Friday, 25 October 2013

200 Kata

Dari milyaran manusia di dunia, hanya ribuan orang yang pernah berinteraksi denganku. Dari ribuan orang itu, hanya seratus yang memiliki kenangan menarik. Dari seratus orang, hanya satu orang yang dengannya setiap kenangan selalu kurindukan. Kamu.

Kamu, yang menemaniku sejak aku hanya satu sel di rahim Emak. Kamu, yang menemaniku bersama-sama melihat dunia pertama kali. Kamu, yang menjadikan kenangan masa kecil penuh canda dan gelak tawa. Kamu, yang membuat sesengit apapun perdebatan—seperti apakah mahasiswi hukum itu lebih keren dari mahasiswi pertanian—menjadi layak dikenang.

Kamu dan segala kenangan itu semakin kurindukan saat kita mulai berpisah beda kota untuk menuntut ilmu yang berbeda. Kamu dan segala kenangan itu menusukku tepat di ulu hati, setiap hari, dengan rasa rindu tak terperikan sejak kamu menghilang pada suatu hari di Mei 98. Kata orang-orang kamu diculik, Emak dan Bapak panik. Segala informasi terakhir tentangmu kutelisik, tapi tak ada kejelasan.

Kini, setelah kita bersama-sama lagi di tempat ini dan mendengar langsung darimu bagaimana saat itu kamu disiksa hingga meregang nyawa hanya karena mencoba melahirkan reformasi, benakku penuh tanda tanya, apakah mereka yang menyiksamu adalah manusia tanpa kenangan dengan orang yang selalu mereka rindukan? Tak pernah ada jawaban pasti, hanya kulihat dari sini, Indonesia semakin mendung.

---
Sebuah cerpen yang saya ringkas menjadi 200 kata :)

tempat belajar