Saturday, 5 February 2011

untuk wanita luar biasa

05:47 9 Comments
gambar dari sini
Ada dua kabar baik dan buruk buat saya hari ini. Kabar baiknya adalah saya baru saja mendapat lagu bagus dan kabar buruknya adalah lagu itu bikin saya makin pengen pulang padahal saya baru nyampe subuh tadi di kota pahlawan ini.

Lagu Fly Away yang dibawakan Corrinne May berhasil membuat saya  nangis hari ini. Dan inilah mengapa saya nangis ..

“When will you be home?” she asks
as we watch the planes take off


Ibuk memang ngga bilang begitu ketika saya naik bus(bukan pesawat), Ibuk hanya mencium pipi saya, setelah saya mengecup tangannya. Matanya teduh, hati saya bergemuruh. Saya tau tatapannya adalah doa, yang berharap saya pulang dengan selamat, dengan menjadi Nada yang lebih baik.

We both know we have no clear answer to where my dreams may lead
She’s watched me as i crawled and stumbled
As a child, she was my world
And now to let me go, I know she bleeds
and yet she says to me

Saya pun gamang dengan kehidupan setelah kuliah kelak. Akankah saya menetap di desa saya, Ngadirejo Temanggung, menemani Ibuk menikmati masa tuanya? Atau saya akan berkutat dengan idealisme dan segala mimpi yang memikat saya pada karier hingga memilih tinggal di kota besar? Atau saya justru menjadi istri yang harus mengikuti kemana suami membawa saya kelak?

Saya tidak tahu. Saya tidak punya jawaban apakah saya punya cukup waktu untuk membalas cintanya dengan menemani Ibuk hingga usia senja. Saya hanya tahu saya cinta padanya, kini dan kelak.

And now to let me go, I know she bleeds
and yet she says to me

Saya tahu, Ibuk sering merindukan kami, anak-anaknya. Saya tahu Ibuk sering merasa sepi. Tapi Ibuk tak pernah mau mengadukan rindu kepada kami, kepada kami yang juga teramat merindukannya. Ibuk selalu berkata,”Memang ini waktu kalian, menuntut ilmu”. Begitu jawaban Ibuk tiap kali saya bertanya apa yang Ibuk rasakan ketika empat dari lima anaknya berada jauh darinya.

You can fly so high
Keep your gaze upon the sky
I’ll be prayin every step along the way


Tiap kali kami akan berpisah, ucapan terakhir adalah,”Pangestunipun, Bu’ ”. kami selalu meminta doa Ibuk meskipun tanpa kami minta Ibuk tak pernah lelah berdoa. Pun ketika bekerja, Ibuk selalu berkata, Ibuk bekerja untuk kami. Untuk kami anak-anaknya. Maka selama Ibuk bisa, apa yang kami minta akan Ibuk penuhi. Dan itu terbukti. Bahkan dalam tiap harinya, tak ada yang lain dalam benak Ibuk selain kami. Putra-putri dengan nama Haroen yang terpatri pada tiap akhir.

Even though it breaks my heart to know we’ll be so far apart
I love you too much to make you stay
Baby fly away


Saya paham Jakarta, Jogja dan Surabaya bukanlah tempat yang dekat untuk Ibuk. Saya mengerti Ibuk ingin menghabiskan waktu bersama kami, memasak makanan yang banyak (Ibuk hobi memasak dan masakan Ibuk adalah yang terenak di dunia) untuk kami habiskan saat makan malam sambil berbincang. Ibuk juga ingin membeli banyak camilan dan es krim (sejak di rumah ada kulkas, Ibuk membelikan kami es krim) agar kami dapat menikmatinya sambil bercengkerama di ruang tamu, membincangkan Mbak Widad yang pengantin baru, mas Nabil yang saat kecil begitu lucu, Mas Ofa yang punya teman di sana-sini, saya yang masih tidak mau jauh dari Ibuk dan Dek Wajih yang sering kami ’gojlok’.
Saya tahu, Ibuk ingin itu setiap hari. Sepanjang 365 hari. Tapi yang Ibuk dapat untuk usaha keras dan doanya kadang tak lebih dari 60 hari, bahkan untuk membalas 20% dari hari-harinya pun saya sering gagal. Saya sering lebih egois, ingin kesana kemari.
Meskipun Ibuk begitu bahagia ketika kami tinggal di rumah, Ibuk selalu melepas kami dengan senyum dan bangga. Melepas kami dengan doa dan cinta.

