Saturday, 3 September 2011

Sepasang Tua Bercengkerama Dalam Senja


suatu senja, saat secangkir kopi yang kau suguhkan masih mengepul
saat kursi kayu jati di beranda jati masih tegak menopang
kau datang membawa senyuman
kita kemudian bersebelahan, saling menghitung uban

matahari yang sejak pagi berlari-lari cemburu melihat kita yang tak peduli waktu
seperti kerut-kerut yang menggerutu, sebab acuh kita padanya, pada usia

kamu lalu berbincang masa lalu, mengeluarkan selembar kertas lusuh dan membacakan puisi untukku

aku mencintaimu biasa saja, sayang.
sebab cintaku untukmu adalah kebiasaan.

aku mencintaimu sederhana saja, sayang.
senyum dan cinta yang sama di tiap masa.

aku mencintaimu semampuku saja, sayang.
semampu aku bernafas, selama itu pula cintaku tak tuntas.

aku mencintaimu sepenglihatanku saja, sayang.
entah kau terlihat muda atau keriput, cintaku tak akan surut.

ku kecup kamu dengan syahdu
ku dekap kamu sepenuh kalbu

selepas senja, cucu-cucu kita tiba
apa yang hendak kita berikan kepada mereka?
tanyamu sambil menggenggamku

mudah saja, pelajaran jatuh cinta setiap hari kepada orang yang sama.

Lereng Sindoro, 3 September 2011
credit    picture  from here

tempat belajar