Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Wednesday, 27 November 2013

Panataran Ekspress, Journey to Malang.

02:30 0 Comments
Last week was the first time for me to go to Malang by train. Actually, there are two options if you want to go to Malang from Surabaya, Panataran or Panataran Ekspress. The difference between thewe two are price and time. Panataran is only cost 4000IDR, meanwhile Panataran Ekspress is much more expensive, 20000IDR. But this price is worthed, you just need 2 hours to travel from Surabaya to Malang by Panataran Ekspress. That's why, I choose Panataran Ekspress.

My Tickets
On my first way, Surabaya - Malang, I was a bit dissapointed because the train was late due some technical problem. So I spend more than 2 hours on train. But, I enjoyed because it wasn't crowded. Here are some looks on the train.

Source power, you can use your laptop or smart phone with no worries of lack power

Usually, when I travel, I am worried about electricity since my smartphone battery can drop so fast when I am using it along the way. Altough I have power bank, I feel assured more when there is an power source (socket outlet) so I can charge my phone. I found two socket outlets in every seat, that makes me enjoy the train more!

The Air Conditioner is also good enough. Usually, in Indonesia when you travel using public transportation in economy class, there is no AC. But PT KAI ( Indonesia company that manage train) now has new rule, economy class also has AC.

If you go to Malang or to Surabaya using Panataran Ekspres on weekdays, there are only few passengers. But on the weekend, all seats are full.  So, I suggest you to buy the ticket one week before if you want to use this train. Don't buy it on the same day as you travel.

Here's the train schedule.
From Surabaya Gubeng Station 7.10 AM, 12.25 AM and 5.45 PM Everyday
From Malang Kota Baru Station 4.30 AM, 9.50 AM, 3.10 PM Everyday
Promotion Banner
Panataran Ekspres
If you want to go to Malang from Surabaya, I reccomended this to you! Happy traveling!

Thursday, 4 July 2013

Long Way to Minions

22:38 0 Comments
Apa yang akan kamu lakukan jika kamu sedang berada jauh dari kota, dengan akses jalan yang jelek sampai taksi pun enggan menuju tempatmu dan kalau naik angkutan umum butuh waktu lebih dari sejam tapi kamu pengen Despicable Me 2?

Jawabannya sederhana. Ya udah, nonton aja.

Itulah yang kami berempat lakukan kemarin malam. Setelah saya dan Luluk benar-benar tersihir oleh Banana Song para Minions (iya kami sampai hafal liriknya, hafal banget) kami mulai meracuni Dadang dan Aji untuk nonton Despicable Me 2 dan berhasil. Mereka kepingin juga.

Setelah pulang kantor, makan dan ganti baju kami bergegas berangkat ke BSD City, kota terdekat. Naik apa , Nad? NAIK ANGKOT LAH. apalagi. Perjalanan mulai jadi berat ketika jalanan macet. Let's me describe to you. Jalanan Cicangkal Serpong itu rusak parah dan tiap hari dilewati truk-truk pengangkut pasir dari Serpong menuju Jakarta. Nah, how lucky we are, kemarin adalah saat ada satu truk tronton mogok dan jalanan macet parah. Kami terjebak, supir angkot bete dan menyuruh kami pindah angkot. Kami pindah angkot dan next supir angkot bete juga. Pupus sudah harapan kami untuk nonton DM2, memutuskan balik ke LAPAN saat next supir angkot ternyata memilih jalan alternatif menuju Prancis, Perempatan Cisauk, tempat dimana kami harusnya turun dan ganti angkot lagi. Setelah nego, ternyata next supir angkot menawarkan untuk mengantarkan kami sampai ke Teras Kota, mall tempat kami akan nonton. setelah nego, jatuh harga 50ribu.
Sorry for bad picts, diambil dari atas jembatan penyeberangan :D

Itu angkot apa taksi, Nad? Iya itu angkot -__-"

Dan ketika lewat jalan alternatif, ternyata jalanan yang kami tempuh bener-bener alternatif. Sempit dan melewati perkampungan. Yang serem adalah ketika di jalanan super sempit itu, angkot kami papasan dengan angkot lain. supir angkot menepikan angkot ke sebelah kiri yang saat itu saya sadar, sebelah kiri adalah lereng tanpa pembatas jalan dan jarak kami dari lereng itu kurang dari 30cm.

