Friday, 28 May 2010

PUISI tanpa JUDUL

Malam separuh penuh
Saat dedaunan berkata dengan berbisik

“Lihat, angin baru saja menelisik”

“tentang?” tanyaku

“tentang lelaki jauhmu”


bulan melengkung
menelikungku dengan soal-soal serumit kalkulus

“mengapa ada ragu yang basah dihatimu?”

bulan menghujam, dengan sabitnya yang tajam

“mengapa tak berkaca dahulu?”


dedaunan yang tadi berbisik berubah menjadi berisik

aku dituding tak tahu diri dan menuntut bulan turun ke bumi

agar aku berkaca dengan sinar pualamnya



lelaki jauh, dengar itu, (m)alam sudah menyiksaku
diam saja, aku tahu raguku akan kering sendiri

duduk saja di atas pelana kudamu dan tunggu

tunggu hatiku berderap seirama derap kudamu




puisi ngawur bin nyeleneh. Sudah lama saya tidak menulis puisi, dan ujug-ujug jadi begini. Tapi itu menggambarkan perasaan saya sekali, meski mungkin hanya saya yang mengerti. Haha..

ini soal keraguan dan terburu-buru berkata yakin. Percaya deh, buru-buru itu emang ngga baik. Soal apapun itu, meski yakin itu baik, ragu itu menurut saya baik juga kok. Itu membuat kita mundur selangkah dan melihat apa langkah yang akan kita ambil tepat? Seingat saya, orang yang tak pernah ragu adalah orang yang tak pernah berpikir.

Saya ragu karena saya memikirkanmu lelaki jauh. Dan kamu, berpikirlah bagaimana membuat saya yakin. *haha, meksoooo*

tempat belajar