Thursday, 29 September 2011

awan-awan yang kau lintasi di suatu perjalanan


Setiap kali kamu melintasi awan-awan itu, ingatlah
Semula awan sekadar tetesan, setelah bergulat dengan panas
Jadilah ia seringan kapas
Semula awan berkarib dengan tanah, kini ia memenuhi langit yang megah

Kudengar, kau kini sedang melintasi awan-awan itu menuju sebuah negeri yang belum pernah kujamah
Benarkah?
Benarkah kau terbang, hingga kakimu melayang, hingga langit itu tinggal sedepa dari dadamu?
Benarkah Tuhan sedang mengangkatmu begitu tinggi?

Jika benar, kuingatkan kembali, kau tentu akan menjejak tanah kembali
Kau akan kembali ke tempat ibumu pernah menimang
Sama seperti awan, yang menunggu waktu untuk kembali menjadi hujan
Untuk kembali pulang

Jika benar, aku sekadar mengingatkan, selalu ada pantai-pantai yang menunggu kembali jejak kakimu
Selalu ada pucuk-pucuk dahan yang rindu kau kecup embunnya tiap pagi
selalu ada, selalu ada yang menunggu engkau pulang dengan cerita dari tanah seberang


tempat belajar