Saturday, 14 November 2009

resensi film GIE


well, sebenarnya ini resensi yang sangat telat, tapi karena merupakan tugas dari sekolah dan saya pikir mungkin berguna, jadi saya post aja ya..
*actually, tugasnya uda kemarin-kemarin juga sih :D*

SOE HOK GIE

Gie, semangat pembaharu sejati
Film Gie yang mengambil setting antara tahun 1956-1969 ini menceritakan tentang kisah hidup Soe Hok Gie, pemuda Indonesia keturunan Cina yang aktif menetang kesewang-wenangan penguasa melalui tulisan-tulisannya. Sejak kecil, Gie memiliki kepekaan sosial dan budaya yang melampui teman sebayanya. Ketertarikannya pada sastra dan bacaan membuatnya secara alamiah untuk terus menulis, mencatat apa yang terjadi di sekelilingnya dan Gie melihat segala yang terjadi secara kritis dan berpihak kepada rakyat-rakyat yang tertindas.
Saat duduk di bangku SMA, Gie bahkan berani mengatakan bahwa demokrasi terpimpin bukanlah demokrasi. Hal ini tentu sangat ‘berani’ dalam kondisi yang serba tidak menentu pada saat itu. Keberanian Gie tersebut makin menjadi setelah dia menjadi mahasiswa fakultas sastra UI. Di sana pikirannya semakin terasah dan di sana pulalah Gie menemukan sahabat-sahabat yang memiliki minat yang sama sepertinya, gunung dan film.

Pada saat itu semangat revolusi yang didengung-dengungkan justru membuat situasi memanas. Dalam lingkup UI saja, bermunculan organisasi-organisasi yang terbentuk karena kepentingan agama dan golongan, seperti PMKRI dan HMI. Gie yang seorang katholik, diajak bergabung ke PMKRI oleh temannya, Jaka. Namun, gie menolak. Dia merasa bahwa politik yang membawa kepentingan agama dan golongan bukanlah jalan untuk membawa perubahan hidup bangsa Indonesia.

Alih-alih terlibat organisasi, Gie lebih memilih untukdiskusi dan menulis dalam melawan kelaliman penguasa. Kekritisan GIe dalam mengkritik pemerintah, disadari oleh seorang aktivis gerakan yang bernama Ben. Gerakan yang diikuti Ben tersebut dipimpin oleh Sumitro yang memiliki ide-ide yang sama dengan Gie. Ben pun mengajak Gie untuk bergabung dalam gerakan ini dan menulis utnuk pamflet gerakan tersebut yang disebarkan secara underground.

Salah satu usaha Gie yang lain adalah ikut dalam senat. Latar belakang keaktifan Gie semula ketika dia melihat para calon ketua senat yang berasal dari oraganisasi-oraganisasi yang membawa kepentingan golongan dan agama. Gie tidak ingin senat dikuasai oleh orang semacam itu. Gie lalu mengajukan Herman, sahabatnya, sebagai calon ketua. Gie melihat bahwa Herman tidak membawa kepentingan agama dan golongan manapun dan inilah yang akan menjadi kelebihannya.

Pada 30 September 1965, terjadilah penculikan para jendral Angkatan Darat. Sejak saat itu ketegangan semakin meningkat. Hingga akhirnya harga-harga melambung tinggi. Dalam pandangan GIe, ini sesungguhnya adalah taktik pemerintah untuk mengalihkan perhatian rakyat dari penumpasan komunis.

Mahasiswa UI saat itu bersatu, mereka berusaha meminta hak-hak rakyat dengan cara berdemo secara besara-besaran. Mahasiswa ini mengajukan tiga tuntutan kepada pemerintah yang dikenal sebai tritura. Tuntutan mahasiswa ini hingga Februari 1966 belum terpenuhi, bahkaan Presiden sendiri menegaskan bahwa tidak akan membubarkan PKI.

Mahasiswa berdemo lagi. Keadaan di masyarakat semakin kacau. Baru pada tanggal 11 MAret 1966, Supersemar seolah menjadi jawaban atas keadaan saat itu. Soekarno menyerahakan mandatnya kepada panglima angkatan darat Soeharto. Saat itulah sesungguhnya militer yang sebelumnya bersitegang dengan PKI mendapat kekuasaan.

Para anggota PKI pun diburu, ditangkap, disiksa dan dibantai. Gie yang bukan ‘kiri’ atau ‘kanan’ tersentil rasa sosialnya untuk menulis kesewenang-wenangan dan kebiadaban orde baru.

