Monday, 16 March 2009

BULAN DI ATAS BALKON, sebuah cerita




Awan itu beringsut pelan. Menampilkan bulan dengan caranya yang anggun. Perlahan dari langit cahaya jingga mulai berpendar, menggeser awan yang semula menutup para bintang dan kilau sang bulan.
Dari balkon, aku termangu menyaksikan fragmen malam yang begitu memesona. Inikah purnama yang sempat kau janjikan? Dimana selalu sama sisi yang tampak, kemarin, sekarang, esok dan lusa.
Mendadak fragmen tentangmu muncul begitu saja. Ada kamu yang menemaniku mengetik tiap malam. Ada kamu yang rajin membuat kopi di pagi hari untukku. Ada kamu yang membuka pintu dengan senyum yang tak pernah surut. Ada kamu yang selalu menyediakan telinga untuk mulutku yang rajin mengomel. Ada kamu, ada beribu kamu yang terpecah menjadi berjuta sel di otakku. Begitu pula aku memahamimu, tak pernah bisa utuh.
aku masih belum mengerti mengapa kau selalu mampu memberiku sandaran saat aku lelah tanpa sekalipun kau meminta tempat bersandar layaknya wanita lain. Atau kebiasaanmu menanam melati di malam hari saat purnama menjadi raja. Belum lagi kau yang selalu menghindari obrolan para tetangga yang gemar menggosip. Kau begitu berbeda dengan yang lain. Kau unik tetapi kau tetap seorang wanita yang selalu mencintai dengan air mata. Uniknya air matamu itu justru kau tampung di sebuah botol kaca. Dengan perlahan kau kumpulkan tiap tetes air matamu lalu kau masukkan ke dalam botol kaca itu. Kau bilang itu adalah cara jitu untuk mengalihkan perhatian, sehingga kau bahkan lupa kau sedang menangis. Lalu tahu-tahu pipimu sudah kering saja.
Dan tidak hanya satu botol yang kau punya, tapi belasan. Satu botol untuk satu alas an. Begitu kau bilang. Sempat aku mencoba bertanya apa sajakah alasan itu? Kau hanya tersenyum dan berbisik, pokoknya kamu salah satunya.
Aku menjadi merasa bersalah mendengar jawaban itu. Bagaimana tidak? Aku ternyata mampu membuatmu menangis dan bahkan menjadi salah satu alasan yang paling sering.
"Tapi botolmu paling berbeda dengan yang lain. Ada dua alasan untuk satu botol."
"Dua? Kau ternyata menduakan aku dengan alasan lain?"
"Iya." Aku bersungut mendengarnya. Sesal berganti kecewa. Merasa tak terima di campurkan dengan yang lain padahal yang lain tidak.
"Aku menyatukanmu dengan cinta".
Ah, kau ini, selalu saja punya cara berbeda untuk membuatku tersenyum dan bernapas lega.
"Meski aku tahu kau menyatukan cintamu untukku dengan cinta untuk yang lain".
Setelah berkata begitu, kau akan memandangi purnama semalaman. Tanpa aku bisa mengusik atau sekedar mengucapkan selamat malam.
Kau begitu larut dalam cahaya purnama. Aku heran mengapa kau begitu khusyuk?
Apakah ada alasan gaib? Atau yang lain?
Tapi aku tahu betul kau orang yang sangat rasional. Segala kau pikirkan masak-masak. Tak ada yang meleset dari perencanaan dan keluar dari penjadwalan. Harus ada alasan yang masuk akal atas setiap tindakan yang kau lakukan. Begitu juga dengan mencintaiku.
Alasanmu kala itu adalah untuk menjadi penyeimbang hidupmu yang terlalu rasional. Kau ingin menjadi orang yang berada di tengah, tidak condong atau malah memihak sepenuhnya. Karena itu kau perlu sesuatu yang irrasional, yaitu cinta. Saat aku bertanya, mengapa aku yang kau pilih? Padahal kau tahu betul aku tidak mencintaimu.
Jawabmu enteng saja,"Itu yang akan membuat cintaku semakin tidak rasional. Jika aku mencintai orang yang mencintaiku, itu masih bisa dinalar. Aku ingin sesuatu yang diluar akalku. Kamu".
Dengan orang yang sangat taktis semacam kau, aku selalu dibuat bisu. Tak bisa menyanggah bahkan berkomentar. Kata-katamu itu selalu menjajah aku yang begitu labil. Aku yang tak pernah punya rencana, apalagi penjadwalan ketat macam kau. Kubiarkan hidup mengalir saja. Begitu juga saat bertemu kau. Aku tak pernah menarget kita akan menikah suatu hari atau bahkan saling mencintai. Aku pikir jika kita memang harus bersama, ya bersama. Seperti sabda Allah, Kun Fayakun* maryam:35.
Balik kau yang bertanya, "Sekarang mengapa kau bersama aku yang tidak kau cintai?". Jawabanku tak kalah enteng," Karena kau mencintaiku, aku hanya butuh waktu untuk mencintaimu. Tapi jika kau yang tidak mencintaiku, lebih dari sekedar waktu yang kau butuhkan".
Lalu senyummu yang manis sekali itu akan tampak berkilauan. Aku ikut-ikutan tersenyum. Begitu saja kita lalui hari-hari kita. Kau tetap kau yang idealis dan aku tetap aku yang aku. Tidak berubah sedikitpun menjadi kekamu-kamuan. Pun kamu, tak menjadi keaku-akuan.
Aku tetap belum bisa mencintaimu, selalu saja aku menduakanmu tiap hari dengan yang lain. Kau sendiri tak pernah gusar bahkan meski aku tak pernah sekalipun meyentuhmu meski kita telah diikat ijab qabul. Tetangga mulai membicarakan kita. Ada yang bilang kau mandul, ada yang menyebutkan aku selingkuh. Bahkan seorang menuduh kita menikah hanya untuk menyelesaikan kontrak.
