Showing posts with label penggalauan. Show all posts
Showing posts with label penggalauan. Show all posts

Sunday, 7 August 2016

Krisis Perempat Baya alias Quarter-Life Crisis dan Cara Mengatasinya

18:31 0 Comments

Jika kamu berumur antara 20-30 tahun dan sedang mengalami fase-fase penuh kegelisahan dalam hidup dan kamu merasa kamu tidak menemukan jawaban atau bimbang dalam menentukan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya dalam hidupmu, kamu tidak sendirian. Kamu sedang mengalami krisis perempat baya alias quarter life crisis, sebuah kondisi yang banyak dialami oleh seseorang yang sedang mengalami transasi dari masa remaja menjadi seseorang yang (harus) dewasa sepenuhnya.
Silakan tanyakan ini pada dirimu.

1. Saya bimbang dan merasa galau apa yang harus saya lakukan berikutnya dalam hidup, melanjutkan studi? Mengejar karir di bidang lain? Menikah?
2. Saya merasa pekerjaan saya sekarang sungguh membosankan dan saya ingin suasana yang lain dari pekerjaan yang monoton seperti saat ini.
3. Setelah lulus apakah saya harus melamar pekerjaan? Pekerjaan macam apa yang cocok untuk saya? Ataukah sebaiknya saya berwirausaha? Tapi usaha macam apa yang bisa saya rintis? Bagaimana caranya?
4. Hampir tiap akhir pekan agenda saya adalah mendatangi resepsi teman atau rekan. Saya sendiri kapan dong? Keluarga dan kerabat selalu menanyakan hal yang sama kepada saya, kapan nikah? Kapan nikah? Duh, jodoh pun belum bertemu.
5. Saya sudah berada dalam hubungan yang panjang, tapi rasanya tidak ada kejelasan dalam hubungan kami. Apakah kami akan menikah? Apakah kami memang cocok untuk menghabiskan hidup kami bersama? Apakah dia memang ingin menikahi saya dan apakah saya juga ingin menikahi dia?
6. Saya sudah menikah, tapi saya merasa banyak impian saya belum terwujud. Bagaimana bisa saya mewujudkan mimpi – mimpi saya itu dengan tanggung jawab yang saya miliki sekarang setelah menikah? Masih bisakah saya mengejarnya?
7. Si kawan itu sudah berhasil mencapai ini, si dia sekarang sudah berpenghasilan sekian, kenapa saya jauh dari yang saya harapkan?
8. Kenapa setelah semua yang saya dapatkan saya tidak merasa bahagia? Apa sih sebenarnya yang bisa membuat saya bahagia?
9. Pencapaian saya selama ini tidak ada artinya. Saya ini bukan siapa-siapa.
Dan daftar kegalauan ini pun bisa terus bertambah tanpa henti. Jika dari pertanyaan-pertanyaan di atas ada yang kamu rasakan dan pertanyaan itu muncul terus berulang-ulang, mungkin kamu sedang mengalami quarter-life crisis.

