Friday, 10 July 2009

LIBURAN!!!!


mengejar ombak di parangtritis

Liburan kali ini bener-bener liburan buat saya. Otak saya seger kembali. Sampai berhari-hari nggak sempat ngurus blog dan menuliskan pengalaman serru selama liburan ini. Soalnya mulai dari acara ZEBRA kemarin, acara yang lain udah banyak nyusul.

Mulai dari acara akad nikah sepupu saya di Magelang, dek Wafi, tanggal 30 Juni. Jangan kaget, walaupun saya panggil dek, tapi usianya jauuuuh di atas saya. Saya panggil dia dek, soalnya dia putri dari bulik saya, adik Abah. Acara nikahan dek Wafi sederhana saja, tapi auranya.. masyaallah air mata saya sampai ndleweran. Agak heran juga saya ini, mata saya ini kok gampang sekali bocor. Hehehe.. di acara itu, otomatis saudara-saudara pada kumpul dong. Seru deh! Saya sempet nginep juga di tempat bulik, kumpul sama sepupu samapai lupa waktu. Malamnya, sekitar jam 10an gitu, kami nonton film di komputer, Perempuan Berkalung Sorban.

Buat siapapun yang pernah nonton film ini, saya cuma pengen ngasih tahu. NGGAK SEMUA PESANTREN KAYAK GITU. Memang ada, tapi nggak semua. Dinamika kehidupan pesantren memang nggak gampang dipahami oleh orang yang nggak ada di Pesantren. Gregeten sendiri saya, lihat buku-buku dibakar di film itu, kok kesannya pesantren salaf itu kolot banget. Apalagi waktu roman Bumi Manusia dibakar, tercabik-cabik hati saya. Saya langganan baca buku Pramudya dan semua baik-baik saja. Keluarga saya nggak pernah protes. Nggak otoriter. Demokratis sekali dan sesungguhnya pesantren salaf yang demokratis itu banyak sekali.

Okelah untuk urusan cinta di film itu, mengharukan dan cukup membuat mata saya kering. Akan tetapi untuk urusan pesantrennya, ndilalah Hanung bukan orang pesantren jadi dia menggambarkan seperti itu. Ya, ndilalah.

Oke, lanjut ke liburan saya berikutnya.
Tanggal 5 Juli saya berangkat ke Surabaya. Nikahan dek Wafi lagi, tapi di tempat mempelai pria, namanya Zakaria Mukhtar. Selamat menempuh hidup baru ya.. semoga damai selalu, halah..

Walaupun di Surabaya, saya nggak jalan-jalan kemana-mana. Tapi ngglundung. Soalnya naik mobil, kan ban mobil ngglundung, bukan jalan. Hehehe.. di Surabaya, saya nggak lama, lanjut ke Jember. Ke tempat Mertua Paklik saya, Lik Labib. Adik ipar Paklik saya itu nikah juga, tapi sebenarnya tanggal 12 Juli. Karena keluarga Magelang tidak bisa kondangan hari itu, maka kondangan pun digasiki. Sekalian mumpung sudah sampai Surabaya.

Perjalanan Surabaya-Jember ternyata sama jauhnya dengan Magelang- Surabaya. Kemeng juga pantat saya di jejalkan terus di jok. Tapi tak apalah, kolo-kolo. Ada pengalaman menarik sewaktu saya mampir di salah satu POM bensin di daerah pasuruan ( kalau nggak salah ).

Ada seorang nenek tua yang mengumpulkan sampah plastik. Ketika ada kulit pohon kering ( blarak tipis ) nenek itu mengambilnya, kemudain duduk di pojokan. Saya menghampiri beliau. Sekedar menanyakan dimana rumahnya, bagaimana keluarganya. Suami nenek itu sudah meninggal, beliau sekarang tinggal dengan anak dan cucunya. Nenek itu bercerita, dia sekarang sudah tak mampu bekerja. Orang-orang sudah enggan menggunakan tenaganya. Jadi yang bisa beliau lakukan adalah mengumpulkan sampah plastik kemudian menjual kembali kepada pengepul. Kalau sedang mendapat sedikit, beliau mencari kayu untuk bahan bakar. Minyak tanah dan gas mahal, begitu ujar beliau. Blarak yang tadi belaiu ambil pun, juga untuk bahan bakar memasak besok.

