Friday, 10 August 2012

Aku Ingin Pulang



Aku duduk gelisah di bangku taman. Aku menunggu tanpa tenang di bawah lampu taman yang temaram. Aku sendirian di bawah gerimis malam.
Kamu tak lagi datang.

Menyaksikan jalanan yang penuh sesuk kendaraan, membuatku merasa menoleh ke diriku sendiri. Jalanan selalu dipenuhi oleh orang-orang yang terburu-buru. Terburu-buru ke kantor, terburu-buru ke rumah, terburu-buru ke sekolah, terburu-buru ke kampus, terburu-buru ke mall, terburu-buru ke pasar, terburu-buru ke segala tempat yang bisa diburu. Dan di kota, semua sudut memang menjadi tempat perburuan.
Aku rupanya telah salah memilih jalan. Aku menjadi bagian yang terburu-buru. Seolah waktu tak lagi mau menunggu, seolah aku harus berpacu dengan detak jantungku sendiri. Kemudian aku menggenggam tanganmu, menyeretmu. Tapi begitu aku berhenti di taman ini, aku sadar, tanganku tak lagi menggenggam apa-apa.
Kamu tak lagi disini.

Kamu selalu mengatakan kita ini dua mahluk yang begitu berbeda. Spesies kita saja homo sapien, namun nyatanya perbedaan kita tak cukup lagi ditulis dalam agenda—masih ingatkah kamu kita membeli agenda yang sama bersama-sama, agenda bersampul biru itu?—yang kini penuh coretan angka-angka. Kamu mengatakan perbedaan kita saling mengisi, kekeraskepalaan kita membuat kita tetap tegak berdiri dan rasa sayang ini yang membuat kita tak bisa pergi. Untuk yang terakhir aku sangsi.

Aku sangsi, aku kah atau kamu kah yang mengatakannya? Atau itu hanya dalam angan-anganku saja? Nyatanya, kamu tak lagi ada disini. Nyatanya aku sendiri.

Ibaratnya kita mengendarai mobil, sebelum berangkat kita telah sepakat akan memacu mobil pada kecepatan konstan 40 kilometer per jam. Semua berjalan baik hingga sampai akhirnya kamu sadar, aku mempunyai kecenderungan suka balapan. Kamu memperingatkan. Bahan bakar kita belum cukup, keahlian kita mengemudi masih dipertanyakan. Kamu menolak menambah kecepatan.

Aku kemudian turun dari mobil. Kamu merasa perlu mengikutiku, mengejarku. Kemudian menenangkan. Kamu mengajakku menatap horizon.

Lihat, sayang. Nanti hingga ujung ufuk, kamu akan tetap kupeluk”. Aku rasakan pelukmu hangat, suaramu bersahabat.
Tapi aku tak bisa berlari. Aku tak bisa terbang..”

Kita kemudian memutuskan berjalan pelan. Sambil menikmati pemandangan di sekeliling. Sesekali berhenti untuk menikmati pelangi, menertawakan dua kucing yang berkelahi atau sekadar merasakan sejuknya embun pagi. Kita berjalan beriringan.

Hingga akhirnya, bagian diriku yang terburu-buru itu muncul kembali. Menarikmu. Menyeretmu. Aku begitu semangat berlari hingga tak menyadari genggamanku tak erat lagi, genggamanku kosong tanpa kamu sama sekali.

Lalu, disinilah aku berhenti, Sayang. Aku tak tahu kamu dimana, aku tak tahu aku berada dimana. Yang kutahu, aku tak mencapai apa-apa.
Aku sendirian sekarang, Sayang. Hujan sudah turun sejak tadi. Tak apa, justru tangisku menjadi samar. Aku sekarang mencoba berjalan kembali, menilisik jejak keterburuan. Sebentar-sebentar, kudengar petir menyambar.

Aku duduk memeluk lutut, takut. Andai kamu disini, tentu kamu akan berkata halus sambil mengelus kepalaku. “Tak apa, ada aku disini”.

Tapi kamu tak ada disini, tak ada yang mengelus kepalaku. Yang ada hanya petir menyambar-nyambar.

Sungguh aku ingin pulang, ke pelukmu..

Temanggung, 10 Agustus 2012

tempat belajar