Wednesday, 3 September 2014

Sweet Escape to East of Java

Bulan kemarin, saya dan teman-teman kampus merealisasikan rencana lama kami. Jalan-jalan ke Banyuwangi. Formasi awal ada delapan orang yang berangkat, di menit terakhir, satu orang ada yang ga bisa dan akhirnya digantikan orang lain. Jadi formasi yang berangkat ada saya, Awalia, Ardian, Fadhila, Fadli, Fahmi, Fajar, dan Jalu. Kenapa harus delapan? Biar irit biaya :D

Jadi kami sewa mobil dari Surabaya, semakin banyak orang patungannya akan lebih murah. Total patungan cuma 160ribu rupiah per orang minus Fahmi, karena si Fahmi udah nyetir PP Surabaya-Banyuwangi. Kasian amat lah ya kalau harus iuran juga. Selain itu, si Fahmi udah berbaik hati 'menampung' kami di rumahnya (Fahmi asli Banyuwangi) jadi sudah amat sangat mengurangi biaya penginapan. :D

Jadi dengan uang 160 ribu saya bisa kemana saja?

1. Baluran, Africa Van Java
Dari Surabaya, lewat jalur Pantura kami langsung ke Baluran dulu. Sampai Baluran pas sore, sekitar jam setengah 4. Mengutip dari website resmi Taman Nasional Baluran nih, 
Taman Nasional Baluran atau juga lebih di kenal dengan julukannya, Africa Van Java adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Tujuan kami ke Baluran adalah Padang Savana Bekol dan Pantai Bama. Untuk sampai ke  Bekol, kami masih harus menempuh kurang lebih 11 km dari jalan Utama. Hampir 45 menit, karena akses jalan dalam Taman Nasional Baluran cukup rusak. Yang bikin saya terkagum-kagum, di sepanjang jalan yang kami lewati adalah hutan kering karena sedang kemarau. Namun. ada satu area yang bener-bener hijau., evergreen. Jadi area ini selalu hijau sepanjang tahun. Nah antara daerah hutan kering dan hutan hijau ini ngga ada sekat, alami gitu. Saya takjub. Perbedaannya sangat drastis. Sayang ngga sempet foto, karena keasyikan takjub. :(

Setelah itu padang savana Bekol. Ini bener-bener Afrika. Beneran. Rasanya kayak ngga di Indonesia.
Africa van Java
Di Taman Nasional Baluran, terdapat hewan-hewan yang hidup secara bebas. IYAK, BEBAS TANPA KANDANG. Yang kebetulan kami lihat ada monyet, rusa, merak dan banteng, IYAK BANTENG NGGA DI KANDANG. LARI-LARI HAPPY DENGAN KAWANANNYA.

Bantengnya happy banget dilepas liar

 Jadi akhirnya kami ngga berani turun dong, sempet turun tapi langsung ngacir waktu banteng-banteng nan gagah itu lari ke arah kami. Langsung semua masuk mobil.
Kalau tinggal tengkorak banteng, kami baru berani turun. :D
Setelah puas dikejar banteng, kami meneruskan perjalanan ke Pantai Bama. di Pantai Bama banyak monyet. Saya ulangi, BANYAK MONYET. karena saking banyaknya, jumlah manusianya kalah. Jangan dilihat mata-mata monyet ini kalau Anda tidak ingin dikejar monyet. Jangan juga bawa hape atau dompet atau benda lain yang bisa menarik perhatian monyet.
Pantai Surut dan Monyet

Sayang saat kami sampai di Pantai Bama, laut sedang surut. Jadi jelek deh pantainya :( tapi kami tetep selfie :3
Behind the Selfie.
Setelah itu, kami langsung meneruskan perjalanan. Karena waktu sudah senja dan karena ini Taman Nasional, ngga ada lampu. Kami juga sudah diwanti-wanti untuk keluar sebelum jam 18.30. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi kota, ke rumah Fahmi. Pukul 8 malam kami sampai. lanjut beristirahat dan tidur sejenak plus makan malam. Setelah itu, jam 11 malam kami langsung menuju..

