Saturday, 8 October 2011

Hey Kamu Yang Disana


Delilah, apa kabar kotamu, sayang? Jarak ribuan mil ini memisahkan kita, membuatku bertanya-tanya seperti apa rupa kotamu kini? Macetkah seperti biasa? Panaskah seperti yang biasa kau keluhkan? Atau justru penuh dengan canda dan tawa seperti yang biasa kau lontarkan padaku? Seperti caramu yang membuatku kangen setengah mati itu?

Malam ini kamu terlihat cantik, Delilah. Kita hanya saling menatap layar laptop masing-masing, memang. Tapi aku melihat kamu dengan hati dan aku melihat kamu yang cantik luar biasa. Ya, kita akui saja, rasa kangen seringkali melipatgandakan ketampanan atau kecantikan. Ibarat kota, kamu adalah alun-alun megah. Tempat segala perhatian tercurah untuk melepaskan penat dan gundah.

Delilah, kamu tak perlu khawatir soal jarak yang beribu mil ini. Jarak bisa saja memisahkan kita, tapi percayalah, setiap kali kamu merasa sendiri sebenarnya aku tak pernah kemana-mana. Dengarkan lagu yang sengaja kutulis untukmu. Dalam tiap liriknya, tiap baitnya, namamu kutasbihkan berkali-kali. Maka pejamkan matamu, dan rasakan aku disampingmu. Percayalah, lagu itu adalah aku, aku yang menjelma suara dan terbang beribu mil jauhnya hanya untuk menemani kamu dan membuatmu merasa tak pernah sendirian.

Semua memang tidak mudah, Delilah. Seiring waktu, rinfu itu membuat semuanya terasa makin sulit. Ibarat makan, kita berkali-kali makan tanpa pernah minum sekalipun. Tenggorokan kita sama-sama kering dan rasanya tak mampu lagi menelan apapun. Tapi percayalah, sayang. Suatu hari, rindu ini akan kubayar lunas.
Sekarang ini, rasanya begitu banyak yang ingin aku katakan kepadamu. Bahkan setiap lagu atau puisi yang aku tulis untukmu—yang kamu bilang selalu berhasil membuatmu lupa bernafas untuk beberapa detik itu—rasanya belum cukup untuk mengungkapkan semua itu. Rindu memang serakah, ia tak cukup dengan segala kata yang aku punya, ia selalu menuntut untuk bertemu.

Jutaan mil memang jauh, sayang. Tapi bukankah dunia punya pesawat dan kereta api? Juga kapal dan mobil? Bahkan sayang, ketika semua yang dunia punya itu tak bisa mengantarkanku untuk berdiri di sampingmu, aku akan berjalan kaki. I’d walk to you if I had no other way. Jangan pedulikan kawan-kawanmu yang menertawakan malam minggumu yang terpaksa kau jalani sendirian, balas saja dengan tertawa sayang. Biarkan mereka merasa bahagia dengan cukup tertawa, karena sesungguhnya mereka iri dengan cinta kita, cinta yang tak pernah mereka rasakan itu.

Jadilah anak baik Delilah, bersabarlah. Dua tahun lagi kamu akan jadi sarjana, dan aku akan membuat sejarah yang tak akan pernah dilupakan dunia. Setelah itu waktu menjadi milik kita. Perjalanan senja menuju taman kota ang semula hanya kita cakapkan, akan menjadi aktivitas rutin yang menyenangkan. Lagu dan puisi yang selama ini kamu dengar melalui headset favoritmu itu akan kamu dengar langsung dari mulutku, dari gitarku, dari hatiku.

Dua tahun lagi sayang, aku akan pulang. Dan segera saja, kita akan menjadi sejarah baru.





Dikarang bebas dari lagu Hey There Delilah-Plain White T lagu kebangsaan bagi setiap pasangan LDR. Bertahun-tahun mendengar lagu ini, perasaan saya selalu sama. Rindu itu nyiksa, pake banget. Dan lagu ini ibarat cuka yang dituangkan di atas luka, bikin menjerit kesakitan. Rindu makin tak tertahan.
Dan saya menulis lagu ini, karena alasan yang sama, membayangkan Nicholas Saputra membuat satu lagu untuk saya, dan menyanyikannya untuk saya di kafe, di bawah balkon kamar, atau di alun-alun kota. *jadul banget* XD

tempat belajar