Thursday, 13 August 2015

Surat Terbuka Untuk Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo

Kepada Yth. Mas Ganjar Pranowo
Saya perlu matur tentang 5 hari sekolah utk SLTA se Jawa Tengah:
Dengan diberlakukannya  secara efektif jam dan hari kegiatan belajar mengajar (KBM) 5 hari (Senin-Jumat) sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB,saat  ngaji di kampung-kampung,  saya mendapat banyak keluhan dari berbagai pihak, mulai dari pengelola madrasah diniyah dan pesantren, wali murid hingga para guru SLTA. Kebijakan baru di Jateng ini dinilai secara internal memberatkan murid, guru dan sekolah, sebab anak didik dan guru mengalami kelelahan dan kejenuhan yg luar biasa. Secara eksternal kebijakan tsb mengancam eksistensi madrasah-madrasah diniyah (madin) yg dikelola masyarakat dan pesantren. Mungkin panjenengan berpikir bahwa  madin bisa diselenggarakan malam hari atau dipadatkan pada hari Sabtu dan Ahad. Namun bisa dibayangkan betapa murid sudah menjalani sehari penuh dgn kegiatan sekolah plus kegiatan ekstra kurikuler, mereka tentu sudah kelelahan. Sehingga mereka tak dapat secara optimal mengikuti KBM di Madin di malam hari, apalagi bila mereka harus belajar dan mengerjakan PR dari sekolah. Lama-lama madin akan ditinggalkan para muridnya dan gulung tikar.
   Bila madin diselenggarakan pada hari Sabtu dan Ahad, maka berarti harus menyerobot hari libur mereka, tidak pernah memberi mereka saat-saat utk melepaskan diri dari kegiatan KBM selama seminggu penuh. Kejenuhan, kelelahan dan kebosanan murid akan berimbas pada efektifitas KBM dan ketika murid merasa perlu memilih salah satu  lembaga pendidikan saja, maka mereka tentu akan memilih meninggalkan madinnya.
   Dampak lainnya, murid tidak memiliki waktu dan kesempatan utk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial di rumah atau pesantren. Mereka hanya dijejali pengetahuan secara kognitif dan secara psykis tentu bisa berakibat kurang baik.
   Bila kebijakan ini dilanjutkan dan madin-madin gulung tikar, berarti tidak ada lagi benteng yg kuat bagi generasi muda. Dgn masih bejalannya madin saja kerusakan moral sudah merajalela, apalagi bila kelak sudah tidak ada madin yg berjalan efektif.
   Mungkin Pak Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah perlu mengkaji ulang kebijakan ini agar tidak mengancam eksistensi madrasah diniyah dan pesantren demi penanaman pendidikan moral keagamaan generasi muda kita.
Trm ksh
Salam Hormat saya,
Achmad Labib Asrori, PP. Raudhatut Thullab, Wonosari Tempuran Magelang

tempat belajar