Mendadak mata saya memerah. Orang setua ini, masih semangat dalam menjalani hidupnya. Dalam wajah beliau yang teduh itu, saya tak melihat ada wajah mengeluh. Keriput-keriput di wajahnya justru menggambarkna rasa syukur. Saya kemudian teringat kepada pengemis-pengemis yang sering ada di jalan atau di pasar. Mereka sesungguhnya mampu bekerja, tapi mereka enggan. Saya kadang gemas dengan tingkah mereka. Hidup dari belas kasihan orang lain buat saya hidup yang tak ada artinya. Berbeda dengan nenek yang saya temui, beliau masih begitu gigih.

Saya kemudian beranjak ke mobil. Saya ingat, sebelum pelang dari Surabaya, kami memiliki roti cukup banyak yang belum dimakan. Saya ambil salah satu tas, kemudian roti-roti itu saya masukkan. Kira-kira empat atau lima. Roti-roti itu cukup besar dan cukup membuat kenyang. Saya hautrkan tas itu kepada nenek itu. Wajah beliau berkaca-kaca saat saya berkata bahwa roti-roti ini untuk cucu nenek. Gantian mata saya yang berkaca-kaca saat beliau mengatakan bahwa Allah lah yang akan membalasnya. Kemudian, kardus-kardus makan kami yang masih penuh namun belum termakan, saya haturkan juga. Berkali-kali beliau mengucapkan terima kasih. Berkali-kali saya merasa haru. Merasa begitu bahagia saat melihat sajah nenek itu bahagia memakan makanan yang saya berikan.

Sayang, saya belum sempat bertanya nama beliau.

Terima kasih nek, telah mengajariku hidup itu harus dihadapi dan Tuhan yang akan mengaturnya. Terimakasih untuk wajah berbinar-binar yang membahagiakan. Terimakasih.

That ‘s the story. Back to my trip.

Sepulang dari Jember, kami ke Surabaya lagi. Mampir ke tempat Lik Ma’ruf sebab kemarin belum sempat singgah. Seblum samapai disana, kami sempatkan diri dulu, mampir ke Lumpur Lapindo. MasyaAllah, SubhanaLlah.

Ternyata lumpur sidoarjo ( LUSI) itu Luaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaas sekali. Sangking uasnya, kalau hendak mengitari seluruh tanggul perlu waktu tak kurang dari setengah hari. Saya melihat bagaimana sumber lumpur itu tertutup kabut panas, sebab sangking panasnya. Baunya, masyaAllah, menusuk hidung. Yang saya dengar, Lusi menggenangi 3 kecamatan dan 16 desa. subhanaLlah..

Ketika saya amati, ternyata permukaan lumpur itu tidak rata, tapi agak menyembul di tengah. Di bagian tepi, yang ada hanya air berwarna abu-abu, sedangkan lumpur menggenang di tengah. Tanggul terus di pertinggi, sebab lumpur terus menyembur tak mau di ajak berkompromi. Alam protes terus disiksa. Saya hanya bisa mengelus dada.

Okay, back to the trip. Hari kamis kemarin, tanggal 9 Juli ada Scientific Tour (ST) yang diadakan anak-anak KIR. Saya jelas ikutan dong. Walaupun acara agak molor, karena nunggu Miu datang, tapi lancar kok. Tujuan pertama, candi gedong songo di Bandungan. Karena tempatnay di perbukitan ( atau pergunungan ya? ) bis kami tidak bisa naik. Padahal jarak masih 6 km. Akhirnya kami menyewa angkot. Bayar ekstra tapi nggak apa-apa lah. Sampai disana, mulut kami tak berhenti berdecak kagum. Lanskap di bawah, pemandangan kota Semarang, betul-betul memukau. Apalagi di kelilingi gunung yang menjulang tinggi, AlhamduliLlah, subahanaLlah, indah sekali! Untuk melihat candi-candi yang ada, kami harus sedikit, eh banyak ding, mendaki. Jarak antar candi lumayan jauh. Sayang, ada beberapa candi yang sudah rusak. Ndilalah, Indonesia, kok ya..

Setelah foto-foto narsis disana-sini. Kami turun, karena harus melanjutkan perjalan ke MAJT, masjid Agung Jawa Tengah. Tolong jangan tanya rute, sebab saya merem sepanjang jalan. Bangun-bangun sudah sampai parkiran masjid. Hehehe.
Kesan pertama masjid ini, BESAR, RAPI, INDAH, EKSOTIS, ATRAKTIF, IMAJINATIF ( 3 yang terkhir saya ngawur ^^) . waktu saya masuk, yang muncul di benak saya, ni masjid kok kayak mal ya. Jan betah disini. Coba semua masjid kayak gini, masjid-masijd nggak kalah rame dengan mall ya. Arsitektur masjid ini benar-enar memukau. Luuuuuuas banget! Baguuuuuuus banget! Di dalam masjid ada liftnya juga lho, tapi rusak. Ndilalah, Indonesia kok ya..