2. IJEN, THE BEAUTY OF BLUE FIRE
Sebenarnya ini main destination kami. Kepingin lihat natural blue fire yang konon hanya ada dua di dunia. Satu di Indonesia dan satu di Kanada. Kalau ngga natural bisa lihat dimana? Kompor gas. :D
Sehari sebelumnya, saya sudah jogging. Awal menyuruh kami mempersiapkan fisik biar tidak kaget saat harus mendaki Ijen. Rupanya, setelah berbulan-bulan ngga pernah olah raga, mendaki gunung ini lumayan juga menguras tenaga. Tapi saya emang ngga pengen berhenti terlalu sering dan terlalu lama, karena dingin.

Sebelum berangkat, Ibu sudah membekali saya dengan senter dan gula merah. Untungnya saat kami mendaki, sedang bulan purnama jadi jalanan cukup terang, dan untuk gula merah ini ternyata sangat membantu. Saat kecapekan saya emut saja secuil gula merah, langsung punya tenaga lagi! Waw! Karena dingin, saya pake sweater ditambah jaket, plus kaos kaki, kaos tangan. Dingin emang. Lha kok pas di atas ketemu bule cuma pake tanktop. T.T

dan ternyata saat saya kesana sedang peak season, karena summer. Jadi buanyaaaak banget bule. Untuk sampai ke puncak, saya dan teman-teman butuh waktu 90 menit. Nah, untuk melihat blue fire, kami harus turun ke kawah. Nah turun ke kawah ini cukup berbahaya karena jalan terjal dan berbatu. Salah pijak kami bisa cedera terantuk batu-batu gede. Alhamdulilah saya dan kawan-kawan selamat sampai kawah. Kami sudah diwanti-wanti oleh Fahmi untuk menggunakan masker yang dibasahi. Untuk apa? Menahan serangan mendadak asap belerang. Masker biasa tidak mempan, jadi usahakan kalau mau ke ijen pakailah masker yang emang standar untuk gas beracun (banyak bule yang pakai) atau masker kain yang bisa dibasahi.

Blue Fire
Ih kok biasa aja? Iya soalnya kamu lihat pake lensa kamera, you'll be amazed when you see it by your own eyes. Bagus banget. Untuk turun ke kawah, kira-kira perlu waktu 45 menit. Begitu sampai di bawah, saya langsung kena serangan belerang :( Akhirnya, saya dan Fadli memutuskan untuk naik ke puncak, karena takut dengan serangan belerang. (iya kami cemen) sementara yang lain masih betah di bawah. Yakali, naik turun susah lihat blue fire 10 menit doang.

Di puncak kami disambut dengan hawa dingin yang SubhanAllah! ditambah dengan gerimis :( untung Fadli bawa payung. Kami menunggu yang lain naik ke puncak dan memutuskan menunggu sampai subuh, untuk mengambil foto kawah. Sayangnya, udah dibela-belain kedinginan dan kehujanan malah ada kabut :( jadi kami ngga bisa dapet foto kawah :(

Udah dibelain-belain kayak gini sampai nyaris hipotermia :(
Malah jadi tukang ronda begini di tengah belantara kabut
Akhirnya, setengah tujuh kami memutuskan untuk turun dan cari sarapan. Kami menuju warung Tempong, rekomendasi Fahmi. Ini pedesnya nampar abis! Setelah kenyang, kami balik sebentar ke rumah fahmi, balikin sarung (iya yang saya pake itu) dan barang-barang lain yang kami pinjam. Setelah itu kami langsung lanjut ke...


3. PANTAI PULAU MERAH, SURGANYA OMBAK
Awesome. Pantai ini garis pantainya puanjaaang dan masih bersih. Ombakya gede dan pasirnya putih. Sayang kurang beruntung jadi ga ketemu bule-bule surfing. So far, karena saya suka pantai yang sepi. Saya menikmati banget pantai ini. :)
No caption needed
Overall, saya dan kawan-kawan menikmati perjalanan kami ini :) setelah puas main di pantai. Kami mampir ke rumah Neneknya Fadjar untuk istirahat dan makan siang :D akhirnya sempet tidur juga, tapi malah jadi pegel semua :(
Setelah itu menjelang maghrib kami melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya. Sempat terjebak macet dan berkali-kali berhenti karena Fahmi kecapekan (ya iyalah dua hari nyetir nonstop tanpa istirahat) kami sampai di kampus lagi pukul 7 pagi :D

Kalau ada yang ingin ditanyakan bisa komen di postingan ini atau ke ask.fm/nadaharoen :)

tempat belajar