Monday, 15 January 2018

It's her

11:09 0 Comments
It's her, Mom.

I know it sounds silly. For the first time and even until now. I know, you might be hesitant. I and she are too much look alike. We are strong-headed, with strong personality. She is so independent, high-achiever and alpha-female. Yet, it is her, Mom.

Not only you, everyone around me keep asking how could I bare to stand her fierceness. She is simply too independent in some sense. She looks like a leader whom I should say yes, not because she wants me, but because she is always right. She will interrupt me and get me in a way she want me to be. She will take action and lead the way. She doesn't need any thing to stand still and strong. She makes plan for high achievement and sticks by it. She will cuss anything that meddle her way without mercy. In short, she looks a like dictator. No man should approach her without being killed, or at least injured by her fierceness. Yet, it's her, Mom.

She has very strong appearance. She knows how to act strong and sticks with it. She always shines and make her way to the top. She is so full of herself. She knows nothing about the outside world, nor she even care. She closes her ears from the outside, never listen to anyone. How could anyone even imagine to spend the rest of his life with her? Yet, it's her, Mom.

It's her, because I know her. I know that she knows how and WHEN to act strong. I know that she is actually fragile, and needy, and soft, and very passionate about the one she cares about. I know that she loves to be nurtured, I know that she will sacrifice her life for the values she believe in. And I know, Mom, how valuable I am for her.

People see her image, but I understand her values. People see her acts, but I know why she made those acts. She doesn't feel the need to make the whole world to understand, she only wants me understand. And for here, that's the whole world.

So yeah, it's her.

For now. Forever.


Thursday, 28 December 2017

Tentang Perdebatan

03:40 0 Comments
Boi,
Masih ingat kah kau dengan bangku di depan kelas perkuliahan kita yang terbuat dari semen kaku itu? Yang selalu dingin dan berat, tapi penuh dengan canda dan tawa para mahasiswa yang sedang melupakan bagaimana susahnya tugas akhir semester.

Kita pernah duduk di bangku itu, Boi. Di bawah pohon akasia yang daunnya malu-malu, enggan rimbun juga enggan luruh, kita berdebat dengan seru. Yang lain menyebut kita berdebat sengit karena kita memperdebatkan soal apakah Indonesia ini perlu dianggap sebagai bangsa.

Kau, Boi, dengan jiwa nasionalisme yang menggebu itu, bersikukuh Indonesia ini bangsa. Kita disatukan oleh sejarah, sejarah kaum terjajah. Katamu, Boi, bangsa ini berdarah-darah menjadi satu agar lepas dari belenggu. Kau sibuk menyebut nama, tahun dan tempat. Mirip seperti buku sejarah jaman SMA yang sarat hapalan.

Kau, Boi, tak sependapat denganku karena aku merasa tak ada itu bangsa Indonesia. Yang ada itu Negara. Kita tak pernah satu karena sejarah, kita bersatu karena terpaksa secara administrasi. Bangsa adalah hal yang lain dari negara. Bangsa adalah suku. Aku menyebut tahun yang lebih lampau, berceritera bahwa bangsa Jawa punya sejarah yang jauh berbeda dari Bangsa Ambon. Bagaimana bisa budaya yang begitu berbeda kau satukan begitu saja menjadi bangsa, Boi? Aku rapal segara teori yang aku hapal, mendebatmu dengan lugu.

Tentu malam itu kita tak bertemu kata sepakat. Mungkin hingga hari ini, Boi. Kau selalu bersikukuh Indonesia itu bangsa, aku teguh bahwa Indonesia ini Negara.

Tapi kita kini sepakat, Boi, Indonesia itu rumah, tempat pulang yang selalu hangat.

Debat itu Boi, mana ada yang peduli, selain kita. Kawan-kawan di sekeliling kita sedang sibuk menghitung algoritma Binary Search yang paling efektif. Apa yang kita perdebatkan, selain tak penting juga nirfaedah bagi mareka.

Disitulah aku tahu, Boi, kau adalah orang yang akan antusias membahas dunia ini bersama. Meski pendapat kita berbeda, meski jalan kita tak sama.

Iya, Boi, kita sepakat untuk tidak sepakat pada hal-hal yang orang lain pun tak akan pernah sempat berdebat.

Kau ingat bangku itu kan, Boi?



Jakarta, 28 Desember 2017

image source

Tuesday, 19 September 2017

How Did I Overcome Quarter Life Crisis

04:29 0 Comments
It was a breezy afternoon in South Jakarta, Indonesia. I was sitting comfortably on my chair with my office pillows (yes, plural) when I realized that I need to write what had happened in my life in a year after I shared my post about quarter life crisis. Why? This year has been the exact opposite of what I did last year when I posted that quarter life crisis and yes, I am enjoying it.