Setelah sholat, kami menuju menara masjid setinggi 19 lantai. Jujur, sebagai cah ndeso, saya baru kali itu berada di bangunan yang tingginya 19 lantai. Untuk diperbolehkan naik lift ( tiket sih sebenarnya) kami harus bayar 5000. Lumayan dapet ’bonus’ marimas 2 sachet. Liftnya tergolong cepet lho, 1,2,3 ujug-ujug 18 trus 19. nggak sampai satu menit deh kayaknya, udah tiba di puncak. Waaaa.. jadi inget tadi di gedong songo. Nonton city view yang keren. Ada teleskop juga disana. Tapi teleskopnya kayak telepon umum. Soalnya kalau mau make harus pake koin 500an. Banyak cah ndeso yang belum pernah pegang teleskop pada antri, termasuk saya. Menurut saya, jebule biasa saja. Lebih bagus melihat dengan mata telanjang.

Puas berkeliaran di MAJT, ST berlanjut di Simpang Lima. Kami jalan-jalan di mal ciputra. Cuma di beri waktu 2 jam. Saya dan Miu, sempat foto-foto gila di photobox, hasiknya biasa saja. Lha wong Cuma 10000. setelah itu, saya ajak Miu nonton. Miu nolak, takut telat. Saya yakinkan, enggak! Kita tanya dulu, durasi filmnya berapa. Masih jam setengah 4. masih ada waktu 90 menit. Kebetulan, ada film yang mau diputar, GARUDA DI DADAKU. Waktunya 90 menit. Siip! Cocok! Berkali-kali Miu merengek, kalo telat gimana, saya bilang, nggak telat! Waktunya pas! Akhirnya kami nonton juga. Nanti deh saya kasih review film ini. Pokoknya ini salah satu tontonn wajib keluarga Indonesia! Film yang mendidik bukan seperti SINETRON atau INFOTAINMENT.
Setelah film itu usai, jam di tangan saya sudah menunjukkan jam 5 lewat 10 menit. Saya langsung lari sama Miu. Sampai di depan parkiran, Melita telpon. Saya jawab, sudah di depan Bis. Dengan wajah nyengir, saya masuk. Ternyata, benar kata miu, kami telat. Hehehe. Miu bilang, nad jangan bilang-bilang kalau kita nonton. Saya bilang, iya. Nggak bilang kok, (tapi saya posting di blog). Hheheh…

Dari simpang lima, Lawang sewu adalah tujuan berikutnya. Waktunya udah sore-sore gitu. Jadi nuansanya tambah horor. Kami masuk dengan 2 guide. Saya sama miu, gandengan kenceng banget. Takut saya nggandeng yang lain, takut bukan miu yang saya gandeng. Kami muter-muter dalam kegelapan yang hanya di terangi oleh senter. Bener-bener horor. Tapi sebenarnya bagus sih. Ada mozaik jendela kaca, yang walaupun udah sore, kelihatan baguuuuuuuuuuuus banget. Warnanya masih awet padahal lawang sewu itu dibangun 105 tahun yang lalu! Kami kemudian naik. Kata pak Guide, lawang sewu juga dippakai untuk syuting film Ayat-ayat cinta. Kami ditunjukkan flat Maria. Pancen bener jebule, mirip dengan di film. Bedanya di film suasananya nggak horor. Lalu kami menuju Gudang. Dulu, waktu jaman belanda, memang gudang, tapi saat jaman Jepang, gudang menjadi tempat PEMBANTAIAN! Saya langsung menjerti mendengar kata itu. Merinding!!!!

Ada juga lorong misteri. Konon, di lorong misteri sering muncul hantu. Kami di tantang untuk melewati berempat saja, tidak ada yang berani. Huuuuuuuuuuuu, penakut semua! (termasuk saya). Puas muter-muter, kami keluar. Lega,akhirnya keluar juga.

Dalam kondisi horor begitu, kami masih sempat foto-foto. Dasar. Jiwa narsis.

Sesunggunhnya,liburan kali ini nggak culup hanya satu posting. Tapi, piye yo? Satu tempat nggak bisa dijelaska dengan lengkap sebetulnya. Kapan-kapan deh, saya tulis lagi. Pokoknya, that’s the real holiday!!

tempat belajar