Wednesday, 18 August 2010

takut menyesal (alasan saya nangis)

Ini soal ketakutan. Ralat lebih tepatnya, ini bayangan soal penyesalan. Ya, saya takut menyesal.

Bermula dari membuka halaman facebook dan saya menemukan di dinding seorang kawan tentang kematian kawan dari kawan saya itu. Almarhum Kahai AT (Allahu Yarham), seorang mahasiswa UGM jurusan hukum angkatan 2006. Mengalami kecelakaan, lantas koma dan akhirnya meninggal.

Entah karena apa saya tergerak untuk membuka halaman facebook mas Kahai ini dan saya menemukan begitu banyak ucapan selamat jalan. Orang ini semasa hidupnya, ternyata begitu dicintai banyak orang.

Sampai akhirnya jari saya refleks meng-klik link note di halaman facebook almarhum. Seorang gadis menuliskan note tentang Almarhum, seorang gadis yang dicintai Almarhum.

Satu yang saya tangkap, keduanya saling mencintai tapi tak pernah ada ungkapan. Ini yang disesalkan oleh sang gadis.

Ini yang membuat saya merinding. Ini yang membuat saya menangis.

Mengapa?

Well, saya nggak akan bicara dari sudut agama, penghambaan atau ibadah. Itu lebih berat lagi, soalnya. Saya akan cerita dua hal.

Pertama. Saya sadar maut itu datang tanpa prediksi. Sekarang saya masih bisa memposting untuk blog saya ini tapi siapa tahu besok saya mengalami kecelakaan lantas meninggal seperti mas Kahai? Tidak ada yang menjamin saya masih hidup besok. Saya yakin, Anda pasti sudah sering mendengar ungkapan semacam itu dan mungkin nyaris terdengar klise. Tanggapan yang apatis bisa jadi seperti ini,”Iya, gue tahu. Mati ya mati aja. Yang penting sekarang gue happy”. Bisa jadi, lho.

Tapi akan terasa beda jika ungkapan itu lahir karena Anda melihat secara nyata, seorang Pemuda, yang begitu gagah, cerdas, baik, muda dan sehat tanpa diduga menghadapi kematian. Unpredictable.

Karena kematian begitu unpredictable, saya jadi punya pertanyaan, kalo saya mati besok apa yang sudah saya tinggalkan hari ini?

Untuk alasan pertama ini, saya masih merenung, belum nangis Bombay.

Kedua. Mas Kahai ini belum sempet menyatakan cinta ke gadis yang disukainya. Ini yang bikin saya nangis Bombay.

saya kemudian membayangkan diri saya ada dalam posisi si cewek. Dalam kasus saya, saya yang belum sempat membalas ucapan cinta (cewek dalam kasus mas Kahai juga begitu). Kita sebut cowok dalam kasus saya ini masnico begitu (nama asli disamarkan).

Saya dapet kabar dari teman masnico kalo masnico kecelakaan dan sekarang koma. Saya kelabakan, bingung, pengen cepet nemuin. Karena kami beda kota saya akhirnya njebol tabungan dan naik pesawat karena ngga pengen kehabisan waktu. Sampai disana, saya lihat masnico tergeletak lemah, tubuhnya dipenuhi selang dan kabel. Di sebelahnya ada oscilope yang menunjukkan detak jantungnya, detak jantungnya yang melemah.


Saya melihat mata masnico tertutup. Saya genggam jemarinya, entah dia merasakan atau tidak, lantas saya berbisik di telinga masnico,” I Love You”.
Setelah itu oscilope menunjukkan sebuah garis lurus. ------------------------

Masnico meninggal. Saya menangis. Betapa saya tidak menjawab dari dulu kata itu padahal saya juga merasakannya.

Serius. Meski itu hanya terjadi dalam benak saya, sesore tadi saya menangis sampai mata saya bengkak. Saya tidak ingin terlambat dan melewatkan banyak kesempatan untuk menjawab hingga akhirnya saya harus berebut waktu dengan maut. Sungguh saya tak mau Tuhan.

Saya tidak ingin itu terjadi, dan apa yang ada dalam benak saya itu jelas bukan doa. Itu hanya sebuah bayangan buruk yang sangat bisa terjadi.

Posisi kedua. Saya yang koma. Saya yang tidak bisa menjawab lagi pernyataan cinta masnico. Apakah masnico akan tahu betapa saya menyayanginya? Ralat, betapa saya mencintainya?

Saya nangis Bombay lagi. Benar-benar nangis Bombay.

Masnico, semoga kamu baca dan tidak tertawa, saya beneran nangis.

tempat belajar