Tapi selamat kan, Nad? Alhamdulilah iya, buktinya ini masih bisa posting di blog.

Sesampainya di Teras Kota dan tolah-toleh di Blitz Megaplex karena cari tempat jual tiket (this is our first time on Blitz, maklum di Surabaya cuma ada XXI), kami antri juga dan antrian sudah mengular parah. Kami sudah kehabisan tiket yang tayang jam 19.40 karena hanya tersisa baris paling depan, akhirnya pilihan jatuh pada DM2 3D jam 20.20. Tadinya agak males beli tiket 3D karena lebih mahal, tapi ternyata ngga nyesel beli tiket 3D.
Lumayan dapet seat belakang meskipun ngga di tengah :)


Sepanjang film, saya dan Luluk nggak bisa berhenti ketawa. LUCU. LUCU BANGET. Apalagi kalau bukan minions. Apalagi pas diakhir film ada lagu super lucu, Underweaaaar... Apakah itu? tonton sendiri saja. :D

Kalau dari segi cerita, menurut saya cerita lebih kuat di Despicable Me. Despicable Me 2 rasanya bener-bener menjual kelucuan dan ketololan para Minions dan itu ngga salah karena memang alasan pengen nonton DM2 ya karena Minions. Jadi meskipun plot ceritanya sangat tertebak, karena kelucuan minions I give 8 out of 10 stars for Despicable Me 2.


Thursday, 27 September 2012

Salamander Big Band Concert

22:52 0 Comments
I knew about this concert from email. Since I subscribe to Wisma Jerman, they always send me an email whenever they hold an event. And this concert is one of interesting event that I like. Why? Because it's free :-D . Before I start about how cool the concert was, I will tell you about WHO is Salamander Big Band, in case, you never know about this band like me before.

Salamander Big Band was founded in 2006 by some jazz musicians and music lovers on Earth Sangkuriang, Bandung. In the following years they practice regularly and perform at various events such as the national jazz festival "JakJazz" and "JavaJazz". I've visited their official website  to get more information about them, but it seems still on progress. One thing that I know for sure, they're awesome,

The concert itself is  in celebration of its sixth anniversary of the Goethe-Institut. They organized a workshop and three concerts in Bandung, Surabaya and Jakarta. A young musician from the German city of Lübeck, Jann Hansen, working with Salamander Big Band for a month in the workshop program. While the composer Dieter Mack - also from Germany - invited by the Goethe-Institut to work with Salamander Big Band to prepare the peak concert dedicated in honor of Peter Herbolzheimer. Peter Herbolzheimer (31 December 1935[1] – 27 March 2010) was a German jazz trombonist and bandleader. Prof Mack said that Peter is the legend of Jazz from German.

Peter Herbolzheimer
The concert took place on Cultural Garden Building, Cak Durasim at 7 PM, September 21th . The concert was started on time. I was so curious, how the jazz concert will be. Since that was my first experience to see a jazz concert.
The concert was divided into two part. Opening song was Just Like that.

At the first time, I imagined my self would get bored. Since It's only instruments. But I was wrong! I was exited during the concert! It was amazing!
Sorry for the bad pics

Salamander Big Band Concert
They played many songs. Some of them also had vocalists. The vocalists were Mrs Nenden and Mr Gyle. One thing that special about Mrs Nenden is she is blind. But she has wonderful voice. When I heard she sang, I felt like somebody told me to believe that every person has their own talent, every person is special. And there's no reason to give up no matter what happened on us.

Beside her amazing voice, another thing that make me exited was Salamander Big Band itself. They played well. Oh, not well, I'm sorry. They are fabulous. Even when there was a solois part. Each person played perfectly, wether it was bass, or piano, or flute, trombone, saxophone or trumpet.