I wrote that the key of facing quarter-life crisis was let it go. No, it’s not a reference to any Disney movies. And that was what I did. I let my crisis went by. How did I do it? By sticking to my priorities in life.

I was in the middle of crisis and dilemma about where to go because the future at that time seemed so blurry. I rearranged my life priorities and talk about it with  close friends and family. I shared it to people whom I trusted and I am glad I did the right thing. After discussion with the close one, I decided not to pursue any career outside Indonesia yet. I went back home and working in a start up company which offer me so many flexibility and room to grow and learn. To be completely honest, I was looking for a job with flexible contract term. In Indonesia, it is common that when you resign before the designated time you have to pay for a penalty and this is what I always avoid. Why I need flexibility? Because I simply do not want to be tied down with fixated term.

And It turns out, I love my job. I love working as a Product Manager in the biggest e-commerce in Indonesia. I love the culture, I love the people, I love the product itself. I love that what I do in daily basis help millions of people in Indonesia. I love the fact that we bring impact to microeconomics even in rural area. I love managing the product, the people and stakeholder. I will be lying if I said I am never stress or under-pressured, but it is an honest truth that I love my job and how much it has taught me to be a better person.
My Squad at work

I learn to manage expectation, I learn to communicate better, I learn to strive for the goal and still being realistic. I love to motivate people and my team. I experienced the burst of happiness when my product was launched and users excited about it. In short, my job deserves another whole of blog post.

Back to my quarter-life crisis, once I focused my goal based on my priority, the vision getting clearer. What I fear the most about uncertainty in the future becomes my best friend and I can deal it with peace. Life is full of uncertainties and that’s the beauty of life. Once I set my priority, I start to see what does really matter for me that can bring me happiness. It is from within. It is never from anyone else.

Facing quarter-life crisis is not a hit-and-go battle. It is continuous process. Sometimes I still feel wobble in life and I guess that’s a part of being human. But when I do look back to last year, I realize that I couldn’t find happiness because I was busy looking around when I actually I should look inside.

If right now you still in the middle of quarter-life crisis, here is my suggestion for you. You should start to look inside to know what really matters for you. Have your priorities sorted and make actionable goal from that. Embrace your crisis. Talk to someone who you trust. Find peace within your own heart. It might sound too illusory right now but I can guarantee you that the fog will lit and you will see everything clearer once you start to embrace your own crisis. And yes, you are never alone. This too shall pass.

Sunday, 7 August 2016

Krisis Perempat Baya alias Quarter-Life Crisis dan Cara Mengatasinya

18:31 0 Comments

Jika kamu berumur antara 20-30 tahun dan sedang mengalami fase-fase penuh kegelisahan dalam hidup dan kamu merasa kamu tidak menemukan jawaban atau bimbang dalam menentukan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya dalam hidupmu, kamu tidak sendirian. Kamu sedang mengalami krisis perempat baya alias quarter life crisis, sebuah kondisi yang banyak dialami oleh seseorang yang sedang mengalami transasi dari masa remaja menjadi seseorang yang (harus) dewasa sepenuhnya.
Silakan tanyakan ini pada dirimu.

1. Saya bimbang dan merasa galau apa yang harus saya lakukan berikutnya dalam hidup, melanjutkan studi? Mengejar karir di bidang lain? Menikah?
2. Saya merasa pekerjaan saya sekarang sungguh membosankan dan saya ingin suasana yang lain dari pekerjaan yang monoton seperti saat ini.
3. Setelah lulus apakah saya harus melamar pekerjaan? Pekerjaan macam apa yang cocok untuk saya? Ataukah sebaiknya saya berwirausaha? Tapi usaha macam apa yang bisa saya rintis? Bagaimana caranya?
4. Hampir tiap akhir pekan agenda saya adalah mendatangi resepsi teman atau rekan. Saya sendiri kapan dong? Keluarga dan kerabat selalu menanyakan hal yang sama kepada saya, kapan nikah? Kapan nikah? Duh, jodoh pun belum bertemu.
5. Saya sudah berada dalam hubungan yang panjang, tapi rasanya tidak ada kejelasan dalam hubungan kami. Apakah kami akan menikah? Apakah kami memang cocok untuk menghabiskan hidup kami bersama? Apakah dia memang ingin menikahi saya dan apakah saya juga ingin menikahi dia?
6. Saya sudah menikah, tapi saya merasa banyak impian saya belum terwujud. Bagaimana bisa saya mewujudkan mimpi – mimpi saya itu dengan tanggung jawab yang saya miliki sekarang setelah menikah? Masih bisakah saya mengejarnya?
7. Si kawan itu sudah berhasil mencapai ini, si dia sekarang sudah berpenghasilan sekian, kenapa saya jauh dari yang saya harapkan?
8. Kenapa setelah semua yang saya dapatkan saya tidak merasa bahagia? Apa sih sebenarnya yang bisa membuat saya bahagia?
9. Pencapaian saya selama ini tidak ada artinya. Saya ini bukan siapa-siapa.
Dan daftar kegalauan ini pun bisa terus bertambah tanpa henti. Jika dari pertanyaan-pertanyaan di atas ada yang kamu rasakan dan pertanyaan itu muncul terus berulang-ulang, mungkin kamu sedang mengalami quarter-life crisis.

