Wednesday, 3 June 2015

Teruntuk Boi

Teruntuk Boi,

Boi, langit pagi ini cerah betul di Eindhoven. Musim semi sudah tiba. Jalanan yang semula terasa dingin dan kelabu, kini menjadi hangat dan penuh warna. Sepanjang jalan bunga-bunga bermekaran. Ada satu bunga indah yang kuhapal betul, Boi. Bunga tulip. Bukankah kau pernah berjanji kita akan memetiknya bersama di tempat asalnya?

Rupanya Boi, selain dilarang, memetik bunga terasa kejam buatku sekarang. Keindahan yang hakiki adalah keindahan yang dibagi dan hidup. Jika kita memetik tulip-tulip itu siapa lagi yang akan memandangnya selain kita? Jika kita merenggut tulip-tulip itu dari akarnya, berapa lama ia bisa bertahan?

Gugurkan saja janji itu, Boi. Gantilah dengan janji lain. Untuk perempuan lain.

Sudah kau temukan wanita itu, Boi? Yang kau sebut tunduk dan taat tapi juga menjadi mata air senyum dan tawamu. Sudah kau temukan wanita yang bersedia menjadi pengikut setiamu tak peduli seberapa tinggi suaramu?

Ah, Boi. Aku tak membencimu. Bagaimana bisa? Kau memberiku terlalu banyak kisah untuk dikenang. Jika tiba di Eindhoven adalah perjalanan panjang dengan sayapku yang rapuh, kamulah yang menguatkan.

Ya, Boi. Kamu lelaki yang kuat. Terlampau kuat. Pendirian dan egomu, bagai pagar besi di depan kedutaan yang selalu jadi sasaran demo itu. Kamu adalah lelaki yang tak bisa tunduk. Aku bangga, Boi.

Namun, aku ini rupanya terlalu lemah untukmu Boi. Kau ingat senja di batas kota itu? Seperti biasa kita mendebatkan seisi dunia. Seperti biasa kita tak pernah mau mengalah. Seharusnya semua baik-baik saja, seandainya apa yang kita debatkan tak menusuk egomu. Aku salah memilih kata.

Meledaklah kau, Boi. Dengan suaramu yang garang. Dengan gayamu yang ingin menunjukkan kau adalah kebenaran absolut. Dengan tingginya suaramu, ingin menunjukkan kaulah lelaki. Pantas dihormati. Dengan sekelebat tanganmu sudah mendarat di wajahku. Ngilu.

Boi,
Aku menyesal betul hari itu. Aku menyesal menyakiti egomu. Tapi aku juga akhirnya menyadari satu hal. Aku tak bisa, Boi. Aku tak bisa mendengar suaramu yang tinggi karena berikutnya bisa saja kau lepas kendali lagi. Aku takut, Boi. Aku ini hanya perempuan lemah. Tentu aku kalah beradu otot denganmu. Aku sadar itu.

Aku memilih menjauh Boi, bukan karena kau melakukan kesalahan. Tapi karena aku sadar, aku perempuan lemah yang butuh dikuatkan. Aku perempuan lemah yang tak bisa diperlakukan dengan makian. Aku Boi, aku yang salah.

Aku menyayangimu teramat sangat, Boi. Aku sadar itu, karena itu aku pergi. Aku ingin belajar bela diri, aku ingin belajar menjadi wanita tangguh yang tahan makian dan bentakan. Aku ingin sekali, Boi, saat aku kembali nanti aku dengan tegak berkata,"Kekerasan hanya terjadi karena salah satu pihak menjadi lemah dan yang lain menjadi kuat."

Ah, Boi. Seandainya kau melindungi, tentu aku tak perlu pergi sejauh ini...

tempat belajar