On the first part of the concert, they played Peter's creation or arrangement only. Such as, Just Like That, I Was You Love, Heat Land, Blues in Latin, Damn Their Eyes and Mis Your Highlander. Prof Dieter Mack, also told the audience during the concert that Peter Herbolzheimer also combine blues and swing on his music. On the second part, they played from other musician also, including Prof Dieter Mack. Sunda Jaive and Trave Line are Prof Dieter Mack's. Other songs were, Computer, one song from Bubby Chen (I'm sorry, I forget the title) and Smile. Smile is quite interesting since it was Charlie Chaplin's creation. I even recorded that part :-D 
here's the lyric
Smile though your heart is aching
Smile even though it's breaking
When there are clouds in the sky, you'll get by
If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You'll see the sun come shining through for you

Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
That's the time you must keep on trying
Smile, what's the use of crying?
You'll find that life is still worthwhile
If you just smile

That's the time you must keep on trying
Smile, what's the use of crying?
You'll find that life is still worthwhile
If you just smile



So what is the conclusion? I Love Jazz! I want more! :))

Friday, 22 April 2011

3 Film, 3 Genre, 1 komentar: Tonton Semuanya!

09:48 6 Comments
Gnomeo and Juliet , ?, dan Fair Game. Ketiga film ini saya tonton di tiga bioskop yang berbeda dalam waktu satu bulan terakhir dan saya puas nonton ketiga-tiganya. Tiap film dari tiga film yang saya sebut ini punya keunikan tersendiri dan selalu membuat saya tersenyum lebar setelah menonton ketiganya.

Gnomeo and Juliet berkisah tentang dua patung taman dari halam rumah yang berbeda namun saling jatuh cinta. Patung-patung kurcaci taman ini ternyata hidup ketika pemilik rumah meninggalkan rumah. Nah, sayangnya kedua pemilik rumah yang meskipun tinggal berseberangan ternyata bermusuhan. Hal ini juga terbawa hingga ke patung-patung kurcaci tersebut. Tapi akhirnya, dua kurcaci dari taman yang berseberangan ini jatuh cinta. Tentulah itu Gnomeo dan Juliet. 

Oke, oke. Emang ini cerita Romeo and Juliet banget. Bahkan di tengah film ada Shakespeare juga. Jadi jalan ceritanya kayak apa, bisa ditebak. Cinta Gnomeo dan Juliet ditentang habis-habisan.

Film ini jelas menarik karena animasinya yang lucu. Patung-patung kurcaci yang imut itu dan juga ada patung kodok yang selalu bikin saya tertawa. Tapi terlepas dari animasinya yang waw, film ini menarik buat saya karena endingnya yang ngga seperti cerita Romeo dan Juliet. Emang kaya apa endingnya? Tonton sendiri doooong :P

Next, ”?” alias Tanda Tanya. Saya suka film Indonesia dari sutradara-sutradara yang namanya udah jadi jaminan. Meskipun beberapa kali kecewa dengan film Hanung, semisal Ayat-ayat Cinta, kali ini saya bener-bener penasaran sama film satu ini karena bawa-bawa Banser NU segala. Sebagai seorang warga Nahdliyin, saya jadi penasaran.

”?” berkisah tentang perbedaan agama dan konflik yang muncul di tengah masyarakat karena perbedaan itu. Dan apa yang dipaparkan Hanung di film ini bener-bener real, benar-benar terjadi. Semisal olok-olokan terhadap etnis lain, pengucilan di tengah masyarakat karena pindah agama, masalah rumah tangga karena suami terlalu lama menganggur, hingga percintaan yang harus kandas karena beda agama.

Kata temen nonton saya, Film ini memang harus ditonton sambil berpikir, kita ngga boleh nonton apa adanya tanpa memahami lebih jauh. Saya ambil satu contoh, ketika Surya, seorang Muslim, memerankan tokoh Yesus saat drama penyaliban di malam Natal. Hal ini tentu menimbulkan kontroversi, baik di dalam film maupun di luar film, sampai-sampai MUI ikut-ikutan mengeluarkan fatwa.

Kita tidak bisa serta merta menghakimi begitu saja bahwa Surya itu kafir. Di situ Surya bekerja dan soal keimanannya, hatinya terjaga. Sekali lagi, iman itu soal hati dan kita tak bisa menghakimi dari apa yang kita lihat sepintas saja. Saya ingat kata-kata Pastur di film itu, 
”Keimanan seseorang tidak akan berubah hanya karena sebuah adegan drama”. 
Benar-benar pesan yang bagus.