Autumn leaves fell into spring time and
SIlver-painted hair
Daddy called one evening saying
“We need you. Please come back”


Saya sadar, waktu adalah sesuatu yang melaju melampui kesadaran itu sendiri. Rasanya baru kemarin saya bisa membaca dan kini saya sudah menjadi mahasiswa. Rasanya baru kemarin Ibuk menyisir rambut saya dan kini saya harus bisa mendandani diri sendiri. Dan kelak, bukan dengan tiba-tiba tapi terasa mendadak, kami akan mencapai usia tua, pun Ibuk. Saya yakin dan selalu berdoa untuk kesehatan Ibuk, untuk Ibuk yang selalu peduli kepada kami mulai soal pola makan hingga apa yang sehari-hari kami kerjakan.

When I saw her laying in her bed
Fragile as a child
Pale just like an angel taking flight
I held her as I cried


Ibuk jarang sakit. Tapi sekali Ibuk sakit saya merasa saya lebih sakit, karena saya tak mampu merawat Ibuk sebaik Ibuk merawat saya. Saya lebih banyak bertanya daripada tau harus berbuat apa.
Dan saya tidak ingin hanya sempat menggenggam tangan Ibuk ketika Ibuk mulai lemah, saya ingin terus menggenggam tangan Ibuk saat Ibuk masih kuat dan rambutnya masih legam. Saya ingin menemani langkahnya dan membuat Ibuk yakin tidak hanya secara batin Ibuk tidak sendirian. Raga saya pun ingin terus bercengkerama dengannya. Dengan wanita luar biasa yang mengandung saya selama sembilan bulan dan melahirkan saya dengan penuh kekuatan.
Saya ingin terus bersama Ibuk hingga akhir hayatnya, atau akhir hayat saya.


untuk wanita luar biasa, Ibuk

Sunday, 30 January 2011

Indrayanti Beach

02:08 8 Comments
Damai. Tenang. Indah. Bersih. Private.


Itulah yang saya rasakan liburan kemarin saat ke Pantai Indrayanti.
indrayanti beach






Iya, kalo dilihat dari foto, pantai ini adalah macam pantai di Kuta Lombok dengan pasir putih dan tebing di kanan-kiri, tapi secara geografis pantai ini tetaplah terletak di Gunung Kidul, Jogja.
gunung kidul via google maps


Damai?
Iya dong, pantai yang langsung menghadap Samudera Hindia ini punya horison yang seolah tanpa batas. Membuat jiwa ini merasa bebas.. *ceileeee*


Tenang?
Sebenenarnya ombaknya nggak tenang, besar dan gahar malah. Tapi, nuansa pantai ini memang masih tenang. Karena usia pantai ini yang masih muda *artinya baru saja dibuka sebagai tempat wisata* menjadikan pantai Indrayanti ini kurang begitu dikenal dibandingkan pantai-pantai di pesisir yang sama seperti Baron, Kukup, Krakal, Sundak dan Siyung. Tapi menurut saya, justru disitulah kelebihan pantai Indrayanti ini. Tidak crowded. Saya pribadi sih lebih suka pantai yang tenang macam ini, liburan benar-benar menikmati alam bukan melihat para pengunjung yang sibuk lalu lalang.


Indah?
As you see in the picture, this is an awesome beach! Pasirnya yang putih, ombaknya yang berbuih, lautanya yang biru, juga karang yang gahar. Di ujung kanan pantai ini ada semacam cekungan yang berisi batu-batu karang. Ada celah yang menghubungkan cekungan ini dengan laut lepas, begitu ombak datang saya langsung merasakan sensasi yang asyik, terhempas di antara karang. Seru! Di pantai ini juga disediakan pondok-pondok panggung. Kita bisa duduk-duduk dan ombak pun menghampiri kita hingga ke bawah pondok.


Bersih?
Dari sekian pantai yang pernah saya kunjungi, pantai Indrayanti adalah pantai terbersih yang pernah saya temui! Mencitrakan diri sebagai pantai bersih, Pantai Indrayanti tidak hanya menjadikan itu sebagai jargon semata. Para penjaga pantai secara rutin membersihkan pantai ini dan selain itu ada peraturan tegas yang melarang pengunjung buang sampah sembarangan. Satu puntung rokok atau sampah yang dibuang sembarangan akan membuat pengunjung mengeluarkan kocek sepuluh ribu rupiah, denda! Karena kebersihannya pulalah, pantai ini menjadi berbeda dengan pantai-pantai lain.


