Thursday, 4 April 2013

Sebuah Rumah Bernama Kita

Dia baik. Kami berakhir baik-baik.

Terdengar klise, saat saya berulang kali mendengar atau membacanya soal alasan ketidakcocokan para publik figur. Pada titik ini, akhirnya saya sadar, segala yang klise itu tak sepenuhnya klise. Saat kita berada pada titik yang sama dan tak tahu bagaimana menjelaskan titik itu dengan nalar, dengan logika dan kalimat sederhana.

Bukankah dua orang yang saling menyayangi dan sama-sama mengetahui fakta itu bisa menjalin hubungan dengan baik? Biasanya begitu, di akhir roman picisan, ketika si tokoh menyatakan perasaannya dan lawannya memiliki perasaan yang sama itulah akhir dari sebuah cerita bahagia. Happily ever after.

Benarkah begitu?
Manusia yang begitu kompleks, tak bisa hanya hidup dengan cinta semata. Ia butuh berbagai keseimbangan untuk bisa tetap hidup bersama manusia lain, untuk tetap menjadi mahluk sosial. Pengertian, menerima, memahami, memaafkan, merelakan, toleransi dan berbagai kosa kota yang lazim kita dengar di pelajar Kewarganegaraan saat duduk di bangku sekolah. Hubungan dua manusia yang spesifik, lebih dari sekadar interaksi sosial. Interaksi intuisi, interaksi hati.

Jelas interaksi ini akan lebih kompleks dari sekadar interaksi sosial biasa. Lalu dimana masalahnya?
Seringkali dua orang baik bertemu, aku dan kamu, namun kita gagal menjadi kita.
Seringkali dua orang baik mencintai, namun gagal menerima satu sama lain.
Seringkali dua orang baik bersatu, namun gagal untuk tetap mempertahankan.
Yang paling menyesakkan dari itu semua adalah.
Seringkali dua orang baik bertemu, gagal menjadi satu namun tak bisa menyadari dan menerima hal itu kemudian tersesat dalam perasaan masing-masing.

Pada saat itu, bahkan GPS tak bisa membantu menemukan posisimu untuk kemudian pulang ke sebuah rumah bernama kita.




tempat belajar