Sumber dari sini yang juga membahas quarter-life crisis


Quarter –life crisis ini biasanya memang berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut keputusan kita di masa depan yang akan berpengaruh dalam hidup. Jadi bukan hal macam kegalauan hari ini makan apa yang muncul tiap hari, itu belum bisa disebut quarter-life crisis sepertinya.
Saya sendiri baru mendengar soal istilah ini beberapa hari lalu dari teman saya yang mengambil doctoral di bidang psikologi. Dan pertanyaan saya ketika mendengar hal ini, terus bagaimana dong mengatasinya?
Kata dia, jawabanya adalah Let It Go. Ada masanya kegelisahan itu akan lewat, misal sekarang kamu terus galau dan merenung kapan kamu akan menikah? Kapan tiba giliranmu? Setahun setelah momen quarter-life crisis ini lewat, kamu akan menilik kembali ke masa itu dan merasa, “Duh, ngapain dulu hal kayak gitu digalauin terus-terusan. Buang Energi. Just Let it Go and moving forward”.
Meskipun jawaban ini terasa masuk akal dan hanya bisa dibuktikan oleh waktu, saya akhirnya mencari jurnal atau paper yang membahas hal ini dan bagaimana mengatasinya. Akhirnya saya menemukan salah satu paper yang berjudul “Coaching Clients through the Quarter-Life Crisis: What works?” ditulis oleh Alice Stapleton pada tahun 2012  . Di paper tersebut dituliskan juga macam-macam kegalauan yang muncul dan karena responden berasal dari UK maka kegalauannya agak sedikit berbeda dengan kegalauan anak muda Indonesia, misalnya tidak ada isu sama sekali soal pernikahan. Yang menarik adalah bagaimana paper tersebut menjelaskan bagaimana kita bisa melewati quarter-life crisis. Di paper tersebut sebenarnya hal yang dilakukan untuk melewati crisis ini adalah dengan coaching, atau pembinaan, meskipun saya rasa kita juga bisa mencobanya dan inilah yang bisa kita lakukan. 
1. Tentukan arah dan Fokus
Ketika menghadapi quarter life crisis, hidup terasa tak menentu dan kita merasa tak jelas kemana harus melangkah. Di paper disebutkan, dalam coaching tersebut, kita bisa dibantu untuk menentukan arah dan focus dengan arah tersebut. Kalau kita tidak ikut coaching apa yang bisa kita lakukan? Lihat kembali hidupmu dari posisi yang berjarak, evaluasi semua arah yang pernah kamu tuju dan tentukan mana yang membuatmu merasa lengkap dan fokuslah ke arah itu. Misal kamu merasa hal yang sangat menarik dalam hidupmu adalah pendidikan, opsi melanutkan pendidikan bisa jadi lebih masuk akal dan fokuslah untuk mengejar pendidikan lanjut. Bagaimana jika kamu tahu bahwa yang ingin kamu lakukan adalah membangun keluarga dan membesarkan anak-anak? Fokuslah mencari jodoh dan tentukan apa yang bisa kamu lakukan untuk mencari orang yang sevisi dengan kamu. Ini bukan artinya tidak pilih-pilih, tapi tidak ada salahnya mengambil insiatif selagi itu masih masuk akal. Misalnya berteman dengan banyak orang, menambah lingkungan pertemanan atau terang-terangan minta dicarikan jodoh ke orang tua atau teman.
2. Tentukan target 
Kalau kamu sudah tahu arahmu, tentukan tujuan yang harus kamu capai dalam waktu yang singkat missal satu tahun atau lima tahun. Misal untuk studi lanjut, kamu tahu bahwa tahun ini kamu harus melengkapi persyaratan bahasa dan mendaftar di universitas tujuan. 5 tahun lagi kamu akan selesai dengan studi doktoralmu. Apakah semua target ini mutlak harus dipenuhi? Tidak. Tujuan dari target ini adalah agar setiap langkah yang kamu ambil mengarah ke target itu dan kamu tahu apa yang kamu lakukan dengan hidupmu.
3. Rancang aksi hidupmu atau action planning  life
