Wednesday, 1 April 2009

TERIMA KASIH

Hari minggu kemarin, saya diminta menjadi salah seorang penerima tamu di acara resepsi salah seorang kerabat. Oleh karena itu, mau tak mau saya dirias memakai make up tebal.

Jujur, sebenarnya saya paling enggan dirias. Tapi mau bagaimana lagi? Hendak menolak tak bisa.

Jadilah, saya menerima para tamu dengan wajah 'bertopeng'. Meski hati saya agak dongkol, saya berusaha tetap tersenyum. Kebetulan, saya kedapatan tugas memberikan snack kepada para tamu. Di sinilah saya agak tercengang.

Para tamu itu, seolah tak menatap tumpukan snack di samping mereka sebelum saya mengulurkannya. Budaya sok jual mahalkah ini?

Lalu, ketika saya memberikan snack tersebut dengan senyum yang tulus, alih-alih membalas senyum. Pandangan para tamu tertuju pada snack di tangan saya.
Budaya apa lagi ini?
Perut lebih menguasai hati?

Yang membuat saya agak bertanya-tanya, di antara sekian ratus tamu-tamu yang saya temui tidak lebih dari 3 orang yang mengucapkan terima kasih! Bukannya saya hendak minta pamrih, akan tetapi buat saya pribadi, kata terima kasih adalah kata yang mudah diucapkan tapi mampu luar biasa mendamaikan yang mendengarnya. Bahkan jika mampu membuat bahagia pendengarnya, bisa pula disebut sedekah.

Sepertinya masyarakat kita mulai melupakan budaya terima kasih ini. Terima kasih dianggap hal yang remeh.

Tampaknya tak perlu mengucapkan terima kasih kepada tukang parkir yang menjaga kendaraan karena memang itu tugas mereka. Tak perlu mengucapkan terima kasih kepada petugas kasir di swalayan yang memberikan uang kembalian dengan pas. Tak perlu mengucapkan terima kasih kepada pramusaji yang mengantarkan makanan ke meja kita. Tak perlu mengucapkan terima kasih kepada pembantu yang merawat rumah kita.

Menganggap tak perlu sebab menganggap remeh. Bermula dari hal-hal kecil lama kelamaan kita bisa lupa betapa besar kekuatan terima kasih tersebut. Lalu mulailah lupa kapan dan bagaimana mengucapkannya.

Padahal sesungguhnya terima kasih adalah penghargaan kepada manusia lain yang berbuat baik kepada kita. Apapun konteksnya. Jika rasa menghargai mulai tiada, bagaimana bisa mencintai sesama.

Karena itu saya mengajak anda untuk berterima kasih kepada siapa saja, mulailah dari diri anda dan rasakan apa dampaknya.

Terima kasih telah membaca!

tempat belajar