Dan masih ada banyak pesan bagus di film ini yang membuat saya merekomendasikan film ini untuk ditonton. Inilah salah satu film Indonesia yang bermutu!

Film ketiga, Fair Game. Ternyata ini film yang berdasarkan kisah nyata. Ceritanya cukup seru dan informatif. Mengapa? Karena dari film ini saya baru tahu ada kasus mengenai Joe Wilson dan istrinya, Valerie Palmes yang berkaitan dengan perang irak. Film ini menceritakan bagaimana kebohongan alasan invasi irak. Valerie Palmes dan tim CIA-nya sesungguhnya tidak menemukan sama sekali adanya mesin penghancur masal ataupun bom nuklir di Irak. Tapi seorang staf kepresidenan menekan CIA yang seolah melupakan adanya temuan tabung uranium.

Film ini memang membuat berpikir, bukan jenis film santai, tapi jelas ini film yang sangat bermutu. Saya jadi tahu bagaimana Gedung Putih yang semena-mena membuat keputusan invasi Irak. Saya juga belajar menjadi warga negara yang setia kepada Negara dengan memperjuangkan kebenaran bukan dengan tunduk dan menerima semua apa yang dikatakan penguasa. Karena kita adalah negara demokrasi dan memang demokrasi itu tidak mudah (saya merasa bagian ini agak nyambung dengan pengkaderan. Haha :D )

Jadi kalau anda ingin nonton komedi animasi, ada Gnomeo and Juliet. Kalau drama Indonesia bermutu, ada ”?” (Tanda Tanya) dan kalau ingin film yang berbobot ada Fair Game. Ketiganya ngga mengecewakan, paling tidak untuk penikmat film seperti saya.

 Jadi, mau nonton yang mana? ;)

Tuesday, 2 March 2010

Lagu yang Bikin Saya Kesengsem

23:54 6 Comments
Saat sedang belajar untuk pra UN matematika besok, Lek Oying, Om saya memutar lagu ini yang terdengar sampai kamar saya. Langsung saya cari liriknya dan saya jatuh cinta dengan lagu ini. Kebetulan yang saya dengar bukan versi Drew Barrymore dengan Hugh Grant, tapi Sabrina. Suaranya empuk sekali. Bikin saya tambah kesengsem dengan lagu ini. Here’s the lyric :

Way Back Into Love
Songwriters: Schlesinger, Adam

I've been living with a shadow overhead
I've been sleeping with a cloud above my bed
I've been lonely for so long
Trapped in the past, I just can't seem to move on

I've been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need em again someday
I've been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
Oh oh oh

I've been watching but the stars refuse to shine
I've been searching but I just don't see the signs
I know that it's out there
There's got to be something for my soul somewhere

I've been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night

I could use some direction
And I'm open to your suggestions

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I'm hoping you'll be there for me in the end
oh, oh, oh, oh, oh

There are moments when I don't know if it's real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I'm hoping you'll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I'll be there for you in the end
oh, oh, oh, oh, oh


lagu ini, saya banget. Saya adalah tipe orang yang mudah kesengsem dengan lagu romantis macam ini. Hehehe,
And if I open my heart again
I guess I'm hoping you'll be there for me in the end
oh, oh, oh, oh, oh


aduuuuh, tu kan saya cengar-cengir sendiri denger lagu ini.

selain lagu ini, lagu yang bikin saya cengar-cengir juga lagunya jason marz, Mr. Curiosity. very recommended song, deh!

oke, oke, balik ke kehidupan nyata. mari belajar matematika kembali. :D

Saturday, 14 November 2009

resensi film GIE

03:25 3 Comments

well, sebenarnya ini resensi yang sangat telat, tapi karena merupakan tugas dari sekolah dan saya pikir mungkin berguna, jadi saya post aja ya..
*actually, tugasnya uda kemarin-kemarin juga sih :D*