Sekarang kamu sudah menentukan targetmu, saatnya merancang apa yang bisa kamu lakukan untuk mencapai target itu. Apakah kamu bisa mempersiapkan bahasa jika masih bekerja secara penuh? Atau kamu harus resign dan mempersiapkan diri secara intens? Semua ini kembali kepada arah dan target hidupmu. Apakah ini mudah, menurut paper tersebut, hal ini masih sulit dan orang yang galau merasa merancang action plan tidak semudah menentukan hal yang lain. Ada baiknya kamu memiliki teman diskusi, akan sangat susah mengalami ini semua sendirian. Pada titik ekstrim, seseorang yang mengalami quarter life crisis bisa merasa berada pada titik terendah dalam hidup dan bisa berpikiran pendek untuk mengakhiri hidupnya. Disinilah pentingnya membagikan kegalauan kamu, berdiskusi dengan orang lain untuk menjaga kewarasanmu.
4. Skill
Di paper tesebut, sebenarnya skill yang dimaksud adalah skill yang didapat selama coaching seperti kemampuan untuk mengatakan tidak pada sesuatu yang kita tidak suka atau bersikap lebih asertif. Skill ini dinilai berguna untuk membantu diri keluar dari krisis ini.
5. Kenali diri sendiri
Self-awareness adalah hal yang penting. Dengan mengenali diri sendiri, kita bisa tahu apa yang bisa kita lakukan. Kita bisa menghargai diri sendiri dan menerima diri kita. Tentu hal ini tidak mudah apalagi jika kita terus menolak menerima diri sendiri atau denial dan hidup dalam angan-angan. Karena itulah, mengenali diri sendiri dan menerima diri sendiri itu menjadi salah satu kunci untuk keluar dari krisis ini.
6. Refleksi diri sendiri 
Refleksi ini juga membantu lebih mengenali diri sendiri. Tentang apa yang sudah kita lakukan, mengevaluasi kesempatan yang kita lewatkan atau kesempatan yang kita manfaatkan dalam waktu seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Mengevaluasi diri sendiri bisa membuat kita sadar kesalahan apa yang telah kita perbuat dan bagaimana menghindari mengulangi kesalahan yang sama.
7. Percaya diri
Orang yang mengalami quarter-life crisis umumnya mulai kehilangan kepercayaan diri. Hal ini berkaitan juga dengan mengenali diri sendiri dan refleksi diri. Dengan melakukan hal tersebut, kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita, menyadari keunikan diri dan menjadi lebih percaya diri. Ketika kita memiliki kepercayaan diri, kita akan melangkah dengan pasti dan saya selalu percaya langkah yang pasti akan mengantarkan kita ke tempat yang pasti pula.
Tujuh hal di atas, bisa dicek kembali berasal dari paper yang saya sebutkan. Meskipun banyak pula yang saya tambahi dengan penjelasan yang saya pahami sendiri. Apakah saya bisa membantu mengatasi krisis ini? Saya sendiri berada dalam usia ini. Saya sendiri mengalami salah satu krisis tersebut. Apakah saya berhasil melewatinya? Saya sedang berusaha melewati krisis ini. Tujuan saya menulis ini adalah untuk menyadarkan teman-teman yang semula mengalami krisis semacam ini dan merasa hanya dia yang merasakannya, tidak, ini namanya quarter-life crisis dan banyak orang mengalaminya. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama melewati krisis hidup ini.
Selain tujuh hal yang saya dapatkan dari paper, sebagai seorang yang percaya dengan Tuhan dan Agama, saya juga percaya hal-hal religius membantu saya untuk melewati krisis ini dengan lebih tenang. Sebagai muslim, sholat, membaca Al Qur’an, sholawat, sedekah dan hal religius lainnya membantu saya untuk melewati krisis ini. Dan juga, hal-hal tersebut merupakan pesan ibu saya yang berusaha betul saya pertahankan.
Perlu diingat, latar belakang pendidikan saya bukanlah psikologi. Pengetahuan saya terbatas dalam bidang ini. Tujuan saya menulis ini juga untuk berbagi, mencari masukan dari orang yang lebih berkompeten di bidang ini ataupun dari orang yang sudah berhasil melewatinya. Bagaimana kamu berhasil melewatinya? Share di kolom komentar ya.