Sumber dari sini yang juga membahas quarter-life crisis


Quarter –life crisis ini biasanya memang berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut keputusan kita di masa depan yang akan berpengaruh dalam hidup. Jadi bukan hal macam kegalauan hari ini makan apa yang muncul tiap hari, itu belum bisa disebut quarter-life crisis sepertinya.
Saya sendiri baru mendengar soal istilah ini beberapa hari lalu dari teman saya yang mengambil doctoral di bidang psikologi. Dan pertanyaan saya ketika mendengar hal ini, terus bagaimana dong mengatasinya?
Kata dia, jawabanya adalah Let It Go. Ada masanya kegelisahan itu akan lewat, misal sekarang kamu terus galau dan merenung kapan kamu akan menikah? Kapan tiba giliranmu? Setahun setelah momen quarter-life crisis ini lewat, kamu akan menilik kembali ke masa itu dan merasa, “Duh, ngapain dulu hal kayak gitu digalauin terus-terusan. Buang Energi. Just Let it Go and moving forward”.
Meskipun jawaban ini terasa masuk akal dan hanya bisa dibuktikan oleh waktu, saya akhirnya mencari jurnal atau paper yang membahas hal ini dan bagaimana mengatasinya. Akhirnya saya menemukan salah satu paper yang berjudul “Coaching Clients through the Quarter-Life Crisis: What works?” ditulis oleh Alice Stapleton pada tahun 2012  . Di paper tersebut dituliskan juga macam-macam kegalauan yang muncul dan karena responden berasal dari UK maka kegalauannya agak sedikit berbeda dengan kegalauan anak muda Indonesia, misalnya tidak ada isu sama sekali soal pernikahan. Yang menarik adalah bagaimana paper tersebut menjelaskan bagaimana kita bisa melewati quarter-life crisis. Di paper tersebut sebenarnya hal yang dilakukan untuk melewati crisis ini adalah dengan coaching, atau pembinaan, meskipun saya rasa kita juga bisa mencobanya dan inilah yang bisa kita lakukan. 
1. Tentukan arah dan Fokus
Ketika menghadapi quarter life crisis, hidup terasa tak menentu dan kita merasa tak jelas kemana harus melangkah. Di paper disebutkan, dalam coaching tersebut, kita bisa dibantu untuk menentukan arah dan focus dengan arah tersebut. Kalau kita tidak ikut coaching apa yang bisa kita lakukan? Lihat kembali hidupmu dari posisi yang berjarak, evaluasi semua arah yang pernah kamu tuju dan tentukan mana yang membuatmu merasa lengkap dan fokuslah ke arah itu. Misal kamu merasa hal yang sangat menarik dalam hidupmu adalah pendidikan, opsi melanutkan pendidikan bisa jadi lebih masuk akal dan fokuslah untuk mengejar pendidikan lanjut. Bagaimana jika kamu tahu bahwa yang ingin kamu lakukan adalah membangun keluarga dan membesarkan anak-anak? Fokuslah mencari jodoh dan tentukan apa yang bisa kamu lakukan untuk mencari orang yang sevisi dengan kamu. Ini bukan artinya tidak pilih-pilih, tapi tidak ada salahnya mengambil insiatif selagi itu masih masuk akal. Misalnya berteman dengan banyak orang, menambah lingkungan pertemanan atau terang-terangan minta dicarikan jodoh ke orang tua atau teman.
2. Tentukan target 
Kalau kamu sudah tahu arahmu, tentukan tujuan yang harus kamu capai dalam waktu yang singkat missal satu tahun atau lima tahun. Misal untuk studi lanjut, kamu tahu bahwa tahun ini kamu harus melengkapi persyaratan bahasa dan mendaftar di universitas tujuan. 5 tahun lagi kamu akan selesai dengan studi doktoralmu. Apakah semua target ini mutlak harus dipenuhi? Tidak. Tujuan dari target ini adalah agar setiap langkah yang kamu ambil mengarah ke target itu dan kamu tahu apa yang kamu lakukan dengan hidupmu.
3. Rancang aksi hidupmu atau action planning  life