SOE HOK GIE

Gie, semangat pembaharu sejati
Film Gie yang mengambil setting antara tahun 1956-1969 ini menceritakan tentang kisah hidup Soe Hok Gie, pemuda Indonesia keturunan Cina yang aktif menetang kesewang-wenangan penguasa melalui tulisan-tulisannya. Sejak kecil, Gie memiliki kepekaan sosial dan budaya yang melampui teman sebayanya. Ketertarikannya pada sastra dan bacaan membuatnya secara alamiah untuk terus menulis, mencatat apa yang terjadi di sekelilingnya dan Gie melihat segala yang terjadi secara kritis dan berpihak kepada rakyat-rakyat yang tertindas.
Saat duduk di bangku SMA, Gie bahkan berani mengatakan bahwa demokrasi terpimpin bukanlah demokrasi. Hal ini tentu sangat ‘berani’ dalam kondisi yang serba tidak menentu pada saat itu. Keberanian Gie tersebut makin menjadi setelah dia menjadi mahasiswa fakultas sastra UI. Di sana pikirannya semakin terasah dan di sana pulalah Gie menemukan sahabat-sahabat yang memiliki minat yang sama sepertinya, gunung dan film.

Pada saat itu semangat revolusi yang didengung-dengungkan justru membuat situasi memanas. Dalam lingkup UI saja, bermunculan organisasi-organisasi yang terbentuk karena kepentingan agama dan golongan, seperti PMKRI dan HMI. Gie yang seorang katholik, diajak bergabung ke PMKRI oleh temannya, Jaka. Namun, gie menolak. Dia merasa bahwa politik yang membawa kepentingan agama dan golongan bukanlah jalan untuk membawa perubahan hidup bangsa Indonesia.

Alih-alih terlibat organisasi, Gie lebih memilih untukdiskusi dan menulis dalam melawan kelaliman penguasa. Kekritisan GIe dalam mengkritik pemerintah, disadari oleh seorang aktivis gerakan yang bernama Ben. Gerakan yang diikuti Ben tersebut dipimpin oleh Sumitro yang memiliki ide-ide yang sama dengan Gie. Ben pun mengajak Gie untuk bergabung dalam gerakan ini dan menulis utnuk pamflet gerakan tersebut yang disebarkan secara underground.

Salah satu usaha Gie yang lain adalah ikut dalam senat. Latar belakang keaktifan Gie semula ketika dia melihat para calon ketua senat yang berasal dari oraganisasi-oraganisasi yang membawa kepentingan golongan dan agama. Gie tidak ingin senat dikuasai oleh orang semacam itu. Gie lalu mengajukan Herman, sahabatnya, sebagai calon ketua. Gie melihat bahwa Herman tidak membawa kepentingan agama dan golongan manapun dan inilah yang akan menjadi kelebihannya.

Pada 30 September 1965, terjadilah penculikan para jendral Angkatan Darat. Sejak saat itu ketegangan semakin meningkat. Hingga akhirnya harga-harga melambung tinggi. Dalam pandangan GIe, ini sesungguhnya adalah taktik pemerintah untuk mengalihkan perhatian rakyat dari penumpasan komunis.

Mahasiswa UI saat itu bersatu, mereka berusaha meminta hak-hak rakyat dengan cara berdemo secara besara-besaran. Mahasiswa ini mengajukan tiga tuntutan kepada pemerintah yang dikenal sebai tritura. Tuntutan mahasiswa ini hingga Februari 1966 belum terpenuhi, bahkaan Presiden sendiri menegaskan bahwa tidak akan membubarkan PKI.

Mahasiswa berdemo lagi. Keadaan di masyarakat semakin kacau. Baru pada tanggal 11 MAret 1966, Supersemar seolah menjadi jawaban atas keadaan saat itu. Soekarno menyerahakan mandatnya kepada panglima angkatan darat Soeharto. Saat itulah sesungguhnya militer yang sebelumnya bersitegang dengan PKI mendapat kekuasaan.

Para anggota PKI pun diburu, ditangkap, disiksa dan dibantai. Gie yang bukan ‘kiri’ atau ‘kanan’ tersentil rasa sosialnya untuk menulis kesewenang-wenangan dan kebiadaban orde baru.