Private?
Yup. Serasa pantai milik pribadi. Ketika saya datang kesana, hanya saya dan kawan-kawan saya sajalah pengunjung pantai ini. Selang beberapa jam kemudian datanglah rombongan lain. Praktis, hari itu pantai ini hanya milik saya dan rombongan lain itu. Serasa orang kaya bisa menikmati pantai indah itu dan tidak banyak orang lain berdatangan. Hehehe.. kalau Anda ingin menikmati sensasi private ini juga, jangan datang saat weekend.


Satu lagi, pantai ini menyediakan jet ski untuk pengunjung lho. Tapi siap-siap merogoh kocek seratus lima puluh ribu rupiah untuk sensasi jet ski selama lima belas menit saja.


So, this is a very high recommended beach to visit! Come and enjoy!

Tuesday, 18 January 2011

kegelisahan seorang mahasiswi

00:10 18 Comments

Hidup di kota besar macam Surabaya, membuat saya lebih membuka mata soal negeri saya sendiri. Surabaya bagi saya merupakan gambaran kecil yang menyeluruh tentang Indonesia. Kemacetan jalan, keruwetan tata kota, kekontrasan pembangunan oleh investor dan pribumi. Berbagai isu sosial yang dulu sebatas saya baca lewat media, kini terpampang jelas.

Bagaimana kemiskinan penduduk dihadapkan oleh pembangunan mal-mal dan apartemen tanpa henti, bagaimana perumahan-perumahan megah terus dibangun sementara dalam radius sepuluh kilometer terdapat pemukiman penduduk yang masih berbahan kardus. Ironis.

Sore ini pula, ketika saya melewati Delta Mall, salah satu mall besar di Surabaya, saya mendapati banyak anak-anak jalanan. Ya,mereka benar-benar anak jalanan dalam arti harafiah. Mereka yang duduk menggelesot di pinggir jalan. Salah satu frame yang saya tangkap dalam memori, seorang bayi berumur kurang lebih 6 bulan dibiarkan tergeletak begitu saja di atas pangkuan anak berusia 2 tahun. Tangan kecil anak berusia dua tahun itu memegang gelas plastic yang ia gerak-gerakkan terus untuk menimbulkan suara gemerincing, mengundang koin-koin para pejalan dan pengunjung untuk mampir ke gelasnya itu.

gambar di ambil dari sini

Saya merasa dilematis. Di satu sisi, ketika saya harus memberikan uang ke anak kecil itu kemudian berlalu saja, artinya saya semakin menjerat mereka dalam lingkar hitam jalanan tapi jika saya diam saja, maka saya adalah orang apatis dan egois.

Sebelum saya ke Surabaya, kondisi miris semacam itu hanya saya dapati lewat film, koran atau televisi. Sindikat jalanan yang menjadikan anak-anak sebagai kedok dulu hanya saya pahami sebagai scenario tapi kini di hadapan saya sendiri, saya kehilangan kata-kata. Miris.

Sementara itu di dalam delta mall, orang-orang sedang mengahbiskan uang-uang mereka untuk memenuhi gaya hidup hedonis. Saya yakin, anak kecil itu tiap hari membaui aroma ayam goreng dari kfc, mencium bau donat yang lezat dari dunkin donat melihat baju bagus di etalase, sayang mereka hanya sampai pada itu, tidak lebih.

Soal anak jalanan ini baru satu masalah yang berkepanjangan di Indonesia, masalah-masalah lain yang membelit negeri ini masih bejibun. Lantas apa yang bisa saya lakukan setelah kini saya menyandang gelar baru sebagai mahasiswa yang sering disebut sebagai agent of change?


Hari ini saya baru bisa menulis, esok saya harus berbuat lebih. Hari ini saya menulis, agar ketika besok atau lusa saya hendak berleha-leha, saya kembali ingat, ada tugas besar yang menanti saya, menanti seluruh mahasiswa Indonesia, membangun Indonesia menjadi lebih baik dimulai dari sebuah langkah kecil bersama.

Wednesday, 5 January 2011

suntuk akut

01:38 5 Comments
Suntuk menumpuk.
Itulah saya. Dalam kondisi minggu (yang katanya) tenang menjelang UAS ini, saya sampai pada stadium suntuk akut tingkat dewa.


Selain karena tugas yang membabi buta, saya rasa salah satu alasannya adalah kevakuman saya dalam menulis. Salah satunya menulis Tuanmuda the series. Series yang sempat membuat saya bersemangat itu kini layu. Saya tak lagi punya banyak waktu untuk sekadar berimajinasi dan merancang scenario untuk Tuanmuda dan Nonamuda, pun kalau sempat saya tak punya banyak waktu untuk menuliskannya. Pun kalau saya tulis, bahasa saya tak lagi puitis. Ini I-R-O-N-I-S. Ibarat penyakit ini sudah kronis.