Thursday, 31 May 2018

Review Vendor Pernikahan di Temanggung

10:11 0 Comments
Bermula dari persiapan pernikahan sendiri dalam waktu yang menurut saya cukup singkat, kurang dari 4 bulan, saya merasa kekurangan sumber referensi dalam memilih berbagai hal. Mengapa begitu? Karena pernikahan saya sendiri dilaksanakan di Temanggung, satu kabupaten kecil di Jawa Tengah. Kebanyakan, ulasan-ulasan tentang penyedia jasa pernikahan lebih banyak di kota-kota besar, mulai dari hal kecil sampai besar. Nah, kali ini, saya ingin sekali menambahkan ulasan, jikalau nanti ada generasi millenial yang mengalami hal yang sama dengan saya. Pernikahan dilaksanakan di Temanggung tapi saya sendiri sehari-hari berada jauh di kota lain. Karena itulah, membaca ulasan menjadi salah satu hal yang penting buat saya. Pada akhirnya memang tidak semua hal yang berkaitan dengan pernikahan saya berasal dari Temanggung, tapi mari kita bahas satu persatu dan semoga ulasan ini membantu!

eits, ada yang ngintip :p


Gedung

Sebelum memilih di gedung, saya sempat ingin mengadakan outdoor weeding di salah satu hutan pinus dekat rumah, di Jumprit. Sayangnya ide ini ditolak oleh Ibu karena dua alasan, repot dan musim hujan. Akhirnya mengalah. Sebenarnya persoalan gedung ini sudah dibahas setahun sebelumnya bahkan sebelum lamaran. Hahahaha. Alasannya karena Ibu saya sudah 3 kali mantu dan semuanya di tempat yang sama dan gedung tersebut kurang besar untuk menampung jumlah tamu Ibuk yang banyak. Saya sempat usul untuk menggunakan gedung pemuda di Temanggung kota, cukup jauh dari tempat tinggal kami tapi tempatnya luas. Tapi pilihan ini pun gugur karena, REPOT. hahaha dan berkaitan pula dengan Katering yang akan saya bahas berikutnya.

Akhirnya pilihan jatuh ke tempat di mana kakak-kakak saya melangsungkan pernikahan. Balai Desa Ngadirejo. Plusnya adalah deket banget sama rumah dan harganya murah! minusnya adalah, dari luar memang Balai Desa ini kurang cantik karena di bagian depan dijadikan kios-kios kecil oleh Pengurus Desa untuk pemasukan Desa juga. Tapi untuk ukuran desa, buat saya ini sudah cukup layak. Apalagi di dalam gedung berhasil disulap menjadi cantik!

Salah satu sudut gedung dan panggung


Rias

Rias saya menggunakan Madani Rias Pengantin, masih di sekitaran Ngadirejo juga. Alasannya? Masih kerabat dan keluarga saya sudah turun-temurun dirias oleh Budhe Beni (pemilik Madani Rias). Dari hasil riasan, saya memang ingin menggunakan adat jawa, karena ingin sekali ada prosesi adat di resepsi saya. Sayangnya, suami kurang suka dengan pakem alis riasan adat pengantin jawa yang bercabang (saya lupa istilahnya apa), jadi akhirnya jalan tengahnya riasan jawa dengan alis biasa. Sayangnya juga, Madani Rias belum ada instagram, tapi kalau ingin kontaknya, bisa tinggalkan komen di bawah ya.

make up untuk midodareni

make up adat jawa, dengan Ibuk di samping yang tersenyum bahagia


Katering

Rizquna Katering alias katering Ibu saya sendiri. Haha. Inilah salah satu alasan pemilihan gedung dekat rumah, karena katering dan masakan semua dihandle oleh Ibu saya sendiri, beberapa makanan gubuk ada yang kami pesan dari tetangga dan makanan favorit saya juga, seperti Bakso Lombok Uleg khas Temanggung Pak Imron, Sate Ayam (yang masih tetangga juga yang dipesenenin) dan Lothek Mbak Nur (jajanan saya jaman SD). Tapi apakah saya sempet icip saat acara? Tentu tidak. Tidak sempat. Hahaha. Tapi kenapa sih makanan yang dipilih semua dari makanan favorit saya? pertama, karena saya suka sekali makanan khas temanggung ini, dan ini dibuat langsung oleh orang-orang yang sama yang jadi favorit saya. Bisa dibilang, rasanya sungguh menjadi sentimental dan personal dan saya ingin tamu undangan merasakan hal yang sama. :) Dari testimoni para tamu, semua puas dengan hidangan makanan di saat resepsi. Jadi alhamdulilah ya :) Yang disekitar temanggung dan tertarik untuk pesan katering ke Ibu saya, bisa tinggalkan komen juga ya!