Saturday, 28 February 2015

What have you done?

22:29 0 Comments
Setelah sekian lama hibernasi menulis, jiwa saya terbelah dua. Sebelah jiwa saya selalu berkata, "Nada si penulis sudah mati. Mana ada penulis ngga pernah nulis? Berkarya aja ngga ada karyanya. Udah sana, tekuni dunia IT aja. Ngoding aja sana.". Sebelah jiwa saya yang lain, suaranya lebih lirih.
"Nada, kapan menulis kembali? Bukankah kamu rindu rasanya berhasil menuangkan pikiran dalam tulisan, membacanya berulang kali dan membiarkan orang lain mengkritisi? Bukankah kamu rindu membaca? Bukankah kamu rindu itu semua?".

Lalu saya sendiri membela yang mana? Tak ada. Saya diam saja disini. Justru tak melakoni keduanya. Iya, lebih parah. Kalau Anda mengharapkan akan menemukan semacam motivasi dalam tulisan ini, berhentilah. Ini hanya bentuk dialog imajiner diri saya sendiri. Semacam curhat terselubung yang saya harap bisa menjadi semacam terapi.

Ada banyak ide yang bersliweran. Melihat senja yang merah, saya pikir ini sangat romantis. Melihat jalanan yang lengang di lereng gunung, bukankah ini kedamaian yang akan indah jika dibahasakan? Mengamati pergolakan politik bangsa ini, bukankah akan baik untuk saya jika menelisik kemudian menggubahnya menjadi semacam tulisan fiksi?

Sayangnya semua berhenti menjadi sebatas ide. Sebatas angan. Begitu juga dengan ngoding. Niat awal, saya ingin meneruskan projek Tugas Akhir saya. Nyatanya selalu saja menemukan alasan untuk berkata "Nanti dulu,deh". What a bad habit.

Terus setelah lulus September lalu, saya ini sudah melakukan apa?
Ya, saya sudah melakukan apa?

Setelah wisuda, saya memutuskan untuk pulang dan tidak langsung mencari kerja. Terus apa yang kamu lakukan? Saya memutuskan untuk secara intensif mengaji. Mengaji baca qur'an gitu? Emang belum bisa?

Mengaji bukan soal baca Qur'an saja kawan, mengaji (minimal dalam definisi saya) adalah mempelajari agama. Khususnya agama saya yaitu Islam. Ada banyak cabang sebenarnya yang bisa saya pelajari, mulai dari Tauhid, Hadits, Ulumul Qur'an, Ushul Fiqh, Tasawuf dan lainnya. Lalu mana yang saya pilih? Saya memilih fiqh. Alasana sederhana, fiqh merupakan salah satu yang paling aplikatif dalam kehidupan. Untuk urusan beribadah, saya tahu bagaimana beribadah yang tepat dan benar menurut madzhab yang saya anut. Untuk menjalani urusan kehidupan lain, baik itu dari urusan jual beli, sewa menyewa, menikah, hingga menyelesaikan konflik saya tahu harus bagaimana. Minimal saya tahu harus merujuk kemana. Dan yang paling penting, saya belajar fiqh ini dari seorang Kyai dan Guru yang jalur ilmunya secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Ini penting, bukan sekadar mengikuti Ustad wannabe yang kian hari kian marak. Ustad wannabe yang seringkali mengalami logical fallacy dan sanad ilmunya saya sendiri belum tahu.

Sejujurnya, tak pernah ada kata cukup untuk belajar ini. Untuk memiliki pandangan dan pengetahuan yang menyeluruh, belajar dari satu kitab sangat kurang. Tapi setidaknnya, saya sudah tahu bagaimana harus melangkah. Sekarang, kurang lebih sejak satu minggu yang lalu saya sedang memasuki fase job seeker. Dan ternyata galau sekali. Hahahahaha. So this is it. Fase hidup yang perlu dilewati. Galau - galau sedap yang membuat saya banyak merenung. Hidup itu rupnya adalah persoalan-persoalan yang tak akan ada habisnya. Ini bukan soal siapa cepat dan tepat menjawab soal-soal itu hingga kemudian tergesa-gesa. Hidup adalah tentang menerima pertanyaan-pertanyaan itu dan menyadari pertanyaan yang jauh lebih besar dari ini semua.

Untuk apa hidup saya ini?
Ah, pertanyaan ini sepertinya perlu perenungan lebih lama untuk bisa saya jawab..

Wednesday, 1 October 2014

Sebuah Nasihat Tentang Cinta

10:34 0 Comments
Konon, ketika kamu mencintai seseorang kamu akan menjadi pribadi yang berbeda. Kamu akan memandang dunia sebagai taman bunga. Kamu akan mendengar semua suara sebagai simfoni orkestra. Konon..

