Wednesday, 5 January 2011

suntuk akut

Suntuk menumpuk.
Itulah saya. Dalam kondisi minggu (yang katanya) tenang menjelang UAS ini, saya sampai pada stadium suntuk akut tingkat dewa.


Selain karena tugas yang membabi buta, saya rasa salah satu alasannya adalah kevakuman saya dalam menulis. Salah satunya menulis Tuanmuda the series. Series yang sempat membuat saya bersemangat itu kini layu. Saya tak lagi punya banyak waktu untuk sekadar berimajinasi dan merancang scenario untuk Tuanmuda dan Nonamuda, pun kalau sempat saya tak punya banyak waktu untuk menuliskannya. Pun kalau saya tulis, bahasa saya tak lagi puitis. Ini I-R-O-N-I-S. Ibarat penyakit ini sudah kronis.


Ingin sekali saya menulis lagi cerita itu, tapi seoalh lumbung kata-kata saya sedang rusak. Tidak ada pasokan diksi yang bisa dirajut menjadi cerita yang membuat saya tersenyum membacanya, seperti tulisan-tulisan saya yang dulu.

Pendek kata, saya kehilangan ruh saya dalam menulis. Ini gawat. Sangat gawat.

Saya merasa salah satu alasannya adalah karena bacaan saya kini bukanlah bacaan yang punya nilai kehidupan, sosisalis. Saya dituntut untuk lebih ke arah teknis. Dan parahnya seorang nada yang manajemen waktunya kacau ini, terjebak pada kondisi tersebut hingga berlarut-larut. Jadilah suntuk akut.

Ingin sekali segera liburan, menenggelamkan diri bukan pada coding atau angka-angka seperti satu semester ini. Hati saya sudah rindu dijamah keharuan membaca novel dan cerpen yang realistis nan puistis. Hati saya sudah rindu untuk kembali menulis, untuk membuyarkan kesuntukan ini.


Aduuuh, alih-alih mengerjakan tugas yang membabi buta saya malah curhat ndak penting begini ya..

Kuatkan hamba, ya Rabb..

tempat belajar