Baju Pengantin

Ada 3 baju yang saya pakai selama acara. Jadi kembali ke masalah gedung yang tidak cukup menampung jumlah tamu, diputuskanlah kami sudah menerima tamu di gedung sehari sebelum akad, saat akad dan resepsi (standing party) setelah akad. Jadi ada 3 baju yang saya kenakan. Untuk baju sehari sebelum akad dan baju resepsi, saya memutuskan untuk sewa masih di Madani Rias karena alasan kepraktisan. Kebetulan ukuran tubuh saya pas dengan baju-baju yang disewakan dan ada yang cocok juga. Sementara untuk akad, Mama mertua yang menjahitkannya dari kain untuk lamaran.
Gaun Akad by Mama Mertua
Untuk Resepsi setelah akad, saya dari dulu pengen banget pakai adat jawa. Meskipun terlihat rempong, tapi buat saya itu kaya akan nilai filosofis sekaligus nguri-uri kabudayan jawa. Meskipun saya ngga full adat sih, yang sampai dipingit. Bahkan siraman juga nggak. Hahaha. Yang saya suka banget itu adalah bagian Panggih atau Temu Manten. Kaya makna dan emang jadi lebih dapet banyak momen untuk di foto. hehe.

Saya sebagai Pengantin Jawa

Undangan

Untuk undangan, saya pengen undangan online tapi tetap terasa personal. Jadilah saya pesen ke tukarcincin.com, kebetulan adek kelas saya di ITS untuk bikin sesuai keinginan saya yang personal ini, dan voila, jadilah undangan nikah yang sangat personal untuk tiap orang. Ini contoh undangan untuk Maid of Honour yang juga sepupu saya. Lengkap dengan lagu favorit saya yang bikin tambah syahdu, Sampai Jadi Debu dari Banda Neira. Tapi karena orang tua tetep pengen ada undangan cetak, akhirnya mengalah dan tetep bikin undangan cetak. Desainnya oke, minimalis dan saya banget. Dan ini dibantu sama kakak saya pesen undangan udah kurang dari 30 hari pernikahan. Cukup bikin saya pusing. Untuk undangan cetak ini karena kakak saya yang bantuin, jadi dipesan di Jakarta.

Souvenir

Waktu membahas souvenir, Ibu saya sebenarnya udah, ngga usah lah mbak. Sayang nanti kalau ngga kepake. Jadi saya pengen bikin souvenir yang kepake, apalagi kalau ada tamu yang sudah menyempatkan datang dari jauh. Akhirnya saya putuskan biar souvenr ini saya yang urus. Jadilah mulai cari pengen seperti apa yang bermanfaat. Kakak-kakak saya, biasa bikin souvenir buku. Buat saya itu oke untuk yang suka baca, tapi karena sudah biasa itu jadi pengen yang lain aja. Akhirnya terpilih dompet. Hahahaha. biasa banget sih tapi saya suka dan saya pikir ini bermanfaat. Jadi saya mulai cari di bukalapak, dan ternyata banyak banget lho yang menyediakan begini. Dan saya lebih yakin juga kalau pesen via bukalapak karena meskipun saya ngga kenal, kan uang saya ngga bakal dibawa lari juga. Jadi ngobrol instan via whatsapp tapi eksekusi di marketplace. Pelapaknya juga sangat akomodatif dan responsif, masalah kain dibahas, saya mau kain warna apa, mau dibungkusin plastik nggak, ada tulisan nama pengantinnya nggak, dll. Nah untuk nama pengantin di dompet, saya ngga pengen yang disablon gitu terus ngga bisa ilang dari dompetnya. jadi saya putuskan pakai tag kertas yang desain awalnya dibikinin teman kantor saya, Lina, yang kemudian dibikin versi digitalnya sama team tukarcincin. Love banget. Harga oke, kualitas puas dan lihat souvenir ini di pakai itu bikin bahagia. Ngga papa paper tag nama kami dibuang, tapi dompetnya dipakai. It was more meaningful :) Oiya, kalau ada yang tertarik pesan, bisa langsung ke lapaknya aja di sini. Lokasi pelapak di Semarang, jadi ongkirnya lumayan murah.

souvenir nikah, di foto ala kadarnya pakai kamera hp, bukan seperti foto lain di post ini.