Katanya, kamu akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada detik pertama mata kalian beradu, pada menit pertama senyum kalian yang alamiah sama-sama mengembang. Pada suara pertama yang kalian dengar dari saling sapa. Katanya..

Sudah berapa cerita yang kamu dengar semacam itu? Sudah berapa film yang kamu lihat yang memberikan mimpi seperti itu? Sudah berapa lama kamu hidup dalam mimpi-mimpi semu itu?

Nak, kuberitahu. Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang membebaskan dan kamu tahu tak pernah ada perjuangan pembebasan yang ringan. Cinta yang kamu bayangkan selama ini, jika pun itu benar-benar ada, semuanya akan kamu alami dalam satu detik pertama. Itu pun karena hormon yang bekerja tak lama. Selanjutnya apa yang bermain? Hati dan logika.

Cinta sesungguhnya adalah cinta yang membebaskan. Cinta yang membebaskan tidak akan pernah memaksamu menjadi orang lain dan menemukan seorang yang bisa menerimamu dengan utuh dalam sekejap hanyalah dongeng. Butuh waktu untuk mengerti dan butuh masa yang tak sebentar untuk menerima. Butuh perdebatan, argumentasi, saling tuduh dan saling serang hingga akhirnya kalian saling memahami. Apakah itu menyenangkan dan mudah? Nak, itu jalan terjal yang susah.

Seringkali dalam perjalanan, salah satu dari kalian atau kalian berdua merasa lelah. Merasa perjalanan ini tak mungkin dijalani karena betapa sulitnya menerima dan menyatukan isi kepala yang berbeda apalagi isi hati yang sudah tak saling berbicara. Kalian berujar, "Cinta kami sudah pudar, kami tak cocok". Kemudian kamu mencari orang lain, orang yang kamu harap membawa cinta baru.

Cinta adalah proses yang tak pernah mengenal kata selesai. Cinta adalah harapan yang tak pernah usai. Tapi cinta juga perdebatan dan pergumulan yang sering kali gagal dilerai. Cinta juga perselisihan yang kemudian menjadi awal dari bertikai. Cinta itu melelahkan.

Cinta akan memberitahumu kapan kamu harus beristirahat. Cinta tak akan segan mengingatkanmu kapan harus saling memberi nasihat. Cinta akan dengan senang hati memberikan perasaan yang hangat. Cinta akan memberi cahaya saat gelap terasa begitu pekat.

Semua film yang kamu tonton, semua cerita yang kamu baca secara maraton, tidak akan bisa menggambarkan cinta itu tanpa kamu mengalaminya. Dan percayalah, Nak, tak ada cinta yang sama di dunia ini.

Pun, apa yang kuceritakan ini, bisa jadi berbeda denganmu. Bisa jadi apa yang kamu sebut cinta kusebut merdeka. Bisa jadi apa yang kamu anggap cinta kuanggap sebagai mengerti dan menerima. Tak apa, Nak. Cinta punya banyak nama, kamu tak harus melabeli segala yang berurusan dengan rasa. Nikmati saja.

Pesanku, Nak, jangan pernah tertipu dengan segala cerita yang direka. Hidup, dan tentunya cinta tak pernah mudah. Tapi juga tak pernah sia-sia.

Tuesday, 11 September 2012

selamat pagi, Kamu

01:46 1 Comments
Selamat pagi, kamu. Nyenyakkah tidurmu semalam? semoga begitu. Akhir-akhir ini angin selatan sedang menggempur hebat malam-malam, menyiksa orang-orang menggigil dalam dingin. Seperti yang hampir sepuluh bulan ini kuketahui, kamu adalah salah satu spesies yang tidak berkomprongi dengan dingin. Berkali-kali bersin, hidung mampet yang akhirnya berujung pada sakit rutinmu, Flu. semoga malam ini, pun malam-malam yang lain, membuat kamu lebih tangguh.

Apa? Tidurku? Ah, perlukah itu kuceritakan? Singkat saja, aku terbangun sejam sekali. dengan mimpi buruk yang rasanya membuatku lebih memilih untuk terjaga. Mimpi apa? Bahkan saking buruknya mimpiku semalam, aku tak sanggup menceritakan. akhirnya, tidurku tak nyenyak semalam.

