Thursday, 19 April 2012

Ketika Hari Itu Tiba

Seorang menanyai saya pagi ini, “Kapan menulis lagi?”.
Sebuah pertanyaan yang selalu menampar saya berkali-kali, meneteskan cuka di atas luka. Perih dan ngilu. Saya tahu hari itu akan datang.
Hari dimana jemari saya terlampau lemah untuk sekadar menggenggam pena. Hari dimana jemari saya tak lagi punya tenaga untuk sekadar menyentuh keyboard. Hari dimana suara saya terkunci di pita suara dan saya tak lagi bisa bercerita apa-apa.
Ketika hari itu tiba, bukan karena imaji saya mati suri atau saya kehilangan daya khayal fiksi. Saya sudah menua, ketika hari itu tiba.
“Maka saya akan mendengar cerita-cerita kamu, dengan menatap matamu. Saya selalu sadar, mata kita adalah dua pasang mata yang selalu saling bicara dengan bahasa yang tak mampu didengar telinga kita, pun telinga lain.”
Hati saya tenang. Kamu adalah tempat segalanya memusat. Kamu adalah tempat segalanya berangkat. Kamu adalah mata air semua imaji, diksi dan puisi. Kamu adalah alasan saya menulis semua ini. Kamu adalah sebuah jaminan, cerita, puisi maupun sajak saya tidak hanya berakhir di tempat sampah. Kamu adalah pertanda, cinta tak pernah lengah.


Kamu, cinta itu sendiri.

tempat belajar