Thursday, 22 July 2010

surabaya dan Ibu



Surabaya di depan mata. Bener-bener di depan mata it’s really close to me now.
Kemarin saya masih di Temanggung. Bobok dengan nyenyak di kamar Ibuk (sejak saya di magelang, kamar saya beralih funsi jadi gudang) sekarang tahu-tahu saya udah di Kediri. Tinggal beberrapa jam lagi saya berangkat ke Surabaya

Kamis malam, selepas acara khataman pondok pesantren tempat saya belajar 3 tahun ini, saya pamitan dengan saudara-saudara saya, paman, bulik, sepupu-sepupu, mbak-mbak pondok, kang-kang pondok dan tentunya Mbah Rayi saya tercinta. Tiap kali saya bersalaman dan mengucapkan maaf, mata saya selalu basah dan dada saya terasa sesak. Rasanya, seolah saya akan pergi jauuuuuh sekali. Actually, it’s just Surabaya, less then 10 hour from Magelang. Tapi buat saya, itu jauh sekali.

Apalagi, di sana nanti, saya bener-bener harus hidup sendiri. Jadi anak kost. OMG, how does it feel ya? Saya jadi mahasiswi, saya juga harus jadi santri. Buat saya ini semua pengalaman baru yang bikin saya bener-bener degdegan.

Balik lagi soal pamitan, saat saya kemarin menjabat tangan Ibu saya, saya sadar, tangan itulah yang sejak 18 tahun lalu menggendong saya, memakaikan saya baju, menyuapi saya, mengajari saya membaca, mengajari saya menulis, mengajari saya menghadapi hidup. Sekarang tangan itu ada jauh di Temanggung sana. Mulai hari ini, saya harus benar-benar bisa menggunakan tangan saya sendiri.

Tapi bagaimanapun juga, sentuhan tangan Ibu tak akan pernah bisa dilupakan. Saya akan mengenang sentuhan sayang itu tiap kali saya menggunakan tangan saya ini untuk apa saja. Seperti saat saya menggunakan hati saya, saya selalu teringat hati Ibu yang luar biasa.

Duh, postingan kali ini memang benar-benar mellow. Mata saya saja basah sembari ngetik postingan ini. Cengeng. Memang saya cengeng. Saya, si anak Ibu ini sekarang harus mempraktikan yang telah Ibu ajarkan. Layaknya bayi yang baru belajar berjalan kemudian dilepaskan dari gandengan, saya memang berjalan dengan tertatih-tatih dan harus berhati-hati, agar saya tidak jatuh, agar Ibu tidak perlu menghampiri saya dan membantu saya berdiri kembali.

Saya harus meyakinkan Ibu, bahwa di Surabaya saya akan baik-baik saja, saya akan menjadi santri dan mahasiswa yang baik. Saya akan menjadi Nada yang manis. Saya akan tetap menjadi anak Ibu yang selalu ngugemi nasihat Ibu.

Ibu, mata saya basah lagi..

tempat belajar