Apakah aku baik-baik saja? Bukankah itu adalah pertanyaan yang akan kuajukan kepadamu juga? Tentu aku ingin mendengar jawaban baik. Bahwa kamu baik-baik saja, bahwa kamu merasa bahagia, bahwa kamu tak pernah lupa makan, bahwa kamu sangat konsen dengan kuliahmu, bahwa kamu sedang menikmati memfokuskan diri, bahwa kamu sedang menikmati hidup tanpa beban. tanpa aku.

Bolehkah aku tertawa?
Aku ingin menertawakan betapa bodohnya aku selama ini. Menjadikan diri sendiri beban bagi orang lain, dan bertindak tanpa memikirkan hati dan perasaan lain. perasaan kamu. bolehkah aku menertawakan diri atas kebodohan itu?

Hidup nampaknya jauh lebih mudah bagimu dalam jalanmu sendiri. aku tak lagi menuntut apa-apa. Ijinkan saja aku mengamati dari jauh--aku berjanji tak akan mengganggu--bahwa kamu baik-baik saja dan semakin baik-baik saja.

di suatu pagi, di suatu tempat yang pernah bersama kita jelajahi

Friday, 10 August 2012

Aku Ingin Pulang

08:16 1 Comments


Aku duduk gelisah di bangku taman. Aku menunggu tanpa tenang di bawah lampu taman yang temaram. Aku sendirian di bawah gerimis malam.
Kamu tak lagi datang.

Menyaksikan jalanan yang penuh sesuk kendaraan, membuatku merasa menoleh ke diriku sendiri. Jalanan selalu dipenuhi oleh orang-orang yang terburu-buru. Terburu-buru ke kantor, terburu-buru ke rumah, terburu-buru ke sekolah, terburu-buru ke kampus, terburu-buru ke mall, terburu-buru ke pasar, terburu-buru ke segala tempat yang bisa diburu. Dan di kota, semua sudut memang menjadi tempat perburuan.
Aku rupanya telah salah memilih jalan. Aku menjadi bagian yang terburu-buru. Seolah waktu tak lagi mau menunggu, seolah aku harus berpacu dengan detak jantungku sendiri. Kemudian aku menggenggam tanganmu, menyeretmu. Tapi begitu aku berhenti di taman ini, aku sadar, tanganku tak lagi menggenggam apa-apa.
Kamu tak lagi disini.

Kamu selalu mengatakan kita ini dua mahluk yang begitu berbeda. Spesies kita saja homo sapien, namun nyatanya perbedaan kita tak cukup lagi ditulis dalam agenda—masih ingatkah kamu kita membeli agenda yang sama bersama-sama, agenda bersampul biru itu?—yang kini penuh coretan angka-angka. Kamu mengatakan perbedaan kita saling mengisi, kekeraskepalaan kita membuat kita tetap tegak berdiri dan rasa sayang ini yang membuat kita tak bisa pergi. Untuk yang terakhir aku sangsi.

Aku sangsi, aku kah atau kamu kah yang mengatakannya? Atau itu hanya dalam angan-anganku saja? Nyatanya, kamu tak lagi ada disini. Nyatanya aku sendiri.

Ibaratnya kita mengendarai mobil, sebelum berangkat kita telah sepakat akan memacu mobil pada kecepatan konstan 40 kilometer per jam. Semua berjalan baik hingga sampai akhirnya kamu sadar, aku mempunyai kecenderungan suka balapan. Kamu memperingatkan. Bahan bakar kita belum cukup, keahlian kita mengemudi masih dipertanyakan. Kamu menolak menambah kecepatan.

Aku kemudian turun dari mobil. Kamu merasa perlu mengikutiku, mengejarku. Kemudian menenangkan. Kamu mengajakku menatap horizon.

Lihat, sayang. Nanti hingga ujung ufuk, kamu akan tetap kupeluk”. Aku rasakan pelukmu hangat, suaramu bersahabat.
Tapi aku tak bisa berlari. Aku tak bisa terbang..”