Henna

Untuk Henna, saya udah cari-cari sendiri di instagram yang di area temanggung. Sempet kontak satu akun, tapi kurang yakin karena setelah saya tanya ke perias harganya kemahalan. Perias menyarankan saya kontak yang di Ngadirejo saja, kecamatan saya. Ada dan harganya bisa nego. Akhirnya coba kontak dan yes, emang harganya cocok dan saya suka hasilnya. Bagus banget henna putih ini. Tapi sayangnya, meskipun udah dikasih tahu kalau henna putih itu teksturnya timbul, bukan yang menyerap di kulit gitu, saya tetep mau aja. Dan akhirnya tekelupas dong waktu pasang cincin, dan pasang cincinnya juga kesusahan. Jadi saran saya, kalau mau jangan henna putih. Haha. O iya akun instagram henna artisnya ada di sini.


Fotografi

Sebelum nikah, saya follow beberapa studio foto dan ternyata nemu studio foto yang dekat rumah dan hasilnya oke. Akun instagram dan portofolionya bisa lihat di sini. Saya suka sama cara pengambilan gambar dan pengambilan momennya. Bisa dapet aja yang candid tapi penuh makna. Hasilnya semua foto di post ini ya, kecuali pouch dan gaun akad, itu saya ambil pakai kamera hape.
Recommended!

Dekorasi

Dekorasi saya pakai vendor yang sama dengan rias, masih di Madani Rias. Puas juga, karena maunya saya dituruti semua. Haha, jadi gedung balai desa yang biasa buat tanding badminton indoor diubah jadi cantik. Ngga kelihatan kalau itu biasa buat main bulu tangkis. Saya minta semua dinding dan atap ditutup dengan kain dan lantainya ditutup karpet. Suka banget jadinya. Panggung juga oke. Waktu saya terakhir cek dan ngerasa panggungnya kurang lebar, dibantuin juga lho biar dilebarin. Kooperatif banget pokoknya. bikin pengantin tenang. Hasil dekornya kelihatan ya di foto-foto di atas.

Salon Perawatan Pra Nikah

Ini mesikipun paling bawah, tapi saat menuliskan ini saya tulis paling awal karena masih hangat pengalamannya jadi masih sangat fresh.

Untuk perawatan Pra Nikah, saya waktu itu sempat galau apakah akan perawatan di Jakarta atau di Temanggung. Sejujurnya malah sampai 2 minggu sebelum acara, belum terpikir sama sekali sampai kakak ipar saya tanya saya sudah perawatan atau belum. Awalnya berpikir tidak perlu dan kalau sempat saja. Ternyata di Jakarta saya tidak sempat dan tidak menemukan salon yang cocok. Salon langganan saya di Jakarta, moz5 di Pejaten, harganya cocok di kantong tapi ya memang kualitasnya sesuai dengan harga yang ditawarkan. Akhirnya saya memutuskan di Temanggung saja.

Di Temanggung, entah kenapa yang terbesit di pikiran saya adalah Amarta Salon. Ini murni tanpa baca ulasan orang lain dulu, hanya googling, cari nomor telepon dan booking. Alhamdulilah hari itu bisa dan bisa langsung datang. Saya merasa Amarta Salon ini sudah benar-benar melekat di benak saya, padahal saya sama sekali belum pernah kesana. Alasan sederhana, teknik pemasaran yang mengena dan membekas untuk kota sekecil Temanggung.