Sekarang kamu sudah menentukan targetmu, saatnya merancang apa yang bisa kamu lakukan untuk mencapai target itu. Apakah kamu bisa mempersiapkan bahasa jika masih bekerja secara penuh? Atau kamu harus resign dan mempersiapkan diri secara intens? Semua ini kembali kepada arah dan target hidupmu. Apakah ini mudah, menurut paper tersebut, hal ini masih sulit dan orang yang galau merasa merancang action plan tidak semudah menentukan hal yang lain. Ada baiknya kamu memiliki teman diskusi, akan sangat susah mengalami ini semua sendirian. Pada titik ekstrim, seseorang yang mengalami quarter life crisis bisa merasa berada pada titik terendah dalam hidup dan bisa berpikiran pendek untuk mengakhiri hidupnya. Disinilah pentingnya membagikan kegalauan kamu, berdiskusi dengan orang lain untuk menjaga kewarasanmu.
4. Skill
Di paper tesebut, sebenarnya skill yang dimaksud adalah skill yang didapat selama coaching seperti kemampuan untuk mengatakan tidak pada sesuatu yang kita tidak suka atau bersikap lebih asertif. Skill ini dinilai berguna untuk membantu diri keluar dari krisis ini.
5. Kenali diri sendiri
Self-awareness adalah hal yang penting. Dengan mengenali diri sendiri, kita bisa tahu apa yang bisa kita lakukan. Kita bisa menghargai diri sendiri dan menerima diri kita. Tentu hal ini tidak mudah apalagi jika kita terus menolak menerima diri sendiri atau denial dan hidup dalam angan-angan. Karena itulah, mengenali diri sendiri dan menerima diri sendiri itu menjadi salah satu kunci untuk keluar dari krisis ini.
6. Refleksi diri sendiri 
Refleksi ini juga membantu lebih mengenali diri sendiri. Tentang apa yang sudah kita lakukan, mengevaluasi kesempatan yang kita lewatkan atau kesempatan yang kita manfaatkan dalam waktu seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Mengevaluasi diri sendiri bisa membuat kita sadar kesalahan apa yang telah kita perbuat dan bagaimana menghindari mengulangi kesalahan yang sama.
7. Percaya diri
Orang yang mengalami quarter-life crisis umumnya mulai kehilangan kepercayaan diri. Hal ini berkaitan juga dengan mengenali diri sendiri dan refleksi diri. Dengan melakukan hal tersebut, kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita, menyadari keunikan diri dan menjadi lebih percaya diri. Ketika kita memiliki kepercayaan diri, kita akan melangkah dengan pasti dan saya selalu percaya langkah yang pasti akan mengantarkan kita ke tempat yang pasti pula.
Tujuh hal di atas, bisa dicek kembali berasal dari paper yang saya sebutkan. Meskipun banyak pula yang saya tambahi dengan penjelasan yang saya pahami sendiri. Apakah saya bisa membantu mengatasi krisis ini? Saya sendiri berada dalam usia ini. Saya sendiri mengalami salah satu krisis tersebut. Apakah saya berhasil melewatinya? Saya sedang berusaha melewati krisis ini. Tujuan saya menulis ini adalah untuk menyadarkan teman-teman yang semula mengalami krisis semacam ini dan merasa hanya dia yang merasakannya, tidak, ini namanya quarter-life crisis dan banyak orang mengalaminya. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama melewati krisis hidup ini.
Selain tujuh hal yang saya dapatkan dari paper, sebagai seorang yang percaya dengan Tuhan dan Agama, saya juga percaya hal-hal religius membantu saya untuk melewati krisis ini dengan lebih tenang. Sebagai muslim, sholat, membaca Al Qur’an, sholawat, sedekah dan hal religius lainnya membantu saya untuk melewati krisis ini. Dan juga, hal-hal tersebut merupakan pesan ibu saya yang berusaha betul saya pertahankan.
Perlu diingat, latar belakang pendidikan saya bukanlah psikologi. Pengetahuan saya terbatas dalam bidang ini. Tujuan saya menulis ini juga untuk berbagi, mencari masukan dari orang yang lebih berkompeten di bidang ini ataupun dari orang yang sudah berhasil melewatinya. Bagaimana kamu berhasil melewatinya? Share di kolom komentar ya.