Tuesday, 18 January 2011

kegelisahan seorang mahasiswi


Hidup di kota besar macam Surabaya, membuat saya lebih membuka mata soal negeri saya sendiri. Surabaya bagi saya merupakan gambaran kecil yang menyeluruh tentang Indonesia. Kemacetan jalan, keruwetan tata kota, kekontrasan pembangunan oleh investor dan pribumi. Berbagai isu sosial yang dulu sebatas saya baca lewat media, kini terpampang jelas.

Bagaimana kemiskinan penduduk dihadapkan oleh pembangunan mal-mal dan apartemen tanpa henti, bagaimana perumahan-perumahan megah terus dibangun sementara dalam radius sepuluh kilometer terdapat pemukiman penduduk yang masih berbahan kardus. Ironis.

Sore ini pula, ketika saya melewati Delta Mall, salah satu mall besar di Surabaya, saya mendapati banyak anak-anak jalanan. Ya,mereka benar-benar anak jalanan dalam arti harafiah. Mereka yang duduk menggelesot di pinggir jalan. Salah satu frame yang saya tangkap dalam memori, seorang bayi berumur kurang lebih 6 bulan dibiarkan tergeletak begitu saja di atas pangkuan anak berusia 2 tahun. Tangan kecil anak berusia dua tahun itu memegang gelas plastic yang ia gerak-gerakkan terus untuk menimbulkan suara gemerincing, mengundang koin-koin para pejalan dan pengunjung untuk mampir ke gelasnya itu.

gambar di ambil dari sini

Saya merasa dilematis. Di satu sisi, ketika saya harus memberikan uang ke anak kecil itu kemudian berlalu saja, artinya saya semakin menjerat mereka dalam lingkar hitam jalanan tapi jika saya diam saja, maka saya adalah orang apatis dan egois.

Sebelum saya ke Surabaya, kondisi miris semacam itu hanya saya dapati lewat film, koran atau televisi. Sindikat jalanan yang menjadikan anak-anak sebagai kedok dulu hanya saya pahami sebagai scenario tapi kini di hadapan saya sendiri, saya kehilangan kata-kata. Miris.

Sementara itu di dalam delta mall, orang-orang sedang mengahbiskan uang-uang mereka untuk memenuhi gaya hidup hedonis. Saya yakin, anak kecil itu tiap hari membaui aroma ayam goreng dari kfc, mencium bau donat yang lezat dari dunkin donat melihat baju bagus di etalase, sayang mereka hanya sampai pada itu, tidak lebih.

Soal anak jalanan ini baru satu masalah yang berkepanjangan di Indonesia, masalah-masalah lain yang membelit negeri ini masih bejibun. Lantas apa yang bisa saya lakukan setelah kini saya menyandang gelar baru sebagai mahasiswa yang sering disebut sebagai agent of change?


Hari ini saya baru bisa menulis, esok saya harus berbuat lebih. Hari ini saya menulis, agar ketika besok atau lusa saya hendak berleha-leha, saya kembali ingat, ada tugas besar yang menanti saya, menanti seluruh mahasiswa Indonesia, membangun Indonesia menjadi lebih baik dimulai dari sebuah langkah kecil bersama.

tempat belajar