Saturday, 5 February 2011

untuk wanita luar biasa

gambar dari sini
Ada dua kabar baik dan buruk buat saya hari ini. Kabar baiknya adalah saya baru saja mendapat lagu bagus dan kabar buruknya adalah lagu itu bikin saya makin pengen pulang padahal saya baru nyampe subuh tadi di kota pahlawan ini.

Lagu Fly Away yang dibawakan Corrinne May berhasil membuat saya  nangis hari ini. Dan inilah mengapa saya nangis ..

“When will you be home?” she asks
as we watch the planes take off


Ibuk memang ngga bilang begitu ketika saya naik bus(bukan pesawat), Ibuk hanya mencium pipi saya, setelah saya mengecup tangannya. Matanya teduh, hati saya bergemuruh. Saya tau tatapannya adalah doa, yang berharap saya pulang dengan selamat, dengan menjadi Nada yang lebih baik.

We both know we have no clear answer to where my dreams may lead
She’s watched me as i crawled and stumbled
As a child, she was my world
And now to let me go, I know she bleeds
and yet she says to me

Saya pun gamang dengan kehidupan setelah kuliah kelak. Akankah saya menetap di desa saya, Ngadirejo Temanggung, menemani Ibuk menikmati masa tuanya? Atau saya akan berkutat dengan idealisme dan segala mimpi yang memikat saya pada karier hingga memilih tinggal di kota besar? Atau saya justru menjadi istri yang harus mengikuti kemana suami membawa saya kelak?

Saya tidak tahu. Saya tidak punya jawaban apakah saya punya cukup waktu untuk membalas cintanya dengan menemani Ibuk hingga usia senja. Saya hanya tahu saya cinta padanya, kini dan kelak.

And now to let me go, I know she bleeds
and yet she says to me

Saya tahu, Ibuk sering merindukan kami, anak-anaknya. Saya tahu Ibuk sering merasa sepi. Tapi Ibuk tak pernah mau mengadukan rindu kepada kami, kepada kami yang juga teramat merindukannya. Ibuk selalu berkata,”Memang ini waktu kalian, menuntut ilmu”. Begitu jawaban Ibuk tiap kali saya bertanya apa yang Ibuk rasakan ketika empat dari lima anaknya berada jauh darinya.

You can fly so high
Keep your gaze upon the sky
I’ll be prayin every step along the way


Tiap kali kami akan berpisah, ucapan terakhir adalah,”Pangestunipun, Bu’ ”. kami selalu meminta doa Ibuk meskipun tanpa kami minta Ibuk tak pernah lelah berdoa. Pun ketika bekerja, Ibuk selalu berkata, Ibuk bekerja untuk kami. Untuk kami anak-anaknya. Maka selama Ibuk bisa, apa yang kami minta akan Ibuk penuhi. Dan itu terbukti. Bahkan dalam tiap harinya, tak ada yang lain dalam benak Ibuk selain kami. Putra-putri dengan nama Haroen yang terpatri pada tiap akhir.

Even though it breaks my heart to know we’ll be so far apart
I love you too much to make you stay
Baby fly away


Saya paham Jakarta, Jogja dan Surabaya bukanlah tempat yang dekat untuk Ibuk. Saya mengerti Ibuk ingin menghabiskan waktu bersama kami, memasak makanan yang banyak (Ibuk hobi memasak dan masakan Ibuk adalah yang terenak di dunia) untuk kami habiskan saat makan malam sambil berbincang. Ibuk juga ingin membeli banyak camilan dan es krim (sejak di rumah ada kulkas, Ibuk membelikan kami es krim) agar kami dapat menikmatinya sambil bercengkerama di ruang tamu, membincangkan Mbak Widad yang pengantin baru, mas Nabil yang saat kecil begitu lucu, Mas Ofa yang punya teman di sana-sini, saya yang masih tidak mau jauh dari Ibuk dan Dek Wajih yang sering kami ’gojlok’.
Saya tahu, Ibuk ingin itu setiap hari. Sepanjang 365 hari. Tapi yang Ibuk dapat untuk usaha keras dan doanya kadang tak lebih dari 60 hari, bahkan untuk membalas 20% dari hari-harinya pun saya sering gagal. Saya sering lebih egois, ingin kesana kemari.
Meskipun Ibuk begitu bahagia ketika kami tinggal di rumah, Ibuk selalu melepas kami dengan senyum dan bangga. Melepas kami dengan doa dan cinta.

Autumn leaves fell into spring time and
SIlver-painted hair
Daddy called one evening saying
“We need you. Please come back”


Saya sadar, waktu adalah sesuatu yang melaju melampui kesadaran itu sendiri. Rasanya baru kemarin saya bisa membaca dan kini saya sudah menjadi mahasiswa. Rasanya baru kemarin Ibuk menyisir rambut saya dan kini saya harus bisa mendandani diri sendiri. Dan kelak, bukan dengan tiba-tiba tapi terasa mendadak, kami akan mencapai usia tua, pun Ibuk. Saya yakin dan selalu berdoa untuk kesehatan Ibuk, untuk Ibuk yang selalu peduli kepada kami mulai soal pola makan hingga apa yang sehari-hari kami kerjakan.

When I saw her laying in her bed
Fragile as a child
Pale just like an angel taking flight
I held her as I cried


Ibuk jarang sakit. Tapi sekali Ibuk sakit saya merasa saya lebih sakit, karena saya tak mampu merawat Ibuk sebaik Ibuk merawat saya. Saya lebih banyak bertanya daripada tau harus berbuat apa.
Dan saya tidak ingin hanya sempat menggenggam tangan Ibuk ketika Ibuk mulai lemah, saya ingin terus menggenggam tangan Ibuk saat Ibuk masih kuat dan rambutnya masih legam. Saya ingin menemani langkahnya dan membuat Ibuk yakin tidak hanya secara batin Ibuk tidak sendirian. Raga saya pun ingin terus bercengkerama dengannya. Dengan wanita luar biasa yang mengandung saya selama sembilan bulan dan melahirkan saya dengan penuh kekuatan.
Saya ingin terus bersama Ibuk hingga akhir hayatnya, atau akhir hayat saya.


untuk wanita luar biasa, Ibuk

tempat belajar