Kita kemudian memutuskan berjalan pelan. Sambil menikmati pemandangan di sekeliling. Sesekali berhenti untuk menikmati pelangi, menertawakan dua kucing yang berkelahi atau sekadar merasakan sejuknya embun pagi. Kita berjalan beriringan.

Hingga akhirnya, bagian diriku yang terburu-buru itu muncul kembali. Menarikmu. Menyeretmu. Aku begitu semangat berlari hingga tak menyadari genggamanku tak erat lagi, genggamanku kosong tanpa kamu sama sekali.

Lalu, disinilah aku berhenti, Sayang. Aku tak tahu kamu dimana, aku tak tahu aku berada dimana. Yang kutahu, aku tak mencapai apa-apa.
Aku sendirian sekarang, Sayang. Hujan sudah turun sejak tadi. Tak apa, justru tangisku menjadi samar. Aku sekarang mencoba berjalan kembali, menilisik jejak keterburuan. Sebentar-sebentar, kudengar petir menyambar.

Aku duduk memeluk lutut, takut. Andai kamu disini, tentu kamu akan berkata halus sambil mengelus kepalaku. “Tak apa, ada aku disini”.

Tapi kamu tak ada disini, tak ada yang mengelus kepalaku. Yang ada hanya petir menyambar-nyambar.

Sungguh aku ingin pulang, ke pelukmu..

Temanggung, 10 Agustus 2012

Thursday, 3 November 2011

Dua Kutub yang Keras Kepala

01:59 5 Comments
Aku menulis ini dengan sepenuh kesadaran. Kesadaran bahwa belum tentu kamu membaca dan belum tentu kamu mau tahu aku menulis ini untukmu. Ya, untukmu.

Mengapa harus untukmu? Bukan untuk yang lain saja? Karena aku sudah memilih kamu. Aku memilih kamu bukan karena tak ada yang lain tapi karena aku tak lagi mampu melihat yang lain.

Kamu adalah magnet yang sangat kuat. Kamu adalah kutub utara paling keras kepala yang pernah kukenal, menyebalkan dan tidak pernah mau kalah argumen. Pendapat kita selalu 180 derajat berbeda. Kesepahaman sepertinya adalah keajaiban saja.

Hal remeh temeh seperti apakah makan siang di kantin itu rasanya enak hingga perdebatan serius apakah Indonesia bukan ilusi selalu membuat kita berseteru, tak pernah satu. Maka, akulah kutub selatan dan sesuai dengan hukum alam, perbedaan justru membuat dua hal semakin saling mendekat, melekat.

Aku menikmati semua pertemuan kita yang direncanakan Tuhan tapi tak pernah kita sadari. aku menyukai letupan-letupan dalam perutku tiap kali tanpa sengaja pandangan kita bertubrukan. Aku merindukan senyummu yang lepas, karena setiap kali mengalahkan pendapatku, kamu puas.

Aku merasa sebagai orang yang terlalu dini menyadari kita adalah dua kutub yang berbeda. Aku merasa bodoh karena aku sendiri yang memiliki degupan aneh tiap kali kita berpapasan. Aku tak pernah berhasil tahu apakah kamu merasakan yang sama. Apakah sepertiku, kamu menunggu namaku muncul di layar ponselmu, sekadar sms atau justru telepon. Apakah sepertiku, kamu selalu rajin memantau timeline twitter, untuk mengamati kapan aku serius kapan aku bercanda, kapan aku tidur kapan aku terjaga (aku mulai sadar kamu seorang gadget addict)

Aku penasaran namun aku tak bisa bertanya, karena aku perempuan. Hakikatku menunggu. Menunggu kamu menyapa dan menganggapku bukan lagi sekedar angin lewat atau teman biasa. Menunggumu menjadikanku istimewa.

Apakah aku sedang menunggu sesuatu yang sia-sia?

---
penulis adalah orang yang suka menebar kegalauan. bisa disimak pula lini masanya yang menyebalkan. :-D