Jalan film ini selanjutnya memaparkan keberanian untuk terus mengkritik hingga sampai pada satu titik Gie merasa ‘lelah’ dan terus mendapat reaksi keras dari orang-orang yang merasa terusik atas ulah Gie. Film ini pun diakhiri dengan ending yang abu-abu. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Tidak bahagia sebab tentu karena Gie mati muda pada bulan Desember 1969. Tidak sedih sebab pada dasarnya Gie merasa beruntung. Sebelumnya Gie pernah mengatakan bahwa nasib baik adalah tidak dilahirkan dan mati muda. Gie meninggal dalam usia 27 tahun di Gunung Semeru dalam pangkuan sahabatnya, Herman Latang.

Rekam sejarah

Gie adalah tokoh yang sangat kritis menilai politik dan keadaan sosial masyarakat. Film Gie ini sendiri menjadi film yang memutar ulang sejarah dengan sudut yang berbeda dari buku-buku teks yang selama ini kita baca, terutama buku teks pelajaran.

Bagaimana sesungguhnya pergolakan politik yang terjadi disampaikan melalui pemikiran-pemikiran Gie, siaran radio, berita dan lainnya. Sutradara dan penulis naskah Gie berhasil membawa dimensi pikiran Gie kepada para penontonnya tanpa terkesan menggurui, meskipun sedikit berat. Narasi-narasi Gie maupun dialognya memang bukan dialog ringan melainkan dialaog yang sarat makna.

Cara Gie memaknai revolusi, kebenciannya kepada para penguasa yang memasung demokrasi, kepekaannya dan rasa sosialnya yang tinggi, kegeramannya terhadap orde lama yang korup dan berkuasa secara absolute juga orde baru yang bertindak sewenang-wenang, sedikit banyak akan berpengaruh kepada para penonton yang masih mau berpikir dan peduli terhadap bangsa. Pandangan kita mengenai sejarah yang semula hanya benar di satu sisi dan salah besar di sisi lain ( sesuai penjelasan teks-teks buku pelajaran kuno) menjadi terbagi adil disini. Dalam sejarah, tak pernah ada pihak yang sepenuhnya salah tak ada yang sepenuhnya benar. Oleh karena itu, pembantaian manusia tidak pernah bernilai benar.

Gie sebagai manusia

Film yang menarik tentu memiliki kisah cinta di dalamnya, begitu juga film ini. Meskipun tidka menonjol, kisah cinta Gie cukup menarik untuk diamati. Cinta segitiga antara Gie, Ira dan Ita. Gie dan Ira yang saling menyukai namun sama-sama canggung dan Ita gadis yang akhirnya menjadi pacar Gie. Cerita cinta mereka agak pilu, sebab ketiganya tidak mendapatkan cinta mereka masing-masing.
Sisi kemanusian Gie yang lain adalah kesalahan. Gie remaja tidak begitu akrab dengan kakaknya, Arif Budiman. Selain itu, Gie juga tidak begitu peduli dengan keluarganya meski sesungguhnya Gie menyayangi mereka. Gie juga mudah marah, tampak dalam beberapa adegan. Meski terlihat santai, gerak tubuhnya jelas menandakan dia larut terbawa emosi.

Gie

Sebagai sebuah film, Gie berhasil menjadi film mengagumkan dalam segi artistic dan moral. Film ini meyuguhkan gambar-gambar kota Jakarta yang masih ‘segar’ dan pemandangan gunung. Dari segi tata music, film ini sangat hidup dengan lagu-lagu yang sangat mendukung. Seperti back song saat Gie berdemo mampu membawa atmosfer dan semangat pemuda ke dalam benak dan membuat merinding. Juga lagu-lagu dan music yang tergolong ‘cerdas’.

Film ini juga sarat pesan. Kita bisa mengambil pesan dari buah pikiran Gie sepanjang film ini, jika sikap dan keteguhan hatinya. Film ini memang tergolong film yang berhasil bercerita kepada para penontonnya dan sangat layak untuk ditonton juag mungkin menjadi salah satu film Indonesia yang sangat membanggakan dan akan terus dikenang.


satu lagi, film ini jadi tambah yahud karena pemain utamanya NICHOLAS SAPUTRA yang cool banget itu. I'm one of his fans.

tempat belajar