saya ambil di University of Warwick membuat saya sering di kampus hingga malam hari. Dengan tinggal di kampus, saya hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit untuk pulang ke rumah.


Hall Campus tempat saya tinggal

Kembali ke flatmate saya, apakah mereka flatmate yang baik? Iya. Mereka sangat mengerti saya saya menjelaskan bahwa saya tidak makan babi, saya tidak bisa mencampurkan makanan saya dengan babi. Karena itu mereka selalu memisahkan babi-babian di rak tersendiri di kulkas (Tinggal di flat, artinya kami berbagi dapur dan juga kulkas). Jadi meskipun kami shared kitchen, hidup saya tetap damai. Mereka banyak bertanya mengapa saya memakai jilbab, apa yang saya rasakan dengan terus-terusaan memakai jilbab. Mengapa ada juga muslimah yang tidak berjilbab. Mengapa saya tidak minum alkohol sementara ada muslim minum alkohol. Rasa ingin tahu mereka tentang Islam begitu besar, bahkan salah satu flatmate saya mengatakan saya adalah orang berjilbab pertama yang ia kenal.

Flatmate saya banyak bertanya  soal islam, soal mengapa saya memilih Islam (do I take it for granted just from family?), apa yg orang Islam percaya setelah kemat ian dan sebagainya. Saya menjelaskan Islam dengan cara sebaik mungkin yang saya bisa. Kami sering bertemu dan menghabiskan waktu di dapur. Sering kali kami kemudian berdiskusi soal China, soal Indonesia.

Saya berterima kasih kepada mereka karena mereka mau memisah daging-daging babi itu di satu rak saja di kulkas. Jadi rak saya aman dari babi. Mereka melsayakannya dengan senang hati. Saya berterima kasih karena mereka tidak pernah memakai alat cuci piring saya sehingga tidak terkontaminasi babi. Saya pun menghargai mereka yang suka makan babi dan mereka juga menghargai pilihan saya untuk tidak makan babi. Bagi mereka, ini adalah sesuatu hal yang baru.

Pernah juga, flatmate saya menawari makanan kepada saya. Dia menawarkan ayam yang baru saja ia masak. Saya berusaha sesopan mungkin menjelaskan bahwa saya tidak bisa memakannya karena saya tahu ayam yang dia masak bukan ayam halal. Saya menjelaskan bahwa dalam Islam, tidak semua daging bisa dimakan. Hewan tersebut harus disembelih mengikuti tata cara Islam sebelum bisa dimakan. Saya menjelaskan apa itu halal dan mencoba menjelaskannya dengan memberikan contoh daging ayam saya yang halal. Apakah dia marah? Dia tidak tersinggung. Dia menghargai pilihan saya dan kami tetap berteman baik. Dia tidak menganggap saya sok suci dan sebaliknya saya juga tidak menganggap dia kotor.

Sejak saat itu jika mereka ingin berbagi makanan, katakanlah snack, mereka akan bilang itu cuma sayur tidak ada alkohol atau babi. You can check the ingredient. Dan ya, They are so nice to me. Sampai akhirnya ada salah satu teman saya yang bilang, "Maybe, I will think every muslim is like you, Nada. So nice and helpful"
SubhanALlah itu adalah momen yg sangat membahagiakan dan relijius buat saya. Ketika kita bisa mempotretkan Islam yang ramah, Islam yang indah. Bukan Islam yang kaku dan penuh amarah.

Menjadi minoritas saya belajar, untuk tidak menjudge orang dan berusaha bersikap baik ke siapapun. Kapanpun. Bagi saya inilah saatnya menunjukkan Islam itu damai dan sejuk. Para wali,  kyai dan habaib jaman dulu sibuk mencitrakan Islam yang semacam itu di nusantara dan akhirnya Islam bisa diterima dengan baik. Saya sedih sekali sekarang malah ada yang gencar bukan main mengkafirkan saudara sesama muslimnya dengan cara menfitnah.

Bagi saya menjadi muslim itu bukan sekadar soal sholat lima waktu saja , tapi bagaimana kita bisa menebar damai di sekeliling kita di lingkungan bukan muslim sekalipun. Menjadi muslim harusnya menerapkan hubungan sosial yang baik. Contohnya jika ada teman yang salah, ilakan diingatkan dan tabayyun (konfirmasi). Jangan malah koar koar di grup atau medsos. Mari citrakan Islam yang damai dan ramah.
Di sini saya belajar bersyukur. Disini pun tidak semua masjid itu boleh dimasuki perempuan, tidak seperti di Indonesia yang memudahkan muslim beribadah di mana saja. Saya kadang harus shalat hormatil waktu di bis, lantas saya qodlo begitu sampai rumah.

Disini saya belajar bersyukur. Disini harus masak sendiri untuk memastikan kehalalannya, namun alasan paling utama adalah untuk berhemat (ada pula catering halal di kampus tapi sejauh saya bisa memasak sendiri, saya memasak sendiri). Sementara di Indonesia banyak warung sehingga urusan makan menjadi mudah.
Disini saya belajar memahami bahwa agama dan kepercayaan adalah sesuatu yang sangat personal. Kita tidak boleh memaksakan agama, kepercayaan dan pilihan hidup kepada siapapun. Kita harus memberikan ruang untuk orang lain agar bisa beragama dan menjalani kepercayaan dengan nyaman.
Apakah karena saya muslim dan saya memilih bersikap seperti itu, jika ada teman saya yang tidak mengambil sikap yang sama saya harus selalu berkhotbah kepada mereka dengan kata-kata? Saya harus selalu mengatakan ini salah ini haram? Saya harus selalu mengatakan kamu akan masuk neraka? Saya harus selalu menegur dengan menyakiti hati?

Saya pikir (everyone free to have their own mind) ada cara yang elegan, sopan dan toleran. Dengan menunjukkan sikap tanpa harus menjadi menggurui dan menghakimi. Dan inilah yang saya pelajari dari menjadi santri, dan inilah yang saya dapatkan dari menjadi muslim. Apakah harus menjadi santri dan muslim untuk bersikap seperti itu? Tentu tidak. Tapi jika ada orang yang mengaku Islam namun justru menebarkan ketidaknyamanan dan teror untuk orang disekelilingnya, saat itulah keislamannya patut dipertanyakan.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan quote dari Imam Ghozali .
 We are creatures that love to blame the external, not realizing that the problem is usually internal.