Saya langsung datang dan tanya paket untuk pernikahan dan inilah yang bikin saya takjub!
Untuk perawatan pra nikah, saya ambil paket eksklusif. Ini sudah meliputi massage, lulur, spa, steam, ratus, berendam, menicure pedicure, totok wajah, potong rambut dan creambath! Lengkap sekali dan harganya sangat ramah di kantong! Rp269.500! Kalau di moz5 ini baru harga massage dan lulur saja. Yang bikin saya tambah bahagia adalah bath up nya! kalau di moz5 pejaten, bath up nya sudah agak rusak dan bath up biasa jadi tidak bisa lama berendam karena air akan dingin. Padahal sejak kuliah di UK, berendam itu salah satu favorit saya bisa sambil baca paper dan mengerjakan tugas bahkan. Hahaha! yang ciamik dari bath up di Amarta Salon ini adalah tipe jacuzzi yang air hangatnya mengalir terus jadi rasa hangatnya bertahan lama dan saya betah sekali. Pelayanannya juga ramah dan pijatannya enak. Saya rasa perawatan ini lebih banyak untuk rileksasi untuk mengurangi stres menjelang hari H.

Dan memang setelah dari sana, rasanya sangat segar! Oh iya, saya total menghabiskan waktu 4 jam untuk semua itu, mungkin bisa 5 jam kalau saya berendam lama seperti saat berendam di UK dulu. Haha, tapi untungnya sadar diri dan ingat kalau ini sudah mau tutup jadi ya sudah.

So far, saya puas sekali dan merekomendasikan tempat ini!

So that's was my review. Semoga membantu para calon pengantin yang sedang mempersiapkan pernikahan di Temanggung atau sekitarnya ya!

Monday, 15 January 2018

It's her

11:09 0 Comments
It's her, Mom.

I know it sounds silly. For the first time and even until now. I know, you might be hesitant. I and she are too much look alike. We are strong-headed, with strong personality. She is so independent, high-achiever and alpha-female. Yet, it is her, Mom.

Not only you, everyone around me keep asking how could I bare to stand her fierceness. She is simply too independent in some sense. She looks like a leader whom I should say yes, not because she wants me, but because she is always right. She will interrupt me and get me in a way she want me to be. She will take action and lead the way. She doesn't need any thing to stand still and strong. She makes plan for high achievement and sticks by it. She will cuss anything that meddle her way without mercy. In short, she looks a like dictator. No man should approach her without being killed, or at least injured by her fierceness. Yet, it's her, Mom.

She has very strong appearance. She knows how to act strong and sticks with it. She always shines and make her way to the top. She is so full of herself. She knows nothing about the outside world, nor she even care. She closes her ears from the outside, never listen to anyone. How could anyone even imagine to spend the rest of his life with her? Yet, it's her, Mom.

It's her, because I know her. I know that she knows how and WHEN to act strong. I know that she is actually fragile, and needy, and soft, and very passionate about the one she cares about. I know that she loves to be nurtured, I know that she will sacrifice her life for the values she believe in. And I know, Mom, how valuable I am for her.

People see her image, but I understand her values. People see her acts, but I know why she made those acts. She doesn't feel the need to make the whole world to understand, she only wants me understand. And for here, that's the whole world.

So yeah, it's her.

For now. Forever.


Thursday, 28 December 2017

Tentang Perdebatan

03:40 0 Comments
Boi,
Masih ingat kah kau dengan bangku di depan kelas perkuliahan kita yang terbuat dari semen kaku itu? Yang selalu dingin dan berat, tapi penuh dengan canda dan tawa para mahasiswa yang sedang melupakan bagaimana susahnya tugas akhir semester.

Kita pernah duduk di bangku itu, Boi. Di bawah pohon akasia yang daunnya malu-malu, enggan rimbun juga enggan luruh, kita berdebat dengan seru. Yang lain menyebut kita berdebat sengit karena kita memperdebatkan soal apakah Indonesia ini perlu dianggap sebagai bangsa.

Kau, Boi, dengan jiwa nasionalisme yang menggebu itu, bersikukuh Indonesia ini bangsa. Kita disatukan oleh sejarah, sejarah kaum terjajah. Katamu, Boi, bangsa ini berdarah-darah menjadi satu agar lepas dari belenggu. Kau sibuk menyebut nama, tahun dan tempat. Mirip seperti buku sejarah jaman SMA yang sarat hapalan.