Jalan film ini selanjutnya memaparkan keberanian untuk terus mengkritik hingga sampai pada satu titik Gie merasa ‘lelah’ dan terus mendapat reaksi keras dari orang-orang yang merasa terusik atas ulah Gie. Film ini pun diakhiri dengan ending yang abu-abu. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Tidak bahagia sebab tentu karena Gie mati muda pada bulan Desember 1969. Tidak sedih sebab pada dasarnya Gie merasa beruntung. Sebelumnya Gie pernah mengatakan bahwa nasib baik adalah tidak dilahirkan dan mati muda. Gie meninggal dalam usia 27 tahun di Gunung Semeru dalam pangkuan sahabatnya, Herman Latang.

Rekam sejarah

Gie adalah tokoh yang sangat kritis menilai politik dan keadaan sosial masyarakat. Film Gie ini sendiri menjadi film yang memutar ulang sejarah dengan sudut yang berbeda dari buku-buku teks yang selama ini kita baca, terutama buku teks pelajaran.

Bagaimana sesungguhnya pergolakan politik yang terjadi disampaikan melalui pemikiran-pemikiran Gie, siaran radio, berita dan lainnya. Sutradara dan penulis naskah Gie berhasil membawa dimensi pikiran Gie kepada para penontonnya tanpa terkesan menggurui, meskipun sedikit berat. Narasi-narasi Gie maupun dialognya memang bukan dialog ringan melainkan dialaog yang sarat makna.

Cara Gie memaknai revolusi, kebenciannya kepada para penguasa yang memasung demokrasi, kepekaannya dan rasa sosialnya yang tinggi, kegeramannya terhadap orde lama yang korup dan berkuasa secara absolute juga orde baru yang bertindak sewenang-wenang, sedikit banyak akan berpengaruh kepada para penonton yang masih mau berpikir dan peduli terhadap bangsa. Pandangan kita mengenai sejarah yang semula hanya benar di satu sisi dan salah besar di sisi lain ( sesuai penjelasan teks-teks buku pelajaran kuno) menjadi terbagi adil disini. Dalam sejarah, tak pernah ada pihak yang sepenuhnya salah tak ada yang sepenuhnya benar. Oleh karena itu, pembantaian manusia tidak pernah bernilai benar.

Gie sebagai manusia

Film yang menarik tentu memiliki kisah cinta di dalamnya, begitu juga film ini. Meskipun tidka menonjol, kisah cinta Gie cukup menarik untuk diamati. Cinta segitiga antara Gie, Ira dan Ita. Gie dan Ira yang saling menyukai namun sama-sama canggung dan Ita gadis yang akhirnya menjadi pacar Gie. Cerita cinta mereka agak pilu, sebab ketiganya tidak mendapatkan cinta mereka masing-masing.
Sisi kemanusian Gie yang lain adalah kesalahan. Gie remaja tidak begitu akrab dengan kakaknya, Arif Budiman. Selain itu, Gie juga tidak begitu peduli dengan keluarganya meski sesungguhnya Gie menyayangi mereka. Gie juga mudah marah, tampak dalam beberapa adegan. Meski terlihat santai, gerak tubuhnya jelas menandakan dia larut terbawa emosi.

Gie

Sebagai sebuah film, Gie berhasil menjadi film mengagumkan dalam segi artistic dan moral. Film ini meyuguhkan gambar-gambar kota Jakarta yang masih ‘segar’ dan pemandangan gunung. Dari segi tata music, film ini sangat hidup dengan lagu-lagu yang sangat mendukung. Seperti back song saat Gie berdemo mampu membawa atmosfer dan semangat pemuda ke dalam benak dan membuat merinding. Juga lagu-lagu dan music yang tergolong ‘cerdas’.

Film ini juga sarat pesan. Kita bisa mengambil pesan dari buah pikiran Gie sepanjang film ini, jika sikap dan keteguhan hatinya. Film ini memang tergolong film yang berhasil bercerita kepada para penontonnya dan sangat layak untuk ditonton juag mungkin menjadi salah satu film Indonesia yang sangat membanggakan dan akan terus dikenang.


satu lagi, film ini jadi tambah yahud karena pemain utamanya NICHOLAS SAPUTRA yang cool banget itu. I'm one of his fans.