Mungkin salah satunya benar, tapi entah yang mana. Kau tak pernah tertarik membahas hal itu, kau bilang selalu ada yang lebih penting. Yang penting aku mencintaimu dan kita seatap. Soal kau mencintaiku atau tidak, itu urusanmu. Aku tidak ingin bergantung dengan cintamu, aku mandiri. Aku bergantung kepada cintaku untukmu. Itu yang harus kau tahu."
Masalah mulai timbul saat kau mulai sering menatap langit malam, entah ada purnama atau tidak. Kau mampu duduk dibalkon sejak isya hingga menjelang subuh. Sehari dua hari aku masih mendiamkanmu, tapi beranjak hari ketiga aku mulai khawatir. Kau selalu menolak kuajak kedokter atau psikiater. Mendengar jawabanmu yang tak bisa ditawar, aku hanya bisa manut. Ah betapa sulitnya memahamimu. Kau tak pernah memberiku penjelasan mengapa kamu seperti itu. Saat aku bertanya, apakah karena aku yang tak pernah bisa mencintaimu? Kau langsung berlari menuju balkon dan mengunci pintu. Aku kaubiarkan sendiri dengan pertanyaan yang tak pernah bisa terjawab.
Sampai suatu hari aku terpaksa membawamu ke rumah sakit. Aku khawatir betul saat kau tak sadarkan diri. Dokter memvonis kau mengidap leukemia. Sebenarnya kau sudah tahu tapi tak pernah mau memberitahuku. Semalaman aku menangis disampingmu yang koma.
Hari berikutnya kau sadar dan langsung minta diantar ke balkon bersamaku. Semula aku menolak tetapi kau bilang kau hanya ingin memberiku jawaban. Lagi-lagi aku manut.
"Bulan tak pernah berganti sisi ketika bertemu bumi. Hanya yang tampak oleh mata melebar kian hari hingga penuh utuh menjadi purnama. Itulah kamu. Itulah kenapa aku selalu melihat bulan. Karena aku melihat kamu disitu. Aku yakin sekali kamu akan menjadi matahari suatu saat nanti buatku setelah kau usai menjadi bulan. Aku yakin sekali".
Aku membiarkan saja air mataku jatuh berguliran. Aku minta maaf ternyata aku belum berhasil mencintaimu, bisikku ditelingamu. Kau mengangguk lemah lalu meminta diantar kembali kekamar.
Itulah terakhir kita sempat berbicara banyak. Setelah itu kau kembali tak sadarkan diri lagi hingga sekarang. Aku mulai mencerna kata-katamu yang masih sulit kupahami itu.
Aku sadar betul aku lelaki. Aku tahu betul kewajibanku sebagai seorang muslim. Tapi sebagian hatiku ternyata menolak, menolak mencintai wanita. Aku adalah pecinta sesama yang tak pernah mewujudkannya seperti gay yang lain. Cukup di hati saja, karena aku tahu batasan. Aku tahu agama telah mengatur yang seharusnya, termasuk kewajiban menikah dengan perempuan.
Saat pertama kali aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya, kau tak terkejut sama sekali. Aku ingat betul raut mukamu saat itu. Kau juga sangat memahami, aku yang tak bisa menyentuhmu dengan cinta layaknya suami lain.
Kembali aku menatap purnama, mengapa aku kau samakan dengannya? Apakah aku akan berhenti pada penolakanku mencintai wanita? Apakah iya? Apakah aku bisa mencintaimu pada akhirnya?
Dan disinilah aku, menatap bulan lewat balkon untuk mencari jawaban. Aku mencoba mengingat segala yang pernah kita lewati. Apakah ada cinta yang pernah terpercik? Apakah ada gelora yang sempat ada?
Tepat saat bulan mulai akan tenggelam, aku dipanggil ke ruang ICU. Kondisimu semakin kritis. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut kehilanganmu. Aku ingin lagi mengulang semua yang pernah kita lewati. Aku ingin menjadi imammu lagi. Aku ingin membelai rambutmu yang halus. Aku ingin menyentuhmu dengan cinta, sebab sekarang ternyata aku sudah merasakannya.
Aku merasakan cinta kepadamu tepat disaat Izrail menjemputmu. Hadirnya rasa cinta kepadamu harus ditebus dengan kehilanganmu. Begitukah yang semula kusebut hidup mengalir? Oh, ternyata semesta ini cair, bergerak dan tak pernah berhenti berubah.


Aku memandangi nisanmu dengan haru. Kau yang menyembuhkanku. Membuatku menjadi lelaki yang seutuhnya yang dapat mencintai wanita, bukan sejenisku. Setelah membaca tahlil, aku meletakkan bunga melati yang dulu sempat kau tanam. Begitu asyiknya aku bercengkerama, sampai tak sadar gerimis mulai menyapa. Seolah ikut sendu kehilanganmu meski sudah 3 tahun kau berlalu.
"Ayo Abi, hujannya sebentar lagi deras. Nanti Faya bisa masuk angin," Nia, istriku yang sekarang mengajakku beranjak.
Sekilas kupandangimu namamu yang tertoreh dinisan sambil menggendong buah hatiku, Faya. Sedang dibawah nisan itu terbaring pula seorang Faya lain, yaitu kamu.
Aku selalu mengingatmu yang menjelma menjadi anakku.
Kau sungguh benar, kini aku mampu menjadi matahari.

tempat belajar