Kau, Boi, tak sependapat denganku karena aku merasa tak ada itu bangsa Indonesia. Yang ada itu Negara. Kita tak pernah satu karena sejarah, kita bersatu karena terpaksa secara administrasi. Bangsa adalah hal yang lain dari negara. Bangsa adalah suku. Aku menyebut tahun yang lebih lampau, berceritera bahwa bangsa Jawa punya sejarah yang jauh berbeda dari Bangsa Ambon. Bagaimana bisa budaya yang begitu berbeda kau satukan begitu saja menjadi bangsa, Boi? Aku rapal segara teori yang aku hapal, mendebatmu dengan lugu.

Tentu malam itu kita tak bertemu kata sepakat. Mungkin hingga hari ini, Boi. Kau selalu bersikukuh Indonesia itu bangsa, aku teguh bahwa Indonesia ini Negara.

Tapi kita kini sepakat, Boi, Indonesia itu rumah, tempat pulang yang selalu hangat.

Debat itu Boi, mana ada yang peduli, selain kita. Kawan-kawan di sekeliling kita sedang sibuk menghitung algoritma Binary Search yang paling efektif. Apa yang kita perdebatkan, selain tak penting juga nirfaedah bagi mareka.

Disitulah aku tahu, Boi, kau adalah orang yang akan antusias membahas dunia ini bersama. Meski pendapat kita berbeda, meski jalan kita tak sama.

Iya, Boi, kita sepakat untuk tidak sepakat pada hal-hal yang orang lain pun tak akan pernah sempat berdebat.

Kau ingat bangku itu kan, Boi?



Jakarta, 28 Desember 2017

image source

Tuesday, 19 September 2017

How Did I Overcome Quarter Life Crisis

04:29 0 Comments
It was a breezy afternoon in South Jakarta, Indonesia. I was sitting comfortably on my chair with my office pillows (yes, plural) when I realized that I need to write what had happened in my life in a year after I shared my post about quarter life crisis. Why? This year has been the exact opposite of what I did last year when I posted that quarter life crisis and yes, I am enjoying it.

I wrote that the key of facing quarter-life crisis was let it go. No, it’s not a reference to any Disney movies. And that was what I did. I let my crisis went by. How did I do it? By sticking to my priorities in life.

I was in the middle of crisis and dilemma about where to go because the future at that time seemed so blurry. I rearranged my life priorities and talk about it with  close friends and family. I shared it to people whom I trusted and I am glad I did the right thing. After discussion with the close one, I decided not to pursue any career outside Indonesia yet. I went back home and working in a start up company which offer me so many flexibility and room to grow and learn. To be completely honest, I was looking for a job with flexible contract term. In Indonesia, it is common that when you resign before the designated time you have to pay for a penalty and this is what I always avoid. Why I need flexibility? Because I simply do not want to be tied down with fixated term.

And It turns out, I love my job. I love working as a Product Manager in the biggest e-commerce in Indonesia. I love the culture, I love the people, I love the product itself. I love that what I do in daily basis help millions of people in Indonesia. I love the fact that we bring impact to microeconomics even in rural area. I love managing the product, the people and stakeholder. I will be lying if I said I am never stress or under-pressured, but it is an honest truth that I love my job and how much it has taught me to be a better person.
My Squad at work

I learn to manage expectation, I learn to communicate better, I learn to strive for the goal and still being realistic. I love to motivate people and my team. I experienced the burst of happiness when my product was launched and users excited about it. In short, my job deserves another whole of blog post.

Back to my quarter-life crisis, once I focused my goal based on my priority, the vision getting clearer. What I fear the most about uncertainty in the future becomes my best friend and I can deal it with peace. Life is full of uncertainties and that’s the beauty of life. Once I set my priority, I start to see what does really matter for me that can bring me happiness. It is from within. It is never from anyone else.

Facing quarter-life crisis is not a hit-and-go battle. It is continuous process. Sometimes I still feel wobble in life and I guess that’s a part of being human. But when I do look back to last year, I realize that I couldn’t find happiness because I was busy looking around when I actually I should look inside.

If right now you still in the middle of quarter-life crisis, here is my suggestion for you. You should start to look inside to know what really matters for you. Have your priorities sorted and make actionable goal from that. Embrace your crisis. Talk to someone who you trust. Find peace within your own heart. It might sound too illusory right now but I can guarantee you that the fog will lit and you will see everything clearer once you start to embrace your own crisis. And yes, you are never alone. This too shall pass.